Ki Hadi Sugiran – Lakon Sembodro Larung live


Kembali Diunggah Audio MP3 Wayang kulit dengan lakon Sembodro larung yang tentu dibawakan oleh dalang asal Gunung Kidul Ki Hadi Sugiran

Ini juga salah satu dari sekian banyak koleksi dari Kharisma Sound System dan tentu didokumentasikan juga oleh bapak Sugiran Aulia dan talah selesai diunggah.

Dibawah ini linknya :

SEMBODRO LARUNG 01

SEMBODRO LARUNG 02

SEMBODRO LARUNG 03

SEMBODRO LARUNG 04

SEMBODRO LARUNG 05

SEMBODRO LARUNG 06

SEMBODRO LARUNG 07

SEMBODRO LARUNG 08

Ki Hadi Sugiran – Lakon Burisrowo Gandrung Sembodro larung (Audio)


Nah Yang ditunggu – tunggu Audio Mp3 Lakon Burirowo gandrung Sembodro Larung dengan dalang Ki Hadi Sugiran dari tlatah Gunung Kidul.

Disini Linkya :

Burisrowo Gandrung 01

Burisrowo Gandrung 02

Burisrowo Gandrung 03

Burisrowo Gandrung 04

Burisrowo Gandrung 05

Burisrowo Gandrung 06

Burisrowo Gandrung 07

Burisrowo Gandrung 08

 

Ki Edy Subagyo SE – Wahyu Eko Jati (Audio)


Kembali sudah selesai proses convert menjadi Audio Mp3 Wayang Kulit dengan lakon Wahyu Eko Jati yang kali ini dibawakan dalang Asal Gunung Kidul Juga Ki Edy Subagyo SE.

Untuk Link Download dibawah ini :

WAHYU EKO JATI 01

WAHYU EKO JATI 02

WAHYU EKO JATI 03

WAHYU EKO JATI 04

WAHYU EKO JATI 05

WAHYU EKO JATI 06

WAHYU EKO JATI 07

Kidung Malam 93


Energi Matahari
Basukarno, sesaat setelah diwisuda menjadi seorang Adipadi (lukisan: Herjaka HS)

Energi Matahari

Di siang hari yang terik, Adipati Karno berjalan menyusuri tepi Sungai Gangga. Air sungai yang mengalir tenang mampu menampakkan wajah matahari secara utuh. Adipati Karno memilih memandangi wajah matahari tidak secara langsung, melainkan melalui gambaran yang dipantulkan oleh air sungai Gangga. Entah mengapa hal itu selalu dilakukukan oleh Adipati Karno sejak kanak-kanak hingga sekarang, saat dirinya telah diwisuda menjadi Adipati, oleh Duryudana.

Jika ditanya mengapa hal itu dilakukan, Adipati Karno tidak tahu. Hanya saja saat Karno melakukan hal itu, ada getaran energi yang mengalir di dalam tubuh. Energi yang didapat dari pantulan matahari sangat membantu saat dirinya berada pada suasana yang sedang tidak menguntungkan.

Seperti misalnya ketika masih remaja. Karno diolok-olok oleh murid-murid Sokalima saat dirinya ingin ikut bergabung belajar ilmu kepada Pandita Durna. Para murid Sokalima yang terdiri dari Kurawa dan Pandawa mengusir Karno dengan kata-kata:

“Anak kusir diusir, anak ratu dijamu”

Karno tidak menanggapi olok-olokan tersebut, ia berlari meninggalkan halaman padepokan Sokalima, bukan karena takut, tetapi agar tidak menjadi bulan-bulanan oleh mereka. Jika hatinya sedang kacau seperti itu, ada magnet yang amat kuat agar Karno mengadu kepada matahari. Namun dikarenakan matanya tidak kuat menatap secara langsung, ia menatap matahari melalui pantulan yang ada di air. Ajaibnya, pada waktu Karno melakukan hal itu, kegundahan hatinya segera sirna. Ada energi baru yang memungkinkan Karno untuk menghadapi segala olok-olok dan cercaan hidup dengan dada yang tegap dan penuh percaya diri.

Beberapa saat setelah menatap pantulan matahari, Karno pun kembali pada niat semula, yaitu belajar ilmu-ilmu tingkat tinggi di Sokalima.

