Wawancara eksklusif bersama Arjuna (21)


sengkuni_solo

“nDara, nyimpang dari pembicaraan sebelumnya ya, bagaimana pendapat nDara tentang sosok yang bernama Sengkuni niku ?”
“Maksudmu dipandang dari sudut mana Gong ?”

“Dari segala aspek, dari tingkah polahnya, dari watak perbuatannya, dari segala daya upayanya, pun dari pandangan hidupnya”

“Wah … kalau dibahas nggak akan selesai sehari semalam Gong. Lha wong sosok Sengkuni itu pada dasarnya adalah cerminan sebagian dari diri kita kok. Karena potensi dalam diri kita seperti halnya watak dan perbuatan Sengkuni itu, selalu ada. Cuman seberapa besar dan kuat mempengaruhi diri kita, itulah masalahnya”
“Lha bagaimana sikap nDara dan juga Pandawa yang sudah berulang kali dizalimi oleh rekadaya Sengkuni itu”

“Sakit memang Gong, dan kerap muncul niyat untuk membalasnya. Namun kalau kita mengambil sisi positifnya, justru akibat dari rekadaya maupun aksi licik tipu tipu Sengkuni, membuat Pandawa menjadi lebih kuat dan lebih tahan banting. Memang pemahaman itu muncul dan berkembang melalui proses yang panjang dan tidak mudah. Sebenarnyalah perbuatan Sengkuni itu dimulai sejak Rama Prabu Pandu berkuasa, bahkan sudah terlihat sejak Sengkuni ingin merebut ibunda Kunti dan Madrim dari tangan Ramanda. Dan sejak itu, Sengkuni selalu hadir dalam lakon kehidupan kami para Pandawa.”

“Apakah nDara tidak ada dendam pada sosok Sengkuni itu ?”
“Rasa tidak suka pasti ada. Positifnya, dari berbagai sengsara papa yang dialami Pandawa karena ulahnya, Pandawa mampu memanfaatkannya menjadi sebuah hal berguna. Kesabaran dan kebijaksanaan dalam menyikapi dan menjalani hidup ini, menjadi matang dengan sendirinya. Dan itu sangat bermanfaat kala kami menghadapi masalah seberat apapun. Begitukan, petuah dan bimbingan Ramamu Semar ?”

“Tapi kalau saya kok muangkel tenan je nDara melihat sosok yang bernama Sengkuni. Lihat wajahnya saja sudah njelehi banget”
“Yah ndak apa-apa, yang penting kita selalu eling dan waspada saja maka niscaya akan terhindar dari malapetaka yang menghancurkan hidup kita sendiri.”

“Oh ya … nDara, dilanjutkan dong cerita yang kemarin itu”
“Siaap Boss Bagong !!!”

<<< ooo >>>

Sejenak sidang agung itu menjadi sunyi. Tak ada lagi yang dapat dijadikan bahan pembicaraan. Tetapi tiba tiba terjadi gaduh diluar sidang. Bertanya Prabu Salya kepada Patih Tuhayata.

“Patih Tuhayata, lihatlah keluar, ada apakah gerangan sehingga keadaan diluar sidang menjadi begitu gaduh!”

Keluar sejenak Patih Tuhayata melihat keadaan diluar. Setelah mengetahui apa yang terjadi, kemudian ia naik kembali ke balairung melaporkan peristiwa yang terjadi di pisowanan diluar sana.

“Gusti, tidak ada kuda yang lepas dari istal, ataupun gajah yang keluar dari kandang atau pula harimau yang lepas dari kerangkengnya. Yang membuat gaduh diluar sidang adalah datangnya Patih Sangkuni dari Astina. Beliau ada diluar menanti ijin dari paduka untuk menghadap.”

“Hmmm, ada keperluan apakah Sangkuni datang ke Mandaraka ini. Patih, keluarlah dari sidang, beritahu Sangkuni untuk menghadap aku.” Prabu Salya memerintahkan kembali kepada Patih Tuhayata untuk memberikan titah Raja, bahwa Patih Sengkuni sudah diperkenankan naik menghadap.

“Titah paduka akan hamba laksanakan.” Takzim menyembah kemudian hendak diberitahunya Patih Sengkuni untuk naik pendapa.

