Sekilas Tentang Lakon Wayang


Pengertian lakon

Pertunjukan wayang kulit purwa, lazim disebut pakeliran. Jika orang melihat sebuah pertunjukan wayang, sebenarnya yang dilihat adalah pertunjukan lakon. Oleh karena itu, kedudukan lakon dalam pakeliran sangat penting sifatnya. Melalui garapan lakon, terungkap nilai-nilai kemanusiaan yang dapat memperkaya pengalaman kejiwaan.

Dikalangan pedalangan pengertian Lakon sangat tergantung dengan konteks pembicaraannya. Lakon dapat diartikan alur cerita, atau judul cerita, atau dapat diartikan sebagai tokoh utama dalam cerita (Kuwato dalam Murtiyoso. 2004).

Selain itu lakon merupakan salah satu kosakata bahasa Jawa, yang berasal dari kata laku yang artinya perjalanan atau cerita atau rentetan peristiwa (Murtiyoso. 2004). Jadi lakon wayang adalah perjalanan cerita wayang atau rentetan peristiwa wayang. Perjalanan cerita wayang ini berhubungan dengan tokoh-tokoh yang ditampilkan sebagai pelaku dalam pertunjukan sebuah lakon. Kemudian di dalam sebuah cerita wayang akan muncul permasalahan, konflik-konflik dan penyelesaiannya ini terbentang dari awal sampai akhir pertunjukan (jejer sampai dengan tancep kayon) dengan wujud kelompok unit-unit yang lebih kecil yang disebut adegan. Unit adegan yang satu dengan adegan yang lain, saling terkait, baik langsung maupun yang tidak langsung membentuk satu sistem yang disebut lakon.  Continue reading Sekilas Tentang Lakon Wayang

SIMBOLISME LAKON DEWA RUCI DALAM WAYANG KULIT PURWA


Bima Naga

O l e h :

Agung Prasetyo, Desy Nurcahyanti, Sularno, Wishnu Subroto

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA

I. PENDAHULUAN
Manusia adalah makhluk budaya, dan penuh simbol-simbol. Dapat dikatakan bahwa budaya manusia diwarnai simbolisme, yaitu suatu tata pemikiran atau paham yang menekankan atau mengikuti pola-pola, serta mendasarkan diri pada simbol-simbol. Sepanjang sejarah budaya manusia, simbolisme telah mewarnai tindakan-tindakan manusia baik tingkah laku, bahasa, ilmu pengetahuan maupun religinya. Dengan perkataan lain dunia kebudayaan adalah dunia penuh simbol. Manusia berpikir, berperasaan, dan bersikap dengan ungkapan-ungkapan yang simbolis. Ungkapan yang simbolis ini merupakan ciri khas manusia (Heru Satoto, 1987).
Simbolisme menonjol peranannya dalam tradisi atau adat istiadat Orang Jawa. Simbolisme terdapat dalam setiap karya budaya nenek moyang, serta berperan sebagai warisan budaya turun-temurun, dari generasi tua ke generasi muda.
Wayang dipandang sebagai suatu bahasa simbol dari hidup dan kehidupan yang lebih bersifat rohaniah daripada lahiriah. Orang melihat wayang seperti halnya melihat kaca rias. Jika orang melihat pergelaran wayang, yang dilihat bukan wayangnya melainkan masalah yang tersirat di dalam lakon wayang itu. Seperti halnya kalau kita melihat ke kaca rias, kita bukan melihat tebal dan jenis kaca rias itu, melainkan melihat apa yang tersirat di dalam kaca tersebut. Kita melihat bayangan di dalam kaca rias itu, oleh karenanya kalau kita melihat wayang dikatakan bahwa kita bukan melihat wayangnya, melainkan melihat bayangan (lakon) diri kita sendiri (Sri Mulyono, 1983).
Wayang kulit purwa merupakan karya seni kriya klasik, sehingga terdapat aturan konvensional, berkaitan dengan norma, simbolisasi, filosofi dan nilai lainnya, ataupun berkaitan dengan masalah bentuk wayang itu sendiri. Berdasarkan alasan tersebut bagian wayang yang terkecil sekalipun akan menarik bila diurai, karena sesuatu yang kecil itu berkaitan dengan bidang lain (Sunarto,1990). Pada paper ini akan diuraikan sebagian kecil wayang yakni Simbolisme Lakon Dewa Ruci dalam Wayang Kulit Purwa.

