Wawancara eksklusif bersama Arjuna (10)


Arjuna manah

Namun tidak begitu lama kemudian, muncul seorang satria tampan yang berjalan cepat dengan menyandang busur menuju ke arah Mintaraga dan bangkai babi hutan itu berada. Belum sampai satria itu di tempat Mintaraga tengah memperhatikan hasil panahannya, suaranya telah terdengar nyaring :

“Hey … kisanak ! Sedang apa kau di situ. Jangan sentuh binatang buruanku !”
Sang Mintaraga menoleh ke arah suara berasal. Dan sekejap kemudia orang itu telah berdiri di sebelahnya seraya berkata :

“Hey Kisanak … mengapa engkau hendak mengambil panahku yang menancap di tubuh babi hutan itu. Bukan suatu hal yang terpuji bila seseorang mengambil bukan hak miliknya. Apalagi aku lihat dandananmu layaknya seorang pertapa. Siapa engkau sebenarnya ?”
“Aku bernama Mintaraga, kisanak. Siapakah engkau sebenarnya, hingga belum jelas permasalahannya telah menuduhku berbuat tidak terpuji ?”

“Orang menyebutku sebagai Kiratarupa, seorang ahli panah yang tiada banding dan tiada tanding di dunia ini. Dan babi hutan yang di depanmu itu adalah saksinya. Aku bidik dia dari jarak yang jauh dan ternyata benar panahku mengenai sasaran dengan tepat. Aku bersegera kemari untuk memastikan dan mengambil kembali panah yang tlah aku lepaskan tadi. Lalu kenapa engkau dengan seenaknya hendak mengambilnya, Mintaraga. Apakah kamu benar benar seorang pertapa ataukah hanya sekedar pencuri yang tengah menyamar menjadi seorang begawan”

Panas hati Sang Mintaraga mendengar kata kata tajam yang diberondongkan oleh satria itu tanpa jeda. Kemudian masih dengan pelan penuh kesabaran, Mintaraga menjawab :

“Kisanak Kiratarupa, tidak engkau saja yang melepas panah untuk membunuh babi hutan ini. Akupun tadi juga telah membidiknya dengan tepat sehingga akhirnya babi hutan ini terbunuh”
“Bohong ! Sungguh engkau tidak layak menjadi seorang pertapa, perkataanmu penuh kebohongan untuk menutupi kelemahanmu. Jelas yang menancap di tubuh binatang itu adalah panahku”

Masih dengan tenang Mintaraga bertutur :

“Bukankah di tubuh babi hutan itu ada dua panah, kisanak !”
“Iya … tapi yang tlah membunuh binatang ini adalah panahku. Panahmu pasti tertancap belakangan setelah panahku. Atau mungkin karena tidak ada orang mengetahui, maka panahmu sengaja engkau tancapkan dengan tanganmu untuk mengelabuiku, bukan ?”

Amarah Mintaraga mulai terbakar. Bagaimanapun hal ini telah berkaitan dengan martabat harga diri dan kejujuran.

“Kisanak, yang sopanlah dalam bertutur. Bukalah hatimu untuk menerima ucapan dan pendapat orang lain. Sungguh, demi Tuhan Sang Penguasa Alam ini, aku tadi memang melepas anak panah ke arah babi hutan ini dan tepat mengenai sasaran. Dan salah satu dari panah ini adalah panahku”
“Ah … engkau hanya berdalih saja untuk ketidak becusanmu dalam olah memanah !”

Marahlah Sang Mintaraga seketika mendengar kata kata tajam penuh ejekan dan penghinaan dari Kiratarupa.

“Kisanak ! Aku merasa apa yang kulakukan ini tidak menyalahi peraturan dalam darma satria, dan pula tidak mencelakakan atau menzalimi orang lain. Namun kisanak begitu sombong seolah di dunia ini tiada yang mampu menandingi olah kridamu. Kalau begitu aku ..”

Belum habis berkata kata, Kiratarupa langsung memotong ucapan Mintaraga

“Kalau begitu apa ? Engkau menantang aku untuk bertarung, begitukah ? Apakah engkau mempunyai keberanian untuk melawanku, hai pendeta gadungan !”

Sungguh piawai Kiratarupa membangkitkan amarah Mintaraga. Dengan kata kata yang penuh hinaan, akhirnya keluar juga tantangan Sang Mintaraga

“Hai Kiratarupa, mari kita buktikan siapa yang benar melalui pertarungan secara ksatria. Usahlah engkau berpanjang kata mengumbar hinaan kepadaku. Hayo mari kita mulai !”

Maka kemudian terjadilah peperangan antara dua satria sakti itu. Saling serang terjadi diantara mereka. Telah banyak dikeluarkan kedigdayaan yang ternyata mampu diimbangi oleh lawannya.

Kiratarupa melemparkan ke arah Mintaraga berupa senjata senjata tajam yang mampu di tolak dan di halau oleh pusaran angin yang keluar dari badan Mintaraga. Begitupun saat Kiratarupa melepaskan panah yang mengakibatkan hawa yang sangat dingin, mampu di tangkis oleh Mintaraga hingga panah itu patah dan kemudian jatuh ke tanah.

Ternyata, Kiratarupa sungguh satria yang sakti mandraguna. Diangkatnya batu sebesar ‘gajah meteng’ kemudian di lemparkan seolah melempar kerikil saja ke arah MIntaraga. Namun yang dihadapi kali ini adalah satria panengah Pandawa nan pilih tanding. Tanpa bantuan tameng ataupun senjata lainnya, ditangkisnya batu besar itu dengan tangan telanjang seraya mengerahkan tenaga sakti dari dalam dirinya. Maka seketika … batu besar itu hancur menjadi serpihan kecil dan sebagian menjadi debu diiringi dengan bunyi yang menggelegar.