Entah apa yang terjadi kemudian, senyatanya Karno dapat dengan leluasa mengikuti pelajaran yang diberikan oleh Pandita Durna dari jarak jauh, tanpa diketahui oleh mereka dan tanpa olok-olok dari murid lain. Dengan penuh ketekunan, dalam beberapa waktu, Karno mengalami kemajuan yang pesat di dalam berolah senjata panah, tidak kalah jika dibandingkan dengan muri-murid Sokalima yang lain, bahkan murid-murid terbaik Sokalima, yaitu Ekalaya dan Arjuna

Adirata bapaknya dan Nyi Rada Ibunya, tidak tahu apa yang dilakukan Karno anaknya, namun kedua orang tua tersebut melihat bahwa anaknya telah tumbuh menjadi remaja yang tampan, terampil, penuh percaya diri dan yang istimewa bahwa Karno tidak pernah mengeluh dalam segala macam kesulitan hidup.

Walaupun Karno tumbuh menjadi remaja yang mempunyai kelebihan dalam segala hal, jika dibandingkan dengan remaja-remaja pada umumnya, Adirata sebagai seorang sais kereta berpandangan sederhana, bahwa Karno diharapkan dapat mewarisi dirinya sebagai sais kereta. Oleh karenanya untuk menunjang hal itu, Adirata membelikan kereta kuda kepada Karno.

Menjadi anak yang berbakti kepada orang tua memang tidak mudah. Ada hal-hal yang perlu dikorbankan sebagai tanda bakti kepada orang tua. Seperti halnya yang dialami Karno, disatu sisi ia harus menerima pemberian orang tuanya berupa kereta kuda untuk belajar menjadi sais, disisi lain Karno tidak pernah bermimpi menjadi seorang sais kereta seperti bapaknya. Oleh karenanya agar tidak mengecewakan orang tuanya, Karno selalu menyisihkan waktu untuk berlatih mengendarai kereta kuda, tetapi tidak untuk menjadi sais kereta, melainkan untuk menjadi senapati perang dikelak kemudian hari.

herjaka HS

Kidung Malam 92


Adipati Karno
jauh di luar perkemahan Tegal Kurusetra, Dewi Kunti menemui Basukarno di pinggir sungai Gangga untuk membujuknya agar mau bergabung dengan adik-adiknya Pandawa pada perang Baratayuda. (lukisan karya: Herjaka HS)

Adipati Karno

Basukarno tidak hanya menunjukkan kelasnya dalam hal ilmu berolah senjata panah, tetapi ia pun mampu menguasai dirinya dengan amat matang. Sikap Dewi Durpadi yang merendahkan dirinya di atas panggung sayembara, pada saat Basukarno berhasil menarik dengan sempurna busur pusaka Cempalaradya, serta penolakan Dewi Durpadi yang seharusnya menjadi putri boyongan setelah Basukarno berhasil membidik sasaran dengan tepat, tidak membuatnya menjadi kalap. Walaupun ada perasaan jengkel, Basukarno pemenang sayembara yang dibatalkan tanpa sebab, turun dari panggung kehormatan dengan penuh percayaan diri, tanpa sedikitpun rasa kecewa menggores di wajahnya.

Dengan tenang Basukarno meninggalkan panggung kehormatan. Ia tidak mempedulikan penolakan Dewi Durpadi. Baginya yang paling utama adalah mempertontonkan kemampuan ilmunya dihadapan orang banyak. Ia menyeberangi lautan manusia yang memenuhi alun-alun Cempalaradya waktu itu. Ribuan pasang mata mengikuti dan mengamati setiap gerak langkahnya. Demikian juga saat ketika ia meladeni Arjuna untuk beradu kebolehan ilmu memanah. Menyaksikan tingkat ilmu yang dimiliki Basukarno orang-orang dibuat penasaran, benarkah ia seorang sudra?

Biarlah semua orang menilaiku demikian, orang sudra! kelas bawah! Hal itu saya sadari bahwa aku memang seorang sudra anak sais kereta kerajaan yang bernama Adirata. Walaupun aku seorang sudra, kata mereka, aku adalah anak yang cerdas berani dan jujur. Aku tumbuh dan dibesarkan dibawah asuhan pasangan Adirata dan Nyai Rada.

Setelah menginjak dewasa, Basukarno sering berpetualang sendirian. Belajar kesana-kemari kepada orang-orang berilmu. Ketika pada suatu waktu Karna lewat di Sokalima, ada dorongan yang amat kuat untuk mencecap ilmu kepada Pandita Durna. Namun dikarenakan ia adalah seorang sudra, Basukarno tidak berani berterus terang, karena tahu akibatnya, yaitu ditolak. Oleh karenanya ia memilih belajar secara diam-diam dan sembunyi-sembunyi, agar tidak diketahui oleh siapa pun.

