Filsafat Jawa dan Kearifan Lokal [3]


by Dr. Purwadi, M.Hum

2. Aliran Eudamonisme

Eudamonisme berasal dari bahasa Yunani Eudamonia, artinya kebahagiaan. Eudamonisme merupakan teori etika yang menjelaskan bahwa tujuan manusia adalah kebahagiaan (Ali Mudhofir, 1988 : 26). Tokoh yang menganut paham Eudamonisme diantaranya Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas. Bagi Plato yang baik adalah yang mendatangkan kebahagiaan. Philabus Plato memperlihatkan adanya jalan tengah antara dua ekstrim yang berlawanan yaitu keutamaan yang merupakan keseimbangan antara yang kurang dan terlalu banyak (Bertens, 1997 : 244). Hidup yang baik menurut Plato adalah keseimbangan ukuran yang diterapkan dalam pilihan-pilihan.

Berbeda dengan Plato, menurut Aristoteles hanya ada satu kebaikan akhir (ultimate good) yang tak lain sang kebaikan sendiri (the good). Karena manusia adalah makhlus sosial, maka menurut Aristoteles, kebaikan sosial lebih penting dan mulia daripada kebaikan individual. Kebaikan ini bersifat tetap dan merupakan tujuan hidup (Sudiarjo, 1995 :30 -31).

Menurut Aristoteles, manusia adalah baik dalam arti moral, jika selalu mengadakan pilihanpilihan rasional yang terdapat dalam perbuatan-perbuatan moralnya dan mencapai keunggulan dalam persoalan intelektual.

Tokoh lain yang berpaham Eudamolisme adalah Thomas Aquinas. Menurut Aquinas,         manusia terarah untuk mengerti tujuan akhir, yang membahagiakan secara penuh dan sempurna. Kebahagiaan bagi Aquinas dapat dicapai di dunia dan akhirat lewat perjumpaan dengan tuhan (Sudiarja, 1995 : 41). Konsepsi Aquinas ini memungkinkan manusia mencapai kebahagiaan sepenuhnya. Manusia betul-betul bahagia jika dapat memandang Tuhan.

3. Aliran Utilitarisme

Utilitarisme berasal dari kata utilis artinya berguna, yang dianggap sebagai dasar kebaikan tertinggi adalah bermanfaatnya perbuatan yang baik adalah yang memberikan kegunaan. Menurut utilitarisme, manusia harus bertindak sedemikian rupa, sehingga menghasilkan akibat baik yang sebanyak mungkin dan sedapat-dapatnya mengelakkan akibat-akibat buruk. Tindakan-tindakan tersebut harus selalu memperhatikan akibat-akibatnya bagi semua orang (Magnis Suseno, 1987 : 123).

Tokoh aliran ini adalah Jeremi Bentham dan John Stuart Mill. Menurut Bentham kehidupan manusia ditentukan oleh dua ketentuan besar : nikmat dan perasaan sakit sehingga tujuan moral tindakan manusia adalah memaksimalkan perasaan nikmat dan meminimalkan perasaan sakit (Magnis Suseno, 1997 : 180). Gagasan yang demikian bertolak dari paham hedonisme. Bentham merumuskan prinsip utilitarisme sebagai the greatest happiness for the greatest number (kebahagiaan yang sebesar mungkin bagi jumlah yang sebesar mungkin). Prinsip ini harus mendasari kehidupan politik dan perundangan. Berbeda dengan Bentham, John Stuart Mill mencoba mengajukan gagasan bahwa kesenangan rohani pada umumnya dimenangkan terhadap kesenangan jasmani karena menyangkut kelestarian dan keselamatan. Kenyataan ini menunjukkan bahwa kebahagiaan itu tidak dinilai dari kualitas yang hanya bisa diukur dari luarnya (Sudiarja, 1995 : 93).

Etika utilitarianisme dalam pewayangan dapat dilihat dalam lakon Begawan Ciptoning. Di sana Arjuna yang salin rupa menjadi Begawan Ciptoning itu senantiasa minta kepada dewata agung agar para pendawa dapat unggul dalam perang Baratayuda. Aliran teologi Jawa tercermin juga dalam ungkapan manunggaling kawula Gusti. Ungkapan-ungkapan mistik itu pada intinya mengandung ajaran agar manusia selalu mendekatkan diri kepada Tuhan. Penganut monisme religius mengemukakan gagasan tentang Tuhan bahwa dunia dan jiwa-jiwa sebagai suatu kenyataan. Pandangan tersebut meyakini kenyataan yang sungguh-sungguh dan niscaya/sat atau yang benar-benar berada adalah keberadaan yang kekal.

