Filsafat Jawa dan Kearifan Lokal [2]


by Dr. Purwadi, M.Hum

C. Cabang-Cabang Filsafat

Berdasarkan sejarah kelahirannya, filsafat mula-mula berfungsi sebagai induk atau ibu ilmu pengetahuan. Pada waktu itu belum ada ilmu pengetahuan lain, sehingga filsafat harus menjawab segala macam hal. Persoalan tentang manusia, ilmu filsafat juga harus membicarakannya. Demikian pula soal masyarakat, ekonomi, negara, kesehatan dan sebagainya. Karena perkembangan masyarakat semakin kompleks, maka banyak problem yang tidak dapat dijawab lagi oleh ilmu filsafat. Kemudian lahirlah ilmu pengetahuan yang sanggup memberi jawaban terhadap problem-problem tersebut. Misalnya ilmu pengetahuan alam, ilmu pengetahuan kedokteran, ilmu pengetahuan kemasyarakatan, ilmu pengetahuan manusia, ilmu pengetahuan ekonomi dan lain-lain. Ilmu pengetahuan tersebut lalu terpecah-pecah lagi menjadi lebih khusus. Demikianlah lahir berbagai disiplin ilmu yang sangat banyak dengan spesialisasinya masing-masing.

Spesialisasi terjadi sedemikian rupa sehingga hubungan antara cabang dan ranting ilmu pengetahuan sangat kompleks. Hubungan-hubungan tersebut ada yang masih dekat, tapi ada pula yang tampak sangat jauh. Bahkan ada yang seolah-olah tidak mempunyai hubungan sama sekali. Jika ilmu-ilmu pengetahuan tersebut terus berusaha memperdalam dirinya, kemudian kembali juga pada ilmu filsafat. Sehubungan dengan keadaan tersebut, maka filsafat dapat berfungsi sebagai sistem interdisipliner. Filsafat dapat berfungsi menghubungkan ilmu-ilmu pengetahuan yang telah kompleks tersebut. Cara ini dapat pula digunakan untuk menyelesaikan masalah yang ada. Cara ini dapat digambarkan seperti orang sedang meneliti sebuah pohon, wajib meneliti keseluruhan pohon tersebut. Peneliti tidak hanya memperhatikan daunnya, pohonnya, akarnya, bunganya, buahnya, tetapi keseluruhan pohon itu. Dalam menghadapi suatu masalah diharapkan seseorang menggunakan berbagai disiplin ilmu untuk memecahkannya.

1. Ontologi

Ontologi ilmu meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran, dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafati tentang apa dan bagaimana (yang) Ada itu (being, Sein, het zijn). Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, paham dualisme, dan pluralisme dengan berbagai nuansanya merupakan paham ontologik yang pada akhirnya akan menentukan pendapat bahkan keyakinan kita masing-masing mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari (Koento Wibisono, 1997 : 6). Ontologi adalah cabang filsafat yang mempersoalkan masalah ada, dan meliputi persoalan seperti apakah artinya ada, apakah golongan-golongan dari yang ada?, apakah sifat dasar kenyataan, dan hal ada yang terakhir? Apakah cara-cara yang berbeda dalam mana entitas dari kategori logis dapat dikatakan ada?

Secara ontologis ilmu membahas lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Obyek penelaahan yang berada dalam batas prapengalaman dan pascapengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas-batas ontologi tertentu.

Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuan yang bersifat empiris ini adalah konsisten dengan asas epistemologi keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris dalam proses penemuan/penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah (Suriasumantri, 1986 : 15). Penafsiran metafisik keilmuan harus didasarkan kepada karakteristik obyek ontologis sebagaimana adanya (das Sein) dengan deduksi-deduksi yang dapat diverifikasikan secara fisik.

Lebih lanjut Jujun mengemukakan bahwa secara metafisik ilmu terlepas dari nilai-nilai yang bersifat dogmatik. Galileo (1564-1642) menolak dogma agama bahwa matahari berputar mengelilingi bumi sebab pernyataan tersebut tidak sesuai dengan kenyataan faktual sebagaimana ditemukan oleh Copernicus (1473-1543). Begitu juga menurut Bacon, filsafat harus dipisahkan dari teologi. Pandangan inilah sebagai salah satu faktor munculnya faham sekularisme di Barat. Hal ini dapat dimaklumi bahwa dogma tidak rasional, melainkan bertentangan dengan penemuan ilmiah (Imam Syafi’ie, 2000 : 55). Untuk membebaskan ilmu dari nilai-nilai yang bersifat dogmatis yang datang dari manapun juga asalnya, bukan berarti ilmu harus menolak nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat, namun sifat dogmatis itulah yang secara prinsip ditentang.

