Semar Kuning [11]


Di sitinggil Amarta telah duduk sulung Pandawa, Prabu Puntadewa, di hadapan adik-adiknya minus Arjuna. Disebelah kanannya, berdiri dengan tegak Bima ya Werkudara serta di sebelah kiri berdiri si kembar, Nakula dan Sadewa. Amarta tengah kedatangan tamu agung yang sekarang sedang menghadap. Siapakah tamu agung itu ? Ternyata mereka adalah Prabu Kresna, Prabu Baladewa dan rombongan

. Prabu Kresna dan Prabu Baladewa di atas kereta Jaladara setelah menghindari bencana, akhirnya sepakat untuk mengungsi ke Amarta menemui adik-adiknya Pandawa, sekaligus untuk mewartakan apa yang tengah di alami Dwarawati.

“Selamat datang di Amarta Kakang Prabu Kresna dan Baladewa. Sayang sekali tidak mewartakan kabar kedatangan terlebih dahulu sehingga kami tidak dapat menyambutnya dengan baik. Hal apakah yang membawa kedatangan para keluarga Dwarawati dan Koko Prabu Baladewa ke Amarta ini”

“Terima kasih yayi Prabu, yayi Prabu dan adik-adiku Pandawa telah menerima kami sudah merupakan suatu kehormatan. Kami datang kesini memang tidak direncanakan sebelumnya sehingga tidak sempat mengirim warta atau nawala. Hal yang akan saya wartakan adalah sesuatu yang penting bagi yayi Prabu bahwa saya telah menikahkan ananda Abimanyu dan Siti Sendari beberapa hari yang lalu. Hal ini saya lakukan meskipun tanpa kehadiran besan, yayi Arjuna, mengingat bahwa hubungan keduanya sudah begitu akrab dan dekat. Keduanya sudah saling mencintai dan sepertinya memang sudah dijodohkan oleh Yang Kuasa untuk menjadi suami istri. Dan untuk menghindarkan dari hal-hal yang tidak diinginkan maka saya segera berinisiatf untuk menyatukan mereka berdua dalam bahtera hidup rumah tangga.”

Kemudian Kresna bercerita bahwa Baladewapun kemudian merestui pernikahan itu, tentang kedatangan Semar pada saat para raja undangan tengah menyantap hidangan yang disediakan, bagaimana Semar memberi hadiah dua pupuh tembang sarkara yang kemudian membuatnya merasa disentil, dan kemudian saat bagaimana Abimanyu atas perintahnya meludahi kuncungnya Semar.”

Diam sesaat Puntadewa mendengar cerita dari Kresna. Sedih hatinya atas kejadian itu, dibayangkan betapa perih hati abdinya kinasih Semar memperoleh perlakuan yang sangat menghinakan dari momongannya sendiri. Dan kemudian katanya :

“Setelah mendengar cerita tadi, saya tidak menyalah koko prabu ataupun kakang Semar. Yang saya salahkan adalah yayi Arjuna yang meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ayah apalagi pada peristiwa yang sangat penting yaitu hari pernikahannya”

Werkudara yang sedari tadi diam mendengar cerita Kresna namun setelah mendengar respon dari kakaknya itu segera menyahut :

“Hemmm … aku faham bahwa kakakku tidak akan pernah menyalahkan apalagi menyakiti hati orang lain, yang dilakukan pasti menyalahkan diri sendiri atau saudaranya. Kakakku selalu mengalah. Dalam hal ini belum tentu si Jlamprong adikku yang salah. Aku tahu bagaimana si Jlamprong itu, aku mengenalnya lebih dari kakakku”

Baladewa tidak urung ikut nimbrung dalam pembicaraan yang sudah mulai memanas ini

“Heh …. yayi Kresna ceritamu belum selesai, lanjutkan cerita kejadian setelah itu. Jangan engkau potong-potong ceritanya”

“Saya kira itu cukup Kakang”

“Tidak ! Jujurlah ! Sebab seandainya engkau bercerita lebih lengkap apa adanya dan engkau dapat mengungkapkan segalanya dengan jujur, kalaupun engkau yang salah namun karena telah engkau akui dengan jiwa satria maka niscaya kata maaf akan gampang engkau terima. Pada saat itu dirimu mungkin sedang khilaf bukan?”

“Heeeemmm … aku percaya siapa itu Jlitheng kakangku. Jlitheng kakangku adalah tidak lumrah manusia, Jlitheng kakangku adalah kekandangane Batara Wisnu sehingga sudah selayaknyalah memiliki kebijaksanaan yang luas. Oleh karenanya tuntaskan cerita tadi biar segalanya jelas mana yang salah mana yang benar, becik ketitik ala ketara” Werkudara kembali mempertegas

“Bener Werkudara … bener kuwi … ha ha ha ha … Aku sendiri selama ini memang menggantungkan kebijaksanaan ke dia. Walaupun aku lebih tua dari dia, namun aku merasa bahwa ilmuku kalah jauh dengan ilmunya. Bagaimana bisa menang lha wong dia titisan Wisnu. Kresna kok dilawan … ha ha ha ha … !!!” tawa Baladewa terdengar aneh terutama di telinga Kresna.

