Filsafat Jawa dan Kearifan Lokal [4]


by Dr. Purwadi, M.Hum

 

6. Aliran Vitalisme

Secara etimologis kata vitalisme berasal dari bahasa Latin vita atau hidup (Ali Mudhofir, 1988:33). Vitalisme menganggap bahwa perbuatan manusia yang dipandang bermoral ialah apabila perbuatan tersebut menunjukkan daya hidup. Seseorang yang bermoral tinggi ialah yang dapat menunjukkan kekuatannya sebagai orang kuat, seseorang yang istimewa (Niels Mulder, 1988:39). Aturan moral ini menandang bahwa hidup sebagai nilai yang tertinggi. Dengan demikian aliran ini mengatakan bahwa yang baik adalah yang mencerminkan kekuatan dalam hidup manusia. Kekuatan dan kekuasaan yang menaklukkan orang lain yang lemah, itu ukuran baik. Manusia kuasa itu pun manusia yang baik (Poedjawijatna, 1982:46).

Tokoh yang menganut paham vitalisme ini adalah Friedrich Nietzsche yang membagi dua macam moralitas, yaitu moralitas budak dan moralitas tuan. Moralitas budak adalah moralitas kawanan Herren-moral dan Sklaven-moral, sikap orang yang selalu mengikuti kelompok dan tidak berani bertindak sendiri, yang perlu dipuji dan takut ditegur. Menurut Nietzsche, moralitas budak harus dikalahkan dengan moralitas tuan. Dalam moralitas manusia tuan, baik adalah sama dengan luhur, buruk sama dengan hina. Yang dianggap hina adalah si penakut, si cengeng, si sempit, si pencuri untung, si pencurinya yang tidak berani menatap mata lawan bicara, yang merendahkan diri, si manusia macam anjing yang suka disiksa, si penjilat yang mengemis-ngemis, terutama si pembohong. Moralitas tuan membenarkan kekuatan dan kekuasaan. Cirinya adalah seluruhnya membenarkan dirinya sendiri. Moralitas tuan adalah ungkapan kehendak untuk berkuasa (Magnis Suseno, 1997:202).

Nietzsche berpendapat bahwa kepercayaan akan Tuhan itu terikat pada suatu perasaan atau kecenderungan (Arifin, 1987:63). Untuk menjadi maju manusia harus memperjuangkan kekuatan dan kehendak untuk berkuasa (der While zur Macht), kebebasan intelektual dan kejujuran hidup di dunia ini. Ia harus melepas kepercayaan, sebab saat ini merupakan tanda kelemahan dan pengingkaran terhadap hidup. Manusia tidak perlu mempunyai kewajiban apapun terhadap siapa pun selain dari dirinya sendiri. Manusia harus kuat dan mampu menjadi pengganti Tuhan dalam menciptakan semua nilai dan aturan hidup. Nietzsche beranggapan bahwa agama merupakan unsur negatif dalam perkembangan pribadi seseorang. Agama telah menumbuhkan suatu kebudayaan yang bertentangan dengan kosrat manusia. Agama melawan alam dan membuat dunia menjadi tempat yang sengsara, tanpa nafsu dan tanpa hidup.

Oleh karena itu bagi Nietzche, jika kehidupan manusia telah dibebaskan dari belenggu agama yang dilambangkan oleh kekuatan gereja, maka kemajuan akan dicapai oleh manusia dalam mengarungi dan menguasai kehidupan ini sesuai dengan apa yang dicita-citakan oleh manusia. Modal-modal pembangunan bangsa yang berupa sumber daya manusia dan sumber daya alam, perlu dikelola dengan sungguh-sungguh, supaya kegagalan dan kesia-siaan dapat dicegah. Harta benda publik harus bisa diatur secara bersama, terbuka, dan bergilir, sehingga kesejahteraan umum benar-benar diwujudkan. Perlu adanya kesadaran bahwa penderitaan dan ketertinggalan suatu kelompok merupakan beban dan tanggung jawab kelompok lain yang nasibnya lebih beruntung, sehingga keseimbangan hidup dapat dicapai dengan damai. Kutipan di bawah ini menunjukkan hal di atas:

Manguwuh peksi manyura

sawung kluruk amelungi

wancine wus gagat enjang

ayo rowang amurwani

netepi syariat lima

manembah Hyang Maha Suci

mrih yuwana kang pinanggih

ing donya tumikeng akhir

(Tembang Sawung Kluruk, pupuh gancaran, pada 1)

Terjemahan :

Suara kicau burung merak

jago berkokok bersahutan

saat telah menjelag fajar

mari teman memulai

menjalankan syariat lima

menyembah Yang Maha Suci

biar dapat keselamatan

di dunia sampai akhirat.

