Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [4]


Cangik - Limbuk
Dalang Ki Timbul Hadiprayitna KMT Cermo Manggala

Baladewa :-“ Mahar yang aku sampaikan kepada Gathutkaca tadi, aku berani pastikan kalau pandhawa tidak bisa memenuhinya. Mana ada tontonan swargaloka dibawa ke bumi, mana ada kereta jatisura kuda sifat raksasa dengan kusir dewa tampan, dewa mana yang mau jadi kusir. Nah, setelah itu maka engkau bisa menerima lamaranku. Bratajaya akan aku nikahkan dengan Burisrawa, engkau hendak minta mahar apa pasti akan aku laksanakan.”

Kresna :-“ Perkenankanlah saya katakan kepada kanda. Sekarang kedudukan kanda sebagai pelamar, tetap kekuasaan Sembadra ada ditangan saya. Kanda mau melamar Sembadra silahkan, namun saya juga punya permintaan.”

Baladewa : -“ Apa permintaanmu”

Kresna :-“ Pertama akad nikah harus dilaksanakan didalam saka dhomas balekencana, iring-iringan pengantin dari Ngastina sampai ke Dwarawati harus memakai kereta jatisura jaran sifat raksasa dengan kusir dewa tampan diiringi dewa tiga puluh berwatak sembilan, diiringi bidadari, dan tontonan swargaloka kayu klepu dewandaru parijatha kencana laring manyura mungwing kanan miwah kering. Kemudian tontonan raksasa putih dengan lidah tumbuh jamur grigih dengan bersama kera putih yang bisa berbicara dan juga dapat menari dipuncak pecut penjalin tingal. Srah-srahan hewan hutan mulai dari gajah singa, harimau sampai kutu walang antaga semua dapat berbicara sepadan dengan manusia, dan waktunya tujuh hari. Kurang dari tujuh hari tidak saya terima dan lebih dari tujuh hari juga tidak sata terima. Cukup sekian kanda permintaan saya.”  Continue reading Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [4]

Nilai-Nilai Budi Pekerti Dalam Wayang


wayang bayang
Abstrak

Makalah ini pada dasarnya ingin menekankan pentingnya pendidikan budi pekerti bagi seluruh bangsa Indonesia, dengan wayang sebagai sarana medianya. Dari strategi kebudayaan, wayang sangat penting untuk membangun budi pekerti. Mengambil contoh budi pelaku budi pekerti dari tokoh-tokoh wayang, akan amat terhindar dari pro dan kontra penilaian pribadi yang berakibat tidak baik bagi kerukunan, solidaritas, serta kesatuan dan persatuan Indonesia.

Isi makalah ini adalah : Budi Pekerti Dalam Wayang, Kualitas Manusia, cara mempelajari Budi Pekerti, Manfaat Budi Pekerti, dan Dawuhing Gusti dan Bukan Gusti, serta Sumber Budi Pekerti.

Melalui konggres wayang ini, diharapkan pertumbuhan dan perkembangan wayang semakin nyata dan menghasilkan banyak orang berbudi pekerti luhur.

  1. PENDAHULUAN

Bahwa wayang mengandung ajaran budi pekerti tak bisa dibantah. Namun tak mudah untuk mengetahui ajaran budi pekerti dalam wayang, kecuali harus dipelajari terlebih dahulu. Kesulitan tersebut disebabkan karena ajaran budi pekerti dituangkan dalam sebuah cerita peristiwa ataupun kejadian tertentu. Dengan kata lain didalam cerita atau kejadian sudah terkandung ajaran budipekerti. Misalnya cerita tentang begawan Wisrawa yang mencarikan isteri bagi anaknya yaitu Prabu Danaraja. Sesudah mendapatkan wanita pilihan dan cantik bernama Dewi Sukesi, ia ternyata diperisteri sendiri dan tidak diberikan kepada anaknya.

Persoalan itu timbul ketika begawan Wisrawa berhasil memenangkan sayembara Dewi Sukesi yaitu : Bahwa barang siapa bisa menerangkan tentang ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, dialah yang akan dijadikan suami Dewi Sukesi. Semua raja dari seribu negara tak ada yang berhasil memenangkan sayembara Dewi Sukesi kecuali begawan Wisrawa.

