Semar Kuning [10]


Kita tinggalkan Prabu Kresna dan rombongan dari istana Dwarawati yang mengendarai kereta Jaladara berusaha menghindari bencana dan berniat untuk sementara mengungsi.

Kita kembali mengikuti perjalanan anak-anak Semar panakawan yang ditinggal Ramanya, Semar, dan disuruh untuk mencari nDaranya satria Madukara, Arjuna. Meskipun belum tahu dimana sebenarnya nDaranya berada, namun ke

tiga panakawan telah hafal akan perilaku nDaranya itu. Kalau sedang mengalami masalah berat dan membutuhkan solusi yang bener lan pener, maka tidak ada tempat yang tepat selain mencari kesunyian jauh dari keramaian untuk bertapa menentramkan hati, memusatkan pikiran, tuk berharap pepadhang. Tidak hanya bila menemui masalah berat, saat mengharapkan sesuatu yang dirasakan penting bagi diri, keluarga, saudara-saudaranya maupun bagi negaranya, pun Arjuna lebih sreg melakukannya dengan ber-tirakat, mendekatkan diri kepada Pencipta Semesta.

Dan ketekunannya dalam bertapa itu memang sudah teruji.Jangankan cuma sekedar binatang buas, ataupun jin gendruwo atau setan yang paling menakutkanpun, bahkan godaan yang lebih hebat lagi berupa bidadari kahyangan yang cantik molek tiada menggoyahkan tekad dan kemauan keras Permadi. Bahkan tidak hanya satu bidadari, melainkan tujuh bidadari tidak mampu menarik minat Arjuna selagi bertapa. Dewi Warsiki, Dewi Irimrin , Dewi Tunjungbiru, Dewi Wilutama, Dewi Supraba, Dewi Gagarmayang dan Dewi Lengleng Mulat yang mendapat tugas untuk menggoda, berakibat senjata makan tuan, malah mereka yang tergoda oleh tidak saja sosok dan wajah Arjuna yang rupawan, juga dibuat kagum oleh kekuatan tekad, hati dan pikiran (baca kisah Begawan Mintaraga).

Sehingga akhirnya Gareng, Petruk, Bagongpun menemukan nDaranya di suatu hutan di sebelah barat daya kerajaan Dwarawati. Tentu tempat yang digunakan Arjuna tidak sembarangan, melainkan tempatnya tersembunyi, bersih, dan layak untuk didiami selama beberapa bulan.

Ketiga panakawan tadi sementara melepas lelah tidak jauh dari tempat nDaranya bertapa karena melihat bahwa Arjuna masih begitu khusyu dalam semedinya sehingga tidak berani membangunkannya.
“Kalau saya pikir-pikir, Ramane Semar tuh aneh ya Kang Gareng. Lha wong jelas-jelas dihina sama ndara Abimanyu dan ndara Kresna begitu … eee … bukannya marah atau membalas malah diam saja” Petruk memulai pembicaraan mengeluarkan uneg-unegnya.

“Iya Kang, kalau saya yang digituin …. oooo pasti langsung tak bales malah tak tambahi bonus. Kalau ada yang meludahi mukaku … langsung tak bales meludahi mukanya bahkan kalau perlu langsung tak uyohi !” tambah Bagong dengan penuh ekspresi.

“Hush … ora elok kuwi … tidak bagus begitu. Malah kita harus bersyukur punya orang tua seperti Ramane Semar. Ramane Semar terkenal sebagai pamomong para ksatria dan raja. Pamomong itu tidak hanya sekedar jadi batur, babu atau pembantu, melainkan lebih dari itu. Mengingatkan yang dimomong kalau berbuat salah, memberi wejangan dan teladan yang baik, bahkan sering diajak diskusi mencari solusi terhadap permasalahan yang tengah terjadi. Usulannya sering didengar malah kerap dijadikan sebagai pedoman. Jadi dihadapan mereka, kedudukan Rama Semar itu sangat mulya, tidak hanya dianggap sebagai pendamping dan pembantu saja. Oleh karenanya meskipun usia ndara yang dimomong Ramane Semar itu jauh lebih muda, tapi semuanya menyebut Ramane dengan Kakang. Itu memperlihatkan bahwa hubungan antara ndara dan pamomongnya itu begitu dekat” terang Gareng bijak.

“Tapi aku juga heran Kang Gareng atas perilaku nDara Kresna, lha kok lain dari biasanya. Kalau kita maen nemenin nDara Janaka ke sana, sikap nDara Kresna selalu baik kan. Malah pernah pulangnya aku dioleh-olehin sarung sama sak rantang opor kok” Petruk kembali berujar.

“Lha itu yang aku juga heran Kang Petruk sama Kang Gareng, mungkin setan atau Batara Kala sedang manjing di dirinya. Lha wong menurut cerita Rama, polah tingkah nDara Kresna juga aneh kok, katanya somse dan begitu merendahkan”
“Ya nggak tahulah Gong, yang penting kita sudah memenuhi perintah Ramane Semar mencari nDara Janaka”

Dan yang tengah diperbincangkan, akhirnya bangun dari semedinya. Matanya terbuka dan langsung dilihatnya para panakawan telah menunggu didepannya.

“Gareng, Petruk dan Bagong, sudah lamakah kalian menunggu disitu ?”
“Eeee nDara sudah bangun rupanya, kami belum lama kok nDara” jawab Gareng mewakili adik-adiknya.

“Lha mana Kakang Semar kok tidak keliahatan bersama kalian”

Seketika Bagong pasang aksi
“Hu hu hu hu … ludah dikuncungi nDara !”
“Apa kuwi Gong ?”
“Ludah kyaine Semar dikuncungi …”
“Hush … salah Gong, kuncung di bawuki !” Petruk juga ngawur.