II. LANDASAN TEORI

A. PENGERTIAN WAYANG KULIT PURWA

Wayang adalah seni pertunjukan berupa drama yang khas. Seni pertunjukan ini meliputi seni suara, seni sastra, seni musik, seni tutur, seni rupa, dan lain-lain. Ada pihak beranggapan, bahwa pertunjukan wayang bukan sekedar kesenian, tetapi mengandung lambang-lambang keramat. Sejak abad ke-19 sampai dengan sekarang, wayang telah menjadi pokok bahasan serta dideskripsikan oleh para ahli. Macam-macam kajian tentang wayang dapat diketahui dari bibliography beranotasi, dibuat oleh V.M.C Van Groenendael, terbit tahun 1978 berjudul Annotated Bibliography of Wayang Litetarure and the Art of the Dalang. Kajian tentang wayang, menghasilkan sejumlah disertasi dan tesis, antara lain:
(1) G.A.J Hazeu, Bijdrage tot de Kennis van het Jayansche Tonnel (Leiden, 1879);
(2) W.H. Rassers, De Pandji Romans (Leiden, 1922);
(3) V.M.C. van Groenendael, Erzit een Dalang de Wayang: De Rol van de Vorstenlandse Dalang in de Indonesich – Javanese Samenleving (Amsterdam, 1982) (Ensiklopedi Kebudayaan Jawa, 2005).
Wayang sebagai penggambaran alam pikiran Orang Jawa yang dualistik. Ada dua hal, pihak atau kelompok yang saling bertentangan, baik dan buruk, lahir dan batin, serta halus dan kasar. Keduanya bersatu dalam diri manusia untuk mendapat keseimbangan. Wayang juga menjadi sarana pengendalian sosial, misalnya dengan kritik sosial yang disampaikan lewat humor. Fungsi lain adalah sebagai sarana pengukuhan status sosial, karena yang bisa menanggap wayang adalah orang terpandang, dan mampu menyediakan biaya besar. Wayang juga menanamkan solidaritas sosial, sarana hiburan, dan pendidikan (Sumaryoto, 1990). Continue reading SIMBOLISME LAKON DEWA RUCI DALAM WAYANG KULIT PURWA

RAGAM WAYANG DI NUSANTARA


Disajikan pada acara Sarasehan dan Pergelaran Wayang Pakeliran padat dengan Lakon ‘Anoman Duta’ di Berlin, Jerman

Wayang Beber

 

 

Oleh Turita Indah Setyani 1)

 

Dalam bahasa Jawa, wayang berarti “bayangan”. Dalam bahasa Melayu disebut bayang-bayang. Dalam bahasa Aceh: bayeng. Dalam bahasa Bugis: wayang atau bayang. Dalam bahasa Bikol dikenal kata: baying artinya “barang”, yaitu “apa yang dapat dilihat dengan nyata”. Akar kata dari wayang adalah yang. Akar kata ini bervariasi dengan yung, yong, antara lain terdapat dalam kata layang – “terbang”, doyong – “miring”, tidak stabil; royong – selalu bergerak dari satu tempat ke tempat lain; Poyang-payingan “berjalan sempoyongan”, tidak tenang. dan sebagainya.

 

Selanjutnya diartikan sebagai “tidak stabil”, tidak pasti, tidak tenang, terbang, bergerak kian-kemari.. Jadi wayang dalam bahasa Jawa mengandung pengertian „berjalan kian-kemari, tidak tetap, sayup-sayup (bagi substansi bayang-bayang). Oleh karena boneka-boneka yang digunakan dalam pertunjukkan itu berbayang atau memberi bayang-bayang, maka dinamakan wayang. Awayang atau hawayang pada waktu itu berarti „bergaul dengan wayang, mempertunjukkan wayang.. Lama kelamaan wayang menjadi nama dari pertunjukan bayang-bayang atau pentas bayang-bayang. Jadi pengertian wayang akhrnya menyebar luas sehingga berarti “pertunjukan pentas atau pentas dalam arti umum. 2)

 

Fungsi semula pertunjukan wayang adalah sebagai upacara religius untuk pemujaan kepada nenek moyang bagi penganut kepercayaan “Hyang” yang merupakan kebudayaan Indonesia asli. Kemudian berkembang hingga digunakan sebagai media komunikasi sosial yang dapat bermanfaat bagi perkembangan masyarakat pendukungnya. Sebab lakon cerita wayang merupakan penggambaran tentang sifat dan karakter manusia di dunia yang mencerminkan sifat-sifat dan karakter manusia secara khas, sehingga banyak yang tersugesti dengan penampilan tokoh-tokohnya. Maka terjadilah pergeseran fungsi sebagai media penyebaran agama, sarana pendidikan dan ajaran-ajaran filosofi Jawa. Saat ini pergeseran fungsi semakin nyata hanya sebagai sebuah hiburan. Namun untuk masalah tersebut tidak akan dibicarakan di sini, sebab dalam makalah ini hanya akan menguraikan tentang ragam wayang yang berkembang di Nusantara atau Indonesia pada khususnya.