Konflik batin begawan Wisrawa muncul ketika Dewi Sukesi hanya mau diperistri begawan Wisrawa. Sedangkan begawan Wisrawa itu sendiri dihadapkan pada kenyataan bahwa ia sedang berjuang untuk mencarikan istri bagi anaknya yaitu Prabu Danaraja. Pilihan ini sungguh menekan batin begawan Wisrawa, mana yang harus diambil diantara dua pilihan.

  1. Memberi Dewi Sukesi kepada anaknya.

  2. Memenuhi permintaan Dewi Sukesi bahwa hanya sang pemenanglah, yang akan dijadikan suami Dewi Sukesi.

Begawan Wisrawa akhirnya memenuhi permintaan Dewi Sukesi dan itulah pilihan satu-satunya yang tidak bisa ditolak.

Dari cerita ini timbul persoalan budi pekerti yaitu :

  1. Apakah tindakan begawan Wisrawa itu baik?

  2. Bagaimana halnya dengan misi begawan Wisrawa dalam mencarikan istri untuk anaknya Prabu Danaraja?

Kalau dikatakan bahwa begawan Wisrawa dinyatakan baik apakah artinya begawan Wisrawa tidak menceritakan secara terus terang kepada Dewi Sukesi dan lingkungan keluarganya bahwa sesungguhnya memasuki gelanggang sayembara hanya semata-mata sekedar memenuhi permintaan anaknya. Apakah begawan Wisrawa dengan begitu melihat Dewi Sukesi lalu ia keluar nafsunya yang berbunyi :

‘ Dari pada untuk anaknya sendiri lebih baik Dewi Sukesi untuk dirinya sendiri ‘ ataukah

Kerena Dewi Sukesi ia terpaksa memenuhi permintaan Dewi Sukesi yang intinya tidak mau diperistri oleh seorang laki-laki yang tidak berhasil menguraikan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Continue reading Nilai-Nilai Budi Pekerti Dalam Wayang

Gara-gara Nonton Wayang Bung Karno Jadi Presiden


Sukarno

Sumber : http://edukasi.kompasiana.com/2012/08/12/gara-gara-nonton-wayang-bung-karno-jadi-presiden-478845.html

Di luar takdir Tuhan, penyebab menjadi presiden bermacam-macam tergantung doa, usaha dan ihtiarnya. Merintis melalui pendidikan tinggi, mengantarkan Sukarno dan BJ Habibie menjadi orang nomor satu di Indonesia. Merintis melalui karir ketentaraan telah mengantarkan Soeharto dan SBY menjadi presiden, merintis melalui organisasi masyarakat dan politik mengantarkan Gus Dur dan Megawati ke puncak panggung kekuasaan negeri.

Karena jabatan presiden terbatas, maka terbatas pula yang bisa menjabat. Enam puluh tujuh tahun Indonesia merdeka, baru enam orang pilihan di atas yang beruntung menjadi presiden. Selalu saja ada hal-hal menarik tentang para (mantan) presiden itu yang perlu kita ketahui dan menjadi pelajaran hidup. Boleh jadi masing-masing mempunyai sumber motivasi sendiri, namun salah satunya adalah seperti judul di atas.

Membaca naskah amanat Presiden Sukarno pada Peringatan Hari Pendidikan Nasional di Istora Bung Karno, Senayan, Jakarta, tanggal 2 Mei 1964, yang berjudul: “Bertjita-tjitalah Setinggi Bintang Dilangit”, membuat saya mengetahui latar belakang yang memotivasi Sukarno menjadi orang besar.

Dalam pidato itu, di hadapan para pemuda dan pemudi, Bung Karno menekankan agar menjadi manusia yang bercita-cita setinggi bintang di langit. Ia teringat nasihat ibunya, “Sukarno, ketahuilah, engkau itu anak fajar, putera fajar, sebab engkau dilahirkan pada waktu fajar menyingsing, fajar 6 Juni sedang merantak-rantak di sebelah timur. Lihat itu fajar. Makin lama makin terang. Engkau nanti akan melihat matahari terbit, jadilah manusia yang berarti, jadilah manusia yang bermanfaat, manusia yang pantas untuk menyambut matahari. Manusia yang pantas untuk menyambut terbitnya matahari!”

