Semar Kuning [9]


Nun … di angkasa terlihat tiga sosok tengah melayang terbang di atas bumi Dwarawati. Bagi orang awam, sudah tentu mereka tak terlihat. Mereka bertiga tengah memperhatikan keadaan negara Dwarawati dari angkasa di siang hari itu.

Benar, nereka bertiga adalah Bathara Brahma, Bathara Bayu dan Bathara Endra. Setelah meninggalkan Semar dari hutan belantara itu, maka mereka segera menuju negri Dwarawati. Segala rencana telah disusun untuk melaksanakan “hukuman” sebagai peringatan kepada Prabu Kresna atas tingkah polah dan kesombongannya mengagung-agungkan diri sebagai titisan Wisnu yang berkuasa di dunia. Perlakuan kepada Semar sungguh sudah keterlaluan, pun kepada adiknya sendiri Arjuna yang mengabaikan kehadirannya dan menganggapnya tidak ada walaupun ada peristiwa yang sangat penting bagi seorang ayah, yaitu menikahkan anaknya Abimanyu.

“Hong wilaheng awigeno mastuhu bawana langgeng, Kakang Brahma dan Kakang Bayu, mari kita mulai pekerjaan kita. Namun ingat petuah dari Wo Batara Ismaya, agar bencana yang kita berikan diupayakan agar jangan sampai menimpa kawula yang tidak tahu menahu dan tidak bersalah. Bencana kita fokuskan disekitar istana Dwarawati saja. Mari Kakang kita mulai !” begitu ungkap Bathara Endra untuk memulai rencana mereka.

Sesaat kemudian, Batara Endra mulai mengheningkan cipta, amuja tirta, mengendalikan air di sekeliling bumi Dwarawati dan seketika hujan sangat deras turun bak di curahkan isi laut ke bumi. Tak lama kemudian, banjir ladu walik watu, banjir bandang bagaikan tsunami datang menerpa dari alun-alun menuju istana Dwarawati. Pinggir kedaton mulai di terjang air bah dan seterusnya mulai memasuki sitinggil istana.

Batara Brahma tak mau kalah, setelah mengheningkan cipta maka keluar dari kedua belah tangannya dahana sagedung-gedung ngepung kutha Dwarawati, bola api raksasa mulai melingkupi istana. Sehingga api bergabung dengan air mulai merangsak ke dalam istana menciptakan suasana mengerikan bagi sesiapa saja yang menyaksikan.

Tak cukup dengan itu semua, Bathara Bayupun kemudian ikut berkontribusi. Diciptakannya angin topan bergulung-gulung, barang apa saja yang dilaluinya porak poranda. Pohon nan besar dan kuat tercerabut akar-akarnya dan ikut terbawa terbang. Tembok yang kokoh dan tebal seketika roboh dan puing-puingnya terhambur kesegala arah bagai kapas diterbangkan angin saja.

Geger istana Dwarawati !

Suara jerit perempuan terdengar menyayat hati, ketakutan. Tak tahu apa yang harus dikerjakan karena angin topan, air bah dan kobaran api datang begitu tiba-tiba.

Begitupun Prabu Kresna yang sedang berbicara dengan kakaknya Prabu Baladewa yang tengah bersiap-siap pulang ke Mandura, sangat terkejut melihat bencana yang menimpa kraton Dwarawati yang datang begitu tiba-tiba.

Kresna yang biasanya sangat tabah, sabar dan cerdik dalam mencari solusi yang cepat dan tepat, kali ini terlihat bingung dan tak tahu apa yang harus dikerjakan. Begitupun Baladewa yang biasanya mengandalkan adiknya Kresna dalam segala hal, kali ini tambah bingung atas apa yang terjadi. Walaupun sebenarnya dalam hati kecilnya percaya bahwa bencana ini adalah akibat dari penghinaan Kresna kepada Semar pada peristiwa perkawinan Abimanyu dengan Siti Sendari belum lama tadi.

“Ini gimana Yayi Prabu, cepatlah engkau bertindak kalau tidak ingin kita hancur diterjang oleh air bah yang begitu dahsyat, api yang berkobar-kobar dan angin yang mengobrak-abrik istana ini”

“Saya juga bingung Kakang Prabu, pusaka-pusaka sakti yang aku punyai semua hilang. Sepertinya terbawa air bah tadi”

“Lha … Wisnumu yang kamu unggul-unggulkan selama ini mana, segera keluarkan Yayi. Bukankah Wisnumu dapat menaklukan dunia ini sesuai keinginanmu. Kalau cuman bencana seperti ini sepertinya tidak ada artinya dibandingkan kekuasaan Wisnumu Yayi”

“Haduh Kakang Prabu … kok sepertinya kekuatan Wisnu hilang dari diriku ya”

“Ayo cepat keluarkan, masak gini aja tidak bisa mrantasi gawe, bukankah Wisnumu sanggup untuk menahan air, api dan angin yang seberapa besarpun”

“Haduh Kakang … jangan meledek begitu dong. Benar Kakang, sepertinya Wisnu telah oncat dari diriku, yang penting sekarang kita selamatkan keluarga Dwarawati dulu Kakang. Semua pusaka-pusakaku tak tahu dimana sekarang, tapi saya masih mempunyai kereta Jaladara Kakang.”

