Durgandini (2)


Durgandini (2)
Dewi Durgandini dalam bentuk wayang kulit buatan Kaligesing Purworejo, koleksi museum Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)

Dasabala si tukang perahu itu mengasuh anak kembar dampit (laki-laki dan perempuan) yang dilahirkan oleh Bidadari Adrika dengan penuh kasih sayang. Kedua anak tersebut tumbuh menjadi remaja yang tampan, cantik serta cerdas. Namun ada satu hal yang memprihatinkan, yaitu keadaan Durgandini. kulitnya ‘mbekisik’ dan menebarkan bau amis yang menyengat. Oleh karenanya Durgandini juga disebut Laraamis. Hal tersebut berkaitan erat dengan Bidadari Adrika yang melahirkannya ketika sedang menjalani kutukan menjadi seekor ikan.

Seperti yang dipesankan bidari Adrika sebelum kembali ke kahyangan, bahwa kelak jika si kembar dampit yaitu Durgandana dan Durgandini sudah dewasa, hendaknya Dasabala menyerahkan kepada raja Wirata.

Dasabala tidak tahu, mengapa Durgandana dan Durgandini harus diserahkan kepada raja Wirata yang bertahta? Namun ketidaktahuannya tidak menjadikan Dasabala enggan ketika tiba saatnya, si kembar yang diasuhnya selama belasan tahun harus diserahkan kepada sang raja.

Seperti yang diduga dan diragukan sebelumnya, bahwasannya yang diterima oleh raja Wirata hanyalah Durgandana. Sedangkan Durgandini dikembalikan kepada Dasabala, agar dicarikan tabib untuk menyembuhkan penyakitnya. Jika nanti sudah sembuh, bawalah kembali ke istana

Selain perasaan iba karena derita Durgandini, Dasabala bahagia, karena masih diberi waktu untuk mendampingi Dewi Durgandini. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan. Dengan kasih sayang yang tak pernah pudar, Dasabala mengajari apa yang menjadi keahlihannya kepada Dewi Durgandini, yaitu mencari ikan dan menjalankan perahu.

Dengan ketrampilan menjalankan perahu, Durgandini dapat membantu setiap orang yang kesulitan untuk menyeberang sungai Yamuna. Rupanya profesi sebagai ‘tukang santang’ oleh Durgandini dijalaninya dengan tulus dan dijadikannya sebagai laku dan permohonan agar dirinya dibebaskan dari penyakit yang mengganggu dan memalukan.

Seperti hari-hari biasanya, pagi-pagi benar, Dewi Laraamis telah menyiapkan perahunya. Dari kejauhan nampaklah seorang petapa muda yang berdiri di tepi sungai Yamuna. Dihampirinya petapa itu dengan perahunya. Sesampainya di depan Petapa muda itu, Dewi Durgandini menawarkan jasanya dan mempersilakan petapa muda itu naik di perahunya. Beberapa saat setelah petapa muda itu naik di perahu, mereka berdua saling berkenalan.

“Aku bernama Durgandini, tetapi banyak orang memanggilku Raraamis. dikarenakan sekujur tubuhku menebarkan bau amis yang menyengat.” ucap Durgandini, sesaat setelah orang yang diseberangkan itu memperkenalkan diri bernama Palasara, seorang petapa dari Saptarga di puncak Ngukiretawu.

Melihat penderitaan Durgandini, Palasara merasa iba. sebagai petapa muda yang ‘waskita’ Ia dapat membaca bahwa penuturan Durgandini tersebut merupakan sebuah litani permohonan agar dirinya dilepaskan dari penyakit yang sudah belasan tahun mencengkeram hidupnya. Dengan kesaktiannya, Palasara berhasil menyembuhkan Durgandini.

Dasabala bersukacita melihat bahwa putrinya telah terbebas dari ‘mala trimala,’ sakit-penyakit yang menyiksa tubuhnya. Kini keelokan dan kecantikan Dewi Durgandini nampak memancar dari wajah dan tubuhnya.

herjaka HS

Sumber : http://tembi.org/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s