Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [4]


Cangik - Limbuk
Dalang Ki Timbul Hadiprayitna KMT Cermo Manggala

Baladewa :-“ Mahar yang aku sampaikan kepada Gathutkaca tadi, aku berani pastikan kalau pandhawa tidak bisa memenuhinya. Mana ada tontonan swargaloka dibawa ke bumi, mana ada kereta jatisura kuda sifat raksasa dengan kusir dewa tampan, dewa mana yang mau jadi kusir. Nah, setelah itu maka engkau bisa menerima lamaranku. Bratajaya akan aku nikahkan dengan Burisrawa, engkau hendak minta mahar apa pasti akan aku laksanakan.”

Kresna :-“ Perkenankanlah saya katakan kepada kanda. Sekarang kedudukan kanda sebagai pelamar, tetap kekuasaan Sembadra ada ditangan saya. Kanda mau melamar Sembadra silahkan, namun saya juga punya permintaan.”

Baladewa : -“ Apa permintaanmu”

Kresna :-“ Pertama akad nikah harus dilaksanakan didalam saka dhomas balekencana, iring-iringan pengantin dari Ngastina sampai ke Dwarawati harus memakai kereta jatisura jaran sifat raksasa dengan kusir dewa tampan diiringi dewa tiga puluh berwatak sembilan, diiringi bidadari, dan tontonan swargaloka kayu klepu dewandaru parijatha kencana laring manyura mungwing kanan miwah kering. Kemudian tontonan raksasa putih dengan lidah tumbuh jamur grigih dengan bersama kera putih yang bisa berbicara dan juga dapat menari dipuncak pecut penjalin tingal. Srah-srahan hewan hutan mulai dari gajah singa, harimau sampai kutu walang antaga semua dapat berbicara sepadan dengan manusia, dan waktunya tujuh hari. Kurang dari tujuh hari tidak saya terima dan lebih dari tujuh hari juga tidak sata terima. Cukup sekian kanda permintaan saya.” 

Baladewa :-“ Engkau itu hanya menirukan aku.”

Kresna :-“ Kalau saya tidak mengatakan begitu berarti saya tidak adil, terserah kanda setuju apa tidak.”

Baladewa : -“ Jagad dewa bathara, ya saya sangupi. Namun ingatlah adikku, di Ngastina terdapat seorang pendheta yang sangat sakti, pasti akan dapat menurunkan tontonan swargaloka. Dan Kurawa yang jumlahnya seratus, tentu dapat menangkap hewan hutan sesuai persyaratan tadi. Pandhawa hanya lima orang dan yang membantu hanyalah Gathutkaca si anak kemarin sore. Pasti tidak dapat tercapai.”

Kresna :-“ Buktikanlah Kanda, saya hanya menunggu saja apa yang akan terjadi nanti.”

Baladewa :-“ Kalau demikian aku mohon pamit adikku. Aku datang bersama para kurawa dan mereka menunggu di luar gerbang Dwarawati. Semoga aku dapat memenuhi permintaan itu.”

Kresna :-“ Berhati-hatilah kanda. Samba.”

Samba :-“ Ada apa ayahanda.”

Kresna :-“ Setyaki.”

Setyaki :-“ Daulat gusti.”

Kresna :-“ Ketentraman Dwarawati aku titipkan kepada Samba dan Setyaki.”

Samba :-“ Daulat ayah, perkenankanlah saya mohon pamit menata prajurit untuk menjaga ketentraman Dwarawati.”

Setyaki:-“ Mohon restu gusti, saya keluar untuk menjaga ketentraman Dwarawati.”

Udawa :-“ Saya juga abdi kepatihan mohon pamit untuk menjaga ketentraman.”

Kresna :-“ Kakak udawa.”

Udawa :-“ Daulat gusti.”

Kresna :-“ Berhati-hatilah.”

Udawa :-“ Baiklah gusti.”