Di Indonesia, terutama di pulau Jawa, terdapat sekitar 40an jenis wayang, yang sebagian di antaranya sudah punah. Beberapa jenis di antaranya masih dikenal atau masih dipertunjukkan dalam pergelaran-pergelaran wayang, dan tetap mendapat dukungan masyarakat hingga kini.

 

Wayang Sadat

Continue reading RAGAM WAYANG DI NUSANTARA

BARATAYUDA SULUHAN GATUTKACA GUGUR SEBAGAI PAHLAWAN : KAJIAN DARI ASPEK ETIS DAN ESTETIS


Gatotkaca Gugur

Subandi

Staf pengajar jurusan pedalangan ISI Surakarta

Email : subandi_isi@ymail.com

Puppet show is part of Indonesian culture that teaches good conducts. In Javanese puppet world, Mahabarata story has many times been transformed in puppet plays. Baratayuda Suluhan is one of the episodes of great battle between Kurawa against Pandawa in Kurusetra battlefield, in which Gatutkaca plays role as the commander in chief. The show of Baratayuda series took place in Taman Budaya Jawa Tengah of Surakarta on every Friday Kliwon eves, Javanese date, that has been lasting for almost two years. The shows are based on the puppet maters’ (dalang) point of views so that, sometimes, they seem not in the right order and tend to follow the dalangs’ tastes. Suluhan play is often known as the Dead of Gatutkaca. After the death of Bisma, the knights of Kurawa obeyed Darmayuda’s rule no more. The rule was about war ethics. The battle between Kurawa and Pandawa occurred heroically, severely, cruelly and ruthlessly. They fought nights and days. The most important thing for the commander in chief was how to defeat the enemy and how to kill even when they broke the rule of war. They never stopped fighting. Baratayuda Suluhan is performed at night by using torch or suluh as the lamp. Gatutkaca died as a hero. There are ethics values that can be generated from the battle of Baratayuda Suluhan as the moral values. All characters dying in the battle have ethics judgments according to the perspective of Javanese supporting puppet show.

Kata kunci: pertunjukan wayang, etika , Baratayuda, pahlawan, sanggit

 

PENDAHULUAN

Melihat seni pertunjukan wayang dengan lakon Baratayuda Suluhan, di samping menyenangkan sehingga menghibur, juga mendapatkan tuntunan. Dalam pertunjukan wayang mengandung nilai estetis yang tinggi karena disuguhi berbagai bentuk seni seperti seni gerak, seni suara, vokal, seni rupa, seni musik yang dapat menyegarkan manusia setelah penat bekerja seharian. Di dalam pertunjukan wayang juga diperoleh filosofi, pendidikan dan etika kebijaksanan hidup. Lakon-lakon wayang dewasa ini sangat beragam sehingga penonton dapat memilih sesuai dengan selera hati.

Pada setiap malam Jumat Kliwon, pada penanggalan Jawa, sejak awal tahun 1999 di pendopo Taman Budaya Jawa Tengah di Surakarta selalu disajikan seni pertunjukan wayang dengan melibatkan dalang-dalang terkenal di seluruh Jawa Tengah. Pergelaran lakon Baratayuda pernah disajikan oleh para dalang seperti Ki Manteb Sudarsono, Ki Purba Asmoro, Ki Widodo. Para dalang telah diprogram secara sistematis untuk membawakan lakon yang ingin dipentaskan. Banyak pendukung dari masing- masing dalang yang sengaja datang ke Taman Budaya Surakarta untuk melihat pertunjukan wayang. Serial lakon Baratyuda pernah disajikan hampir selama dua tahun berturut turut yaitu pada tahun 1999 hingga tahun 2000. Pada bulan Oktober 1999 lakon yang disajikan oleh Ki Sri Joko Raharjo tidak mengambil serial Baratyuda karena bertepatan dengan pelantikan presiden Republik Indonesia. Ceritera lakon mengangkat Jumenengan. Menarik untuk dikaji karena ternyata para dalang mempunyai sanggit, alur lakon yang relatif berbeda antara dalang satu dengan dalang yang lain. Perbedaan sanggit justeru merupakan alat yang bagus untuk melestarikan pertunjukan wayang kulit.

