Wahyu Cakraningrat [7]


Gatutkaca-Solo

Menjalani kehidupan perkawinan laksana mengendarai bahtera mengarungi samudra lepas nan luas dan ganas. Kadang tenang menghanyutkan disertai dengan pemandangan alam nan mempesona, bertabur gemerlap bintang di malam kelam, ufuk lautan seolah menciptakan batas dengan langit dengan ronanya nan berwibawa. Namun adakalanya badai sesekali melanda disertai dengan hujan deras serta gelegar petir menyambar membuat ciut hati. Yah … begitulah romantika kehidupan manusia. Susah senang, lara bahagia, nelangsa dan suka, datang silih berganti. Akan selalu begitu dan memang sudah ditetapkan demikian. Ibarat sebuah kurva sinusoida, roda kehidupan berjalan bukan merupakan garis lurus, perjalanan kadang berada di bawah, pula acap di atas dan suatu kali niscaya kan di tengah.

Begitupun yang dialami Abimanyu dan Siti Sundari. Madu yang tlah direguk dan dinikmati manisnya disaat-saat awal perkawinan, kini mulai berubah menjadi rasa bratawali, pahit. Bulan madu adalah episode yang telah berlalu.

Memang ketulusan cinta mereka berdua tiada bercacat, namun kata orang bijak, rasa cinta bukan satu-satunya perekat dalam menjalani kehidupan rumah tangga. Ada faktor lain yang mampu menghadirkan kebahagiaan hidup berumah tangga, yaitu kehadiran ANAK. Seorang keturunan penerus garis darah, selalu menjadi dambaan pasangan suami istri. Tak bisa dibayangkan bagaimana keringnya sebuah rumah tanpa celoteh dan tangis si kecil.

Perkawinan yang telah dijalaninya selama beberapa bulan, tentu membuat Abimanyu bahagia karena Siti Sundari adalah pilihannya pribadi dan pula perempuan yang dicintainya. Namun sebuah kabar yang didengarnya kemarin siang, membuatnya seakan kebahagiaan itu tercerabut dari dirinya dan bahkan berubah menjadi kesengsaraan rasa. Kabar itu laksana petir di siang hari bolong yang mengejutkan dirinya hingga seolah tiada semangat lagi tersisa dalam menjalani hari-hari di Plangkawati.

Oleh karenanya kemudian dia memutuskan untuk “mengadu” kepada Dewata atas nasib yang tengah disandangnya ini. Dengan khusuk Abimanyu mengheningkan cipta di sanggar pamujan berharap dewata yang agung memberikannya secercah cahaya dan solusi jalan keluar atas masalahnya ini.

Begitupun Siti Sundari. Kabar itu sungguh membuatnya hancur lebur tercerai berai. Hari-hari yang tlah lalu dan dijalaninya bersama suaminya tercinta seakan menjadikan dirinya adalah wanita yang paling berbahagia di muka bumi ini. Bagaimana tidak ? Suaminya begitu sayang padanya dan memberikan kenikmatan dan kebahagiaan yang tak pernah dialami sebelumnya. Abimanyu adalah seorang satria yang sempurna. Sehat jiwa raga, gagah perkasa dan dikaruniai wajah yang luar biasa tampan. Tentu membuat iri wanita lainnya karna dia memperoleh kekasih yang begitu rupawan dan menawan.

Namun bagaimana sekarang ? Dirinya telah divonis tidak akan dapat melahirkan seorang anak, keturunan yang tentunya menjadi dambaan bagi mereka berdua. Apalah gunanya seorang perempuan yang meskipun dikaruniai kecantikan tiada tara laksana dewi kahyangan namun tidak mampu untuk melahirkan seorang anak ? Bukankah harkat seorang perempuan adalah kemampuan untuk melanjutkan trah garis keturunan suaminya ? (baca kisah Semar Kuning)

Hari-hari Siti Sundari dipenuhi oleh air mata kesedihan. Dirinya belum mampu menerima kenyataan ini. Siapa yang harus disalahkan ? Dirinya ? Ramanyakah ? Atau bahkan dewa yang bertindak tidak adil ?

Selama beberapa hari yang dilakukan hanyalah berdiam diri seraya menunggu suaminya yang tengah melakukan tapa brata di sanggar pamujan. Sedih dan sesal masih menggumpal di dadanya. Namun tidak percuma darah Dwarawati mengalir dalam dirinya, setelah sekian lama jiwanya bergolak akhirnya di tetapkan niat untuk tegar dan menerima semua yang telah digariskan oleh takdir. Sikap dan watak wanodya utama slalu melekat dalam jiwanya, bahwa kewajiban seorang istri adalah mengabdi kepada suami, kepada guru laki, apapun yang bakal terjadi kelak. Di tanamkan dalam hatinya bahwa segala sesuatu yang telah ditetapkan dewata adalah yang terbaik dan harus diterima dengan jiwa pasrah, maka niscaya akan berakibat baik bagi kehidupannya.

Dalam suasana diam itu, tiba-tiba Siti Sundari dikagetkan oleh datangnya prajurit Plangkawati yang mewartakan kedatangan saudara tua suaminya yaitu Gatotkaca. Dengan cepat dimintakan agar Gatotkaca segera masuk ke dalam dan dia segera beranjak ke sanggar pamujan untuk mewartakan hal tersebut kepada suaminya.

“Kakang Gatotkaca, gerangan apakah yang membuat Kakang datang ke Plangkawati ini tanpa kabar sebelumnya ? Namun sebelumnya adimu ini menghaturkan sembah pangabekti kepada Kakang” demikian tanya yang diungkapkan oleh Abimanyu sesaat setelah menerima kedatangan Gatotkaca.

“Dengan senang hati aku terima, juga pangestuku sudilah engkau terima adikku Abimayu, dan tentu saja juga engkau Siti Sundari”

“Terima kasih Kakang” hampir bersamaan Abimanyu dan Siti Sundari menjawab

“Begini Abimanyu, kakangmu kesini diperintah oleh uwak Prabu Yudistira untuk memintamu datang ke Amarta mengahadap”

“Kira-kira ada sesuatu yang pentingkah ?”

“Sepertinya begitu. Tadi ramanya Siti Sundari, uwak Prabu Kresna datang berkunjung ke Amarta dan bersama uwak Yudistira, rama Werkudara serta bapakmu Arjuna tengah membahas sesuatu”

“Kalau begitu mari kita segera ke sana Kakang. Yayi Siti Sundari sayangku, tentu engkau telah mendengar permintaan Kakang Gatotkaca. Suamimu ini mohon ijin untuk segera ke Amarta menemui uwak Prabu Yudistira”

“Silahkan Kangmas”

“Engkau yang bersabar ya atas semua yang tengah kita alami ini”

“Mudah-mudahan Kangmas, doa dan cintamu kan selalu menguatkan hatiku”

Maka dengan tidak menunggu lama, Gatotkaca dan Abimanyu melesat menuju Amarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s