mBangun Alas Mandalasara_Ki Tejo Sutrisno, Spd.


Lakon mBangun Alas Mandalasara (Gagrak Banyumasan) oleh Ki Tejo Sutrisno Spd. Ini merupakan kiriman dari salah satu muridnya yang bernama: Lorena Megasari Justicia Pratiwi. Dan Lakon ini untuk minta diposting di wayangprabu.com
Sinopsis:
Di negara Astina Prabu Duryudana sedang gundah, karena mendapat Surat yang isinya Semar meminta tanda Bukti kepemilikan Hutan Mandala Sara, Semar meminta Hutan Mandalasara karena saat Semar menunggui Bima Bungkus sehingga lahir di alas Mandalasara, Prabu pandu, ratu Astina yang juga ayah Bma, pernah berjanji akan memberikan Mandalasara untuk Semar sebagai wujud bersyukur atas pecahnya Bungkus.
Atas Bujukan Durna, akhirnya duryudana enggan memberikan SERTIFIKAT Hutan mandala sara kepada Bawor yang mdiutus Semar untuk menyelesaikan masalah ini. akhirnya terjadi Peperangan. karena terdesak Durna berniat mencari bantuan ke Jodipati.

bawor_banyumas
Di Kesatrian Jodipati, Bima terlihat murung, bingung seperti mempunyai hutang yang belum terbayar, tapi kepada siapa dia tidak tahu. Tiba tiba datang Durna yang membujuk agar Bima membunuh Semar. seperti Biasanya Bima selalu ikut apa yang ikatakan Gurunya itu.
nah Bagaimana akhir Ceritanya? Silahkan Download lakon ini secara utuh nuwun di link File 2 sampai File 20 di bawah ini:

File 2: mBangun Alas Mandalasara_02
File 3: mBangun Alas Mandalasara_03
File 4: mBangun Alas Mandalasara_04
File 5: mBangun Alas Mandalasara_05
File 6: mBangun Alas Mandalasara_06
File 7: mBangun Alas Mandalasara_07
File 8: mBangun Alas Mandalasara_08
File 9: mBangun Alas Mandalasara_09
File 10: mBangun Alas Mandalasara_10
File 11: mBangun Alas Mandalasara_11
File 12: mBangun Alas Mandalasara_12
File 13: mBangun Alas Mandalasara_13
File 14: mBangun Alas Mandalasara_14
File 15: mBangun Alas Mandalasara_15
File 16: mBangun Alas Mandalasara_16
File 17: mBangun Alas Mandalasara_17
File 18: mBangun Alas Mandalasara_18
File 19: mBangun Alas Mandalasara_19
File 20: mBangun Alas Mandalasara_20

Narasoma [3]


salya-nakula-sadewa

Siang tadi abdi istana telah menghadirkan kedua orang tamu yang sedari lepas tengah malam menunggu, kapan kiranya akan ditemui oleh tuan rumah. Prabu Salya yang masih belum beranjak dari tempat sesuci telah mengira, siapa sebenarnya yang hendak menghadap. Firasatnya mengatakan, bukan orang lain yang hendak bertemu dengannya. Maka ia masih tetap dalam busana putih yang ia kenakan ketika ia memuja Hyang Maha Agung, dan juga belum hendak beranjak dari sanggar pemujan.

Prabu Salya menarik nafas panjang ketika ia melihat dihadapannya berjalan dua sosok yang sangat ia kenal dengan baik. Dialah kemenakannya, Nakula dan Sadewa. Kemenakannya yang lahir dari gua garba adik perempuannya Madrim. Adik perempuan satu satunya yang sangat ia kasihi. Seketika tangannya dilambaikan kearah kedua satria yang baru saja dipanggilnya menghadap. Sambil tetap duduk ditempat semula, tangannya mengusap usap kepala kemenakannya dengan sepenuh kasih ketika Nakula dan Sadewa bersimpuh dan menghaturkan sembah bakti kepadanya.

“Pinten, Tangsen, duduklah dekat kemari” Masih disertai senyum, Sang Uwak, ketika melepaskan elusan tangannya. Prabu Salya terbiasa memanggil kemenakannya dengan panggilan kecil, Pinten dan Tangsen, kepada Nakula dan Sadewa. Ia masih saja menganggap kemenakannya masih saja selayaknya kanak kanak, walau mereka sebetulnya sudah lepas dewasa. Panggilan itu seakan ia ucapkan sebagaimana ia dengan segenap kasih ingin menumpahkannya kepada anak yang terlahir piatu itu. Dan masih tercetak kuat dalam benaknya, betapa sejak kecil keduanya telah ditinggalkan oleh sepasang orang tuanya, sehingga tak terkira betapa kasih sang uwak tertumpah kepada kedua kemenakannya itu.

