Semar Kuning [12]


Terkejut semua yang hadir ditempat mulia itu. Semua sadar bahwa apa yang dikatakan Puntadewa bukan hanya gertak semata. Kata-katanya niscaya akan dibuktikan adanya. Puntadewa terkenal sebagai orang yang jujur, tidak pernah menyakiti orang lain dan bahkan akan memberikan apapun yang dipunyai bila orang memintanya. Oleh karenanya dia digelari sebagai Ajatasatru, tidak punya musuh,

karena memang pada kenyataannya satu orangpun tidak pernah menjadi musuhnya. Lawan apalagi kawan semua segan dan hormat pada Puntadewa ya Sang Darmaputra.

Puntadewa berwajah tenang, berpenampilan sangat sederhana dan bertutur kata lemah lembut kepada siapa saja. Tidak peduli pabila berhadapan dengan rakyat jelata yang miskin sekalipun, niscaya akan dihormati dan dihargai layaknya kawan dekat ataupun saudara kandung.

Puntadewa setelah menjadi raja pun tidak berpakaian yang serba mewah dan penuh kemegahan. Pakaiannya sangat sederhana dan tidak mengenakan mahkota raja yang menurutnya dapat merenggangkan hubungan baiknya dengan orang lain, menjauhkan jarak karena perbedaan kasta. Juga dia terkenal sangat sabar hingga orang menyangka darahnya berwarna putih.

Di dalam dunia pewayangan, ada tiga tokoh yang berdarah putih yaitu : Subali, Begawan Bagaspati dan Puntadewa.

Bagaspati adalah seorang begawan di Argabelah. Dia adalah mertua dari Prabu Salya di Mandraka. Anaknya Pujawati diperistri oleh Narasoma, nama muda dari Prabu Salya, yang karena kelicikan Narasoma dan begitu cintanya pada anak satu-satunya, Bagaspati kemudian menyerahkan nyawanya dengan mentransfer ajian Candrabirawa. Kisah pilunya dapat dibaca disini http://wayangprabu.com/2011/02/07/utang-piutang-bagaspati-–-narasoma/.

Begitupun Puntadewa. Kisah kalah main dadu melawan saudaranya Kurawa yang dibungkus oleh kelicikan Sengkuni, sepenuhnya bukan karena Puntadewa suka berjudi, melainkan karena enggan menolak ajakan saudara tuanya, apalagi sebagai seorang satria pantang menolak sebuah tantangan. (Dalam hal ini walaupun bersikap baik, namun Puntadewa tidak tepat menerapkannya. Menurut ajaran agama, tidak boleh menerima ajakan dari orang tua sekalipun kalau itu mengarah kepada kesesatan).

Begitupun saat ini. Sifat “keras” dalam selalu menjaga perasaan orang lain, malah menyebabkan merasa terpukulnya jiwa adik-adiknya, terutama Werkudara. Namun disisi lain, ada jiwa yang tengah bergolak. Ada jiwa yang gundah dan gelisah. Ya … pengaruh kejujuran, belas kasih dan kemurnian sikap Puntadewa, membukakan mata hati Kresna akan kebenaran. Meluluh lantakkan kesombongan yang selama ini membalut hatinya. Melumerkan sikap merasa paling benar dan paling kuasa karena ke-wisnu-annya. Membuat jiwanya terhanyut dalam nuansa hening nan berwibawa. Menyesali atas kepongahannya, perlakuan menyepelekan kepada adiknya Arjuna, menghina abdi kinasihnya Semar dan memandang rendah kakaknya sendiri Baladewa.