Menurut Bung Karno (melanjutkan pidatonya), tidak pantas kalau terbitnya matahari disambut oleh seorang bajingan atau manusia koruptor yang mencuri harta rakyat.

Orangtua Sukarno memberi pendidikan dan menanamkan cita-cita dalam dadanya. Manusia tidak bisa menjadi manusia yang bermanfaat kalau tidak dari mulanya bercita-cita baik. Salah satu cara bapaknya membangunkan cita-cita Sukarno kecil adalah dengan mengajak nonton pertunjukan wayang kulit.

Dalam pertunjukan wayang ada adegan-adegan (biasanya bagian pembukaan — ‘janturan’) Sang Dalang menggambarkan suatu keadaan negeri yang ideal, yaitu: besar, adil dan makmur, murah sandang, papan dan emas, terkenal/disebut di seluruh dunia, berwibawa, perdagangan tidak ada hentinya siang dan malam, aman di perjalanan, ternak-ternak kembali sendiri dari tempat ladang penggembalaan, warga negaranya tidak saling dengki dan jegal, dll. Itulah cita-cita negara ideal yang tertanam sejak kecil di dada Sukarno, sebagai cita-cita politik dan sosial.

Isi pidato Bung Karno masih relevan sampai sekarang. Motivator sekaliber Robert T Kiyosaki pun menganggap cita-cita atau ‘impian’ (menurut bahasanya) adalah sangat penting. Agar maju dan sukses seseorang harus punya impian. Toh tidak dipungut biaya untuk bermimpi. Menurutnya, ada 5 macam pemimpi dan impiannya: [1]

  1. Pemimpi yang bermimpi di masa lalu, yakni yang pencapaian terbesarnya dalam hidup terjadi di belakang mereka. Pada saat kita bicara ke depan, pemimpi ini selalu mengungkit-ungkit keberhasilannya di masa lalu yang tidak ada relevansinya. Sering kita dengar, “Dulu ketika saya yang memimpinnya . . . .” Seorang yang bermimpi tentang masa lampau adalah orang yang hidupnya sudah berakhir, orang itu perlu menciptakan impian di masa depan, supaya kembali hidup.
  2. Pemimpi yang hanya memimpikan impian kecil. Jenis pemimpi ini akan memimpikan impian-impian kecil saja, karena mereka ingin merasa yakin bahwa mereka dapat mencapainya. Masalahnya adalah meskipun mereka tahu dapat mencapainya, tetapi tidak pernah mau mencapainya. Jenis pemimpi ini lebih umum dan seringkali adalah yang paling berbahaya, mereka hidup seperti kura-kura, makan dan minum dalam ruangan yang tenang, kalau diketuk cangkangnya dan menyentuh lubangnya mereka sering menyerang dan menggigit. Pelajaran yang diperoleh adalah, biarkan kura-kura pemimpi ini bermimpi, kebanyakan tidak pergi kemana-mana.
  3. Pemimpi yang telah mencapai impian mereka dan belum menentukan impian besar, yakni seseorang yang telah mencapai impiannya (misal: menjadi dokter, pilot, dll) dan terus hidup dalam impian itu. Kebosanan biasanya tanda bahwa sudah waktunya menentukan impian baru dan petualangan baru.
  4. Pemimpi yang mempunyai impian besar, tetapi tidak punya rencana bagaimana mencapainya, akhirnya tidak mencapai apa-apa. Pemimpi ini sering berusaha mencapai impiannya sendirian, berusaha mencapai banyak tetapi kemudian berusaha melakukan sendiri. Sangat sedikit orang mencapai impian mereka sendirian. Orang ini harus tetap mempunyai impian besar, menentukan rencana dan mendapatkan tim yang akan membantu membuat impiannya menjadi kenyataan.
  5. Pemimpi yang mempunyai impian besar, mencapai impian itu dan terus mempunyai impian yang lebih besar.