Sewaktu bangun pagi, udara masih bersih dan segar. Shalat Subuh sekaligus gerak badan, akan berguna

bagi proses menjaga kesehatan. Orang yang sholat Subuh teratur, tentu cara kerjanya juga lebih tertib. Permulaan kerja yang tertib akan mempengaruhi kualitas hasilnya. Berbeda dengan orang yang terlambat bangun, tugasnya akan dikerjakan dengan tergesa-gesa. Tubuhnya pun gampang terserang penyakit, karena gerak-geriknya tidak ajeg. Lagi pula bangun kesiangan hawanya tak cocok lagi.

7. Etika Naturalisme

Aliran ini mengatakan bahwa kebahagiaan manusia dapat dicapai apabila menuruti panggilan nature atau alam. Pemikiran keindahan dan seni sudah ada sejak zaman Yunani kuno. Filsafat keindahan dirintis oleh Sokrates kemudian dilanjutkan oleh Plato dan Aristoteles dengan memakai istilah lain. Aristoteles misalnya memakai istilah poetika. Pada zaman purba pemikiran estetika bersifat spekulatif, sedang pada abad pertengahan bersifat normatif. Sejak abad XVIII estetika mendapat nilai subjektif dengan pengertian bahwa yang dititikberatkan tidak hanya aspek keindahan saja, tetapi juga keindahan yang terpantul oleh keindahan yang ada pada manusia. Sedang fenomenologi estetika dan ilmu pengetahuan dalam abad XX memperhatikan unsur subjektif dan objektif.

Akal digunakan sebagai sarana manusia untuk mencapai tujuan kesempurnaan. Oleh sebab itu, perilaku hidup manusia harus berpedoman pada akal, karena akal itulah sebagai alat yang menerangi untuk tujuan kesempurnaan. Menurut tokoh aliran ini, Zeno, bahwa orang wajib menahan hawa nafsunya dan membatasi keinginan. Mereka menghendaki agar manusia itu jangan sampai mengikuti syahwatnya, tetapi hendaknya melatih diri sanggup hidup sengsara karena melarat, terbuang dan dibenci oleh pendapat umum, lalu menyediakan dirinya untuk memikulnya, sehingga jiwanya tidak terkejut dan gelisah atau natural.

Naturalisme secara psikologis dibagi menjadi dua yaitu naturalisme objektif dan naturalisme subjektif. Naturalisme objektif apabila norma moral dapat tetap tidak berubah dengan berubahnya sikap seseorang. Naturalisme subjektif menganalisa baik atau tidak berdasarkan sikap seseorang. Mengenal moral aliran ini mengatakan bahwa perbuatan dikatakan bermoral apabila perbuatan tersebut sesuai dengan panggilan alam. Maka manusia mempunyai tugas untuk memenuhi kebutuhannya. Kebahagiannya dapat hilang apabila kelangsungan hidup terganggu.

Kegiatan mental seseorang sama terdeterminasi seperti kegiatan jasmani, seseorang hanya merasa bebas karena tidak mengerti sebab-sebab tindakan seseorang menginginkan halhal tertentu. Spinoza dengan konsekuen menyangkal kemungkinan untuk menilai suatu tindakan sebagai adil atau tidak adil, dosa atau jasa. Penilaian-penilaian itu sendiri orang berikan secara niscaya.

Naturalisme pada Spinoza ini mempunyai dampak pada pemahamannya mengenai baik atau bonum dan buruk atau malum. Baik dan buruk bukanlah nilai yang ada pada objek atau tindakan, lepas dari emosi kodrati. Tindakan tidak digerakkan karena motif nilai-nilai baik dan buruk di luar seseorang, melainkan nilai-nilai disebut baik atau buruk atas dasar tindakan yang menyenangkan atau menyusahkan. Bila emosi mendorong dan menginginkannya, maka sesuatu itu dinilai baik dan buruk tidak dinilai buruk. Penentu baik dan buruk bukanlah nilai-nilai, melainkan jenis connatus atau dorongan. Seseorang mengenal yang baik dan buruk, bila mengenal jenis dorongan itu (Sudiarja, 1995:50). Aliran naturalisme dalam pewayangan dapat dilihat dalam semua adegan jejer pertama pewayangan yang menceritakan keindahan, kebesaran dan keagungan sebuah negara.