Seni pertunjukan wayang sekarang telah mendapatkan pengakuan international yang berupa A Masterpiece of Oral Intangible Heritage of Humanity dari UNESCO yang berpusat di Paris Perancis pada 7 Nopember 2003 (Suyanto, 2008 : 3, Slamet Suparno 2009 : 138). Seni pertunjukan wayang telah menjadi milik resmi bangsa Indonesia yang berisi nilai-nilai luhur, pendidikan moral filosofis. Perkembangan bentuk pertunjukan sedemikian pesat bahkan ada kecenderungan kearah bisnis hiburan. Menurut Slamet Suparno pertunjukan wayang sekarang cenderung menurun dengan lebih banyak porsi hiburan pada adegan Cangik Limbuk dan Goro-goro (2009 : 154-155.).

Menurut penelitian Soetarno dalam judul ”Dampak Perubahan Sistem Nilai terhadap Pertunjukan Wayang Kulit”(2000: 93-95) disebutkan bahwa para dalang sekarang lebih banyak menekankan porsi hiburan daripada menggarap nilai kehidupan yang wigati. Hiburan penting akan tetapi sebagai sajian seni juga harus memperhatikan tuntunan yang berupa pendidikan moral atau etika. Dalam banyak lakon yang pernah disajikan, nilai-nilai filosofis, pendidikan, moral selalu ditunggu penonton. Dalam penelitian Slamet Suparno(2007 : 183) ternyata penonton laki laki lebih banyak dari penonton perempuan demikian juga penonton orang dewasa lebih banyak daripada penonton anak-anak. Hal itu menunjukan bahwa ada keinginan yang harus dapat diperoleh oleh penonton yang berupa nilai moral untuk memperkaya pengalaman batinnya.

Dalam lakon Baratayuda, sajian pertunjukan wayang juga selalu ditunggu penonton tentang nilai yang ingin dituangkan oleh seorang dalang. Baratayuda Suluhan merupakan salah satu lakon yang baku, berbobot dan menarik, mengandung nilai-nilai etis yang sebenarnya ingin dipertahankan oleh masyarakat melalui pementasan lakon. Permasalahannya adalah bagaimanakah nilai etis dalam lakon Suluhan? Sebagai landasan untuk menganalisis nilai akan digunakan etika kebijaksanan hidup orang Jawa pendukung pertunjukan wayang.

LANDASAN PEMIKIRAN

Pengertian Etika

Etika sering disebut filsafat tingkah laku, filsafat moral, filsafat etis, juga disebut sebagai teori tentang kehidupan yang baik, teori tentang baik dan jahat. Beberapa pengertian yang terkandung antara lain, (1) sebagai pola umum tentang cara hidup,(2) sebagai kumpulan aturan, norma, kode etik, kode moral, (c) sebagai penyelidikan tentang cara-cara hidup yang baik.

Manusia berbuat baik

Manusia hidup harus berbuat baik, harus susila. Terdapat beberapa alasan untuk berbuat baik. Alasanya tersebut adalah (1) karena tujuan untuk memperoleh kebahagiaan, (2) karena dorongan dari kata hati atau suara batinnya, dan (3) karena pada hakikatnya halnya itu adalah baik.

Kriteria Perbuatan Baik

Sehubungan dengan kriteria, terdapat berbagai pandangan, sesuai dengan kriteria yang dianggap baik oleh masing-masing aliran.

Hedonisme

Aliran hedonisme berpendapat bahwa sesuatu yang baik adalah yang menimbulkan kepuasan. Lingkup kepuasan adalah yang menyenangkan pancaindera manusia. Jadi yang baik adalah yang menyenangkan pancaindera.

Utilitarisme

Menurut utilitarisme yang baik adalah apa yang berguna bagi masyarakat. Jadi ukurannya adalah berguna. Jika sekiranya kurang berguna atau kurang berarti bagi masyarakat, maka perbuatan itu dianggap tidak baik.

Vitalisme

Pandangan Vitalisme mengatakan yang baik adalah yang menimbulkan kekuatan dalam hidup manusia. Menurut Vitalisme kekuatan berasal dari faktor fisiko chemis.

Impresionalisme

Menurut pandangan Impresionalisme yang baik adalah perbuatan yang sesuai dengan suara batinnya (hati sanubari ).