4. Aliran Deontologi

Deontologi berasal dari bahasa Yunani Deon, yang berarti apa yang harus dilakukan, kewajiban teori deontologi menganggap suatu tindakan dapat dibenarkan dengan menunjukkan bahwa suatu tindakan itu benar, bukan dengan menunjukkan bahwa tindakan tersebut mempunyai akibat-akibat baik. Menurut Immanuel Kant, yang bisa disebut baik hanyalah kehendak yang baik. Kehendak itu menjadi baik jika manusia bertindak karena kewajiban. Suatu perbuatan bersifat moral jika dilakukan semata-mata karena hormat pada hukum moral (Bertens, 1997 : 255 -256).

Ciri khusus moralitas sebagai sistem imperatif kategoris, yaitu perintah tanpa syarat. Imperatif katagoris ini menjiwai semua peraturan etis. Perintah tanpa syarat itu bukan hanya berati bahwa perintah-perintah tersebut berlaku bagi setiap orang tanpa mempertimbangkan kepentingan pribadi tetapi juga berlaku tanpa memperhitungkan konsekuensi atau akibat apapun (Bertens, 1997 : 149). Hukum moral apabila harus dipahami sebagai imperatif katagoris, maka dalam bertindak secara moral kehendak harus otonom. Menurut Kant, kehendak itu otonom dengan memberikan hukum moral kepada dirinya sendiri. Dengan adanya keotonomian kehendak itu ditemukanlah kebebasan manusia. Kebebasan ini tidak berarti bebas dari segala ikatan. Manusia itu bebas dengan mentaati hukum moral. Ajaran yang penuh dengan landasan moral itu mengingatkan pada epitaph di makam Imannuel Kant: Cellum stellatum supra me, lex moralis intra me begitu cemerlangnya bintang-bintang di angkasa raya, demikian pula norma susila di dada manusia.

Pertunjukan wayang banyak mengandung unsur moral yang berguna bagi kehidupan masyarakat. Wayang dipandang sebagai suatu kesenian tradisional dengan multi fungsi dan dimensi, yang merupakan sebuah ensiklopedia hidup, tentang perilaku kehidupan manusia yang banyak mengandung falsafah dan ajaran kerohanian. Dalam hal ini wayang sangat cocok untuk menyampaikan pendidikan humaniora.

5. Aliran Theologisme

Aliran theologi ini menyatakan bahwa suatu tindakan disebut bermoral jika tindakan itu sesuai dengan perintah Tuhan. Sedang tindakan buruk yaitu yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Tuntutan moral yang baik dalam hal ini telah digariskan oleh agama dan tertulis dalam kitab suci dari masing-masing agama. Perkataan theologi saja tampaknya masih samar, karena di dunia ini terdapat bermacam-macam agama yang berbeda antara satu dengan lainnya. Di samping itu, masing-masing penganut agama menyakini dirinya bersandarkan ajaran Tuhan. Sebagai jalan keluar dari kesamaran itu ialah dengan jalan mengkaitkan etika theologi ini dengan jelas kepada suatu agama. Misalnya etika theologi Kristen, etika theologi Yahudi dan etika Theologi Islam. Hal ini mengingat perkataan theologi masih bersifat umum sehingga perlu ada kejelasan aliran theologi mana yang yang dimaksudkan.

Menurut Magnis Suseno etika memang tidak dapat menggantikan agama, tetapi di lain pihak etika juga tidak bertentangan dengan agama, bahkan diperlukan oleh agama (Magnis Suseno, 1989:16). Alasan adalah orang beragama pun mengharapkan agar ajaran agamanya rasional. Ia tidak puas mendengar bahwa Tuhan memerintahkan sesuatu, ia juga ingin mengerti mengapa Tuhan memerintahnya. Etika dapat membantu dalam menggali rasionalisme moralitas agama. Sering kali ajaran moral yang termuat dalam wahyu mengijinkan interpretasiinterpretasi yang saling berbeda dan bahkan bertentangan (Sunoto, 1982: 72).