Kandha.

Begitulah sabda seorang raja Dwarawati, berbicara sekali tidak pernah berubah, ibarat sabda seorang pendeta yang mengucap tidak pernah beralih, berbicara sedikit tlah merata menyebar keseluruh pelosok negeri. Kemudian sang raja menuju ke kedhaton, turun dari singgasana diringi oleh para puteri terlihat bersinar-sinar bagaikan pengantin yang di arak.

(iringan ayak-ayak lasem dilanjutkan playon lasem slendro pathet nem. Kresna masuk kedalam istana, sedangkan para punggawa meninggalkan pasewakan agung, keluar istana raja. Dilanjutkan dengan iringan gending ladrang Bayemtur, Slendro pathet nem untuk mengiringi adegan Limbuk Cangik. Keduannya abdi emban yang tengah bersenang-senang bernyanyi dan menari, Cangik melantunkan tembang pocung gagrag kethoprak kemudian diselingi dialog ).

Dialog.

Cangik :-“ Cepatlah kamu jawab ndhuk Limbuk.”

Limbuk :-“ Dijawab dengan apa.”

Cangik :-“Aku tadi kan bernyanyi pocung gagrak kethoprak. Keinginanku supaya membangunkan mereka yang tidur, karena jaman dulu kalau sudah musim begini, banyak kethoprak yang pentas. Maksudku supaya kita tidak lupa dengan budaya sendiriu.”

Limbuk :-“O begitu.”

Cangik :-“ Maka ungkapkanlah dengan menggunakan tembang pocung, aku tadi pinjam suaranya bu Sukini.”

Limbuk :-“ Bu Sukini rumahnya mana.”

Cangik :-“ Selatan sana, itu dulu muridnya bu Candralukita, maka mirip dengan dia.”

Limbuk :-“ Sindhennya ada berapa yang datang.”

Cangik :-“ Empat orang. Bu Sukini, Syamsiah, Kalimah dan Sriyatini.”

Limbuk :-“ Coba aku akan pinjam suarannya bu Siyam.”

Cangik :-“ Nah setuju, pocung gagrak kethoprak.”

(Berbunyi gendhing pocung kethoprak, setelah selesai suwuk, dilanjutkan dialog ).

Dialog.

Cangik :-“ Aku terima nak, kamu sudah membuat senang hatiku, Mbuk Limbuk.”

Limbuk :-“ Engkau ini orang tua tapi disindir kok tidak merasa, ya mak.”

Cangik :-“ Maksudmu apa.”

Limbuk :-“ Dari tadi kok bilangnya mbuk terus, jaman sudah maju begini kok memberi nama limbuk.”

Cangik :-“ Maksudmu apa.”

Limbuk :-“ Sebenarnya aku ini tidak suka Buk, memberi nama kok Limbuk, lha mbok ya yang agak maju sedikit gitu lho, Lili apa Luluk, apa siapa gitu lho Buk.”

Cangik :-“ Begini ya nak ya. Orang tua itu kalau memberi nama kepada anak pasti ada maknanya bukan hanya asal asalan saja. Seumpama punya anak perempuan namannya Tugiyem artinya setu legi biar ayem. Kemudian kalau punya suami dinamakan Kromorejo, krama bilang reja, biar cepat kaya, itu maknanya. Kalau limbuk itu maknanya melaksanakan ibadah bekal utuk kehidupan. Bagus kan maknanya. Ya kalau arti harafiahnya Li itu dari ayahmu, mbuk itu dari aku.”

(Limbukan dilanjutkan sampai selesai)

( Suluk ada-ada pathet nem wetah ).

Kukusing dupa kumelun, ngeningaken tyas sang apekik, kawengku sagung jajahan o…., nanging sanget angikibi, sang resi kaneka putra, kang anjok saking wiyadi, kagyat risang kapi rangu, o……

(Bersamaan dengan lantunan suluk ada-ada, tokoh limbuk cangik masuk ke kaputren dilanjutkan dengan gerakan kayon yang ditarik ketengah lalu di tancapkan ke palemahan. Selesai suluk dilanjutkan kandha.)

