Wawancara eksklusif bersama Arjuna (11)


Arjuna Supraba
Setelah menerima semua penjelasan dari Batara Indra tersebut, Arjuna menyetujui untuk membantu. Kemudian disusunlah strategi untuk mengalahkan Prabu Niwatakawaca yang pabila menggunakan strategi perang biasa tentu tidak akan mampu mengalahkannya apalagi membunuhnya. Oleh karenanya harus dicari kelemahan pada diri Niwatakawaca, sebab pabila sang raja terbunuh maka niscaya pasukan Himahimantaka akan dengan mudah dibinasakan.

Akhirnya disepakati bahwa jalan mencari kelemahan Sang Niwatakawaca adalah melalui ‘jalan cinta’. Ya … Niwatakawaca begitu tergila-gila kepada Dewi Supraba dan memperjuangkan dengan segala cara untuk merengkuh menjadi istrinya. Dan hal inilah yang bisa dimanfaatkan dengan tipu muslihat !

Disetujui bahwa Suprabha akan berpura-pura menyerahkan diri dan bersedia menjadi istri Niwatakawaca kemudian berusaha untuk merayu sang raja agar mau mengatakan rahasia kekuatannya. Sungguh pelik memang. Namun setelah mendapat dukungan dari Arjuna dan juga restu dari Batara Indra, maka Dewi Supraba menetapkan hati untuk menjalankan tugas ini. Maka Supraba diiringi Arjuna turun ke bumi menuju Himahimantaka.

Saat mereka berdua melayang melewati gunung Indrakila tempat dimana sebelumnya Arjuna bertapa, gua Mintaraga dan tempat tempat pertapaan disekitarnya terlihat sepi dan dalam keadaan yang kosong seolah tanpa penghuni. Entah kemana para pertapa di sekitar Indrakila itu sekarang berada. Suasana di sekitarnya masih indah bentuknya memang, namun keadaannya sungguh sunyi senyap dan yang agak terang hanyalah ‘cahaya’ yang berwibawa memancar ke segala penjuru.

Dan yang nampak hanyalah seorang bernama Dewi Harini yang berada dalam bekas taman bunga di Indrakila itu. Ia adalah seorang pelayan yang dahulu bertugas sebagai juru merangkai bunga dan membakar dupa. Dewi Harini itu ternyata bisu ! Dia dikutuk oleh Begawan Ternawindu menjadi bisu.

Hal ini memberi perlambang kepada kita semua bahwa : suatu masyarakat yang telah ‘antaka’, tlah meninggalkan, tlah mati tidak peduli, terhadap agama, terhadap ajaran-ajaran luhur dan masyarakat yang tlah biasa mengabaikan tata susila, maka masyarakat itu pada dasarnya tlah menjadi gambaran kosong, tlah berubah menjadi patilasan belaka. Masyarakat itu tlah mejadi BISU, tidak mempunyai hak untuk bersuara apapun.

Dewi Harini dalam perspektif ini, sebagai suatu perlambang pula akan seseorang yang pada lahirnya terlihat begitu religius, namun tak disangka, kebatinannya justru bersifat kebalikannya, kosong tiada hidayah dari Tuhan Semesta Alam. Tidak ada kesesuaian antara lahir dan batin, antara ungkapan gerak tubuh dengan suasana hati. Seolah menjadi orang beriman pabila dilihat oleh para tetangga, saudara dan teman sejawat, namun dalam hatinya mengingkari Kuasanya. Yang ada pada manusia semacam itu hanyalah bekas, patilasan saja, yang tidak mempunyai arti apa-apa.

Sesampai di kerajaan Niwatakawaca, kembali timbul keraguan pada diri Dewi Supraba dan pula ketakutan.

“Bukankah Dewi tahu bahwa Niwatakawaca begitu tergila-gila kepadamu Dewi ?” lembut Arjuna berujar
“Menurutkupun begitu, Arjuna”

“Apakah Dewi tidak yakin akan kecantikan Dewi yang begitu bersinar bak mentari dan menghanyutkan hati sesiapa saja yang memandangnya, tak terkecuali Niwatakawaca hingga gulung koming nyaris gila”
“Hem … tentu saja”

“Lalu mengapa masih timbul keraguan untuk merayunya ?”
“Tidak selamanya kecantikanku berhasil menjatuhkan hati pria. Buktinya belum lama ini aku gagal” Dewi Supraba mengungkapkan ini seraya tersenyum manis melirik Sang Dananjaya disebelahnya

“Maksud Dewi ?” tanya Arjuna pura-pura blo’on
“Bukankah aku gagal merayumu, bahkan ditambah dengan enam saudarakku yang lain, tak mampu mengusikmu barang sedetik”

“Mungkin pada saat itu Dewi kurang optimal merayunya” Arjuna mulai nakal
“Kurang optimal bagaimana ? Lha wong aku sampai capek dan gobyos keringatan kok” tertawa kecil Sang Dewi mengingat saat itu. Maniiiis sekali.

“Saat itu lain Dewi ! Kalau sekarang Dewi yang merayu, tentu sungguh aku kan tergoda. Dewi belum merayupun, aku sekarang juga sudah tergoda”
“Masak sih ?”

“Sudah … sudah … sekarang yang penting Dewi harus percaya diri untuk mengemban tugas ini sehingga nanti kan memperoleh hasil sesuai dengan yang kita rencanakan, bukankah begitu ?”
“Benar ! Aku sekarang sudah yakin”

Maka segera Dewi Supraba menuju istana Himahimantaka untuk menemui Sang Niwatakawaca. Dan saat berada di hadapan Prabu Niwatakawaca yang begitu menaruh cinta nan menggelora kepada Dewi di hadapannya itu, maka Dewi Supraba berpura-pura menyerahkan seluruh diri dan asmaranya tanpa syarat kepada Sang Niwatakawaca. Karenanya Niwatakawaca kemudian gembira luar biasa, mabuk asmara, terbuai indahnya nuansa cinta yang kini seolah tlah siap direguknya. Dalam suasana yang seperti itulah, pikirannya menjadi kabur, banyak kabut yang menghalangi, bahkan menjadi lupa akan segala hal yang meliputi dirinya pribadi. Bingung, senang, gelisah, gembira, meledak berbaur menjadikannya tak mampu berfikir rasional seperti biasanya.

Inilah yang ditunggu oleh Sang Dewi ! Keadaan yang demikian inilah, merupakan kesempatan yang terbaik bagi Dewi Supraba untuk mendapat keterangan yang jelas tentang ‘rahasia hidup’ Niwatakawaca.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s