Begitulah Patih dari Astina itu telah diperintahkan untuk naik ke balairung. Dialah Patih Sangkuni yang bernama lain Harya Suman, Suwelaputra atau juga disebut Tri Gantalpati. Sesudah beberapa saat ia menunggu, segera ia dihadapkan kepada Sang Prabu Salya. Patih Sangkuni yang datang ke Mandaraka atas utusan dari kemenakannya Raja Astina Prabu Jakapitana atau Prabu Kurupati. berjalan mengendap. Merunduk gerak Patih Sangkuni ketika menghadap Prabu Salya, seraya menyembah berulang ulang dengan sikap takzim, ia duduk dihadapan Prabu Salya.

“Heh Patih Sangkuni, baik-baik sajakah kedatanganmu di Mandaraka?”
“Atas pangestu Paduka Sang Prabu, kami tak menemui halangan apapun. Sembah hamba kami haturkan kepada paduka Sang Prabu.”

Demikian juga Putra Prabu Salya, Rukmarata menghaturkan salam keselamatan kepada patih Astina tersebut. Setelah itu Prabu Salya segera ingin mengetahui gerangan apakah yang menjadi keperluan Patih Astina itu datang ke Mandaraka.

“Ada keperluan apakah Patih Sangkuni, kelihatan ada sesuatu yang penting yang hendak kamu sampaikan. Sukur apabila kedatanganmu sekedar berkunjung saja, tetapi apabila kamu diperintah oleh putramu Prabu Kurupati, hendaknya bicaralah yang jelas, agar aku dapat mendengarkan maksudmu dengan sebaik-baiknya.”

Setelah memperbaiki posisi duduknya dan beringsut maju sejengkal, Patih Sangkuni memulai cerita yang dialami ketika para Kurawa juga ikut melakukan pencarian Putri Mandaraka,

“Baiklah. Kenapa hamba berani datang ke hadapan Paduka tanpa diundang, sebab hamba diperintah oleh kemenakan Paduka Prabu Kurupati. Beliau telah tertarik oleh lembar kabar yang telah terpasang di pohon-pohon besar. Disitu diberitakan bahwa putra paduka yang pertama telah sebulan ini hilang, diduga dilarikan orang. Didalam selebaran tersebut juga diberitahukan, bahwa siapapun yang bisa mengembalikan putri Paduka Dyah Herawati, apabila ia adalah seorang wanita, akan diaku menjadi saudaranya. Dan apabila seorang pria yang dapat mengembalikan, dia akan dinikahkan dengan Dewi Herawati.

Dari itulah Putra kemenakan Paduka Prabu Jaka Pitana, melakukan pencarian terhadap Dewi Herawati. Pencarian telah dilakukan tanpa mengingat waktu, baik itu siang atau malam. Sampai pada saat senja, ketika anak Prabu Jaka Pitana membuat pesanggrahan untuk bermalam di tepi Bengawan Swilugangga, ia melihat sesuatu bayangan yang tidak mudah terlihat, tetapi dapat diduga itulah yang melarikan Putri Paduka Prabu Salya. Kenapa dapat dipastikan, karena disitu juga terdengar tangis seorang wanita. Dan dari situlah patut diduga, bahwa putri paduka Dyah Erawati telah dilarikan kedalam Bengawan Swilugangga oleh mahluk tersebut.”

Berhenti sebentar Patih Sengkuni, kemudian masih dengan khidmat ia meneruskan ceritanya

“Oleh sebab itu, anak Prabu Jakapitana telah bersumpah, tidak akan kembali ke Negara Astina bila tidak dapat pulang bersamaan dengan putri paduka Dewi Erawati. Demikian yang dapat hamba ceritakan, sinuhun”.

Sejenak sang Prabu Salya menghela nafas panjang. Cerita Patih Sangkuni makin tentang keberadaan Herawati bukannya menjadikan sang Prabu berlega hati, tetapi malah menambah gundah isi hati Sang Prabu.

Sejenak kemudian, berkata Prabu Salya kepada Patih Sangkuni.

“Heh Patih Sangkuni, setelah kamu menceritakan hal yang terjadi, seketika jantungku menjadi berdebaran. Bila hal itu nyata, mulai kapan lagi Kurawa akan memulai kembali melakukan pencarian didalam Bengawan Swilugangga?”

“Walau tidak diperintah, siang dan malam tak bakal berhenti pencarian itu. Akan berasa malu besar apabila Prabu Jaka Pitana tidak kembali membawa putri Paduka, pulang ke Mandaraka.”

“Sukurlah bila demikian. Kecuali aku menyetujui usaha para Kurawa, aku juga akan memberikan bantuan apapun yang para Kurawa butuhkan”. Prabu Salya mencoba menawarkan bantuan untuk memperlancar usaha para Kurawa.

