Wawancara eksklusif bersama Arjuna (13)


Arjuna KiritinMaka berhadap-hadapanlah perlambang keburukan, kebengisan, ketidak baikan, keganasan, kesombongan yang melekat pada diri Niwatakawaca, dengan perlambang kebaikan yang melekat pada diri Arjuna berupa lemah lembut, suka menolong, berperilaku terpuji dan segala sifat baik lainnya. Maka segera bertempurlah pihak ‘baik’ dan pihak ‘buruk’. Melambangkan juga pergulatan maha dahsyat yang terjadi di setiap detik dalam jiwa dan kehidupan manusia, dengan disadari atau tidak disadari oleh yang berkepentingan.

Setelah terjadi pertempuran ramai antara keduanya sekian lama, terlihat memang Niwatakawaca adalah lawan yang sangat tangguh. Apalagi dengan dimilikinya kekebalan di seluruh tubuhnya, maka nyaris membuat Arjuna tidak berkutik. Begitupun dengan tubuh raksasa Niwatakawaca tentu berbanding lurus dengan kekuatan dan stamina yang dimilikinya. Seandainya pertempuran dilanjutkan, pihak yang akan dirugikan tentu saja adalah Arjuna.

Hal yang sedikit menguntungkan Arjuna adalah bahwa Niwatakawaca terlalu sombong dan membanggakan kesaktiannya sehingga terkesan memandang rendah Arjuna yang terlihat begitu lemah dan berbadan mungil sehingga akan mudah dikalahkan. Niwatakawaca ingin memperlihatkan kepada khalayak bahwa hanya dengan mengerahkan ‘sedikit’ tenaga saja maka dia akan mampu membinasakan jagonya para dewa itu.

Hal inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh Arjuna. Sikap sombong dan memandang rendah dalam sebuah pertempuran adalah hal tabu bagi seorang petarung sejati. Dalam sebuah pertarungan hidup mati, kesalahan kecil saja dapat berakibat fatal, celah kecil dapat membobol pertahanan kokoh, apalagi kalau dilakukan setengah hati dan menganggapnya sebagai layaknya permainan. Dan kesalahan terbesar yang dilakukan Niwatakawaca adalah menganggap remeh kepada Arjuna karena fisiknya memang terlihat begitu lemah kalau dibandingkan dengan dirinya yang tinggi besar dan kuat perkasa. Tak disadarinya bahwa kepintaran dan kecerdikan dalam memanfaatkan segala peluang dan potensi sering mengantar kepada sebuah kesuksesan dan kemenangan, kadang atau bahkan bisa dipastikan lebih powerfull dibandingkan dengan mengandalkan kekuatan fisik belaka.

Dan hal inilah yang sedang dirancang oleh Arjuna. Dirinya telah mengetahui kelemahan Niwatakawaca, maka mulailah dia menjalankan skenario yang telah direncanakannya dengan matang.

Pada saat terjadi pertempuran jarak dekat dimana Arjuna mengandalkan kegesitan untuk menghindari pukulan Niwatakawaca yang begitu kuat hingga menimbulkan pusaran angin yang menderu kencang, dengan sengaja Arjuna melambatkan gerakannya sehingga tubuhnya terkena angin pukulan Niwatakawaca. Tubuh Arjuna melayang terlempar cukup jauh dan kemudian terbanting ke tanah dan tak bergerak lagi.

Melihat hal tersebut, Niwatakawaca gembira bukan main. Dipandanginya tubuh lawannya yang diam tak bergerak, mungkin pingsan atau bahkan telah tewas seketika. Yang tengah bertempur di sekelilingnya, baik itu pasukan dari Himahimantaka maupun pasukan dari kahyangan seketika menghentikan pertempuran dan diam terpaku menyaksikan Arjuna terkapar akibat pukulan Niwatakawaca. Pasukan dari Himahimantaka kemudian riuh bergemuruh menyambut kemenangan rajanya.

