Narasoma [1]


salya-setyawati

Dipandanginya sosok di sebelahnya yang tengah tidur dalam senyuman di pangkuannya. Begitu damai terlihat. Rona kebahagiaan terpancar dari wajah yang begitu dikenalinya inci demi inci. Wajah itu masih membuatnya bergetar saat menatapnya. Meskipun gurat garis usia tua mulai memahat wajah ayu itu, baginya sosok itu adalah satu-satunya hal terindah yang pernah dilihatnya di dunia ini. Sejuta kebahagiaan tlah dilalui bersamanya, nyaris tiada duka tersisa. Kasih sayang kepadanya tidaklah luntur dari hari ke hari, bahkan dirasakan semakin membuncah memenuhi seluruh ruang di hatinya.

Semalam, tlah ditumpahkan dengan segenap jiwa rasa cintanya melalui olah krida hubungan suami istri nan mesra. Senyum istrinya mewartakan kepuasan hatinya. Begitupun dirinya, hubungan dengan istrinya tidak hanya melibatkan fisik semata namun tautan hati dan saling pengertian, tlah menyatukan mereka dalam kasih sayang nan indah abadi.

Sebelumnya telah dibulatkan tekad bahwa esok hari kan pergi ke medan laga sebagai panglima perang dalam Baratayudha. Dan itu tak ingin diketahui oleh sosok disebelahnya kini. Hatinya terlalu rapuh pabila menyaksikan derai air mata kesedihan. Tak tega rasanya memandang wajah sedih sang permata hati. Oleh karenanya tlah direncanakannya untuk pergi secara diam-diam. Tekadnya telah utuh, tiada celah lagi untuk berubah, namun nalurinya mengatakan bahwa malam inilah saat terakhir dirinya sua dengan istrinya tercinta.

Hening.

Sepi.

Wajah laki-laki itu tersenyum pahit. Bulir air mata mengambang di pelupuk ke dua matanya. Tak pernah dalam hidupnya sekalipun mengeluarkan air mata. Kini, tak mampu dia menahannya. Dadanya teramat sesak, hatinya teramat perih.

Kembali dibelainya wajah halus istrinya itu. Seorang istri yang begitu setia mendampinginya selama ini. Istrinya yang telah memberikannya lima orang keturunan sebagai penyambung darah. Dan saat menyentuh bibir itu, ingatannya kembali melayang pada kali pertama menyentuhnya pada malam setelah pernikahannya. Kembali di ulang kenang rangkaian episode-episode kehidupan yang tlah dilaluinya.

<< ooo >>

Jejaka muda itu adalah Narasoma. Dia adalah putra Prabu Mandrapati raja dari negara Mandaraka. Dia adalah sosok pemuda yang cerdas dan berilmu tinggi nan mumpuni. Namun sayang, sifat dan wataknya yang suka pamer serta sombong kerap diperlihatkan, walaupun rakyat Mandaraka memakluminya karena memang pada diri Narasoma banyak hal yang dapat dipamerkan termasuk juga ketampanannya. Narasoma diangkat menjadi putra mahkota dan dipersiapkan menjadi raja Negara Mandaraka kelak. Narasoma mempunyai seorang adik perempuan yang sangat disayanginya. Begitupun adiknya itu, Dewi Madrim, sangat menyayangi kakaknya dan sangat bermanja bila sua dengan kakaknya.

Cinta berawal saat pertama kali tatapan mata Narasoma saling bertumbuk dengan sinar mata Endang Pujawati. Pertemuan itu terjadi di Pertapaan Argabelah ketika dirinya tersuruk-suruk meninggalkan kerajaan Mandaraka, setelah diusir oleh ayahndanya Prabu Mandrapati. Ayahnya sangat kecewa dengan dirinya karena menolak perintah agar segera menikah. Permintaan itu disodorkan oleh ayahnya waktu itu, agar ketika ayahndanya menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada putranya, maka dirinya sudah memiliki seorang permaisuri. Namun dirinya justru mengajukan syarat bahwa dirinya harus menikah dengan wanita yang serupa persis dengan ibunya. Ayahnya yang salah memahami permintaan dirinya akhirnya mengusir dirinya hingga terlunta-lunta sampai di Pertapaan Argabelah.

Tertautnya sinar mata di pertapaan Argabelah itu telah memercikkan api dan mengobarkan asmara diantara keduanya. Maka ketika Endang Pujawati pun terbakar api itu, diseretnya sang ayah, Begawan Bagaspati, untuk menemui dirinya. Terperanjat dirinya waktu itu, ketika melihat ayah Pujawati yang ternyata berujud seorang raksasa. Dalam hati bergolak sebuah pertanyaan, benarkah Pujawati, wanita dengan sejuta pesona, berayah seorang pendeta raksasa? Tetapi pertanyaan ketidak mungkinan itu ditepisnya sendiri. Seketika akalnya berputar, bagaimana caranya memetik “bunga cempaka mulia indah nan mewangi, tetapi ditunggui oleh seekor buaya putih”. Apa kata ayahnya bila ia berbesan dengan seorang raksasa?!

“Pujawati, inikah satria yang kau katakan telah mempesonamu?” Begawan Bagaspati menanyakan kepada anaknya. Namun pertanyaan itu hanya basa basi saja. Dalam kenyataannya Begawan Bagaspati telah mengetahui apa yang sedang terjadi pada keduanya. Maka tanpa menunggu jawaban anaknya, Begawan Bagaspati menanyakan kepada Narasoma.

“Raden siapakah andika sebenarnya?” Sapa Bagaspati.

“Heh Pendeta Raksasa, siapakah namamu?”, Sifat tinggi hati Narasoma tak mau kalah.

“Ooh tidak mau mengalah rupanya satria ini. Baiklah, namaku adalah Begawan Bagaspati. Sedangkan siapakah nama andika, Raden?” Tanya Bagaspati kembali.

“Akulah anak Raja Mandaraka, Prabu Mandrapati. Namaku Narasoma” Kata Narasoma waktu itu dengan muka tengadah. Dirinya tak memungkiri bahwa dimasa muda, berwatak degsura. Namun dilain pihak Begawan Bagaspati seakan terhenyak. Mandrapati adalah salah seorang saudara seperguruannya, bertiga bersama seorang saudara seperguruan yang lain, yang bernama Begawan Bagaskara yang juga berujud seorang raksasa. Namun ia tak mengatakana sesuatau apapun. Sifat Narasoma dan alasan yang tidak bisa ia ungkapkan, menuntunnya untuk tidak mengatakan sedikitpun mengenai jati dirinya.

“Raden, perkenankan andika menyembuhkan sakit yang diderita oleh anakku ini” Bagaspati menjelaskan.

“Lho, kamu itu seorang pendita, yang pasti memiliki segala ilmu agal alus. Tidakkah kamu dapat menyembukan penyakit anakmu sendiri?”

“Tapi penyakitnya adalah penyakit asmara, Raden. Hanya seorang yang dapat menyembuhkan penyakit itu kecuali andika Raden. Bersediakah Raden mengobati anakku?” Bagaspati berterus terang dengan bahasa halus. Tanyanya mengharap.

Sepercik sinar telah menerangi akal pikiran Narasoma ketika itu. Terbuka kesempatan bagaimana cara melenyapkan duri yang menghalangi hubunganku dengan wanita yang menjadi pujaan hati.

“Baiklah, aku mempunyai syarat agar putrimu dapat sembuh dari sakit itu. Syaratnya kamu harus menjawab teka teki dariku. Sanggupkah?”

Advertisements

2 thoughts on “Narasoma [1]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s