Impian yang ke-5 tentunya yang dimaksudkan oleh Bung Karno. Beruntung Sukarno dan orang-orang yang diperkenalkan dengan pertunjukan wayang sejak kecil. Namun demikian, meski sudah mengenal wayang, untuk memaknainya, ternyata bisa berbeda orang per orang. Itulah sebabnya saya yakin meski seseorang mengenal wayang, belum tentu mempunyai cita-cita, apalagi cita-cita tinggi (termasuk penulisnya, hehehe…).

Saya berterima kasih kepada Bung Karno (selain sebagai proklamator dan pahlawan bangsa) atas nasihat dalam pidatonya itu yang menunjukkan bahwa wayang tidak sekedar hiburan, tetapi bisa menjadi sarana edukasi dan memberi motivasi untuk maju. Tentunya menjadi pelajaran juga kepada produsen film atau hiburan lainnya agar bisa membuat film atau pertunjukan hiburan yang bisa menumbuhkan cita-cita yang tinggi terutama kepada para generasi muda, bukan sekedar hiburan murahan apalagi merusak fisik dan mental. Melihat dampaknya, sepertinya tak ada alasan (pertunjukan) wayang akan punah atau dipunahkan. (Depok, 12 Agustus 2011)

Sumber Ilustrasi: http://www.newworldencyclopedia.org/entry/Sukarno

Sumber referensi:

[1] Disadur dari buku ”Business School” karangan Robert T Kiyosaki

Nostalgia Nonton Wayang Bersama Bung Karno


Sumber

Sumber : http://bloggerpurworejo.com/2010/06/nostalgia-nonton-wayang-bersama-bung-karno/

Bung Karno Wayang

Bung Karno dengan tokoh idolanya Sang Gathutkaca di dampingi Walikota Jakarta Soediro

Kejadiannya sudah berlalu sekitar 50 tahunan, sekitar permulaan tahun ‘60-an, namun dalam ingatan saya sepertinya baru kemarin saja.Tempatnya di Istana Negara, waktunya suatu malam Minggu. Dalangnya Ki Gitosewoko, dalang kesayangan Bung Karno (BK) yang kebetulan juga berasal dari Blitar. Karawitan RRI Studio Jakarta pimpinan Pak Sukiman dengan waranggana nyi Tjondrolukito dan teamnya. Lakon, pilihan BK atas usul ki Dalang, yang penting harus ada kiprah Sang Gathutkaca, tokoh wayang idola BK. Memang ini hak dari BK karena beliau yang punya gawe, nanggap wayang, rata2 sebulan sekali di Istana Negara, dan ngundang sekitar 100-an undangan untuk menemani dan menikmati malam Minggu bersama.

Sukarno

Mas Sutomo, pejabat protokol istana yang mengatur pertunjukkan wayang bersalaman dengan Bung Karno.

Siapa yang beruntung dapat undangan? Sesungguhnya setiap orang yang berminat bisa minta Sekretariat Negara, sama sekali tidak ada kekhususan, namun karena jumlahnya terbatas biasanya lalu berlaku sistem teman “orang dalam” Sekneg, khususnya protokol istana. Yang saya tahu pasti, undangan itu diberikan secara gratis, tanpa embel2 apapun. Saya sendiri kebetulan waktu itu diperbantukan oleh Deplu ke Sekretariat Dewan Pertimbangan Agung/Sekneg, sehingga memiliki info awal bila akan ada wayangan, dan tanpa membuang waktu menghubungi teman “orang dalam” untuk memperoleh undangan.

