Kidung Malam 87


Nilai yang ditinggalkan
Dengan hati berkeping Gandamana meninggalkan bumi Hastinapura

Nilai yang ditinggalkan

Dengan hati yang remuk berkeping Gandamana kembali ke negara aslanya yaitu Cempalaradya, ingin menumpahkan serpihan hatinya kepada sang kakak Prabu Durpada.

“Kakang Prabu aku pulang Kakang”

Prabu Durpada menyambut kepulangan Gandamana adiknya dengan penuh gembira. Adik yang mempunyai banyak pengalaman dan kesaktian itu kemudian diangkatnya menjadi orang kedua setelah raja, setingkat dengan jabatan Patih, dengan tugas pokok sebagai benteng pertahanan negara Cempalaradya.

Gandamana merasa senang dengan tugas yang diberikan kakaknya, namun hal itu bukan berarti bahwa ia dapat begitu saja melupakan masa lalunya. Masa lalu yang getir, ketika ia ditikam dari belakang oleh Trigantalpati, kawannya, sehingga ia tersingkir dari jabatan patih.

Memang Gandamana puas setelah menghajar Trigantalpati hingga menderita cacat seumur hidup, tetapi jika mengingat hal itu Gandamana menyesal amat dalam, mengapa ia tidak kuasa mengendalikan gejolak hatinya yang dibakar dendam terhadap Trigantalpati. Sehingga Gandamana mengabaikan subasita tata aturan di depan raja yang sedang bertahta. Akibatnya Gandamana tidak diperkenankan lagi menghadap raja Prabu Pandudewanata.

Hal itulah yang sungguh menyakitkan hati Gandamana. Bukan karena Ia telah kehilangan jabatan patih dan terusir dari bumi Hastinapura. Tetapi terlebih karena ia sudah tidak diperkenankan lagi menghadap Prabu Pandudewanata. Ia telah dipisahkan dengan Pandudewanata yang paling ia hormati dan sangat ia cintai.

Hari demi hari setelah ia tidak lagi mengabdi Prabu Pandudewanata di negara Hastinapura, kerinduannya akan sosok Pandu tak pernah hilang dari budi dan angannya. Ibarat seekor rusa yang mendamba air di padang tandus kerinduan Gandamana tak pernah terpuaskan. Bahkan hingga Pandu dewatanata wafat kerinduan Gandamana yang semakin bertumpuk tersebut belum pernah terpenuhi.

Selanjutnya kerinduan yang masih diangan Gandamana tersebut kerap datang dalam wujud mimpi. Mimpi bertemu denga pandu yang mendahuluinya di alam keabadian.

Puluhan tahun berlalu, Gandamana tidak pernah membayangkan bahwa pada suatu waktu di Cempalaradya akan kedatangan ke lima anak-anak Pandudewata yaitu Puntadewa, Bimasena, Arjuna dan si kembar Nakula dan Sadewa, yang mengemban tugas dari pandita Durna, untuk mendundukan Gandamana dan Prabu Durpada. Gandamana tidak sampai hati melawannya. Ada tatapan Pandu dibalik mata Puntadewa dan keempat adiknya. Bahkah saat bertemu dengan anak-anak Pandu kerinduan Gandamana terobati sudah.

Tidak hanya Gandamana, Prabu Durpada pun berhutang budi kepada Prabu Pandudewanata. Keberhasilan memenangkan sayembara dan mempersunting Dewi Gandawati dan mewarisi tahta Pancalaradya karena jasa Prabu Pandu semata. Sehingga seperti Gandamana, Prabu Durpada tidak sampai hati mengadakan perlawanan kepada anak-anak Prabu Pandudewanata.

Oleh karenanya diantara Gandamana dan Prabu Durpada sepakat untuk tidak mengadakan perlawanan kepada anak-anak Pandu. Mereka berdua menyerahkan diri tanpa syarat kepada Bimasena sebagai tawanan untuk dibawa menghadap pandita Durna di Sokalima. Sebuah pertaruhan yang memerlukan pengorbanan besar demi rasa hormat dan cintanya kepada Prabu Pandu, lewat anak-anaknya.

Kejadian selanjutnya tidak pernah diduga sebelumnya, bahwa kerelaan untuk berkorban menjadi tawanan yang diberikan Prabu Durpada dan Gandamana kepada Bima demi nama besar Prabu Pandu telah dimanfaatkan dengan baik oleh Pandita Durna yang sengaja melampiaskan dendamnya. Prabu Durpada dan Gandamana telah dinistakan dan ditelanjangi harga dirinya di padepokan Sokalima di hadapan banyak orang. Sungguh sebagai seorang ksatria dan raja Gandamana dan Prabu Durpada merasa hidupnya tidak berharga tanpa hargadiri. Sepulangnya dari Sokalima hari-hari dilaluinya dalam kesedihan dan sakit hati.

Gandamana menjadi serba salah. Maksud hati untuk berkorban demi Prabu Pandu dan sekaligus tanda sesal atas kesalahan yang telah dibuatnya terhadap Prabu Pandu, tetapi akibatnya Prabu Durpada kakaknya ikut menderita karenanya.

Selama hidupnya memang Gandamana banyak mengalami kegetiran. Bahkan hingga akhir hidupnya kegetiran itu tidak lepas dari dirinya. Namun untunglah Bimasena anak Pandudewanata menyediakan diri untuk menampung kegetiran-kegetiran hidup Gandamana beserta dengan dua aji saktinya yaitu Wungkal Bener dan Bandung Bandawasa.

Gandamana telah tiada dan bersama-kegetiran-kegetirannya. Namun semangat pengabdiannya masih menyala dalan dada Bimasena. Dan itulah satu-satunya nilai yang ditinggalkan Gandamana. Nilai pengabdian yang tulus bagi kehidupan

herjaka HS

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s