Menurut sejumlah kaum obyektivisme atau positivisme, seorang sejarawan misalnya, hendaknya menghindari setiap pertimbangan nilai sendiri yang manapun terhadap gejala-gejala yang termasuk dalam lapangan penyelidikannya. Kiranya sukar untuk menentukan secara tepat sejauhmana ia boleh bertindak, dan dimanakah secara tepat batas yang tidak boleh dilampauinya, agar ia tidak dikatakan melampaui wewenangnya. Sebetulnya hal semacam ini tidak perlu dipertentangkan, sebab kecenderungan untuk memaksakan nilai-nilai moral secara dogmatik ke dalam argumentasi ilmiah akan mendorong ilmu surut ke belakang ke jaman pra- Copernicus dan mengundang kemungkinan berlangsungnya inquisisi ala Galileo pada jaman modern, namun hal ini jangan ditafsirkan bahwa dalam menelaah das sein ilmu terlepas sama sekali dari das sollen.

2. Epistemologi

Epistemologi juga disebut teori pengetahuan (theory of knowledge). Secara etimologi, istilah epistemologi berasal dari kata Yunani episteme yang artinya pengetahuan dan logos yang artinya teori. Epistemologi dapat didefinisikan sebagai cabang filsafat yang mempelajari asal mula atau sumber, struktur, metode, dan sahnya (validitas) pengetahuan (Ali Mudhofir, 1997 : 66).

Epistemologi ilmu meliputi sumber, sarana, dan tata cara menggunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah). Perbedaan mengenai pilihan landasan ontologik akan dengan sendirinya mengakibatkan perbedaan dalam menentukan sarana yang akan kita pilih. Akal (Verstand), akal budi (Vernunft), pengalaman, atau kombinasi antara akal dan pengalaman, intuisi merupakan sarana yang dimaksud dalam epistemologi sehingga dikenal adanya model-model epistemologi, seperti rasionalisme, empirisme, kritisisme atau rasionalisme kritis, positivisme, dan fenomenologi dengan berbagai tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah) itu, seperti teori koherensi, korespondensi, pragmatis, dan teori intersubjektif.

Epistemologi adalah teori tentang pengetahuan. Dalam epistemologi yang dibahas adalah objek pengetahuan, sumber, dan alat untuk memperoleh pengetahuan, kesadaran dan metode, validitas pengetahuan, dan kebenaran pengetahuan. Epistemologi berkaitan dengan pemilihan dan kesesuaian antara realisme tentang objek secara terpilah dalam term objek real, fenomena, pengalaman, dan indra dan lainnya. Semua aliran epistemologi meletakkan beberapa oposisi sebagai penyusun teori pengetahuan. Adapun tujuannya adalah meletakkan hal yang memungkinkan bagi suatu pengetahuan. Landasan epistemologi ilmu yang tercermin secara operasional dalam metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuannya berdasarkan : (1) kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun; (2) menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut dan (3) melakukan verifikasi terhadap hipotesis termasuk untuk menguji kebenaran pernyataan secara faktual.

Metodologi dalam penelitian ilmiah memegang peranan penting, sebab metode yang dipergunakan dalam suatu penelitian dapat digunakan untuk mengukur seberapa jauh kadar kebenaran hasil penemuan. Di Barat, metodologi bagi para ilmuwan tidak banyak kesulitan, tetapi bagi orang Timur khususnya di Indonesia penerapan metode penelitian masih perlu dipertanyakan. Padahal setiap kegiatan ilmiah harus ditujukan untuk menemukan kebenaran, yang dilakukan dengan penuh kejujuran, tanpa mempunyai kepentingan langsung tertentu dan hak hidup yang berdasarkan kekuatan argumentasi secara individual (Sunoto, 1982: 66). Sehingga ilmu pengetahuan dalam arti sepenuhnya sulit berkembang di Indonesia selama kejujuran diabaikan, budaya nyontek masih tetap berjalan, manipulasi data untuk membenarkan hipotesisnya masih diupayakan.

Di samping itu masih timbul persoalan yang berkaitan dengan metode ini, terutama dengan adanya pembagian ilmu pengetahuan menjadi ilmu yang bersifat eksak dan bersifat sosial. Ilmu sosial jauh tertinggal, sebab unsur subyektivitasnya lebih menonjol, sehingga sering muncul ungkapan bahwa bukan komputer itu canggih, melainkan yang canggih itu komputer.

Epistemologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membahas teori ilmu pengetahuan. Epistemologi berasal dari bahasa Yunani: episteme, yang berarti pengetahuan. Terdapat tiga persoalan pokok dalam bidang ini: (1) apakah sumber-sumber pengetahuan itu? Dari manakah pengetahuan yang benar itu datang dan bagaimana kita mengetahui ? Ini adalah persoalan tentang : apa yang kelihatan versus hakikatnya (reality). (3) Apakah pengetahuan kita itu benar (valid)? Bagaimana kita dapat membedakan yang benar dari yang salah? Ini adalah tentang mengkaji kebenaran atau verifikasi.