Pukul tujuh sore para undangan sudah harus masuk Istana Negara lewat pintu belakang Jalan Segara/Veteran, cukup dengan menunjukkan kartu undangan langsung dipersilahkan masuk menuju ruang pagelaran wayang, hampir tanpa pemeriksaan keamanan. Sungguh berbeda dengan keadaan sekarang, jaman itu masih “sederhana dan aman”. Sekitar pukul setengah delapan, gamelan mulai ditabuh. Pertunjukan akan dimulai pukul delapan. Menjelang pukul delapan mulai talu, semetara ki Dalang sudah siap di tempat. Selesai talu, BK masuk ke ruang pertunjukan diiringi dua/tiga pejabat penggemar wayang dan ajudan, semua penonton berdiri, BK kasih salam dengan senyumnya yang khas kepada para penonton dan langsung duduk di tempat yang disediakan.

Demi keamanan, BK duduk di depan/terlindung oleh pilar, di kiri kanan terlihat satu dua pejabat dan teman-teman Bung Karno penggemar wayang. Suasana nampak akrab layaknya orang orang yang sedang menonton wayang, santai tanpa rasa tegang. Saya sendiri waktu itu duduk hanya beberapa meter dari BK arah samping kiri belakang, tidak terasa bahwa di dekat saya duduk orang nomer satu di Republik ini.

Dalang

Ki Gitosewoko dalang kesayangan Bung Karno

Pagelaran dimulai, penonton terbuai oleh kiprah ki Dalang , suasana tenang, tidak terdengar suara apapun antara penonton, perhatian seluruhnya kepada layar/kelir di depan sambil mengagumi keahlian dalang dalam memainkan wayang, suluk, janturan dan ontowacono dari para tokoh2 wayang. Sedikit mengenai dalang Gitosewoko. Dia memang dipilih oleh BK sebagai dalang yang “pas” sesuai dengan selera beliau, bahkan sampai di beri tempat tinggal/kamar dalam kompleks perumahan Istana Negara. Khususnya bila dia menampilkan tokoh Gathutkaca, sungguh sangat memukau, pada waktu janturan bersiap untuk terbang sampai pada klimak-nya, “jejak bantala, melesat angkoso, kebat kadiyo kilat, kesit kadiyo tathit…” diiringi dengan gending pangkur palaran dan sinden Nyi Tjondrolukito, sungguh menggetarkan perasaaan para penonton termasuk Bung Karno yang nampak sangat menikmati episode tsb. Selanjutnya saat perang kembang antara Denawa/Gathutkaca juga dengan iringan gending pangkur palaran dengan iringan suara khas Nyi Tjondrolukito “ Ampyaken kaya wong njala, krubuten kaya menjangan mati…”. Inilah nampaknya dua episode yang sangat digemari oleh BK.

Teman saya yang pinter ndalang, Mas Mulwanto dari Solo (masih ada),bekas Atase Kebudayaan di Pilipina, cerita bahkan pada waktu jadi “tahanan rumah” di Istana Bogor, ia sering diminta datang BK bersama dengan almarhum Ir. Sri Mulyono Herdalang, khusus untuk mainkan episode Gathutkaca vs Denawa diiringi oleh gending/lagu pangkur palaran. Nampaknya ini sudah menjadi “obsesi” BK… Dalam kondisi terisolasi, hiburan beliau adalah wayang dengan tokoh Gathutkaca. Saya masih menyimpan piringan hitam dari Lokananta yang berisi rekaman Gathutkaca Gandrung oleh Roesman dan Darsi, yang terkenal sebagai Gathutkaca dan Pergiwa Sri Wedari. Mereka sering diundang Bung Karno ke Istana khusus untuk menarikan tari Gathutkaca Gandrung dengan suaranya yang menggelegar . Lagi-lagi dengan pangkur palaran. Nampaknya memang tembang/lagu inilah idola Bung Karno, sampai-sampai dalam salah satu gubahan puisinya, beliau mengatakan bahwa “bila saya mendengar tembang Pangkur Palaran seakan saya juga melihat Indonesia tercinta”.