8. Aliran Behaviorisme

Aliran Behaviorisme memusatkan perhatian pada perilaku yang kasat mata, dan dengan demikian terukur. Usaha untuk menjelaskan perilaku sebagai akibat dar kekeutan-kekuatan   atau daya-dayadari dalam nampak sebagai “atavisme”, seperti manusia purba yang mencoba menjelaskan kenapa sebuah beda jatuh kalau dilepaskan dari suatu ketinggian yakni karena benda itu mempunyai kekuatan, daya. Demikianlah oang Yunani mengira bahwa dewa-dewalah yang menggerakkan sesuatu. Aristoteles menyebutnya sebagai anima, dan orang modern menyebutnya sebagai “pribadi” (personality). Skinner secara terus terang mempertanyakan gagasan Freud bahwa Id, Ego dan Super Egolah yang bertabggung jawab atas tindakan-tindakan manusia. Freud dinyatakan sebagai seorang determinis, yag mencari sebab pada pribadi seseorang pada masa lalunya, kemudian menyatakan bahwa manusia adalah arsitek dari nasibnya sendiri. Di Jawa gagasan ini nampak dalam ungkapan “ngundhuh wohing pakarti”sekalipun yang kedua ini lebih berbau ajaran moral. Orang percaya tentang adanya pribadi, jiwa, instink, karena mereka mnyaksikan baha meraka manusia bertindak begini dan begitu. Cara berfikir demukian, oleh skinner diangap sebagai cara berfikir yang mentalistik. Selanjutnya ia berpendapat bahwa analisis ilmiah menunjukkan bahwa tanggung jawab atas munculnya perilaku adalah tidaklah terletak dalam diri manusia tersebut tetapi pada lingkungannya. Itulah sebabnya kenapa Skinner sering disebut sebagai seorang environmentalist. Bukan kecemasan yang mengancam abad kita ini, tetapi malapetaka, kecelakaan, perang dan lain-lain, demikian dinyatakan Skinner. Kaum behavioris menjelaskan perilaku orang sebagai akibat dari kondisi-kondisi yang melingkupinya. “Conditioning” menjadi kata kunci pokok untuk menjelaskan perilaku manusia. Skinner percaya akan perlunya pengembangan teknologi perilaku (tecnology of behevior, atau behavior engineering, behavior modivication) (Darmanto Jatman, 1997).

Ahli-ahli psiklogi perilaku tidak mempercayai introspeksi sebagai metode dalam pengumpulan data, kecuali sebagai kesimpulan dari suatu prilaku apabila hal ini dikerjakan oleh sipelaku sendiri. Persoalan klasik yang biasa dipergunkan untuk ilustrasi adalah apa yang dikemukakan oleh James: seseorang takut karena ia lari, bukan seseorang itu lari karena ia takut! Dalam hal ini ahli-ahli psikologi perilaku menjelaskan perilaku sebagai suatu hasil proses belajar dalam pola “stimulus respons” serta satu kata kunci lagi (reinforcement) yang menyebabkan satu bentuk perilaku menetap atau tidak, yang kemudian dalam persepsi orang lain disebut sebagai sikap, atau sifat atau bahkan kemudian kepribadian. Maka pribadi, juga ego adalah suatu konstruksi teoriti. Karenanya dalam tradisi behaviorisme tidak dikenal adanya trancendental self. Self control lebih relevan dari pada self examination apalagi self refleksion (Darmanto Jatman, 1997 : 44).

Apabial Dolard an Miller mengakui peran kemampuan mental tingkat tinggi dalam proses kreatif: tidak berarti bahwa kemampuan tingkat ini bersifat instinctoid atau katakanlah merupakan potensi jiwa manusia, tetapi lebih merupakan suatu hasil proses belajar. Lebih jelas lagi dalam konsep Bandura tentang perilaku berperantara dan perilaku tak berperantara (mediational dan non-mediational behavior seperti proes-proses kognitif dan behavioral). Dari dasar-dasar pemikiran inilah para ahli psikologi perilaku mengembangkan teknik-teknik psikoterapi mereka. Dan self control adalah bagian dari psikoterapi ini, sebagaimana nampak dalam definisi operasional : Self control can be viewd as adalah process through which an individual becomes the principal agent Indonesia guiding, directing, and regulating those fetures of hs own behavior that might eventually lead to dsie positive consequences.