Begitupun saat Kiratarupa menciptakan senjata api yang keluar dari tapak tangannya, Sang Mintaraga mampu menahannya dari panas dan pijarnya. Kiratarupa memainkan senjata rantai berkepala naga, maka Mintaraga menandinginya dengan panah berkepala garuda.

Sungguh seru pertempuran kedua satria itu. Sama sama muda, sama sama mempunyai banyak senjata sakti, sama sama tangguh, hingga pertempuran berlangsung cukup lama dan cenderung berimbang, tiada yang mampu mendesak ataupun dalam kondisi terdesak.

Hingga kemudian mereka saling menghampiri untuk bertarung lebih dekat. Maka terjadilah pertarungan ala kungfu yang menekankan kecepatan dan kegesitan gerak tangan dan kaki untuk mencari celah kelengahan lawan. Pertarungan model begini, tentu membutuhkan stamina prima, gerakan cepat dan kuat serta konsentrasi yang tinggi, dan tentu saja kecerdikan. Dalam hal seperti ini, tentu Mintaraga mempunyai pengalaman yang lebih banyak di banding Kiratarupa.

Setelah sekian lama terjadi pertarungan dekat dan cepat, maka Mintaraga mengupayakan untuk segera mengakhirinya dengan trik yang biasanya berhasil digunakannya, yaitu berpura-pura lengah namun telah dipersiapkan serangan balik yang mematikan. Kelebihan Mintaraga adalah mampu menganalisa pertarungan yang telah dilakukannya dan kemudian menyimpulkan titik lemah dari lawannya dan kemudian akan dimanfaatkan untuk mengalahkannya. Dan dia telah menemukan caranya !

Maka tiba tiba Mintaraga seperti terdesak hebat oleh terjangan Kiratarupa. Kiratarupa merasa senang karena merasa mulai unggul dan segera ingin mengakhiri pertarungan ini. Dan wajahnya tambah sumringah saat tangannya mampu menampar kepala Mintaraga namun hanya mengenai rambutnya saja. Saat itulah yang ditunggu tunggu Minataraga. Dalam posisi menyerang maka bisa dipastikan pertahanan Kiratarupa sedikit terbuka, dan waktu yang hanya sekejap itu dimanfaatkan untuk secepat kilat meraih kedua kaki musuhnya dan setelah terpegang segera dikerahkan tenaga untuk mengangkat dan berniat membantingnya.

Namun betapa kaget Mintaraga pada saat itu tiba tiba tubuh Kiratarupa lenyap dari tangannya ! Dan sebagai gantinya, muncul di hadapannya Sanghyang Siwah atau Bathara Radra. Maka dengan segera Mintaraga menghaturkan sembah seraya berkata

“Hamba mohon ampun kepada Sanghyang Siwah atas keberanian hamba melawan bahkan bertempur dengan paduka karena ketidaktahuan hamba”

“Oooo tidak apa-apa Arjuna … kamu Arjuna bukan ? Kejadian kejadian tadi hanya merupakan ujian bagi dirimu disamping ujian ujian lain yang telah engkau alami sebelumnya. Ternyata memang engkau sungguh satria yang sangat mumpuni. Disamping engkau dikaruniai wajah nan rupawan, engkaupun memiliki karakter yang baik dan terpuji dalam menjalankan laku sebagai satria utama, pun pengabdian dan rasa cintamu kepada ibumu, saudara tuamu serta adik adikmu, sungguh tiada terbantahkan lagi. Oleh karenanya aku wartakan kepadamu bahwa tapa bratamu telah diterima oleh Dewa Yang Agung dan akan aku berikan anugerah keempat kesaktian (cadusakti) berupa panah bernama PASOPATI dan juga busur, ketopong, dan baju zirah. Juga engkau akan memperoleh ajaran suci berupa ilmu keahlian memanah (aji dhanurdharasastra).”

Setelah Sanghyang Batara Siwah berlalu, Arjuna ya Mintaraga merasa amat berbahagia atas anugerah yang telah diterimanya. Kembalilah dia ke tempat pertapaannya dan bersiap siap untuk kembali menemui ibu, saudara saudaranya dan juga istri istrinya. Sungguh … tlah lama dia meninggalkan mereka semua, dan tlah kangen Sang Arjuna kepada mereka serta hendak dikabarkan bahwa dirinya tlah memperoleh anugerah yang luar biasa sebagai bekal masa depan kelak.

Namun di tengah Arjuna mempersiapkan kepulangannya, tiba-tiba datanglah dua orang bidadari utusan Batara Indra, Braja dan Erawana, menyampaikan sebuah nawala. Mereka memberitahukan Arjuna supaya menghadap Indra untuk membantu para dewa dalam membunuh raja raksasa maha sakti Niwatakawaca. Untuk sesaat Arjuna merasa ragu-ragu karena jika ia mengabulkan permintaan tersebut maka ia akan lebih lama lagi terpisah dari saudara-saudaranya. Namun akhirnya ia menyetujui.

Ketika sampai di kahyangan, Arjuna disambut dengan riang gembira oleh para penghuninya, apalagi para bidadari termasuk Supraba. Kemudian Batara Indra menjelaskan tentang huru hara yang ditimbulkan oleh Prabu Niwatakawaca mengenai lamarannya kepada Supraba dan kegagalan para dewa untuk mengusirnya. Namun sudah menjadi garis takdirnya bahwa raja tersebut hanya dapat dikalahkan oleh seorang manusia terpilih dan harapannya Arjuna-lah yang dimaksudkan. Dan ada satu hal yang masih menjadi teka teki dan boleh jadi hal itu menjadi kunci dalam menyelesaikan masalah yaitu tentang rahasia kesaktian Niwatakawaca agar dapat dikalahkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s