Sekitar jam sepuluh malam terdengar suara cangkir beradu, ini tandanya hidangan kopi mulai dikeluarkan, kopi pilihan Bung Karno, aromanya saja sudah cukup menggugah, rasanya sungguh nikmat ditengah suasana santai nonton wayang. Bung Karno betul-betul membaur dengan rakyatnya hampir tanpa jarak. Ketika saatnya datang adegan goro-goro suasana makin santai dan bagi yang sudah biasa nonton di Istana inilah saat yang di tunggu-tunggu. Hidangan makan malam berupa rawon kesukaan Bung Karno mulai diedarkan lengkap dengan sambelnya yang terkenal pedas merangsang. Hidangan ini langsung membangunkan mereka yang ngantuk ditambah dengan segelas teh manis panas sebagai penutup cukup untuk bekal melanjutkan nonton wayang sampai tancep kayon. Dan penonton memang baru bubar, termasuk Bung Karno, setelah tancep kayon.

Dalam perjalanan pulang, pikiran saya melayang dan teringat kembali kenangan sewaktu kecil di desa. Sebagai penggemar wayang “fanatik”, kemanapun ada wayang saya hampir tidak pernah melewatkan. Apabila penonton penuh sesak, kami anak-anak manjat pohon dan nangkring di atas sambil “nggayemi krimpying” desa Carikan, layaknya menonton dari balkon. Malam hari sehabis Maghrib kami berangkat , langsung cari tempat di sebelah ‘kothak’, walau di usir2 oleh Pak Niaga tetap bertahan dan tidak bergeming. Kesenangan yang luar biasa bila Pak Dhalang minta bantuan mengambilkan tokoh wayang dari ‘simpingan’, biasanya dengan menggunakan “gada panjang”. Sing niki napa? “ya”, kata Pak Dhalang. Sungguh merupakan kepuasan. Pagi hari setelah bubaran, cari ‘badharan gebleg’ untuk mengisi perut yang lapar. Sambil pulang sepanjang jalan “nggayemi” gebleg dingin alot, namun cukup terasa gurih juga.

Sekitar duapuluh tahunan kemudian setelah peristiwa wayangan desa itu, saya pulang nonton wayang bukan dari Ngringgit, Briyan atau Singkil, tapi dari Istana Negara bahkan nonton bersama dengan Bung Karno, tokoh yang paling saya kagumi, bukan dengan jalan kaki tapi naik mobil walaupun mobil dinas. Sungguh di luar impian dan khayalan bahwa hal itu bisa terjadi. Perjalanan hidup seseorang memang penuh misteri, namun bagi saya itulah hikmah dan nikmat kemerdekaan yang diproklamasikan Bung Karno dan tentunya tidak terlepas dari kehendak dan kebesaran Tuhan Yang Maha Kuasa juga.

Slamet Wijadi.

Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [3]


baladewa

Dalang Ki Timbul Hadiprayitna KMT Cermo Manggala

Kresna :-“Menurut saya begini kanda, pernikahan itu dianggap mudah bisa, dianggap sulit juga iya. Semua manusia di dunia ini sebenarnya cuma sekedar menjalankan apa yang sudah menjadi kehendak Tuhan, maka yang terbaik kita lakukan adalah memohon petunjukNya.”

(Suluk ada-ada pathet nem wetah)

Baladewa sru deduka, dupi mulat kang samya andon jurit, gya menyat denya sru muwus, sugal pangandikanira, ngasta trigora maha sekti, yen kadulu yayah singa anubruka.

Kandha.

Disaat mereka tengah bermusyawarah, raja Dwarawati beserta raja Mandura yang diikuti oleh segenap punggawa kerajaan Dwarawati, pembicaraan mereka terhenti sejenak disaat tiba tiba terdengar suara ramai di alun alun. Ternyata yang membuat ramai adalah datangnya satria Pringgandani Raden Gathutkaca, sebentar kemudian naik sitinggil sehingga menjadikan kaget semua yang hadir disitu. Para prajurit pun berkata, teman ada tamu .. ada tamu … tamu … tamu, beri jalan.

(Iringan playon slendro pathet nem, suwuk, dilanjutkan suluk lagon plencung jugag, slendro pathet nem, dilanjutkan dialog ).

(Suluk plencung jugag slendro pathet nem).

Gya lumarap, caraka kang nembe prapta, ong, ong, tinata trapsilanira, mungwing ngarsa srinarendra, tumanduk sangyun mangarsa, ong, tan ana kuciwa raras, hong.