Bagaimana agama-agama harus bersikap terhadap masalah-masalah moral yang secara langsung sama sekali tidak disinggung dalam wahyu. Misalnya masalah bayi tabung. Etika mendasarkan diri pada argumentasi rasional semata. Sedang agama mendasarkan diri pada wahyu. Oleh karena itu ajaran moral agama hanya terbuka bagi mereka yang menyakini wahyunya sendiri. Di sinilah pentingnya dialog moral antar agama. Karena etika tidak berdasarkan wahyu, melainkan semata-mata berdasarkan pertimbangan nalar yang terbuka bagi setiap orang dari semua agama dan dunia, maka dialog itu sangat mungkin dilakukan. Dengan demikian etika dapat merintis kerja sama antar mereka dalam usaha pembangunan masyarakat (Magnis Suseno, 1989:27).

Pangkur

Mingkar mingkuring angkara,

Akarana karenan Mardi siwi,

Sinawung resmining kidung.

Sinuba sinukarta,

Mrih ketarta pakartining ngelmu luhung

Kang tumrap ing tanah Jawa,

Agama ageming aji.

Agama berasal dari kata a yang artinya tidak, dan gama yang artinya rusak. Suatu keyakinan bila dipatuhi ajarannya tidak akan membuat pribadi dan masyarakat rusak. Agama dalam pandangan orang Jawa sama dengan busana, atau ageman yang berarti pakaian. Aji artinya raja atau mulia. Warga negara yang mulia tentu akan memperhatikan ajaran agama, ajaran leluhur sebagai yang tertera dalam Kitab Suci. Kewibawaan seorang pemimpin yang dituntun oleh ajaran agama akan terbebas dari perbuatan aniaya, nista dan hina yang dapat meruntuhkan derajat dan martabatnya.

Prinsip kepemimpinan terhadap orang Jawa menuntut agar pemimpin selain memimpin secara formal juga pemimpin agama agar berkah dan adiluhung di depan pengikutnya. Kepemimpinan yang agamis selalu mementingkan kepentingan orang banyak dan menyantuni orang lemah. Mereka inilah ynag membuat pemimpin menjadi aji ‘berharga’. Pada hakekatnya, orang Jawa lampau tidak membedakan antara sikap-sikap religius dan buan religius. Bahkan interaksi-interaksi sosial sekaligus merupakan sikap terhadap alam. Sebaliknya sikap terhadap alam sekaligus mempunyai relevan sosial. Antara pekerja, interaksi dan doa tidak ada perbedaan prinsip hakiki (Fachry Ali, 1986). Dengan demikian, lingkungan dalam pandangan Jawa masa lampau menjadi sesuatu yang amat penting. Dia merupakan basis kehidupan yang meliputi individu, masyarakat dan alam sekitarnya. Kesemua unsur lingkungan itu menyatu dalam alam adi kodrati (supernatural).

Pentingnya lingkungan ini adalah sebab, kelanjutan dan konttiunitas kehidupan sepenuhnya terletak atau berada dalam lingkungan. Keteraturan ini sendiri merupakan refleksi dari konsep sistem kepercayaan Jawa, yang mengemukakan bahwa kehidupan yang terkoordinasi antara manusia danalam sekitarnya merupakan sistem kehidupan yang didambakan. Pamoring kawula Gusti merupakan konsep kejawen yang amat terkenal di kalangan masyarakat Jawa. Kata pamor terbentuk dari kata amor yang berarti berkumpul, bersatu, manunggal. Kawula berarti rakyat, tenaga pelaksana. Dalam konteks ini berarti badan wadag, jasmani. Gusti artinya raja, pemberi perintah, boss, pemimpin yang dalam konteks ini berarti rohani atau batin. Idiom tersebut berarti bersatunya jasmani dan rohani. Pada tembang Wulangreh juga tertulis pamore gusti kawula.

Kasunyatan adalah realitas sehati, jelas dan self evident, menjadi sebab akibatnya sendiri. Dalam konteks pemahaman dan pandangan semacam inilah posisi narendra dan kraton menjadi sangat penting. Seperti telah dikemukakan di atas, narendra merupakan pusat mikrokosmos kerajaan dan duduk di puncak hikaris status. Dengan demikian, narendra merupakan pusat perhimpunan kekuasaan. narendra dalam hal ini dibayangkan sebagai “pintu air yang menampung seluruh air sungai”. Dan bagi tanah yang lebih rendah, merupakan satu-satunya sumber air dan kesuburan”. Sementara kraton merupakan institusi pendamping dalam proses pemusatan itu. Sebab bagi kraton merupakan institusi pendamping dalam proses pemusatan itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s