“Ada apa sih ini, kok ada kuncung, ludah sama bawuk. Tolong dijelaskan yang terinci dan runtut sehingga aku mengerti apa yang telah terjadi”
“Begini nDara !” akhirnya Gareng turun tangan

Kemudian Gareng bercerita atas apa yang menimpa Semar, tentang perkawinan Abimanyu dan Siti Sendari yang tidak ada besannya, tentang Semar yang mencoba mengingatkan, tentang penghinaan yang dilakukan Abimanyu kepada Semar dan kemudian tentang perintah Semar untuk mencari Janaka untuk mengabarkan semua itu.

Mendengar cerita itu, sejenak Janaka terhenyak. Sedih tiada terkira atas perlakuan Abimanyu dan penghinaan kepada abdi kinasihnya. Juga tak kurang herannya atas sikap Prabu Kresna yang keterlaluan itu. Ada semburat kesedihan dan penyesalan menaungi wajah Janaka. Dan seraya menghela nafas seakan melepas beban berat yang menggelayuti dada, kemudian dia berkata :

“Panakawan, sungguh tak terduga. Sebenarnyalah aku menyepi diri di sini untuk bertapa, tiada lain dalam rangka ingin meminta kepada Yang Kuasa untuk memulyakan anakku tersayang Abimanyu. Aku selaku orang tuanya, begitu berharap anakku kelak menjadi satria pinunjul baik dalam olah krida maupun olah batin. Dan itu kupintakan tiada putus. Pun harapan serupa aku lakukan untuk Siti Sendari, agar kelak dia dapat mendampingi anakku dalam mengarungi kehidupan menuju kebahagiaan rumah tangganya kelak. Panakawan, aku tidak menyalahkan siapa saja atas kejadian memalukan dan memilukan ini. Kesalahan hanya ada padaku saja. Oleh karenanya, mari dampingi aku untuk mencari kebenaran dan jalan keluar.”

Tanpa diperintah dua kali, akhirnya panakawan mendampingi nDaranya menembus hutan belantara berjalan dalam diam.

Dan tak sengaja mereka bertemu dengan pasukan raksasa Kutakarukmi yang tengah juga menyusup dalam hutan untuk menyusun kekuatan kembali setelah dipukul mundur oleh Setyaki dan Gatotkaca.

Dan tak ayal pertempuranpun terjadi. Namun dengan mudah Janaka mampu mengalahkan pasukan raksasa itu dan seketika merekapun terbirit-birit melarikan diri ke hutan yang lebih dalam.

<<<< oooo >>>>

Kita beralih menuju negri Amarta.

Hanenggih nagari pundi ta ingkang kaeka adi dasa purwa. Eka sawiji, adi linuwih, dasa sepuluh, purwa wiwitan.

Sanadyan kathah titahing dewa, ingkang kasongan ing angkasa, kasangga pratiwi kapiting samodra, kathah ingkang sami anggana raras boten wonten kadi nagari Amarta. Mila kinarya bubuka, ngupayaa nagari satus tan antuk kalih, sanadyan sewu tan jangkep sadasa.

Mila winanstan Amarta dados palawangane jagad, utawi wenganing rahsa, Amarta panggenan pambuka.

Dhasar nagari panjang-punjung, pasir wukir loh jinawi gemah aripah karta tur raharja. Pajang dawa, punjung luhur kawibawane, pasir samodra wukir gunung, dene nagari ngungkurake pegunungan, ngeringake pasabinan nengenake benawi ngayunaken bandaran gedhe. Loh tulus kang sarwa tinandur, jinawi murah kang sarwa tinuku. Gemah para lampah dagang rahinten dalu tan ana pedhote, labet tan ana sangsayaning margi. Aripah janma manca kang samya gegriya ing salebeting praja katingal jejel riyel aben cukit tepung taritis, papan wiyar katingal rupak saking rejaning praja. Karta kawula ing padhusunan padha tentrem atine, mungkul pangolahing tetanen. Ingon-ingon kebo sapi, pitik iwen tuwin raja kaya tan ana kang cinancang, yen rahina aglar ing pangonan, yen bengi mulih marang kandhange dhewe-dhewe. Raharja tebih ing parangmuka. Para mantra bupati padha kontap kautame, bijaksana limpad ing kawruh, putus marang pangrehing praja, tansah ambudidaya kaluhuraning nata.

Dhasar nagari gedhe abore, padhang jagade, dhuwur kukuse, adhoh kuncarane. Boten namung ing tanah jawi kemawon ingkang sami sumujud, sanadyan para narendra ing mancanagari kathah ingkang sumawita tanpa karana ginebaging bandayuda, among kayungyun marang popoyaning kautaman. Bebasan ingkang celak manglung, ingkang tebih tumiyung. Saben antara mangsa sami asok bulubekti, glondhong pangareng-areng. Peni-peni reja peni guru bakal guru dadi mas picis rajabrana minangka panungkul. Sinten ta jujuluking narendra ingkang anglenggahi dhamparing kaprabon.

Wenang den ucapna jujuluking nata, ajejuluk Prabu Puntadewa ya Prabu Darmakusuma, ya Prabu Darmaraja, ya Darmaputra, Sang Darmawangsa, ya Prabu Yudhistira, Guna talikrama, ya Ajatasatru.

Mila jejuluk Prabu Puntadewa nalendra rahsaning dewa, jejuluk Yudhistira nunggak semi lan jejuluking jin Wisamarta, Darmaputra pinutra Sang Hyang Darma dewataning sesanggeman,Darmaraja narendra ingkang padha olah sesanggeman, ya Sang Ajatastru tegese tan darbe mungsuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s