“Hanya pangestu dari Paduka Sinuwun Mandaraka yang hendaknya menjadi obor bagi gelapnya jalan kami.” Namun Sangkuni dengan halus menolak

“Bagus!! Kapan kamu mau kembali?”
“Sekarang juga kami akan kembali menghadap putra Prabu Jakapitana, supaya tidak menjadi pertanyaan bagi Prabu Jaka Pitana dan hamba akan segera menceritakan apa yang terjadi disini.”

Demikianlah, Patih Sengkuni segera lengser dari hadapan Prabu Salya. Gembira hati Sangkuni setelah melakukan tugas kemenakannya dan diberikan restu oleh Prabu Salya. Maka segera ia meloncat ke punggung kudanya dan sekali lecut kuda telah berlari kencang meninggalkan Mandaraka dengan debu putih yang beterbangan.

Diceritakan setelah Patih Sengkuni pergi dari balairung, kesepian balairung kembali mencekam. Tetapi suasana itu tidak berlangsung lama. Diluar kembali terjadi kehebohan. Banyak yang hadir bersuara ramai, terlihat seorang pemuda datang hendak minta ijin menghadap Prabu Salya. Pemuda tampan yang terlihat bagaikan sosok Dewata.

Siapakah yang datang itu? Demikian pertanyaan dari banyak hadirin yang memenuhi didalam dan diluar sidang. Dialah anak Prabu Pandu, raja Astina dahulu. Dia adalah anak penengah dari lima bersaudara anak Prabu Pandu, atau biasa disebut Pandawa. Anak penengah Pandawa itulah yang bernama Pamade atau Pamadi. Nama lainnnya adalah Permadi, Arjuna, Kuntadi, Parta Panduputra dan banyak lagi nama dan jejuluknya.

Satria yang sangat tampan tanpa cacat secuilpun. Dengan aura yang memancar dari seluruh sosoknya yang berperawakan sedang tetapi tegap. Kulitnya bening bercahaya bagai emas yang baru saja disepuh.

Walaupun mengenakan busana yang serba sederhana, tetapi hal itu malah semakin membuat seluruh sosoknya menjadi makin menonjol.

Ketika ia menaiki pendapa balairung istana, semua mata tertuju kepada sosok yang bagaikan dewa yang turun dari kahyangan. Apalagi para wanita, berdebaran jantung mereka melihat ketampanannya. Mereka saling colek satu sama lain. Beberapa diantaranya melemparkan kerlingan sambil tersenyum merayu. Ada yang melambaikan tangan dari jauh bahkan melemparkan kuntum bunga. Yang tidak sabar bahkan tidak ingat bahwa dia ada dalam sidang agung, walau masih duduk tapi dipanjangkan lehernya berusaha untuk melihat dengan jelas siapakah pemuda tampan yang menghadap rajanya.

Bahkan seorang wanita yang sedang hamil mengelus dan memukul pelan perutnya. Dalam hatinya ia berkata: “Ooh anakku, semoga bila kamu lahir lelaki, dewa berkenan menjadikan kamu tampan seperti pemuda yang baru naik menghadap Gusti Prabu Salya itu!”

Yang lain bahkan ada juga menyembah sang tampan dikira ia adalah dewa yang sedang turun ke dunia. Tetapi Pamadi tidak menghiraukannya dan terus melaju menuju tempat Prabu Salya yang tengah duduk di kursi Gading dengan hiasan emasnya.

Demikianlah. Ternyata Raden Pamadi juga telah mendengar kabar bahwa putri pertama Sang Prabu, Dewi Herawati telah hilang dari kamarnya. Ia naik ke hadapan Prabu Salya hanya didampingi oleh pemomongnya Kyai Lurah Semar Badranaya, atau disebut juga bernama Duda Manang-Munung, Wong Boga Sampir atau juga disebut Jurudyah Kunta Prasanta.

Seketika Prabu Salya seakan tersihir. Dengan mulut ternganga dengan mata yang tanpa berkedip, ia melihat kedatangan pemuda tampan iitu. Walau dalam keadaan yang sangat sedih dan terpukul oleh kehilangan anak perempuannya itu, tetapi kedatangan pemuda ini dapat dikatakan telah menjadikannya ia lupa dengan rasa sedih yang sedang mendera.

