Wawancara eksklusif bersama Arjuna (20)


erawati_solo

“nDara … lha kok banjur melamunkan diri setelah kula memberi gambaran sosok nDara Banowati tadi ?”
‘Hmmm …”

“Pasti langsung terbayang nggih cinta nDara kepada sang kekasih hati, nDara Banowati ?”
“Hmmm …”

“Sebenarnya, bagaimana sih awal mula sua kemudian merangkai berdua indahnya cinta bersama nDara Banuwati itu, nDara ?”
“Hmmm …”

“Jangan hmm … hmm … saja dong nDara. Bicara dong, lha wong janjinya mau cerita kok sekarang kelihatannya tidak bergairah begitu. Lagi galau ya ?”

“Oalah … Gong … Gong … ungkapan dan pertanyaanmu tadi membangkitkan kenangan indah yang pasti tak terlupakan hingga kini dan kelak nanti. Seketika bayang bayang indah kala bersamanya seakan tergambar nyata di pelupuk mata, namun sekaligus menyisakan perih luka hati nan menganga. Kamu bener mau mendengarkan ceritaku ini Gong ?”

“Ciyus nDara … ciyus !”
“Nggak akan bosan karena ceritanya cukup panjang ?”

“Ciyus nDara … ciyus tenan kula !”
“Ciyas ciyus … apa sih kamu ini Gong !”

“He he he … nDara nggak gaul sih, ciyus itu bahasa gaul dari serius bener nDara”

“Ya sudah … pertemuanku dengan Banuwati pertama kali saat terjadinya kasus hilangnya putri sulung Mandaraka, Dewi Erawati”
“Terus nDara ?”

<<< ooo >>>

Cinta terlarang sepanjang hidup. Cinta lewat belakang dijalani Arjuna dengan Banuwati hampir sepanjang kedewasaan keduanya. Perselingkuhan cinta keduanya bukanlah sebuah rahasia, tetapi keniscayaan ini telah menjadi rahasia umum. Bahkan suami Banuwati-pun sebenarnya mengetahuinya secara terang benderang. Tetapi Duryudana, sang suami, tak berdaya bertekuk lutut di sudut kerling mata manja Banuwati. Berkali kali Banuwati kepergok, namun keduanya tetap bersatu erat dalam buaian cinta pertama. Kata orang, selingkuh itu indah. Kenyataan ini benar benar tergambar di kehidupan cinta antara Arjuna dan Banuwati. Mereka berdua saling membutuhkan dan Banuwati telah menyatakan janji, yang apakah ini boleh dikatakan suci?. Ia sanggup menjadi mata-mata bagi kejayaan Pandawa dalam perseteruannya dengan saudara sedarah, Kurawa. Janji yang ada atau tidak adapun akan dibayar dengan kemesraan Arjuna yang diperoleh sepanjang hayatnya hingga Aswatama mengakhiri hidup Banuwati usai Baratayuda.

Ketika itu di petamanan Mandaraka. Tidak ada yang menyuruhpun, sebenarnya Banuwati akan dengan gembira mengakrabi Permadi, Arjuna muda. Pemuda yang sangat tampan itu telah memikat hatinya pada pandangan pertama. Apalagi ketika ayahndanya menyuruh kakak perempuannya, Surtikanti dan dirinya untuk mengenal lebih dekat saudara misan yang begitu membuat heboh sidang yang ketika itu sedang berlangsung. Ayahnda memanggil keduanya seusai sidang agung, ketika putri tertua dari Prabu Salya telah sebulan hilang dari kamarnya.

Memang demikian, sejak Prabu Salya kehilangan putri pertamanya, Herawati atau Erawati, maka telah disiarkan kabar lewat selebaran yang ditempel pada kayu kayu besar dan tempat ramai, bahwa siapapun tidak memandang pangkat dan derajat, bila yang menemukan dan mengantarkannya kembali ke Mandaraka adalah seorang wanita, ia akan diangkat menjadi saudara. Dan bila yang menemukan adalah seorang pria, maka akan dinikahkan dengan Dewi Herawati.

Maka ketika sidang sedang berlangsung hari itu, Prabu Salya yang dihadap oleh putra pangeran pati, Raden Rukmarata, dan dibelakangnya duduk takzim Patih Tuhayata, maka heninglah balairung terbawa oleh kesedihan hati Prabu Salya. Dan kesunyian itu tak hendak terusik oleh para yang hadir. Mereka mahfum dengan apa yang dirasakan oleh rajanya.

Sekian lama waktu berlalu ketika Prabu Salya akhirnya memangil nama putra pangeran pati, Raden Rukmarata.