Kandha.

Ringkas cerita raja Dwarawati masuk sanggar pamujan berdo’a kepada tuhan, lain halnya yang berada di alun-alun Negara Dwarawati, para kurawa yang diketuai oleh prabu Karna Basusena, begitu melihat datangnya nata Mandura terus mempersiapkan diri.

(Iringan playon slendro nem, Prabu Baladewa Keluar dari siti inggil menuju ke Paseban jawi untuk mengumpulkan bala tentara kurawa, Patih Sengkuni, Prabu Karna dan Dursasana. Setelah suwuk dilanjutkan suluk ada-ada nem jugag.)

Katrigumulung mangrempaking wadya, krodha gora reh kagiri-giri, o….., ing rananggana gawe gelar wangwang. O……

Dialog.

Karna :-“Kanda prabu, berhasil apa tidak. Kalau kanda prabu memperoleh hasil, segera akan saya sediakan kendaraan sebagai sarana untuk menjemput putri. Ataukah ingin naik kuda Jiparakremun atau Kreta kencana silahkan sesuai yang dimaui. Sudah tersedia dan pasti tidak akan mengecewakan.”

Dursasana :-“O he he he ha ha ha ha, kanda prabu, kanda prabu Baladewa, saya Dursasana minta tugas.”

Baladewa :-“Bisa diam enggak Dursasana.”

Dursasana :-“Iya.”

Baladewa :-“Paman Sengkuni.”

Sengkuni :-“Ya.”

Baladewa :-“Para kurawa, baik Citraksi ataupun Durmagati, kalian ini adalah pangeran semua, saudaranya prabu Duryudana. Tapi mengapa kok tidak mengerti tata krama. Ini sedang di di wilayah Dwarawati, di negara lain bukan di Ngastina, lha kok masih sesuka hatinya.”

Sengkuni :-“Yung yung apalagi Dursasana, tidak melihat prabu Baladewa seperti menghadap aku saja, datang-datang terus joget, seperti bagus-bagus saja, bisa berhenti nggak Dur.”

Dursasana :-“Iya-iya .”

Sengkuni :-“Jangan keras-keras, pelan pelan saja, berisik menggangu temannya, ini suasananya sudah diam.”

Baladewa :-“Adikku Karna.”

Karna :-“Saya kanda prabu.”

Baladewa :-“Tandhu Jempana Kremun Kretakencana, dan senjata yang siap digunakan.”

Karna :-“Mohon maaf kanda prabu, mengapa kanda malah menyuruh menyediakan peralatan, apakah akan ada pekerjaan.”

Baladewa :-“Karena kanda yang lebih tahu, sediakan saja yang penting penting.”

Karna :-“Bagaimana kanda.”

Baladewa :-“Aku ingin memboyong Sembadra, namun dihalang-halangi utusan dari Ngamarta yaitu Gathutkaca. Bahkan Gathotkaca di pendapa Dwarawati sudah menghinaku. Kalian tidak bisa menangkap Gathutkaca, bukan lagi saudara-saudaraku !”

Karna :-“Jagad dewa bathara, tidak perlu kanda prabu bergerak sendiri cukup saya saja sanggup menangkap Gathotkaca. Paman Harya, saudara saudara Kurawa diminta bersiaga, saya dan paman Harya yang akan menemui Gathotkaca.”

Sengkuni :-“Mari.”

Karna :-“Minta restu kanda prabu, saya akan menangkap Gathotkaca.”

Baladewa :-“Berhati-hatilah Karna

(Iringan playon slendro nem, Prabu Baladewa keluar dan diikuti Prabu Karna dan para Kurawa. Dilanjutkan adegan Gathotkaca bertemu dengan Karna dan Patih Sengkuni, setelah suwuk dilanjutkan dialog.)