Setelah tersadar dengan geragapan ia berkata ;”Oooh . . . aku kejap-kejapkan mata ini berkali kali, tetepi ternyata makin tegas. Kalau tidak salah dihadapanku ini, pamongku dahulu, kakang Semar . . . . ?

“Betul sinuwun, saya Semar Badranaya.” Demikian jawab Semar.
“Oooh kakang, tidak mengira aku bisa ketemu lagi. . . .!”

“He he he saya juga sampai sekarang masih ada . . . .” Terkekeh Semar menjawab
“Selamat atas kedatanganmu kakang. . . ?“

“Ya selamat tanpa aral melintang. Baktiku kepada andika sinuhun.”
“Semar . . . . , pemuda tampan ini siapa?”

“Mohon diperkenankan hamba bercerita dulu. Waktu itu. Sewaktu menjalani sayembara pilih di Negara mandura paduka mungkin masih ingat. Paduka berperang tanding dengan Prabu Pandu Dewanata, setelah andika terpilih pada sayembara pilih itu. Pada waktu itu Prabu Pandu yang datang belakangan ditantang oleh andika, yang kemudian menang atas paduka dan memboyong Dewi Kunti ditambah dengan adik Paduka Dewi Madrim. “ Nyerocos Semar mulai bercerita dengan pertanyaan.

“Iya kakang, aku masih ingat . .”

“Lalu putri dari Plasa Jenar putra dari Prabu Suwela yaitu Prabu Gendara yang bernama dewi Gendari. Dipasrahkan oleh Sangkuni yang kalah ketika hendak merebut kedua putri boyongan Kunti dan Madrim. Setelah dibawa ke Astina, ketiga putri tersebut diberikan semua kepada Ayahnya, Prabu Abiyasa. Sebab Prabu Pandu masih memangku adat dan naluri yang kuat. Tidak baik namanya apabila berani menikah dan melompati yang lebih tua. Setelah itu, Prabu Abiyasa memanggil putra pertamanya, Drestarastra, disuruh memilih diantara ketiganya. Cara memilih yang unik dari Drestarastra ketiga wanita itu dipegang tapak tangan putri-putri itu satu persatu dimulai dari Dewi Madrim, dirabanya. Raden Drestarastra akhirnya mengatakan ia tidak suka kepada Dewi Madrim, yang menurutnya hanya akan berputra dua. Seketika saking girangnya hati Dewi madrim, ia tertawa berkepanjangan. Ia merasa bahagia tidak terpilih. Waktu itu Kunthi juga diperlakukan sama, kemudian ditolaknya Kunthi karena hanya akan berputra tiga.”

Dewi Gendari dipegang tangannya, kemudian mengkipatkan tangan Drestarastra tetapi dipegangnya kembali tangan Gendari dengan paksa, karena Gendari selalu meronta. Tetapi akhirnya setelah perjuangan panjang menahan krodat Gendari yang selalu meronta, terpilihlah Gendari, karena dinyatakan Gendari bakal melahirkan anak sejumlah seratus.
Demikianlah seperti yang sinuwun sudah tahu, Prabu Pandu yang kemudian bertahta menjadi raja Astina, mempunyai tiga orang putra dari Kunti, bernama Puntadewa yang pertama, kemudian yang kedua bernama Bratasena dan yang ketiga bernama Permadi. Sedangkan dari adik paduka Madrim, Prabu Pandu berputra dua kembar, bernama Nakula dan Sadewa”. Sejenak Semar berhenti bercerita seolah berteka-teki. Namun kemudian ia melanjutkan.

“Dan inilah putra Pandu yang ketiga dari Kunti, yang bernama Pamadi.”

Seketika kaget bercampur gembira Prabu Salya ketika mendengar akhir cerita Semar. Turun dari kursi kebesaran dan dirangkulnya kemenakannya itu. Sebentar sebentar diciuminya, sebentar sebentar dielus rambutnya. Bila tidak merasa malu terlihat oleh yang hadir, maka akan berteriaklah prabu Salya sekuatnya melepas rasa gembira yang tidak terkira. Dalam hatinya ia merasa tidaklah berangkulan dengan Pamadi, tetapi ia sedang berrangkulan dengan adik iparnya Prabu Pandu. Haru-biru melingkup suasana sidang kala itu. Maka setelah berapa lama berangkulan, dilepaskannya bahu Pamadi dibimbingnya ia ia lebih mendekat dan berkata.

Keterangan Gambar :
Gambar 1 : Sengkuni Muda (arya Suman) gagrak jogja
Gambar 2 : Sengkuni versi Jawa Timur

Photo
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s