Bulir air mata mengambang di pelupuk mata Kresna. Dalam kisah dan masalah apapun mana pernah Kresna menangis. Namun kali ini hatinya menangis, walau air mata tanpa isak hanya meleleh satu dua, namun dampaknya sungguh luar biasa. Seketika wajah Kresna meneduh, matanya merunduk. Dan dengan suara yang teramat lembut berucap :

“Saya yang salah Yayi !”
“Tidak, Arjuna yang salah Kakang Prabu”
“Benar, saya yang salah Yayi”
“Tidak Kakang”
“Sekali lagi, dan ini kakang ucapkan dengan sepenuh hati dan kebenaran semata, bahwa sayalah yang bersalah Yayi. Dan sebagai penebus dosa atas apa yang telah saya lakukan, saya akan menjalani lampah brata, akan kucari Arjuna kemanapun dia berada. Tidak akan kakang kembali ke Dwarawati maupun ke Amarta bila tidak membawa hasil. Kakang mohon pamit Yayi !!!”

Dengan langkah cepat Kresna keluar ruangan dan segera menghilang dari pandangan.

Dan Wekudara yang sedari tadi tegak diam berwajah sedih, pun melangkah keluar tanpa berkata-kata sepatah katapun. Werkudara berjalan ringan menuju alun-alun dan berdiri tegak di tengah-tengahnya. Mukanya yang keras semakin mengeras menahan kecewa dan rasa sedih. Masih terngiang ucapan kakaknya Puntadewa yang menyalahkan dirinya dan adiknya Janaka. Sedih tiada terkira. Dia faham betul akan karakter Arjuna, adiknya yang sangat di sayang sepenuh jiwa dan raga.

Sang Werkudara berdiri tegak tiada bergerak terlihat begitu gagah dan berwibawa. Sungguh gagah satria panenggak Pandawa itu.

dhêdhêp tidhêm prabawaning ratri
sasadara wus manjêr kawuryan
tan kuciwa mêmanise
mênggêp srinatèng dalu
siniwaka sanggyaning dasih
aglar nèng cakrawala
winulat ngalangut
prandene kabèh kèbêkan
saking kèhing taranggana kang sumiwi
warata tanpa sêla

Sunyi senyap sepi menciptakan perbawa malam
Bulan tlah menampakan diri bersinar terang
Alangkah indahnya tiada mengecewakan
Terlihat gagah raja diraja malam itu
menghadirkan segala cinta dan harapan
terhampar di atas cakrawala
terlihat hampa tak bertepi
namun nyatanya semua tlah penuh sesak
oleh bintang gemintang nan berbinar
merata sinarnya tanpa sela

Namun di malam bersinar terang rembulan itu, masih kalah cahyanya oleh Sang Panenggak Pandawa. Dari gelang candrakirana terpancar cahya yang benderang mengalahkan cahya Sang Hyang Wulan. Candra artinya bulan, kirana bermakna wujud, maka cahya gelang Sang Bayusuta berpadu dengan sang rembulan sejati menaburkan rona yang benderang di sekeliling alun-alun Amarta.

Sang Kusumayuda, sang petarung sejati, namun juga satria pinandhita. Dia profesional sekaligus religius, tapa ngrame, pekerja keras yang sufistik, juga panglima perang namun sekaligus seorang guru besar.

Sifat dan wataknya adalah teladan. Ibarat kalau tegak dapat dijadikan sebagai tongkat atau tempat berdiri, bila megar dapat dijadikan payung peneduh, pabila lemas bermanfaat sebagai temali pengikat dan jika kaku dapat digunakan sebagai pikulan.

Kedua betis kaki ditutupi oleh kampuh atau kain poleng bintuluaji yang berwarna merah, hitam, kuning dan putih. Merah perlambang amarah, hitam adalah kekuatan, kuning simbol keinginan dan putih adalah kesucian. Ke empat warna, ke empat sifat tadi melekat pada Werkudara dan tlah menyatu bersinergi menciptakan kekuatan tekad dan kerendahan hati.

Bratasena adalah pamungkas laku, membereskan segala masalah. Sang Bima berwajah selalu menunduk dengan belakang kepalanya lebih tinggi sebagai perlambang orang tengah sholat. Tidak mau melayani orang lain pabila pekerjaannya sendiri belum tuntas. Bukankah kalau sedang sholat, sembahyang menghadap Sang Pencipta alam, apapun tiada boleh mengganggu apalagi membatalkannya ?

One thought on “Semar Kuning [12]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s