Wawancara eksklusif bersama Arjuna (9)


Indra Batara

Ternyata kecantikan ketujuh bidadari yang tiada terperi, tiada mampu menggoda dan menggoyahkan sang Mintaraga. Tiada lain oleh karena di dalam tapanya sang Mintaraga telah berhasil mencapai keteguhan hati, telah sempurna dhira-nya sehingga tidaklah ia terganggu oleh godaan para apsari nan jelita itu. Bahkan akhirnya mereka terpaksa kembali ke kahyangan dewata dalam kesedihan dan kerinduan yang mendalam, meninggalkan sang Ciptaning yang berdiam dalam keheningan batin yang sempurna. Mereka kembali ke kahyangan dengan membawa kegagalan menjalankan tugas yang diemban.

Namun justru karna kegagalan ketujuh apsari itulah, membuat para dewa di kahyangan bersuka-cita, bahkan ada yang menghaturkan sembah penghormatan ke arah Indrakila. Para dewata bersyukur karena telah menemukan seorang ksatria pahlawan yang akan membela kelestarian kahyangan dewata.

Akan tetapi ternyata ujian tidak cukup sampai di situ saja, harus ada ujian lainnya untuk memastikan keyakinan para dewata itu. Sang Mintaraga masih harus diuji, apakah dia seorang ksatria yang tengah menjalankan tapa, ataukah ia adalah seorang resi yang ingin menanggalkan keduniawian. Maka turunlah Batara Indra ngejawantah dengan menyamar sebagai seorang resi tua untuk memperolok-olokkan dan menggugah rasa ke-ksatria-an Mintaraga.

Sang Mintaraga kemudian menghentikan tapanya sebentar dan menyambut resi tua itu dengan penuh rasa hormat. Menghadapi ujian Batara Indra itu, tlah nampak keteguhan dan ketetapan hati sang Ciptaning dalam memegang dharma ksatria, yang mementingkan jasa dan kebajikan, yasa dan wirya. Pun terungkap kebaktian dan cinta kasihnya kepada kakaknya Yudistira ya Puntadewa ya Dharmaputra. Mereka para Pandawa tidak berlama-lama hanyut dalam kesedihan dan penyesalan setelah peristiwa kalah dalam permainan dadu sehingga kehilangan negri Amarta dan menjalani hukum buang dua belas tahun di hutan dan satu tahun masa penyamaran. Dan Puntadewa selaku sulung Pandawa, mengajak dan mempelopori kepada adik-adiknya Pandawa untuk segera bangkit dan kembali menatap masa depan dengan tekad kuat dan mengubur dalam-dalam masa lalu.

Dan Arjunapun bertapa dengan tekun sebagai sang Mintaraga atau Begawan Ciptaning. Tujuan dan cita-citanya adalah untuk menjadi jaya dan berkuasa di dunia, digjaya wijaya. Juga ingin membantu dan berbuat jasa dalam memelihara seluruh dunia dan berbuat baik kepada sesama, mahaywang rat lawan kaparahitan. Dan demi cita-citanya itu maka ia tertanam keberanian menghadapi apa saja, bahkan hingga ajal menjemput sekalipun.

Kini keraguan Batara Indra menjadi sirna seiring dengan telah ditemukannya seorang ksatria berbudi-luhur yang akan mampu untuk menghadapi sang Niwatakawaca. Dipujinya sang Mintaraga sebagai ksatria yang berjalan mantap dan teguh dalam membina kehormatan dirinya dengan tepat. Akan tetapi Arjuna masih harus bertapa dalam rangka meneruskan usahanya untuk memperoleh anugerah Hyang Batara Agung karena tidak lama lagi keindahan Tuhan kan datang kepadanya. Maka sang Mintaragapun meningkatkan usahanya dengan semangat dan kemantaban niyat yang semakin membulat.

Namun berita tentang sang Mintaraga ternyata sampai juga ke telinga Niwatakawaca. Sebagai seorang raja yang mumpuni, dia menyadari bahwa sang Ciptaning kelak akan dapat menjadi batu sandungan bagi cita-citanya memperistri Dewi Supraba. Maka di utuslah Mamangmurka untuk setidaknya mengganggu tapa brata sang Mintaraga, lebih baik lagi kalau mampu membunuhnya. Maka menjelmalah Mamangmurka menjadi seekor babi hutan yang ganas.

Sang Mintaraga selalu bersikap waspada dan selalu dalam kesiap – siagaan meskipun terlihat berdiam diri dalam tapa bratanya. Indranya begitu sempurna menerima semua kejadian yang terjadi di sekelilingnya, sehingga takala si babi hutan yang ganas datang mengganggu dan merusak maka sang Mintaraga segera bertindak. Seketika, babi hutan itu tewas setelah bidikan panah sang Mintaraga tepat mengenai sasaran. Namun betapa terkejutnya dia setelah mendekat dan melihat bahwa terdapat dua panah yang menancap di tubuh babi hutan itu yang menyebabkan kematiannya. Satu adalah panahnya dan satunya lagi panah siapakah ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s