“Ya silahkan koko Prabu, di luar sana banyak kolam limbah yang berair kotor. Silahkan koko Prabu menyiramkan semua kotoran ke diri saya ini. Saya memang penuh rereget”

“Ha ha ha … ojo mutung yayi”

Puntadewa yang mendengar itu segera menengahi

“Monggo, silahkan dilanjutkan ceritanya koko prabu”
“Siap yayi Prabu, namun sebelumnya saya mohon ijin untuk meminta nini Siti Sendari dan Abimanyu untuk ke belakang saja agar tidak mendengarkan apa yang nanti kemungkinan malah akan membuat resah dan gelisah hati mempelai pengantin”

“Ya silahkan. Abimanyu dan Siti Sendiri silahkan ke belakang istana untuk istirahat dan anggap saja serasa di rumah sendiri seperti di Dwarawati”

“Terima kasih Prabu Puntadewa, mohon pamit”

Abimanyu dan Siti Sendari kemudian bergandengan tangan meninggalkan ruangan pertemuan untuk beristirahat di kamar yang telah disediakan.

Setelah hening sejenak, kemudian Prabu Kresna mulai membuka suara.

“Pun Kakang melanjutkan cerita yang tadi. Apakah harus selalu begitu ? Memang harus selalu begitu kalau wong sing utang kudu nyaur lan wong nyilih kudu mbalekake, orang yang berhutang harus membayar dan yang meminjam harus mengembalikan. Tidak lama kemudian setelah kejadian itu, belum juga semua undangan para raja pulang ke negara masing-masing, Dwarawati ditimpa bencana alam. Hujan datang tiba-tiba tanpa mendung dengan derasnya menyebabkan banjir ladu walik watu. Pada awalnya hanya terjadi di alun-alun, namun dengan cepat menuju sitinggil keraton walaupun telah dihadang dengan berbagai cara.”

Dengan menghela berat nafas, Kresna melanjutkan ceritanya

“Yayi, walaupun dengan rasa pedih dan dada sesak saya lanjutkan cerita ini. Kemudian di sisi selatan api berkobar mulai menerjang memasuki keraton. Begitupun dari sisi utara. Segala arah di kepung oleh dahana, sungguh miris kejadian saat itu. Pada saat itu saya akhirnya memanfaatkan pusaka kereta Jaladara untuk menyelamatkan diri beserta keluarga hingga sampai di hadapan yayi sekarang ini. Tujuan kami menghadap yayi tidak lain adalah disamping ingin menyampaikan kabar tentang malapetaka yang menimpa Dwarawati, juga minta saran dan solusi agar dapat menyelesaikan masalah ini”

Akhir cerita Kresna membuat Puntadewa terpekur dan bersedih hati. Namun Puntadewa tetap saja Yudistira, selalu enggan untuk mempersalahkan orang lain, yang selalu dikorek adalah kesalahan diri sendiri ataupun keluarganya. Hingga kemudian dia berucap kepada Werkudara.

“Dara … Janaka dulu kamu beri pelajaran apa ?”
“Tentu saja hal-hal yang baik”

“Sebagai saudara tua dari Janaka, kalau nyata engkau telah memberi pelajaran tentang tata susila dan keutamaan seorang satria dan kewajiban seorang manusia untuk selalu berbuat baik dan menghindari hal-hal yang buruk dan menyakiti orang lain, tentu dia tidak akan melakukan hal bodoh ini”

Baladewa yan merasa risih seketika menyela :

“Yayi … Janaka sebenarnya tidak salah kok disalahkan ini bagaimana … “
“Koko Prabu … mohon cukup mendengarkan apa yang saya katakan”
“Oh … ngih yayi”

Seraya masih menghadap wajahnya ke Werkudara, adiknya, Puntadewa melanjutkan :

“Kalau engkau tidak mampu menasehati orang yang lebih muda, apa gunanya engkau menjadi orang tua. Janaka itu apamu ?”
“Janaka itu adikku”

“Ibarat kayu yang tidak lurus dan mulai bengkok apakah engkau tidak berusaha meluruskan ?”
“Aku akan luruskan !”

“Ibarat mata air di telaga mulai kotor, mengapa engkau tidak membuatnya jernih lagi ?”
“Aku akan membuat bening !”

“Engkaulah yang salah tidak bisa mengarahkan adikmu untuk selalu berbuat baik. Seandainya engkau sudah tidak mau dan tidak mampu lagi untuk membuat baik adikmu, aku mohon diri, akan kucari sendiri sampai ketemu dimana adikmu berada”

“Aduh kakang … engkau akan mencari dimana ?”
“Akan aku cari di tengah bara api yang membara dan membakar !!!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s