“Kalau begitu ayo cepat kita selamatkan mereka semua. Cepat keluarkan Jaladara Yayi”

Segera Prabu Kresna membawa ketiga istrinya Jembawati, Rukmini, Setyaboma, satu per satu naik kereta, dan setelah itu sepasang pengantin baru Abimanyu dan Siti Sendari juga memasuki kereta Jaladara. Dan secepat kilat kemudian Jaladara melesat ke angkasa menghindari bencana yang dahsyat itu.

Memang sungguh luar biasa kereta Jaladara itu. Kereta Jaladara adalah kereta hadiah dewa bagi Kresna, dibuat oleh Mpu Ramayadi dan Mpu Hanggajali. Kereta itu ditarik empat ekor kuda yang berwana kemerahan, hitam, kuning dan putih yang punya kesaktian sendiri sendiri.

Kuda berwarna kemerahan dari benua barat hadiah dari Batara Brahma, dengan kesaktiannya mampu masuk kedalam kobaran api, bernama Abrapuspa.

Kuda hitam dari benua paling selatan bernama Ciptawelaha pemberian Sang Hyang Sambu, mampu berjalan menembus tanah.

Kuda berwarna kuning bernama Surasakti yang mampu berjalan diatas air adalah pemberian Batara Basuki dari jagad timur.

Sedangkan kuda putih murni bernama Sukanta pemberian dari Batara Wisnu dari bumi utara, kesaktiannya mampu terbang.

Pabila telah dirakit dan digabungkan dalam satu kereta maka tercipta kolaborasi yang dahsyat, satu dengan yang lain saling berbagi kesaktian dan saling melindungi.

Sebenarnyalah kereta kuda Jaladara melambangkan kehidupan manusia di jagat ini. Keempat kuda dengan warna yang berbeda tadi menyimbolkan sifat dan watak manusia yang masing-masing mempunyai karakteristik khusus dan akan mempunyai kekuatan dahsyat bila berkolaborasi antara satu dengan yang lainnya. Dan kusir kereta yang mengerti akan sifat dan perilaku kudanya serta mampu menggabungkan kekuatan masing-masing dalam sebuah orkestra irama gerak langkah kaki kuda nan menawan, senada seirama, maka perjalanan para penumpang akan nyaman, aman dan cepat sampai tujuan.

Warna-warna empat kuda Jaladara ibarat cahaya-cahaya inti yang melingkupi diri manusia.

Cahaya Putih, merah, kuning dan hitam melambangkan manifestasi air, api, angin dan bumi atau tanah.

Cahaya Putih, merah, kuning dan hitam menyimbolkan nafsu muthmainah, amarah, sufiah dan lawwamah.

Air adalah putih, kejujuran, kesabaran, nrima ing pandum, bersifat melarukan, menyejukan, menyegarkan, namun jika berlebihan dapat menghancurkan bahkan menjadi racun yang mematikan.

Api berwarna merah, berwatak semangat, dinamis, berambisi, emosi namun juga mempunyai sifat sebagai pemberontak, iri dengki, pun kebohongan. Sifat baik dan buruk dapat timbul darinya, sehingga hasil cipta dari daya hidupnya dapat merupakan energi yang bergerak bersifat prabawa, mengembangkan, memekarkan namun juga memiliki daya menghancurkan, membasmi, membakar hingga meledakan.

Cahaya Kuning adalah merupakan manifestasi dari angin yang memiliki watak keindahan, dalam seni budaya, sopan santun, kasih sayang, toleransi, namun juga semu, samar, palsu, gengsi, konsumtif.

Dan hitam adalah bumi atau tanah. Dari tanah watak dan sifat produktif, kreatif, inovatif tercipta, namun juga bersifat tega, egois, mengunggulkan materi.

Keempat cahaya tadi harus saling mengisi dam menutupi kekurangan untuk menciptakan watak dan tindakan yang baik dan terpuji sesuai dengan jalan Ilahi Rabbi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s