(Suluk ada-ada slendro pathet nem wetah.)

Karna sudik prawirajurit, sigra madeg suraning ndriya, mugi jaya ing palugon, denira perang pupuh, tumanggap rising Pandhusiwi, nadyanta maksih kadang ingkang nunggil ibu, denira ngandhemi prasetyanira, o…….

Dialog

Gathutkaca :-“ Sembah sujut saya paman Karna.”

Karna :-“Ya Gathotkaca restuku terimalah .”

Gathutkaca :-“Saya terima semoga menjadikan berkah, Eyang patih Sengkuni saya menghaturkan sembah sujut.”

Sengkuni :-“Ya aku terima, ya walaupun bersujut sambil menggerutu, aku terima Gathutkaca. Seharusnya mendapat sujut itu bakal tenang tapi kok malah berdebar-debar.”

Gathutkaca :-“Ada kepentingan apa paman Karna mencegat saya.”

Karna :-“Gathutkaca.”

Gathutkaca :-“Saya.”

Karna :-“Paman menemuimu ingin klarifikasi, mengapa waktu berada di sitinggil binaturata Dwarawati, engkau berbeda pendapat dengan kanda prabu Baladewa sampai kanda prabu Baladewa merasa terhina. Engkau menghinanya ya.”

Gathutkaca :-“Maaf, yang awalnya marah itu paman prabu Baladewa. Saya sekedar menjawab sesuai pertanyaannya. Kalau hal ini dianggap berani dan menghina, terserah paman.”

Karna :-“ Begini Gathutkaca, kanda prabu Baladewa setelah diperingatkan oleh para Kurawa, maka beliau sadar dan akan minta maaf padamu. Oleh karenanya kami saat ini disuruh menghadang jalanmu untuk diajak menemuinya dan para Kurawa disamping tembok Dwarawati itu. Kanda prabu Baladewa ingin bertemu dengan kamu. Kanda prabu Baladewa merasa bersalah terhadapmu.”

Sengkuni :-“Ya ya ya, Gathutkaca, permintaan prabu Karna penuhilah, orang tua itu kalau terpenuhi permintanya hatinya senang.”

Gathutkaca :-“Maaf paman, kalau paman prabu Baladewa merasa bersalah karena memarahi saya, sebenarnyalah bahwa saya merasa tidak dimarahi. Namun kalau beliau berkeinginan untuk bertemu dengan saya, begitupun saya bertemu dengan beliau. Tapi tidak sekarang, karena saat ini waktunya sangat mendesak. Saya segera hendak menemui eyang Abiyasa.”

Karna :-“Bagaimana paman paman.”

Sengkuni :-“Gathotkaca memang suka berbohong, sudah biasa Gathutkaca berbohong. Saya biasa berbohong jadi mana bisa dibohongi apalagi oleh anak kemarin sore”

(Dilanjutkan suluk ada-ada slendro pathet nem jugag.)

O…….., jaja muntap pindha kinetap, netra kocak mondar mandir, o…….., o…….

Dialog

Karna :-“Gathutkaca.”

Gathutkaca :-“Saya.”

Karna :-“Semua perkataanku tadi sebenarnya cuma aku pakai agar kamu mudah ditangkap. Tapi ternyata kamu sudah paham. Maka sebagai balasan sikapmu yang telah meremehkan dan menghina kanda prabu Baladewa, para saudara kurawa tidak terima dan kemarilah maka akan kupenggal lehermu.”

(Dilanjutkan suluk ada-ada slendro pathet nem jugag)

O…….., leng-lenging driya mangun-mangungkung, o……

One thought on “Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [4]”

  1. “Jaja muntap lir kinetap”.. yg benar setahu saya adalah “krodha muntap lir kinetap”. Kalau “jaja bang mawinga- winga” itu betul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s