Dialog.

Kresna :-“Iwang suksma ana samitaningsun hong buwana langgeng, kalau tidak salah yang baru datang ini keponakanku Rimbiatmaja.”

Gathutkaca :-“ Benar gusti.”

Kresna :-“ Belum lama engkau datang, semua dalam keadaan baik bukan.” Continue reading Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [3]

Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [2]


sembadra_solo

Dalang Ki Timbul Hadiprayitna KMT Cermo Manggala

 

Dialog.

 

Kresna : -“ Iwang suksma ana sasmitaningsun hong bawana langgeng, kanda prabu Baladewa, belum lama datang di negara Dwarawati, perkenankan saya menghaturkan sembah sujut, kanda prabu Baladewa.

 

Baladewa : -“ Jagad dewa bathara, adikku Kresna, kanda mendengar apa yang adikku ucapkan, saya terima dengan senang hati. Kan kumasukkan dalam hati semoga menjadi berkah. Berkat do’a adikku dan karunia tuhan, kedatanganku tidak ada halangan suatu apapun. Selain itu do’a kanda semoga membawa berkah buat kamu.”

 

Kresna : -“ Dengan senang hati saya menerimannya kanda, sabda kanda prabu kan kusimpan di dalam hati smoga menjadi penerang, maka dari itu silahkan kanda duduk dengan nyaman.”

 

Baladewa : -“ Baiklah adikku.”

 

Kresna : -“ Samba jangan engkau berdiam diri, sujutlah kepada pamanmu kanda prabu Baladewa.”

 

Samba : -“ Maafkan saya, paman. Perkenankanlah ananda Samba wisnubrata menghaturkan sembah sujut.”

 

Baladewa : -“ Keponakanku yang tampan Samba do’aku terimalah.”

 

Samba : -“ Terima kasih, saya simpan semoga menjadi berkah.”

 

Setyaki : -“ Kanda prabu Baladewa sayapun menghaturkan sembah sujut.”

 

Baladewa : -“ Adikku Wresniwira aku terima penghormatanmu, doaku teriring untukmu.”

 

Udawa : -“ Seribu maaf gusti, abdi kepatihan menghaturkan salam atas kedatangannya di negara Dwarawati.”

 

Baladewa : -“ Berkat do’a kakak Udawa tidak ada halangan suatu apapun.”:

 

Udawa : -“ Iya syukurlah kalau begitu.”

 

Kresna :-“ Setelah duduk dengan tenang, perkenankalah saya bertanya maksud kedatangan kanda ke Dwarawati. Nampaknya sangat penting dilihat dari kedatangan kanda yang tanpa pemberitahuan sedikitpun. Seandainya kanda memberitahukan sebelumnya, tentu saya akan menemui kanda diluar gerbang dengan naik kereta sebagai tanda hormat saya kepada kanda.”

 

Baladewa : -“ Jagad dewa bathara, aku sangat senang mempunyai adik seperti kamu. Walaupun belum terlaksana perkataan adikku, namun ketahuilah, kedatanganku tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, smoga tidak menghilangkan adat yang ada, hanya karena terburu-buru dan ingin cepat bertemu dengan adikku saja. Kalaupun demikian dianggap salah ya aku minta ma’af.”

 

Kresna :-“ Tidak mengapa kanda, karena semuanya tlah terjadi, namun seingat saya yang sudah terjadi dengan yang belum terjadi masih banyak yang belum. Maka harap diingat bahwa saya dan kanda itu adalah seorang raja, akankah kanda prabu menghilangkan tatakrama, seandainya diketahui oleh raja negara lain, bisa-bisa kanda dianggap tidak tahu tata krama.”

 

Baladewa ;-“ Jagad dewa bathara, sekali lagi aku minta ma’af adikku.”

 

Kresna :-“ Lantas ada keperluan apakah kanda terlihat terburu-buru datang ke Dwarawati.”