Nakula dan Sadewa beringsut sejengkal memenuhi keinginan uwaknya. Tanya seputar keselamatan masing masing telah mereka ucapkan dengan singkat, hingga kemudian Prabu Salya membuka pembicaraan ke hal selain basa basi.

“Kedatanganmu kemari, aku merasakan seperti halnya ibumu hadir dalam diri kamu berdua. Kembar, alangkah malangnya kamu berdua ditakdirkan terlahir sebagai anak piatu”. Sejenak Prabu Salya yang baru saja membuka kata, terdiam. Matanya menerawang mengingat adiknya Madrim dengan segala tingkah polahnya.

“Didunia ini, siapakah orangnya yang tidak mengenal Prabu Pandu Dewanata, ayahmu. Tidak ada seorangpun yang bisa memberikan keterangan selengkap yang aku berikan mengenai keberadaan ayahmu, kecuali keterangan itu datang dari diriku. Dulu sewaktu ibumu hamil, ia ngidam kepengin naik Lembu Andini. Padahal ia tahu, Lembu Andini itu kendaraan Hyang Guru. Itupun ia mengendarainya hanya sendirian saja”. Continue reading Narasoma [3]

Narasoma [2]


Narasoma-Bagaspati-Candrabirawa

“Silakan Raden memberi teka teki kepadaku. Akan kujawab semampuku, bila aku tahu jawabannya” Begawan Bagaspati adalah seorang Pendeta yang sudah tak lagi samar dengan polah tingkah manusia. Ia adalah manusia sakti yang mengetahui setiap keadaan didepan dengan penglihatannya yang tajam berdasarkan getar isyarat dan gelagat yang ia terima. Meskipun demikian ia masih juga ingin melihat dengan seutuhnya getaran itu dengan lebih jelas. Maka ia masih tetap ingin mendengarkan langsung kata teka teki dari mulut Narasoma.

“Ini teka-teki ku, dengarkan baik baik. Suatu hari ada seekor kumbang jantan yang sedang terbang tak bertujuan. Terlihat olehnya ada setangkai bunga cempaka yang sedang mekar dengan indahnya. Penuh dengan sari madu yang membuat sang kumbang begitu terpesona dan terbitlah rasa lapar ingin menghisap sari madu itu. Namun ternyata didekat bunga mekar itu, terdapat seekor buaya putih yang sedang menunggui. Sedangkan kumbang hanya dapat menghisap sari madu bunga cempaka itu, bila buaya putih penunggu telah terbunuh”.

Sampai disini Begawan Bagaspati menarik nafas panjang. Ia sudah mengetahui maksud dari teka teki yang diberikan oleh Narasoma. Maka katanya kepada Pujawati, “Raden, tidak usah kau teruskan teka teki itu hingga selesai. Aku sudah dapat menebak teka teki itu. Pujawati, pergilah ke sanggar pamujan, siapkan segenap perangkat upacara kematian. Bentangkan selembar mori putih dan kekutug kemenyan beserta mertega sucinya. Segeralah anakku Pujawati”.

Seketika tercekat kerongkongan Pujawati. Kegelisahan telah merayapi jantungnya, namun ia masih saja meminta keterangan kepada ayahnya.

“Untuk apa dan siapa yang hendak diupacarai, Bapa?” Gemetar suara Pujawati.

“Sudahlah nanti kamu juga akan tahu sendiri. Bukankah engkau menghendaki Narasoma menjadi kekasih hatimu? Inilah syarat yang harus kamu sediakan dalam menjawab teka teki dari calon suamimu, Pangeran Pati Mandaraka, Raden Narasoma. Segeralah kamu lakukan apa permitaanku Pujawati” Dipandangnya Pujawati dengan sinar mata yang seakan menyihir Pujawati agar segera meninggalkan keduanya. Continue reading Narasoma [2]

Narasoma [1]


salya-setyawati

Dipandanginya sosok di sebelahnya yang tengah tidur dalam senyuman di pangkuannya. Begitu damai terlihat. Rona kebahagiaan terpancar dari wajah yang begitu dikenalinya inci demi inci. Wajah itu masih membuatnya bergetar saat menatapnya. Meskipun gurat garis usia tua mulai memahat wajah ayu itu, baginya sosok itu adalah satu-satunya hal terindah yang pernah dilihatnya di dunia ini. Sejuta kebahagiaan tlah dilalui bersamanya, nyaris tiada duka tersisa. Kasih sayang kepadanya tidaklah luntur dari hari ke hari, bahkan dirasakan semakin membuncah memenuhi seluruh ruang di hatinya.

