Meneladani Jiwa Pengabdian Panakawan [1]


punakawan-01

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum

~ BAB I ~
Sikap Rendah Hati

Wejangan Luhur
Semar iku pamonge satria agung
Trahing witaradya
Tut wuri pan handayani
Panakawan kang turun saking kahyangan

Terjemahan:

Semar itu pamomong satria agung
Keturunan para bangsawan
Selalu tut wuri handayani
Panakawan yang turun dari kahyangan

Semar adalah penjelmaan Bathara Ismaya yang turun ke madyapada untuk menjadi pamong satria agung. Para satria yang berbudi luhur tentu akan mendapat bimbingan langsung dari Kyai Semar, yang sudah tidak samar terhadap segala mobah mosiking jagad raya. Begitu populernya tokoh Semar dalam pewayangan, banyak tokoh pemuka negeri ini yang mengidentifikasikan dirinya sebagai Semar yang dianggap mempunyai kebijakan dan kebajikan.

Betapa pun hebatnya sang satria utama, wejangan dari Kyai Semar tetap diharap. Bagi para satria, Semar adalah figur yang waskitha ngerti sadurunge winarah. Kyai Semar tahu betul peta sosio kultural di Triloka atau tiga dunia yaitu dewata, raksasa dan manusia. Di benak para satria utama itu, kehadiran Semar diyakini akan mendatangkan kebenaran dan keberuntungan.

Jagad gumelar (makrokosmos) dan jagad gumulung (mikrokosmos), keduanya mendapat pengawalan dari Kyai Semar, sang panakawan minulya. Para dewa di Kahyangan takluk total kepada pribadi agung Semar. Bathara Kala beserta bala tentara jin pun terlalu kecil keperkasaannya bila berhadapan dengan Sang Pamomong Agung, Kyai Semar.

Dalam buku pakem pewayangan yang ditulis oleh Sumosaputra (1953: 34-38) dijelaskan mengenai ajaran Pancawisaya yang berisi tentang refleksi kebijaksanaan hidup. Ketika Arjuna sedang melakukan pengembaraan, dia banyak mengalami kesedihan. Sepeninggal ayahnya almarhum Prabu Pandhu Dewanata, para Pandawa senantiasa mendapat cobaan hidup. Pengembaraan yang dilakukan saudara-saudaranya mendapat anugerah dari dewata.

Semar yang telah mengetahui isi hati Arjuna juga ikut prihatin. Sebagai panakawan dia merasa wajib membantu secara fisik dan moral supaya Arjuna lebih ringan beban pikirannya. Semar memberi wejangan dengan ajaran Pancawisaya. Dialog antara Semar dengan Arjuna yang membahas
ajaran Pancawisaya seperti kutipan di bawah ini:

Permadi : Kakang Badranaya, kapriye mungguh wijange Pancawisaya, kakang, mara pratelakake kang trewaca.

Semar : Ee, terangipun makaten. Panca punika gangsal, wisaya punika bebaya, dados dhasaripun tarak brata punika kedah mangertos dhateng rubedaning bebaya utawi baya pakewed gangsal prakawis. Wijangipun makaten. Rogarda, tegesipun sakit ingkang sinandhang tumraping badan. Manawi ketaman sakiting badan, angestia temen, trima lan legawa. Sangsaranda tegesipun rekaos ingkang sinandhang tumraping badan. Manawi ketaman rekaosing badan, angestia betah ngampah sarta lembah manah. Wirangharda, tegesipun sakit ingkang sinandhang tumraping manah. Manawi ketaman sakiting penggalih, angestia tata, titi, tatag tuwin ngatos-atos. Cuwarda, tegesipun rekaos ingkang sinandhang tumraping manah. Manawi kataman rekaosing penggalih angestia eneng-ening waspada tuwin enget. Durgarda, tegesipun pakewed ingkang sinandhang tumraping manah. Manawi kataman pakeweding penggalih, angestia ngandel, netel tuwin kumandel dhateng panguwaosipun Sang Hyang Sukma Kawekas.

Terjemahan:

Permadi : Kakang Badranaya, bagaimana sesungguhnya Pancawisaya itu, kakang, coba uraikanlah yang jelas.

Semar : Ee, keterangannya demikian. Panca itu lima, wisaya itu penghalang. Jadi, dasar untuk berlaku brata itu harus mengerti terhadap lilitan penghalang atau penghalang yang menjerat lima perkara. Keterangannya demikian: Rogarda, artinya sakit yang menimpa tubuh. Kalau ditimpa sakit tubuh, berusahalah sungguh-sungguh, menerima dan rela hati. Sangsararda, artinya sengsara yang menimpa tubuh. Kalau ditimpa sengsara badan, berusahalah menahan dan berbesar hati. Wirangharda, artinya sakit yang menimpa hati. Kalau ditimpa sakit hati, berusahalah tata, titi, kokoh pendirian serta berhati-hati. Cuwarda, artinya sengsara yang menimpa hati. Jika ditimpa kesengsaraan hati, berusahalah tenang, waspada serta ingat. Durgarda, artinya hambatan yang menimpa hati. Kalau ditimpa hambatan hati, berusahalah percaya diri dan yakin terhadap kekuasaan Tuhan.

