Wawancara eksklusif bersama Arjuna (6)


mintaraga_solo3

Kita tunda dulu perjalanan Semar menuju kahyangan untuk menemui Arjuna, sebaiknya kita ikuti flash back cerita tentang kiprah Arjuna menjadi Begawan Mintaraga atau Begawan Ciptaning.

Berawal dari keprihatinan sang panengah Pandawa, Arjuna, saat mengetahui ‘takdir’ yang telah ditetapkan dewata yaitu akan terjadinya perang besar Baratayudha yang melibatkan trah Pandawa melawan saudara tuanya Kurawa. Secara hitungan matematis dan pikiran logis, ada rasa pesimis dalam diri Arjuna menghadapi takdir dewata itu. Bagaimana tidak ? Negri para Kurawa adalah negara super power Astina. Dan mereka telah menerima janji sumpah setia dari ratusan negara-negara di sekitarnya untuk membantu Duryudana bila perang besar kelak terjadi. Apalagi terdapat para sesepuh Astina yang memiliki pengaruh dan kesaktian yang luar biasa seperti Bisma yang meskipun sudah renta namun kedigdayaannya tiada yang mampu mengalahkannya. Juga sang Guru Maharesi Durna yang juga adalah guru Pandawa dan Kurawa yang memiliki kesaktian yang tiada tara. Belum lagi Prabu Salya yang adalah mertua dari Duryudana. Siapa tidak kenal Salya selaku pemilik ajian candrabirawa ? Dan masih banyak lagi para satria perang pilih tanding seperti Basukarna, Jayadrata, Bogadenta dan yang lain-lainnya.

Namun Arjuna bukanlah orang yang mudah menyerah saat dilingkupi oleh ketakutan dan kekhawatiran bayangan rasio yang mondar-mandir dalam imajinasinya. Disadari dan diyakini bahwa itu semua adalah hitung-hhitungan manusia belaka. Dia yakin bahwa ada kekuatan yang mengatur kehidupan di dunia itu. Dan sang pemiliknya adalah Sang Pencipta alam semesta ini. Dialah Tuhan Semesta Alam. Dalam pikirannya kemudian muncul niyat dan tekad memohon petunjukNya untuk menghadapi ‘takdir’ perang Baratayudha kelak. Di mantabkan visinya (dan saudara-saudaranya Pandawa lainnya) agar mampu memenangi perang besar itu, dipohonkannya kepada kemurahan Yang Maha Kuasa untuk memberikan tools ataupun sarana dalam meraih kemenangan itu.

Maka Arjunapun lantas pergi begitu saja meninggalkan ksatrian Madukara, meninggalkan isteri-isterinya, meninggalkan tidur nyenyak dan makan enaknya untuk berkelana dan kemudian mencari tempat yang sesuai untuk melakukan tapa brata. Tentu seperti kebiasaannya selama ini, maka para panakawan di ajaknya untuk mengikutinya.

Maka dalam perjalanan yang cukup panjang itu, Bagong-pun melantunkan lagu Mpu Irama berjudul ‘Kelana’ untuk mengusir kepenatan

Dalam aku berkelana
tiada yang tahu kemana ku pergi
tiada yang tahu apa yang ku cari

Gunung tinggi kan ku daki
lautan ku seberangi
aku tak perduli

Tak akan berhenti aku berkelana
sebelum ku dapat apa yang ku cari
walaupun adanya di ujung dunia
aku kan ke sana tuk mendapatkannya

Dalam aku berkelana
tiada yang tahu kemana ku pergi
tiada yang tahu apa yang ku cari

Hingga suatu hari sampailah mereka ke gunung Indrakila. Arjuna merasa cocok dengan lokasi ini. Setelah meminta pendapat Semar dan panakawan lain maka kemudian dicarilah tempat yang sesuai untuk mendirikan pertapaan yang sederhana. Dan saat mencari tempat itu, ditemukan sebuah goa yang bersih dan luas yang sepertinya cocok untuk tempat menyendiri mengheningkan cipta. Goa itu bernama Pamintaraga.

Sudah cukup lama Arjuna melakukan tapa brata yang dilayani oleh abdinya para panakawan. Semar begitu senang dan bangga karena melihat keteguhan dan kemantaban laku brata ndaranya itu. Oleh karenanya kemudian dia memberikan nama julukan kepada Arjuna dengan Begawan Mintaraga atau Begawan Ciptaning. Ciptaning berasal dari kata cipta hening atau cipta bening, mengandung maksud cipta yang tak tercampur, cipta yang murni dan terbebas dari kotornya nafsu duniawi.

Hari demi hari berlari, pengaruh kekuatan laku Ciptaning menimbulkan getaran ruhani yang dahsyat dan kuat. Bagi para bijak dan yang biasa getol olah spiritual, tentu akan merasakan getaran itu dimanapun mereka berada. Dan getaran dengan frekwensi tinggi itu akhirnya tembus ke kahyangan negri para Dewa. Membuat kahyangan seolah gonjang ganjing diterpa oleh gempa yang tak tahu berasal dari mana.

Advertisements

2 thoughts on “Wawancara eksklusif bersama Arjuna (6)”

  1. sebenarnya janoko tidak jujur karena setiap orang itu punya kekurangan tetapi kalau di ungkapkan secara terang terangan pasti menimbulkan ketersinggungan jadi lebih baik berbohong saja mana ada orang polygami kok jujur

  2. hehehehe, kur ngguyu tok lah…….tpi kan arjuno dwe ilmu, sing bisa dalam waktu yang sama bisa bersama smua istri2nya…..kayanya bgitu ya lurr….ya mbuh kuwe tapi, mandan krungu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s