Wawancara eksklusif bersama Arjuna (14)


ARJUNA WIWAHA

Dengan langkah yang khas berjalan pelan dengan pantat megal megol, masuklah Semar ke dalam. Tengah menunggu Arjuna dengan seribu tanya menggumpal di benak atas kedatangan Semar ini

“Kakang Semar, bagaimana keadaanmu beserta anak-anakmu di Indrakila ?”
“Pik !” Apik ! ”

“Apakah anak-anakmu masih di sana. Kenapa waktu aku melintas kesana bersama dengan Supraba beberapa waktu yang lalu nggak kelihatan ya ?”
“Ya !”

“Lha kok cekak aos jawaban Kakang. Kakang marah ya ?”
“Gimana nggak mangkel nDara, saya bersama anak-anak nunggu sekian lama nggak jelas sampai kapan menunggu. Sementara yang di tunggu malah asyik asyikan di sini”

“Siapa itu Kakang Semar ?”
“Ya siapa lagi kalau bukan sampeyan !”

“Oooo gitu ya”
“nDara ini tidak tahu apa pura pura nggak mudeng !”

“Terus maksud Kakang datang kesini menjemput saya mau ngapain ?”
“Yang jelas, saya tidak akan ngrusuhi njenengan dengan Supraba maupun yang lain. Saya selaku abdi sampeyan, cuma mau nanya …”

“Mau nanya apa Kakang Semar. Oh ya … Kakang sudah makan atau belum, kalau belum ayo kita makan dahulu di dalam biar nanti Supraba yang menghidangkan khusus untuk Kakang Semar”
“Wis ra usah membelokan pembicaraan ! Ndara, saya mau tanya. Tujuan nDara menjadi Begawan Mintaraga atau Ciptaning itu sudah tercapai belum ?”

“Sudah ! Eeeeh … sebagian sudah Kakang”
“Maksudnya gimana sih kok katanya sudah tapi baru sebagian”

“Saya baru dapat senjata andalan yaitu Pasopati”
“Yang lainnya ?”

“Eeehm … belum sempat Kakang !”
“nDara ini bagaimana sih. Ayo kita menghadap Guru !”

Dengan terpaksa akhirnya Arjuna “diseret” Semar menghadap Batara Guru untuk meng-clear-kan segala urusannya. Sesampai di Jonggring Saloka mereka langsung menghadap Batar Guru

“Kakang .. bagaimana keadaan Kakang Ismaya ?”
“Baik Guru, ini aku membawa Arjuna untuk menjernihkan masalahnya. Ayo Arjuna … silahkan dialog langsung dengan Guru !”

“Ada apa Arjuna, bukankah engkau sekarang sedang menjabat jadi raja kaendran bukan ?”
“Benar, pukulun. Saya sedang berduaan bersama Supraba tiba-tiba Kakang Semar datang dan mengajak kesini”

“Terus apa yang menjadi keperluan engkau menghadapku ?”
“Saya telah melakukan tapa brata dan telah diterima oleh dewata tapa saya. Sayapun telah berjasa membunuh Niwatakawaca dan saya memperoleh anugerah Dewi Supraba dan diangkat menjadi pejabat berjangka waktu di kaendran. Saya juga telah memperoleh senjata sakti Pasopati, namun masih ada tujuan yang saya belum memperoleh kejelasannya”

“Apakah itu Arjuna ?”
“Bagaimana nasib Pandawa di Baratayudha nanti ? Saya berharap Pandawa bakal meraih kemenangan dan masih tetap utuh”

“Iya, sesuai dengan harapanmu, maka kelak pada saat perang Baratayudha terjadi, maka Pandawa akan memperoleh kemengan dan Pandawa tetap utuh”
“Terima kasih pukulun”

“Itu saja Arjuna ?”
“Iya pukulun”

<<< ooo >>>

“Kakang Semar, semua harapanku telah dipenuhi oleh dewata. Namun mengapa engkau masih terlihat sedih dan kurang puas ?”

“Eeeee … Mbegegeg ugeg-ugeg hemel-hemel sak ndulitho … langgeng. Tadi apa yang diminta ?”

“Kemenangan para Pandawa dalam perang Baratayudha !”

“Hanya para Pandawa yang lima ? Terus bagaimana dengan putra-putri Pandawa ? Istri-istri Pandawa ? Raja-raja sekutu para Pandawa ?”

“Aduh ……”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s