Semar Kuning [8]


Sementara itu, di kamar tidur pengantin baru, Abimanyu dan Siti Sendari, suasana romantis segera terasa. Dihiasi dengan dekorasi interior yang indah nan menawan serta di sekeliling ruangan tercium aroma wewangian yang nyaman dan membangkitkan gairah, suasana siang itu terasa menyejukan. Panas di luar istana, namun begitu dingin di ruangan pengantin. Panas di dalam dada akibat gej

olak dan hasrat dirasa, namun dingin menyentuh hati yang tlah menyatu.

Masing-masing akan menyampaikan rasa cinta yang tlah menggumpal, namun saat menyaksikan wajah sang kekasih, tiba-tiba lidah kelu dan kata-kata tak mampu keluar. Yang ada hanya pandang-pandangan, senyam-senyuman, dan pegang-pegangan ….. tangan.

Abimanyu kemudian memandang istrinya. Yang dipandang malu tertunduk. Melalui mata pandangan, dijelajahinya seluruh tubuh wanodya yang tengah berdiri didepannya dan kini telah menjadi miliknya. Sempurna ! Dia memperoleh istri yang memiliki kecantikan yang sempurna, dari ujung rambut sampai ujung kaki semua serba indah.

Untuk menghilangkan kekakuan suasana, rikuh pakewuh, serta lebih mendekatkan rasa dan hasrat, maka Abimanyu membawa istrinya untuk menghirup udara segar dan menikmati keindahan taman di samping istana. Dengan bergandengan tangan intim, kedua sejoli itu berjalan pelan seraya bercanda mesra menikmati indahnya suasana.

Taman itu adalah taman di lingkungan keputren di Dwarawati, sehingga tlah biasa Siti Sendari menikmati keindahan dan keelokannya. Taman luas dengan pohon dan bunga beraneka rupa, gemericik air sungai dan bunyi binatang-binatang piaraan, menambah lengkap isi taman seolah menghadirkan suasana surga bagi pemiliknya.

Para penghuni taman, burung-burung, sungai, air, batu, serta awan mega di angkasa seolah tlah menjadi kawan setia Sang Dewi, dan slalu menyapanya.

Wanodya sulistya ing warna dasar pinter angedi busana ngadi sarira
manuk-manuk kang padha menclok panging kayon pating caruwet ocehe
parandene dupi mulat tindaknya Dewi Siti Sendari cep klakep kaya binungkem
sami mandhap saking ngepang … andekur
yen manungsa-a kaya sung pambage dateng rawuhipun sang putri linangkung
kali cilik kang padha mambek sakala banyune kemricik
ebahing toya labet denya kepengin tumingal marang sulistyaning warna putri minulya
mina-mina alit kang mapan ing kono pating calungup pada ngatonake sirahe
awit denya anginceng sarta anginjen anglirik namatake marang sulistyane wanodya utama
padas turi padha ambrol watu gedhe padha gathuk watu cilik padha gathik
upama wujude manungsa padha saur-sauran takon genti tinakon
suket grinting kang kang wus aking karana dangu tan kejawahan
parandene ketetesan keringete … saknalika subur semi angrembuyung
walang-walang kang padha menclok ing witing sidaguri padha mabur pating kleper angubengi lungguhane Dewi Siti Sendari
yen manungsa-a sung pambagya dateng rawuhing putri agung sekaring kedhaton Dwarawati
mega putih anggung lumayang mayungi dateng bentering surya
angayomi Sang Dewi aja nganti kaladuk langking pakulitane awit saka kasorotan bagaskara

Setelah puas berjalan menikmati indahnya taman, kedua sejoli itu melepas penat seraya duduk berdua di bangku taman. Wajah Siti Sendari semakin cerah, pipi memerah diterpa panas dan angin, di hiasi sedikit titik keringat di kening, menambah segar pandangan Sang Abimanyu.

“Adikmu ini sangat bangga dapat memperistri Mbakyu Siti Sendari”
“Ah … kok Kanda masih memanggil Mbakyu sih. Memang kalau menurut silsilah, saya ini lebih tua dari Kanda, tapi saya kan sekarang sudah menjadi istrimu, jadi sudah seharusnya Kanda memanggil Dinda kepada saya, bukan begitu Kanda”

Memang benar, kalau dirunut secara silsilah, Abimanyu dan Siti Sendari adalah masih trah Mandura. Siti Sendari berayah Kresna dan Kresna adalah anak dari Basudewa, raja Mandura. Ayah Abimanyu, Arjuna beribu Kunti yang adalah adik dari Basudewa. Maka berdasarkan itu Siti Sendari di anggap lebih tua dari Abimanyu.

“Benar Mbakyu … eh … benar Dinda. Mengapa Kanda bilang bahwa saya sangat bangga memperoleh Dinda sebagai istri, Dinda pengin tahu ?”
“Terserah Kanda”
“Karena Dinda adalah wanita yang sulistyo ing warna dalam segala hal. Wajah dan tubuh dinda begitu indah sehingga tak bosan Kanda memandangnya. Begitupun hati Dinda begitu lembut dan baik. Bagaimana Kanda tak merasa bangga ?”

“Ah … Dinda jadi malu” rona merah kembali mewarnai wajah Siti Sendari dan kali ini pujian suaminya itu bak api dalam sekam yang mengobarkan gairah kepada suaminya. Tak sadar kemudian dia bertanya :
“Kanda, di Madukara kalau siang hari mentari lama nggak tenggelamnya menjadi malam”

“Yah biasa saja Dinda, kalau sudah siang terus sore, pasti tidak lama kemudian malam pasti menjelang dan kemudian datang dengan sendirinya. Kok Dinda bertanya begitu sih, maksudnya apa ?”
“Kalau di Dwarawati ini rasanya kok siangnya lama ya Kanda. Perasaan dari tadi sang bagaskara masih menampakan diri saja, padahal sudah lama di atasnya. Terus malam kenapa belum datang-datang ya ?”

“Ehm … ehm … tenggorokan Kanda tiba-tiba kok jadi serak ini Dinda. Ehm …”
“Oh ya … kalau begitu kita ke kamar aja yuk Kanda”
“Ehm … ehm … nggak perlu nunggu malam kan ?”
“Ah … Kanda … bikin malu Dinda ajah”
Dan dengan agak terburu-buru kedua sejoli pasangan pengantin baru itu menuju ke kamar untuk menyembuhkan ehm ehm Abimanyu tadi.

Tidak perlu diceritakan apa yang terjadi di kamar pengantin.

Nun … di angkasa terlihat tiga sosok tengah melayang terbang di atas bumi Dwarawati. Bagi orang awam, sudah tentu mereka tak terlihat. Mereka bertiga tengah memperhatikan keadaan negara Dwarawati dari angkasa di siang hari itu

One thought on “Semar Kuning [8]”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s