Wawancara eksklusif bersama Arjuna (12)


Niwata kawaca

Kata-kata indah penuh rayuan, tutur lembut nan menghanyutkan, senyum dan kerling menawan, membuat Niwatakawaca mabuk kepayang. Angannya melayang, jiwanya terbang bak di surga tempat segala kenikmatan bersemayang. Kesombongan yang selama ini menjadi hari-harinya, kekejaman yang seolah menjadi trade mark-nya, serta nalar sehatnya, luluh diredam oleh madu cinta yang disajikan oleh sang kekasih hati. Hingga sedikit demi sedikit kemudian raja sakti mandraguna itu mulai terperangkap dalam jerat yang tlah di siapkan oleh Supraba. Maka dengan tidak sadar diungkapkannya tentang rahasia hidupnya, rahasia kelemahannya yang selama ini hanya dialah yang tahu, yaitu ujung lidahnya.

<<< ooo >>>

Sungguh merupakan pelajaran yang sangat berharga dari terlenanya Sang Jumawa Niwatakawaca, dalam kehidupan ini.

Bahwa dalam menjalani hidup dan kehidupan kita di dunia ini harus selalu ‘eling lan waspodho’, slalu ingat dan waspada. Bunga mawar nan merah merona dan mewangi semerbak, sungguh indah dipandang dan di hirup aromanya. Namun berhati-hatilah dalam memetiknya karena banyak duri di batangnya yang dapat melukaimu. “Sing sapa lali, mbanjur lena, temahane lina”, siapa saja yang lupa akan kesadaran dan kewaspadaan maka akan sangat mudah menjadi lalai hingga dapat berujung menjadi petaka bahkan kematian.

Bahwa perkataan yang keluar dari mulut seseorang dapat menunjukan siapa sejatinya sang empunya. Tutur kata nan lembut penuh sopan santun, tiada kebohongan dan apa adanya, serta dihiasi oleh senyum tulus menentramkan hati, sungguh kan membuat dunia ini menjadi tentram damai sentosa. Namun sebaliknya, perkataan yang kasar, keluar ungkapan yang tak sopan dan menyakitkan pendengarnya, untaian kalimat penuh kebohongan dan kelicikan, sungguh bakal mencelakakan dirinya sendiri. Mulutmu adalah harimaumu ! Memang lidah tak bertulang ! Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan !

Sebuah rahasia seumpama yang dikeluarkan dari mulut tanpa berhati-hati, tidak terkontrol, tanpa pertimbangan matang terlebih dahulu, akan dapat menimbulkan kesengsaraan dan petaka yang tak terhingga, bahkan dapat menyeret jiwa manusia ke liang kuburnya. Sebaliknya, pabila dimanfaatkan dengan smart, pintar, tangkas dan baik dengan pebuh rasa tanggung jawab dan menjunjung tinggi rasa perikemanusiaan, hasilnya adalah kebahagiaan, kedamaian dan kenikmatan sejati, yang adalah merupakan karunia dari Tuhan semesta alam. Sehingga dapat dikatakan bahwa mulut itu dapat memberi berkat atau laknat. Mulut merupakan kunci kebahagiaan atau justru sebagai gerbang menuju derita.

Pun kita juga harus sadar bahwa di dunia ini berlaku hukum kenisbian, hukum relativitas, karena dunia memang tidak mutlak, dunia adalah fana, tidak abadi. Adalah suatu kebodohan pabila beranggapan bahwa yang kini tidak ada itu pasti tidak akan pernah ada, sebab kelak di kemudian mungkin akan ada. Adalah suatu kesalahan fatal pabila beranggapan bahwa kekayaan yang kita miliki sekarang akan kita genggam selamanya hingga mati. Tidaklah benar, orang yang sangat yakin bahwa kepintaran dan kebijaksanaan yang dimilikinya, tiada tertandingi oleh orang lain. Tidak sadarkah bahwa dunia ini nisbi ?

<<< ooo >>>

Sang Prabu setelah tersadar kembali, mulai ngeh bahwa dirinya telah terjebak dalam perangkap yang telah diskenariokan melalui episode penyerahan diri sepenuhnya jiwa raga Dewi Supraba. Apalagi tidak lama kemudian dari luar istana terdengar suara gaduh, huru hara akibat tindakan Arjuna yang sengaja merusak istana untuk mencari perhatian. Niwatakawaca semakin geram. Maka diturunkan Dewi Supraba dari pangkuannya, kemudian dengan kemarahan yang menggelegak segera melesat menuju kekacauan yang ditimbulkan oleh Arjuna itu.

Secepatnya Dewi Supraba kemudian beringsut meninggalkan tamansari istana untuk bertemu dengan Arjuna yang telah menantinya di tempat yang telah ditentukan untuk kembali menuju kahyangan. Dan yang sangat menyakitkan bagi Niwatakawaca, saat Arjuna dan Supraba berdua ‘terbang’ menuju kahyangan, dari jauh dia menyaksikan tanpa mampu menahannya. Entah bagaimana perasaan hati Sang Prabu itu, antara murka, benci terhadap kelemahan diri, dendam membara, memaki kebodohannya pribadi, berbaur menjadi bara yang siap membakar dan menghancur leburkan kahyangan.

Bara itu semakin memanas takala sesampai di istana kembali untuk konsolidasi rencana menyerang kahyangan, datanglah utusan yang membawa laporan bahwa Mamangmurka yang diutusnya mengganggu Mintaraga, ternyata telah tewas. Dan Mintaraga itulah ternyata yang membuat kekacauan di negrinya serta berkolaborasi dengan Dewi Supraba untuk menjebak dirinya.

Niwatakawaca tidak merasa takut bahwa rahasianya telah terkuak dan diketahui oleh musuh. Kesombongan akan kesaktiannya membawanya untuk memutuskan segera menyerang dan menghancurkan kahyangan yang dianggapnya tlah menyepelekannya, tidak menganggap dirinya bahkan bertindak licik penuh tipu muslihat.

Maka pasukan besar negri Himahimantaka di bawah pimpinan Sang Raja sendiri, bergerak menuju kahyangan dengan tujuan menghancurkannya sebagai wujud balas dendam atas malu dan derita yang disandangnya.

<<< ooo >>>

Sementara itu di kahyangan suasana menjadi cerah atas datangnya kembali Arjuna dan Suprabha dengan selamat membawa hasil sesuai yang diamanatkan. Maka segera didakan persiapan untuk menyambut serangan pasukan Sang Niwatakawaca. Diputuskan bahwa hanya Arjuna dibantu oleh Batara Indra yang nanti bertugas untuk membunuh Niwatakawaca dengan senjata pamungkas Pasopati. Tentara para dewa, apsara dan gandarwa menuju medan pertempuran di lereng sebelah selatan pegunungan Himalaya dan mengatur barisan dalam sebuah posisi disebut makara, berbentuk seperti udang. Dengan pimpinan pasukan perangnya adalah Arjuna, mereka tlah siap siaga untuk berperang mempertahankan diri dari gempuran lawan.

Tidak begitu lama berselang, datanglah pasukan dari Himahimantaka. Dan pertempuranpun seketika meledak dengan sengitnya. Gempuran pasukan Himahimantaka sungguh dahsyat. Hal ini didorong oleh semangat rajanya yang dengan kesaktiannya mampu merangsek mendekati pemimpin perang dara para dewata.

Maka … tibalah saat saat yang dinantikan oleh kedua belah fihak. Kedua pemimpin pasukan perang bertemu dan berhadap-hadapan !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s