Semalam, tlah ditumpahkan dengan segenap jiwa rasa cintanya melalui olah krida hubungan suami istri nan mesra. Senyum istrinya mewartakan kepuasan hatinya. Begitupun dirinya, hubungan dengan istrinya tidak hanya melibatkan fisik semata namun tautan hati dan saling pengertian, tlah menyatukan mereka dalam kasih sayang nan indah abadi.

Sebelumnya telah dibulatkan tekad bahwa esok hari kan pergi ke medan laga sebagai panglima perang dalam Baratayudha. Dan itu tak ingin diketahui oleh sosok disebelahnya kini. Hatinya terlalu rapuh pabila menyaksikan derai air mata kesedihan. Tak tega rasanya memandang wajah sedih sang permata hati. Oleh karenanya tlah direncanakannya untuk pergi secara diam-diam. Tekadnya telah utuh, tiada celah lagi untuk berubah, namun nalurinya mengatakan bahwa malam inilah saat terakhir dirinya sua dengan istrinya tercinta.

Hening.

Sepi.

Wajah laki-laki itu tersenyum pahit. Bulir air mata mengambang di pelupuk ke dua matanya. Tak pernah dalam hidupnya sekalipun mengeluarkan air mata. Kini, tak mampu dia menahannya. Dadanya teramat sesak, hatinya teramat perih.

Kembali dibelainya wajah halus istrinya itu. Seorang istri yang begitu setia mendampinginya selama ini. Istrinya yang telah memberikannya lima orang keturunan sebagai penyambung darah. Dan saat menyentuh bibir itu, ingatannya kembali melayang pada kali pertama menyentuhnya pada malam setelah pernikahannya. Kembali di ulang kenang rangkaian episode-episode kehidupan yang tlah dilaluinya.

<< ooo >>

Jejaka muda itu adalah Narasoma. Dia adalah putra Prabu Mandrapati raja dari negara Mandaraka. Dia adalah sosok pemuda yang cerdas dan berilmu tinggi nan mumpuni. Namun sayang, sifat dan wataknya yang suka pamer serta sombong kerap diperlihatkan, walaupun rakyat Mandaraka memakluminya karena memang pada diri Narasoma banyak hal yang dapat dipamerkan termasuk juga ketampanannya. Narasoma diangkat menjadi putra mahkota dan dipersiapkan menjadi raja Negara Mandaraka kelak. Narasoma mempunyai seorang adik perempuan yang sangat disayanginya. Begitupun adiknya itu, Dewi Madrim, sangat menyayangi kakaknya dan sangat bermanja bila sua dengan kakaknya.
Continue reading Narasoma [1]

Wahyu Cakraningrat [11]


petruk

“Gong ! Jangan nggambleh saja. Kowe nih gimana, kakak-kakaknya lagi pada kerja, eee … kamu enak-enakan duduk malah mandori !” tiba-tiba Petruk sudah berdiri dekat Bagong

“Lho aku kan bukan nganggur tho Kang, aku lagi kerja juga, tapi kerjaku lebih intelek yaitu kerja menggunakan otak dan pikiran. Aku lagi diskusi sama Rama tentang hidup dan kehidupan yang tengah aku, engkau dan semua orang jalani di dunia ini” tak kalah Bagong

“Halah guayamu Gong. Kalau diskusi ya kan ada waktunya. Sekarang ini kan saatnya kerja fisik mempersiapkan istirahat kita nanti malam”

“Yo wis … sing enom ngalah. Apa yang dapat aku kerjakan !”

“Lha wong harusnya sudah dari tadi kok, sekarang juga sudah kelar no” kata Petruk jengkel

“Giliran aku sudah siap, kerjaan sudah selesai. Berarti bukan salahku lho Kang”

“Wis … wis … wis … sekarang duduk-duduk saja disini semuanya. Mana kakakmu Gareng ?” Semar menengahi

“Sebentar lagi tentu ke sini Ma” kata Petruk yang sudah memilih tempat untuk menempatkan pantatnya di rumput yang bersih

“Ma … aku arep takon lagi Ma”

“Arep takon apa Gong ?”

“Ngene Ma. Wahyu cakraningrat yang sedang dicari oleh nDara Abimanyu tuh kan wahyu yang gbakal menurunkan raja-raja tho Ma ?”

“Iya Le !”

“Lha kalau yang menurunkan para raja, seharusnya ya keturunan raja tho. Kalau pikiran logisnya ya begitu. Aku dengar sekarang ini yang tengah memperjuangkan hal yang sama dengan nDara Abimanyu kan putra mahkota semua. nDara Lesmana Mandrakumara adalah putra mahkota Astina, begitupun nDara Samba Wisnubrata adalah putra mahkota negara Dwarawati. Jadi dengan melihat background seperti itu, apakah yang akan diperjuangkan oleh nDara Abimanyu itu tidak akan sia-sia ?” Continue reading Wahyu Cakraningrat [11]