Wawancara eksklusif bersama Arjuna (5)


semar

“Wah jian saestu nDara, cerita-cerita yang telah nDara sampaikan sungguh menarik. Apa ada yang lebih menarik lagi Ndara”

“Masih banyak Gong … jangan kuatir !”

“Tapi sebentar nDara, sebenarnya berapa sih jumlah istri nDara Permadi sesungguhnya ?”

“Ehmmmmm … mbuh Gong ra kelingan aku”

“Lha tik ngono … saking akehe dadi malah lali he he he ….”

“Bukan begitu Gong, sebagian besar istri-istriku itu adalah hadiah atau penghargaan atas jasaku terhadap sesuatu kebaikan yang telah kulakukan. Pun ada juga berasal dari buah ketekunanku dalam berguru kepada para sesepuh ahli ilmu alias para pertapa, para begawan, para pandita. Masak dapat hadiah yang begitu indah di tolak tho Gong, apa tumon”

“Benar juga ya. Dari sekian banyak itu, kira-kira ada yang BPS nggak ndara ?”

“Apa kuwi BPS ?”

“Bukan Perempuan Sembarangan nDara !”

“Halah kok bikin istilah yang aneh-aneh saja kamu ini Gong. Kalau yang kamu maksud itu bukan perempuan biasa, bidadari atau batari misalnya .. yah cukup banyak Gong, diantaranya Dewi Dresanala, Dewi Wilutama dan Dewi Supraba.”

“Lha kok le nyamleng tenan nDara, uenak mboten nDara ?”

“Mbok padhakake karo panganan wae Gong. Yang jelas pasti berbeda, lha wong batari je !”

“Bedanya ada dimananya nDara ?”

“Wis ora usah akeh takon, iki critaku rungokna !”

<<< 000 >>>

Semar gelisah !

Semar galau !

Begitupun anak-anaknya para panakawan. Kegelisahan dan kegalauan Semar dikarenakan tidak adanya kejelasan. Nggak ada kabar berita tentang keberadaan nDaranya sekarang ini. Arjuna sekarang ini ada di mana dan lagi ngapain, Semar tidak memperoleh informasinya.

Para panakawan sebelumnya disuruh menjaga pertapaan Indrakila saat nDaranya, Permadi, mendapat tugas Dewata untuk mengusir raja durjana yang mengintimidasi kahyangan dengan permintaannya mengambil Dewi Supraba untuk menjadi istrinya di negri Himahimantaka. Tentu saja sang raja raksasa itu, Niwatakawaca, berani melakukan itu semua karena merasa memiliki senjata yang dapat mengalahkan kesaktian para dewata. Dan pada kenyataannya Prabu Niwatakawaca memang memiliki Aji Gineng yang karna keampuhannya tidak akan mampu senjata apapun melukainya, apalagi membunuhnya. Dan karena kesombongan dan ambisinya yang besar untuk menguasai jagat dunia ini serta kalau perlu kahyangan negri para dewa, maka di carilah jalan untuk menantang kekuasaan para dewa. Dan melamar Dewi Supraba sebenarnya hanyalah upaya membuka jalan menuju tercapainya ambisi prestisius itu.

Dan para dewa telah merasakan itu semua, sehingga saat digempur oleh bala tentara raksasa Himahimantaka, mereka kewalahan dan kemudian dengan terpaksa berdamai secara temporer. Kesempatan itu dimanfaatkan oleh para dewa untuk mencari ‘bantuan’. Dan pilihan telah di tetapkan.

Para panakawan lama-lama bosan dan bingung ditinggal Permadi yang setelah pergi bersama Dewi Supraba, tidak memberi kabar sama sekali. SMS saja tidak, apalagi call by phone atau menggunakan video call. Semar dan anak-anaknya bingung bukan lantaran kekurangan beras atau sayuran di sana. Logistik masih menumpuk banyak di gudang belakang pertapaan itu. Yang membuat galau mereka adalah tentang output dari tujuan tapa nDaranya itu. Apakah sudah tercapai atau belum. Kalau belum, progressnya sampai dimana, mereka sama sekali tidak ter-update.

Semar akhirnya tidak tahan dan segera menyusul ke kahyangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s