“Rukmarata putraku . . . . “

“Terimakasih ramanda, bahwa ramanda telah memanggil putra ramanda. Gerangan apakah yang hendak rama prabu sampaikan?” Geragapan Rukmarata yang didalam benaknya juga sedang berputar-putar kenangan mengenai kakak perempuannya, menjawab.

“Hari ini walaupun sebenarnya aku sedang dalam pasamuan agung, tidaklah aku hendak membicarakan tata negara, tetapi saat ini kamu pasti tahu, ramandamu sedang dalam kesusahan. Pikiran ini selalu saja tertuju kepada hilangnya kakakmu Herawati. Sudah terhitung sampai saat ini waktu hilangnya kakakmu itu sudah mencapai satu bulan lamanya.” Sejenak Prabu Salya menelan ludahnya membasahi tenggorokannya yang terasa serak.

“Hilangnya kakakmu itu bagaikan tercabut oleh Dewa. Waktu sore itu kakakmu masih menghadap aku, tetapi ketika keesokan paginya, kakakmu sudah lenyap dari kamarnya. Heh putraku Rukmarata.”

“Daulat ramanda,” Rukmarata menjawab dengan sembah takzimnya.

“Kenapa sampai saat ini belum lagi ada titik terang dimana kakamu Erawati berada? Atau adakah titik terang siapakah yang telah melarikannya. Bila hilangnya kakakmu ini berlarut-larut hingga misalnya dua bulan, betapa akan menjadi teramat menyusahkan ibumu. Dari kemarin sore hingga pagi tadi ketika aku hendak menyelenggarakan sidang, ibumu selalu sedih menangis. Air matanya selalu jatuh berlinangan, dan tingkah lakunya selalu serba salah. Semua cara sudah aku lakukan, semuanya bertujuan agar ibumu terhibur. Tetapi usahaku itu tidak menjadikan ibumu pulih. Menurutku, satu cara agar ibumu akan kembali gembira, bila Erawati ditemukan. Adakah ada cara atau usaha menurutmu, bagaimana agar kakamu segera dapat ditemukan ?” Tanya Salya kepada putranya

“Duh rama, mohon maaf sebesar-besarnya bahwa putra paduka telah berbuat tanpa mendapat perintah terlebih dulu. Sekitar tujuh hari yang lalu, hamba telah mendaki gunung-gunung dan masuk ke dalam hutan. Menyusuri tepian pantai dan merambah ke desa demi desa. Semua yang hamba lakukan adalah mencari titik terang, dimanakah adanya kakanda Herawati dan sekalian mencari tahu siapakah yang melarikannya”. Sejenak Rukmarata berhenti untuk membetulkan letak duduknya.

Kemudian sambungnya “Hamba juga telah bertanya kesana-kemari kepada para Pandita yang berpenglihatan terang dan berperasaan tajam. Semua itu adalah usaha putranda, supaya hamba diberi titik terang dimanakah dapat diketemukan kanda Herawati. Tetapi ramanda, semua yang hamba tanyai selalu menjawab hal yang sama. Semua telah menguncupkan tangan menekuk dengkul, pasrah hidup tidak dapat menunjukkan apa yang hamba minta. Duh ramanda, hingga saat ini tidak ada sepercik titk terang yang dapat dijadikan pedoman dimana adanya kanda Herawati. Putranda hanya dapat berharap kepada Dewata agar kesulitan ini dapat diatasi.” Demikian Rukmarata telah menjelaskan semua usaha yang telah ia lakukan.

“Putraku Rukmarata, seingatku selama aku dititahkan di madyapada ini, tidak sekalipun aku membuat orang lain menderita. Tetapi tanpa aku ketahui musababnya aku telah tersandung perstiwa yang membawa penderitaan semacam ini.” Setelah berdiam diri sebentar, pertanyaan sekarang beralih kepada paranpara kepatihan, Patih Tuhayata

“Patih Tuhayata, apa yang bisa kamu berbuat untuk meringankan kesulitan ini, patih?”

“Duh Gusti Prabu, walaupun tidak sedikit prajurit sandi telah disebar untuk mengetahui dimana Gusti Putri Erawati berada, namun sampai saat ini tidak satupun laporan yang masuk, yang mengatakan telah mendapat titik terang dimana Gusti Putri Erawati telah berada. Hamba hanya dapat meminta seribu maaf karena kali ini hamba tidak dapat berbuat labih banyak lagi.” Jawab Tuhayata dengan disertai kepasrahan.

Keterangan Gambar :
Gambar 1 : Dewi Erawati
Gambar 2 : Gambar Ki Nartosabdho lagi nDalang putra putri Mandaraka, Erawati, Surtikanti, Banuwati, Burisrawa, Rukmarata

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s