Selain berguru kepada Pandita Durna, Basukarno juga berguru kepada Ramaparasu guru sakti yang ahli bermain senjata Kapak dan senjata panah. Seperti halnya ketika belajar di Sokalima, di hadapan Ramaparasu, Basukarno tidak mau berterus terang. ia menyamar sebagai seorang brahmana penggembara. Hal tersebut dilakukan karena Rama Parasu mempunyai dendam pribadi kepada seorang ksatria, dan tidak mau menerima murid seorang ksatria. Maka Karna menyamar menjadi seorang brahmana dan berguru kepada Rama Parasu. Dengan menyamar sebagai brahmana, Basukarno diterima menjadi murid Rama Parasu. Ilmu-ilmu yang diajarkan diserapnya dengan cepat dan tuntas.

Jika Basukarno ingin belajar ilmu setinggi mungkin, harapan Adirata sangatlah sederhana dan realistis. Ia menginginkan agar anaknya menjadi seorang sais kereta seperti dirinya. Agar harapan tersebut dapat tercapai, Adirata memberi kereta kuda kepada Basukarno, untuk belajar menjadi sais kereta. Basukarno tidak menolak pembereian ayahnya, malahan ia menggunakan kereka kuda tersebut untuk latihan perang-perangan.

Kini, ketika Basukarno telah menjelma menjadi pemuda berilmu tinggi, Sengkuni dan Duryudana telah memeluknya. Di tengah-tengah para Kurawa, Basukarno tidak lagi seorang sudra. Ia telah diangkat menjadi Adipati yang sederajat dengan para ksatria Pandawa. Adipati Karno, demikianlah nama yang pantas disandang setelah pengangkatannya.

Adipati Karno sungguh bahagia. Kebahagiaannya tidak semata-mata pengangkatan dirinya sebagai seorang adipati, melainkan dengan pengangkatan dirinya, jalan terbuka lebar untuk dapat berperang tanding melawan Arjuna, dikelak kemudian hari.

herjaka HS

Ki Kuat Hadi Sasmono : WAHYU KEMBANG SEPASANG


Lagi Mas Sugiran Aulia kembali misungsung Wayang Purwa gagrak Mataraman. Kepiawaiannya melobi banyak radio siaran di tlatah Gunung Kidul telah membawa Mas Sugiran ini mendapatkan banyak oleh-oleh banyak dari sana. Kali ini yang dishare oleh beliau adalah persembahan dari Ki Kuat Hadi Sasmono.

Cerita yang digelar oleh dalang dengan tarif Rp 5.5 hingga 6 juta net tanpa Bintang tamu (ketika pagelaran ini dibuat dan main lokalan Gunung Kidul) ini adalah satu dari sekian banyak lakon wahyu yang sangat banyak bertebaran diantara lakon carangan bukan wahyu yang lain. Bahkan lakon wahyu ini banyak yang “berkhasiat”  sama. Yang dibawakan oleh Ki Kuat Hadi Sasmono kebetulan adalah wahyu yang” khasiat”nyasama dengan yang baru saja dipost kemarin, yaitu wahyu Mustikajati, yang memberikan aura ketentreman.

Lakon Wahyu Kembang Sepasang ini kami tujukan untuk utamanya yang menggemari pepanggungan dengan gaya masa kini. Silakan di klik DISINI.

Ki Hadi Sugiran : WAHYU MUSTIKAJATI


           Bethari Durga (Yogya) koleksi Pak Alexz Lugiman

Setunggal malih koleksinipun Pak Sugiran Aulia ingkang kaunggah lan samangke dipun aturaken dhumateng sedaya sutresna ringgit purwa mliginipun gagrak Mataraman.

Ing pagelaran lampahan Wahyu Mustikajati utawi ugi kasebat Wahyu Ekajati, Ki Hadi Sugiran manggungaken kanthi gaya Mataraman kotemporer. Ing kalih plot adegan, inggih punika Limbukan lan Gara-gara, panjenengan sutresna campur sari lan ndangdutan kauja dening Ki Dhalang.

Mangga ingkang kersa ngundhuh file audio pagelaran Live, kula aturi klik ing MRIKI