Menyaksikan itu semua, meledak rasa gembira Niwatakawaca. Dadanya semakin dibusungkan tanda kebanggaan semakin membuncah menyelimuti tubuhnya. Pandangannya mengitari sekelilingnya dimana para prajurit Himahimantaka berseri riang dan prajurit dewata hanya diam terpaku seraya menantikan apa yang bakal terjadi kemudian. Dalam benak Niwatakawaca telah terbayang kemenangan, tlah terbayang Supraba dapat direngkuh menjadi kekasihnya, tlah terbayang para dewata menyembah sujud dibawah kakinya. Angan-angan itu membuatnya gembira dan bangga luar biasa akan dirinya sendiri. Hingga kemudian kebanggaan dan kegembiraan itu diungkapkan dengan mengeluarkan suara tawa yang keras dan lepas. Niwatakawaca tertawa terbahak-bahak, seolah mengaum dengan mulut yang terbuka lebar.

Dan …..

Momentum yang hanya beberapa detik itu, kemudian terjadi hal yang luar biasa ! Sungguh luar biasa ! Para prajurit Himahimantaka dan juga para prajurit kahyangan dibuat terpana saat tiba-tiba meluncur cepat sebuah anak panah dari tangan Arjuna yang terkapar di tanah dan disangka telah pingsan atau tewas tadi. Daya luncur anak panah tadi begitu cepatnya sehingga yang terlihat hanya bayangannya saja yang bergerak cepat menuju arah Niwatakawaca berdiri. Dan sebelum Niwatakawaca menghentikan tawanya, sebelum Niwatakawaca menutup mulutnya, panah tadi telah tepat masuk kerongga mulutnya dan mengenai lidah serta langit-langit.

Maka … seketika tubuh besar itu jatuh berdebum dengan nyawa telah melayang lepas dari jasadnya.

Dan kini giliran pasukan kahyangan yang bersorak sorai menyambut tewasnya Niwatakawaca. Tewasnya raja itu, membuat semangat para prajurit Himahimantaka ikut melayang. Mereka kocar kacir. Dan tidak lama kemudian medan pertempuran telah sunyi ditinggalkan para prajurit yang melarikan diri, menyisakan tubuh tubuh mati yang bergelimpangan akibat perang nan kejam.

<<< ooo >>>

Dengan matinya Prabu Niwatakawaca maka jalan ke Kaendran, sebagai lambang kebahagiaan, telah dibersihkan dari berbagai rintangan yang menghalanginya. Ketenangan yang sebelumnya terusik oleh gangguan Niwatakawaca, kini kembali pulih tercipta. Setelah keadaan itu menjadi kenyataan, maka buah atau hasil yang dipetik dari sebuah usaha dengan sungguh-sungguh, dalam hal ini dilambangkan melalui suatu peperangan melawan angkara murka yang terdapat pada diri Niwatakawaca, dapat dinikmati sepenuhnya. Pencapaian ini disebut sebagai telah menemukan kembali ke-aku-annya yang bersifat pribadi sejati, kepribadian yang asli bersumber dari Tuhan Penguasa Alam.

Atas kemenangan gilang gemilang Arjuna, maka dia menerima penghargaan dari Batara Indra. Dia diangkat menjadi raja di Kaendran bergelar Karitin selama tujuh hari tujuh malam yang menurut hikayat setara dengan 7 bulan perjalanan sang waktu di marcapada. Dan dengan didampingi Supraba sebagai istrinya, maka Arjuna menikmati hasil jerih payahnya itu.

<<< ooo >>>

Baru beberapa hari merasakan bertabur kenikmatan di kaendran, suatu hari Arjuna menerima laporan bahwa ada seorang titah yang ingin menghadap kepada dirinya. Berdasar laporan, titah itu bertubuh pendek, gemuk bulat dan bermuka jelek. Tak syak lagi bahwa itu tentu pamomongnya yang hadir menyusulnya ke sini, demikian pikiran dalam benak Arjuna. Seraya dipenuhi rasa heran akan maksud kedatangan panakawannya tadi, maka Arjuna segera memerintahkan untuk mempersilahkan sang tamu menghadap kepadanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s