Humanisme

Aliran humanisme menyatakan bahwa yang baik adalah yang sesuai dengan kodrat manusia yaitu kemanusiaannya. Manusia bebas untuk memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Ia akan buruk jika pilihannya jatuh pada yang bertentangan dengan kodratnya.

Dogmatisme

Aliran dogmatisme menyatakan bahwa sesuatu perbuatan dianggap baik jika perbuatan dilakukan menurut norma-norma atau aturan tertentu. Setiap manusia dapat memilih sesuai dengan pandangan hidupnya.

Hati Sanubari atau Kata Hati

Tingkah laku merupakan perbuatan yang lebih banyak ditentukan oleh hati sanubari/kata hati. Putusan kata hati/hati sanubari sedikit banyak bergantung pada penerangan yang masuk. Jika penerangan yang masuk benar maka hati sanubari akan mengambil keputusan yang tepat, tetapi jika penerangan yang masuk keliru maka tidak mustahil putusan hati juga salah. Continue reading BARATAYUDA SULUHAN GATUTKACA GUGUR SEBAGAI PAHLAWAN : KAJIAN DARI ASPEK ETIS DAN ESTETIS

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (22)


Pandawa main dadu

“Gong …. Bagong !
“Gong …. Bagong … Baaa Gooong !!!!’
“Heh sssssapi … hoh gatoooot … hih …. cenil sawut grontol tiwul …. weh wonten napa nDara. Ngageti mawon !!!

“Halah …. kowe kuwi dicritani ngeciprus nganti entek ababku, lha kok malah tidur seolah suaraku engkau anggap laksana untaian tembang penghantar tidur saja. Piye tho kamu ini Gong !!!

“Oh nggih …. walah tiwul … eh nyuwun ngapunten nDara, mohon maaf, taksih belum fokus pikiran saya nDara. Rasanya di tikar tadi banyak makanan jajan pasar terhidangkan, ada tiwul, gatot, sawut, cenil de el el. Sekarang kok sudah nggak ada tho nDara. Di makan nDara semuanya ya ?”

“Hush … trembelane kuwi ! Kamu tuh tadi tidur trus ngimpi Gong !”
“Kula tilem tho nDara ?”

“Lha iya gitu kok”
“Nggak terasa je nDara. Rasanya tadi saya sedang makan, tahu tahu kok makanannya habis semua.”

“Dasar kamu … lha wong ngimpi kok kontennya soal makan melulu. Sekali sekali lha mbok mimpi yang lain, semisal mimpi di datangi kekasih hatimu gitu”
“Lha wong kekasih hatiku sudah mati je nDara. Lha kalau didatangi dia, malah jadi takut no saya nDara, takut dijemput tho”

“Ya sudah … sudah melek lagi tho kamu Gong. Terus mau apa lagi nih Gong”
“Yo lanjut no nDara !!!”

“Tapi jangan ngorok lagi lho”
“Siap ndara, kula pesen bajigur rumiyin nggih”

<<< ooo >>>

“Pamadi, kemarilah mendekat kepada uwakmu.” Setelah kembali suasana tertata, dengan sabar Prabu Salya kembali berkata. Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (22)

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (21)


sengkuni_solo

“nDara, nyimpang dari pembicaraan sebelumnya ya, bagaimana pendapat nDara tentang sosok yang bernama Sengkuni niku ?”
“Maksudmu dipandang dari sudut mana Gong ?”

“Dari segala aspek, dari tingkah polahnya, dari watak perbuatannya, dari segala daya upayanya, pun dari pandangan hidupnya”

“Wah … kalau dibahas nggak akan selesai sehari semalam Gong. Lha wong sosok Sengkuni itu pada dasarnya adalah cerminan sebagian dari diri kita kok. Karena potensi dalam diri kita seperti halnya watak dan perbuatan Sengkuni itu, selalu ada. Cuman seberapa besar dan kuat mempengaruhi diri kita, itulah masalahnya”
“Lha bagaimana sikap nDara dan juga Pandawa yang sudah berulang kali dizalimi oleh rekadaya Sengkuni itu”

“Sakit memang Gong, dan kerap muncul niyat untuk membalasnya. Namun kalau kita mengambil sisi positifnya, justru akibat dari rekadaya maupun aksi licik tipu tipu Sengkuni, membuat Pandawa menjadi lebih kuat dan lebih tahan banting. Memang pemahaman itu muncul dan berkembang melalui proses yang panjang dan tidak mudah. Sebenarnyalah perbuatan Sengkuni itu dimulai sejak Rama Prabu Pandu berkuasa, bahkan sudah terlihat sejak Sengkuni ingin merebut ibunda Kunti dan Madrim dari tangan Ramanda. Dan sejak itu, Sengkuni selalu hadir dalam lakon kehidupan kami para Pandawa.”