 

Baladewa : -“ Sebelum aku mengutarakan keperluan kedatanganku ini, perkenankan aku mempunyai permintaan. Agar lebih mudah berbicara, perkenankan aku menghilangkan tata cara antara raja Mandura dengan Dwarawati. Bukankah kita adalah saudara kandung dan akulah yang lebih tua.”

arjuna

Kresna : -“ Terserah kanda prabu saja.” Continue reading Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [2]

Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [1]


ki timbul

Dalang Ki Timbul Hadiprayitna KMT Cermo Manggala

Pementasan dimulai dengan mencabut gunungan dari tengah kelir, iringan gending Ayak-ayak lasem slendro pathet nem, dalang mengeluarkan dua keparak, dilanjutkan raja Dwarawati, Prabu Baladewa, Samba, Setyaki dan patih Udawa.

Dalang memberikan selingan sulukan kombangan.

Mangka purwakaning kanda, hamba sru marwata siwi, mring sangyaning pra rupiksa, ngaturaken carita methik, jaman purwa puniki, tan nedya mulang wuruk, hooong, mung sumangga pra rupiksa denya methik palupi, wasana mugi rahayu kang pinangya.

Iringan berubah menjadi Ayak-ayak gending Karawitan slendro pathet nem, dalam keadaan itu dalang melantunkan suluk kombangan.

Oooong, palugon lakuning lekas, lukita linuding kidung, kadung kadereng hamomong, memangun manah rahayu, hayana tan agolong, gumolong manadukara, karana karenan pangapus puspita wangsalan semon, hong.

Gending karawitan menjadi lambat, dilanjutkan memberikan deskripsi adegan secara lengkap yang lazim disebut janturan sebagai berikut.

Ya Tuhan yang menjadi sesembahan saya dan yang menguasai hidup dan mati. Supaya mempunyai perbuatan yang menyembah kepada yang membuat dunia. Oleh karena saya mengetahui besar kekuatannya yang sangat berlebih. Ditempat ini saya akan menyusun (mengringgit) dengan mengambil cerita dari buku, dengan masih bertumpu kepada kebudayaan. Dalam kesempatan ini semoga menjadi pemikiran, yang sungguh dapat menjadi contoh semua hal yang mengguntungkan kerajaan. Cerita tadi diceritakan dengan perumpamaan dan gambaran baik dan lebih bebas, karena selalu mengingat zaman dahulu (zaman sesudah kitrah dan zaman sesedah madya). Dengan memuji keturunan yang pantas disayangi supaya mengembangkan. Sekarang sudah sampai pada perkataan. Selalu dibarengi hiasan dan do’a yang bertumpuk-tumpuk. Tidak lupa saya selalu memuji kepada yang membuat terdahulu, demikian ucapan pendahuluan saya.

Tersebutlah negara mana yang akan mengawali cerita nanti, yang disebut eka adi dasa purwa. Eka artinya satu, hadi lebih, dasa sepuluh, purwa permulaan. Walaupun didunia banyak makhluk tuhan yang disangga bumi, dipayungi angkasa diapit samudra, banyak yang hanggana raras, ternyata mencari seribu tidak mendapatkan sepuluh, seratus tidak mendapatkan tiga. Sebagus-bagusnya kerajaan belum ada yang sebagus kerajaan Dwarawati, atau Dwaraka ya Dwarakesthi, ya Jenggalamanik.

Maka negara Dwarawati dipakai pembukaan cerita, sebab negara tersebut panjang punjung pasir wukir loh jinawi gemah ripah karta tur raharja. Kata panjang artinya panjang, punjung tinggi. Kalau digambarkan seberapa panjangnya kerajaan sungguh negara panjang ucapannya, lebar wilayahnya luhur kawibawannya. Pasir samodra wukir gunung, sebab tata keindahan kerajaan membelakangi samodra, diapit gunung besar, disebelah kirinya pegunungan dan pedesaan, disebelah kanannya persawahan juga didepannya pertanahan luas, loh berhasil yang ditanam, jinawi murah yang dibeli, sungguh negara Dwarawati serba murah yang dibeli, yang dijual semua laku. Juga disebut negara murah makanan, dan pakaian. Continue reading Lakon wayang kulit purwa lakon ’Parta Krama’ [1]