Secara garis besar, ada dua aliran pokok dalam epistemologi. Pertama adalah idealisme atau lebih populer dengan sebutan rasionalisme, yaitu suatu aliran pemikiran yang menekankan pentingnya peran akal, idea, category, form, sebagai sumber ilmu pengetahuan. Di sini peran pancaindera dinomorduakan. Sedangkan aliran yang kedua adalah realisme atau empirisme yang lebih menekankan peran ilmu pengetahuan. Di sini peran akal dinomorduakan.

3. Aksiologi

Aksiologi meliputi nilai-nilai (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau kenyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik, ataupun fisik material. Lebih dari itu nilai-nilai juga ditunjukkan oleh aksiologi ini sebagai suatu conditio sine quanon yang wajib dipatuhi dalam kegiatan kita, baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu. Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kepentingan dan kemaslahatan manusia. Dalam hal ini ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, dan kelestarian/keseimbangan alam. Salah satu alasan untuk tidak mencampuri masalah kehidupan secara ontologis adalah kekhawatiran bahwa hal ini akan mengganggu keseimbangan kehidupan (Suriasumantri, 1986 : 99).

Demi kepentingan manusia tersebut maka pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komunal dan universal. Komunal berarti bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, setiap orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti bahwa ilmu tidak mempunyai parokial seperti ras, ideologi atau agama. Jika manusia menyadari sepenuhnya bahwa keberadaan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan manusia, maka tidak akan pernah terjadi peperangan di muka bumi ini. Namun apa yang terjadi? Peperangan, pembantaian yang menimbulkan korban yang tidak sedikit jumlahnya tidak dapat dihindarkan; hal ini menunjukkan bahwa persepsi dan pandangan terhadap kemaslahatan pun tidak ada kesamaan, sehingga maslahat bagi satu pihak mudarat bagi pihak lain.

Bagaimanapun juga penulis cenderung sependapat bahwa ilmu tidak dapat lepas sama sekali dari nilai, terutama nilai moral. Lebih-lebih jika dikaitkan dengan kondisi di Indonesia, yang menganut secara kuat sistem nilai (kebudayaan) warisan nenek moyang kita. Aksiologi ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki hakekat nilai pada umumnya, ditinjau dari sudut pandang kefilsafatan (Supadjar, 1992 : 108). Dari pengertian tersebut, muncul pertanyaan apakah hakekat nilai? Menurut Kattsoff sebagaimana dikemukakan oleh Damardjati, ada beberapa kemungkinan jawaban, yaitu : (1) nilai sebagai kualitas dan tidak dapat didefinisikan; (2) nilai sebagai obyek suatu kepentingan; (3) nilai sebagai hasil pemberian nilai; dan (4) nilai sebagai esensi. Lebih lanjut dikatakan bahwa dari telaah kefilsafatan tersebut diperoleh nilai khusus : keindahan (estetika), kebaikan (etika), kebenaran (logika), dan kekudusan (agama).

D. Aliran-aliran Filsafat

1. Aliran Hedonisme

Dalam filsafat Yunani Hedonisme sudah ditemukan oleh Aristoppos dari Kyrene (433 – 355 SM). Kata Hedonisme berasal dari bahasa Yunani (hedone = nikmat, kesenangan). Hedonisme bertolak dari anggapan bahwa manusia akan menjadi bahagia dengan menghindari perasaan-perasaan yang tidak enak (Magnis Suseno, 1997 : 114). Hal ini terbukti karena semenjak kecil manusia tertarik akan kesenangan dan bila tercapai manusia tidak mencari sesuatu yang lain lagi dan manusia selalu menjauhkan diri dari ketidaksenangan. Kesenangan ini bagi Aristoppos harus dimengerti sebagai kesenangan aktual, bukan kesenangan dari masa lampau dan kesenangan masa mendatang.

Bagi Aristoppos kesenangan itu dipandangnya sebagai kesenangan badani, aktual dan individual. Dia juga mengakui perlunya pengendalian diri, bahwa yang penting mempergunakan kesenangan dengan baik (Bertens, 1997 : 236). Pengikut hedonisme lainnnya adalah Epikuros. Berbeda dengan Aristoppos, Epikuros memahami kesenangan dengan pandangan yang lebih luas yakni menyangkut pula kesenangan rohani. Epikuros nengatakan bahwa sebaik-baik kesenangan ialah kesenangan jiwa dan ketenteraman akal. Paham hedonisme mengandung kebenaran bahwa manusia menurut kodratnya mencari kesenangan dan berupaya menghindari ketidaksenangan sebagai kritik terhadap hedonisme bahwa kesenangan saja tidaklah cukup untuk menjamin sifat etis suatu perbuatan karena sesuatu yang baik karena disenangi. Bila dipikirkan secara konsekuen edonisme mengandung suatu egoisme etis (Bertens, 1997 : 238 – 240). Kelemahan lain para pengikut hedonisme menjadi orang yang bersifat angkuh. Tidak melihat dari segala perbuatan-perbuatannya kecuali dirinya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s