Wejangan yang sangat mulia itu mendapat tanggapan positif dari Arjuna. Semua wejangan Semar tadi membuat pikiran dan hati Arjuna menjadi tenang dan tabah dalam melakukan perjuangan hidup. Dalam adegan cerita di atas, tampak sekali peranan Semar yang dilukiskan sebagai tokoh yang bijaksana, menguasai ilmu pengetahuan dan sangat berwibawa di hadapan Arjuna. Padahal Semar hanyalah seorang panakawan, batur (abdi) yang derajatnya jauh di bawah Arjuna.

Hal ini menunjukan bahwa Semar adalah tokoh yang luwes, bisa berempan papan dan mampu bertindak secara tepat pada situasi apa saja. Ketika berada di alam kahyangan Semar sangat dihormati, disegani dan diperhitungkan pendapatnya oleh para dewa. Bahkan Bathara Guru sebagai raja dewa sekalipun, terhadap Semar tidaklah berani sembarangan. Setiap kali Bathara Guru melakukan kesalahan yang menyimpang dari prosedur wewenangnya, yang mampu mengingatkan dan meluruskan jalan hidupnya hanyalah Semar. Tokoh wayang lain jarang yang berani mengingatkan apalagi melawan. Juga permaisuri Bathara Guru yakni Bathari Durga, hanya Semarlah yang mampu mengendalikannya.

Meskipun di kahyangan Semar tidak memiliki posisi dan jabatan apapun, tetapi berkat pengalaman, kedalaman ilmu, dan kepatuhannya dengan hukum, dan keteguhannya terhadap nilai kebijaksanaan, Semar berwibawa dan di hadapan para dewa yang terkenal mempunyai kekuasaan dan kesaktian yang sangat luar biasa. Di dunia Marcapada pun Semar selalu menjadi pamong, pendamping dan penasehat para raja serta satria luhur. Prabu Kresna, raja Dwarawati yang dianggap kondang akan kecerdikan dan kebijaksanaan itu terhadap Semar juga berlaku sangat santun. Saran-saran Semar mesti menjadi bahan pertimbangan dalam setiap pengambilan keputusan penting. Juga para Pandawa, Semar dianggapnya sebagai kamus hidup dan pelita yang mampu menerangi sewaktu dirundung kegelapan.

Maka dari itu, sudah amat wajar bila ada yang menyebut Semar sebagai kawula pinandhita (kawula yang dianggap sebagai pendheta). Ajaran Pancawisaya yang diajarkan oleh Semar kepada Arjuna yang terdiri dari lima butir tersebut sebenarnya dalam filsafat Jawa bisa dikaitkan dengan simbol bilangan lima dan ungkapan lain yang juga mengandung nilai filosofis dan mistis.

Orang Jawa sejak dahulu kala gemar olah jiwa, tidak cuma olah raga saja. Maka tidak mengherankan kalau olah jiwa itu mendapat perhatian lebih tinggi daripada sekedar olah raga. Terbukti ada ungkapan dalam syair lagu kebangsaan Indonesia Raya. Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya. Di situ jelas jiwa mendapat posisi yang utama. Pada suatu saat orang yang melakukan kesatuan mistik, maka pada waktu itu ia akan mengalami ekstase (pingsan atau tak sadarkan diri). Namun ekstase atau pingsan ini sudah disadari dan diniati dalam suatu proses laku (Sri Mulyono, 1989: 27).

Menurut Haryanto (1992: 18) dalam dunia pewayangan atau dunia priyayi Jawa, tipe-tipe yang halus biasanya secara moral pun baik. Bagi golongan priyayi khususnya dan orang Jawa umumnya lahiriah yang halus dan batin yang halus setidak-tidaknya merupakan cita-cita mereka. Dalam Lakon Wahyu Makutha Rama, Semar memberi nasehat kepada Arjuna demikian:

Para raksasa menika dumadi saking hawa nafsunipun Begawan Kunta Wibisana, ingkang kepingin sanget paduka sampurna-kaken supados wangsul dhateng asal kamulanira.

2 thoughts on “Meneladani Jiwa Pengabdian Panakawan [1]”

  1. Reblogged this on 4 en' lightenment and commented:
    Napak Tilas jejak nenek moyang dan leluhur kita, terkait dengan keluhuran budi dan prilaku, serta tata krama. Mengembalikan jati diri kita sebagai manusia yang adi luhung. Selamat membaca!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s