“Apakah nDara tidak ada dendam pada sosok Sengkuni itu ?”
“Rasa tidak suka pasti ada. Positifnya, dari berbagai sengsara papa yang dialami Pandawa karena ulahnya, Pandawa mampu memanfaatkannya menjadi sebuah hal berguna. Kesabaran dan kebijaksanaan dalam menyikapi dan menjalani hidup ini, menjadi matang dengan sendirinya. Dan itu sangat bermanfaat kala kami menghadapi masalah seberat apapun. Begitukan, petuah dan bimbingan Ramamu Semar ?”

“Tapi kalau saya kok muangkel tenan je nDara melihat sosok yang bernama Sengkuni. Lihat wajahnya saja sudah njelehi banget”
“Yah ndak apa-apa, yang penting kita selalu eling dan waspada saja maka niscaya akan terhindar dari malapetaka yang menghancurkan hidup kita sendiri.”

“Oh ya … nDara, dilanjutkan dong cerita yang kemarin itu”
“Siaap Boss Bagong !!!”

<<< ooo >>>

Sejenak sidang agung itu menjadi sunyi. Tak ada lagi yang dapat dijadikan bahan pembicaraan. Tetapi tiba tiba terjadi gaduh diluar sidang. Bertanya Prabu Salya kepada Patih Tuhayata. Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (21)

Wawancara eksklusif bersama Arjuna (20)


erawati_solo

“nDara … lha kok banjur melamunkan diri setelah kula memberi gambaran sosok nDara Banowati tadi ?”
‘Hmmm …”

“Pasti langsung terbayang nggih cinta nDara kepada sang kekasih hati, nDara Banowati ?”
“Hmmm …”

“Sebenarnya, bagaimana sih awal mula sua kemudian merangkai berdua indahnya cinta bersama nDara Banuwati itu, nDara ?”
“Hmmm …”

“Jangan hmm … hmm … saja dong nDara. Bicara dong, lha wong janjinya mau cerita kok sekarang kelihatannya tidak bergairah begitu. Lagi galau ya ?”

“Oalah … Gong … Gong … ungkapan dan pertanyaanmu tadi membangkitkan kenangan indah yang pasti tak terlupakan hingga kini dan kelak nanti. Seketika bayang bayang indah kala bersamanya seakan tergambar nyata di pelupuk mata, namun sekaligus menyisakan perih luka hati nan menganga. Kamu bener mau mendengarkan ceritaku ini Gong ?”

“Ciyus nDara … ciyus !”
“Nggak akan bosan karena ceritanya cukup panjang ?”

“Ciyus nDara … ciyus tenan kula !”
“Ciyas ciyus … apa sih kamu ini Gong !”

“He he he … nDara nggak gaul sih, ciyus itu bahasa gaul dari serius bener nDara”

“Ya sudah … pertemuanku dengan Banuwati pertama kali saat terjadinya kasus hilangnya putri sulung Mandaraka, Dewi Erawati”
“Terus nDara ?”

<<< ooo >>>

Cinta terlarang sepanjang hidup. Cinta lewat belakang dijalani Arjuna dengan Banuwati hampir sepanjang kedewasaan keduanya. Perselingkuhan cinta keduanya bukanlah sebuah rahasia, tetapi keniscayaan ini telah menjadi rahasia umum. Bahkan suami Banuwati-pun sebenarnya mengetahuinya secara terang benderang. Tetapi Duryudana, sang suami, tak berdaya bertekuk lutut di sudut kerling mata manja Banuwati. Berkali kali Banuwati kepergok, namun keduanya tetap bersatu erat dalam buaian cinta pertama. Kata orang, selingkuh itu indah. Kenyataan ini benar benar tergambar di kehidupan cinta antara Arjuna dan Banuwati. Mereka berdua saling membutuhkan dan Banuwati telah menyatakan janji, yang apakah ini boleh dikatakan suci?. Ia sanggup menjadi mata-mata bagi kejayaan Pandawa dalam perseteruannya dengan saudara sedarah, Kurawa. Janji yang ada atau tidak adapun akan dibayar dengan kemesraan Arjuna yang diperoleh sepanjang hayatnya hingga Aswatama mengakhiri hidup Banuwati usai Baratayuda. Continue reading Wawancara eksklusif bersama Arjuna (20)