Dengan demikian bisa dikatakan bahwa self control suatu ketrampilan yang diperoleh melalui latihan-latihan. Dalam mawas diri atau self examination juga dikenal latihan-latihan, tatapi “bawa raos salebetin raos” ini tidaklah dapat dikatakan sebagai keterampilanketerampilan sebagai keterampilan teknis metalistik. Skinner (1972) mencoba menjelaskan perbedaan self knowledge dengan self control dalam hal identitas seseoang demikian; Self-knowledge and self control imply two selves Indonesia this sense. The self knower Islam always adalah product of social contingencies, but the self that Islam known may come from other sources… the controlling self generally represents the interest of the others, the controlld self the interest of the individuals.

Skinner berpendapat bahwa munculnya gagasan tentang self ini disebabkan karena adanya repertoire yang mesti dilakukan, atau diperankan oleh orang. Dan itulah yang disebut self. Karena repertoire itu bisa banyak, maka tidaklah mengherankan kalau ada seseorang bilang “I’m out of my self”. Dari pembicaraan di atas dapt disimpulkan bahwa self atau ego tidaklah merupakan konsep yang sentral dalam behaviorisme (Darmanto Jatman, 1997 : 29).

Berkaitan dengan tingkah laku ini, filsafat Jawa mengutamakan adanya wulang wuruk yang menganjurkan agar manusia tetap memberi perhatian pada sopan santun, unggah-ungguh dan tata krama.

E. Teori Kebenaran

1. Teori Kebenaran Korespondensi

Teori ini menyatakan bahwa suatu pengetahuan mempunyai nilai benar apabila pengetahuan itu mempunyai saling kesesuaian dengan kenyataan yang diketahuinya (Abbas Hamami, 1997 : 14-16). Dalam kitab Paramayoga karya R.Ng. Ranggawarsita, seorang pujangga istana Kraton Surakarta Hadiningrat, disebutkan konsep serta atribut yang melekat pada diri raja. Dijelaskan bahwa raja adalah narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati, ambeg adil paramarta, mamayu hayuning bawana. Artinya, raja besar laksana dewata dari kahyangan yang memegang hukum dan pemerintahan, senantiasa bersikap adil serta kasih sayang, dan membuat aman tenteram dunia.

Pernyataan di atas sesungguhnya mengandung keseimbangan dalam tata kehidupan masyarakat. Memang raja dalam melaksanakan tugas diberi kekuasaan penuh, yaitu narendra gung binathara, mbahu dhendha nyakrawati. Begitu besar kekuasaannya seolaholah dia mempunyai wewenang seperti dewa. Kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif semua berada dalam genggaman tunggal yang tidak terbagi. Kalau dipikir sampai di sini saja, maka akan ada tafsiran bahwa kekuasaan raja tampak otoriter, absolut dan cenderung bisa menyalahgunakan wewenang. Akan tetapi, hak raja itu juga diimbangi dengan kewajiban yang tidak ringan agar terwujud sebuah tertib sosial.

Raja mesti mempunyai sifat ambeg adil paramarta, yaitu menegakkan keadilan tanpa pandang bulu, dengan pertimbangan akal sehat, belas kasih serta ketulusan hati. Kepastian hukum dalam bernegara akan mendorong tiap-tiap individu untuk bertindak tertib sesuai dengan norma dan kaidah yang telah disepakati bersama. Dalam pepatah Melayu populer dengan ungkapan raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah. Dalam menegakkan keadilan itu pula raja wajib menggunakan hati nurani dan nilai kemanusiaan. Demi kebenaran dan keadilan ini, Sunan Paku Buwana IV memberi ajaran kepemimpinan melalui serat Wulangreh. Narendra pan tan darbe garwa miwah sunu, bahwasanya raja secara hakiki tidak memiliki istri dan anak. Secara eksplisit Sunan Paku Buwana IV membedakan antara raja sebagai institusi dan raja sebagai pribadi. Narendra sanyata kagungane wong sanagara, maksudnya raja itu sepenuhnya dimiliki oleh semua warga negara. Oleh karena itu anak istri para bangsawan harus diperlakukan sama dengan warga lainnya, sebagai manifestasi dari prinsip egalitarianisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s