Ki Kondho Murdiyat : Bondhan Paksa Jandhu


Oleh: MasPatikrajaDewaku – PPW 11-01-0006

Kerjasama antara Radio Mutiara Bandung dengan Paguyuban Pecinta Wayang.

Pada sampul kaset Bondan Paksa Jandhu tertulis, dalang adalah Ki Kondho Murdi. Saya sampai menanyakan ke Pak Ali Mustofa, apakah beliau yang bernama Ki Kondho Murdiyat? Juga dituliskan   “Wayang Kulonan”, mungkin yang dimaksud disini adalah wayang yang hidup secara geografis di Jawa – Timur, tetapi secara gagrak pagelarannya berkiblat ke Jawa – Tengah. Dan ternyata memang benar, Ki Kondho Murdiyat ini sangat bergaya Surakarta. Bahkan terdengar kombangan suluknya sangat dekat gaya olah vocalnya dengan Ki Nartosabdo.

Ciri yang menegaskan Jawa – Timur, adalah suara keprak dan dialog slenk Madiunan, yang sesekali muncul pada dialog tokoh-tokohnya.

Cerita ini sendiri mengisahkan ketika Wrekudara diakali oleh para Kurawa, hingga disangka oleh Kurawa, bahwa Wrekudara telah tewas. Padahal Werkudara telah ditolong oleh Badawang Ananala dan dikawinkan dengan Putri Sang Hyang Baruna, yang bernama Dewi Urangayu. Dari perkawinan ini, Werkudara dikaruniai anak bernama Antasena.

Untuk menuntaskan pekerjaan membasmi Pandhawa, Kurawa memanggil Puntadewa ke Negara Astina, untuk kembali di-“apus krama”, dengan alasan Puntadewa harus datang menyaksikan Wrekudara yang akan diwisuda menjadi raja di Astina.

Adipati Karna yang diutus oleh Prabu Duryudana, mendapat tentangan dari Gathutkaca. Walau tidak mendapat restu dari uwaknya, Prabu Puntadewa, atas dukungan dari Patih Tambak Ganggeng, Gathutkaca kukuh melawan Adipati Karna. Namun demikian Prabu Puntadewa menyalahkan Gathutkaca, dan meminta Gathutkaca untuk meminta maaf. Puntadewa-pun tidak keberatan untuk pergi ke Astina, memenuhi panggilan anak uwaknya itu.

Rencana Duryudana berantakan ketika Arjuna yang diberitahu Naradda akan terjadinya masalah terhadap Puntadewa, ikut-ikutan pergi ke Astina dan mengamuk. Duryudana tidak mampu menandingi Arjuna yang dijampangi Naradda,  hingga ia memerintahkan istrinya, Banuwati, untuk memadamkan amarah Arjuna. Bahkan Duryudana memerintahkan Banuwati memberikan apa saja kemauan Arjuna.

Akhirnya Banuwati memberikan apa saja kemauan Arjuna, salah satunya adalah mendirikan Pasar Anyar. Kecuali dipertemukannya Arjuna dengan kekasih lamanya, Banuwati, lakon ini juga terdapat pertemuan dua kekasih yang juga tak pernah kesampaian bersatu, Dursilawati dan Arjuna.

Bagaimana piawainya Ki Kondho Murdiyat memainkan cerita ini? Terus siapa dan apa peran Bondhan Paksa Jandhu dalam konflik Kurawa-Pandhawa?

Kami persilakan anda mengundhuh lakon Bandhon Paksa Jandhu. Pagelaran wayang dengan Dalang dari wilayah Jawa Timur, yang dihiasi tentunya dengan gendhing-gendhing Panaragan dan Banyuwangen.

Audio ini direkam bukan di studio, melainkan pada pagelaran live hajatan. Keramaian suasana tontonan rakyat begitu riuh, terutama pada waktu awal pagelaranlah, yang menandakan keadaan rekaman tersebut. Suasana riuh yang ditingkahi suara balon mainan anak anak ini, malah membuat hidup pakeliran. Menjadikannya penulis ingat akan suasana wayangan di kampung ketika jaman semana.

Walau pagelaran live dari tempat hajatan, keseimbangan dan pemerataan tata suara masing masing instrumen gamelan tergolong baik. Demikian juga rekaman-nya yang mono tidak menjadikan suguhan ini merosot secara kualitas.

Pagelaran lakon Bondhan Paksa Jandhu ini digarap sangat klasik. Plot cerita pakeliran jangkep, lumayan masih begitu di-ugemi oleh Ki Kondho Murdiyat. Jejeran kemudian disusul dengan kedhatonan, kemudian bidhalan, kemudian jejer sabrang walau itu jejeran Amarta.

Perang gagal disambung dengan adegan kesatriyan atau alas. Disinilah letak dalamnya wayang klasik. Tanpa gara-gara, sebagaimana pagelaran wayang jaman tahun 60an. Pagelaran tanpa gara-gara juga sering kita temukan pada beberapa lakon karya Ki Nartasabdo.

Tidak ketinggalan adalah perang kembang antara Arjuna dan Cakil dengan seribu namanya. Perang kembang, yang merupakan adegan yang sering ditinggalkan oleh banyak dalang masa sekarang karena mungkin dianggap rutin, terlalu biasa dan membosankan. Padahal bila ada ditangan dalang yang mandiri, tanpa harus dibantu oleh bintang tamu, pasti bisa mengolah adegan ini sehingga bisa menjadikan lebih hidupnya pakeliran lebih dari adegan limbukan.

Adegan dengan lancar hingga babak perang brubuh, tetapi tanpa diakhiri dengan tayungan. Diakhir pagelaran terdapat pamuji, seperti yang sering saya dengar sewaktu orang menganggap wayang di jaman dahulu, dengan permohonan Ki Dhalang terhadap Tuhan, kurang lebihnya sebagai berikut : Nalika semana pagelaran kang kinarya tepa palupi lampahaning Pandhawa – Kurawa( wus meh paripurna). Sing ala katut banyu mili barat lisus. kang becik kawasa nuntun ing kasampurnaning gegayuhan. Keluwarganing praja kang marsudi mrih kasembadaning sedya kapetung kaluwarga kang kawengku ing Praja Cintakapura, keluwarganing Prabu Puntadewa kang nama xxxx (yang menanggap wayang). Kasembadaning sedya anggenipun xxxxxxx (sebab yang menanggap wayang telah meramaikan pestanya dengan wayangan) antuk pangayomaning kang murbeng gesang lantaran pagelaran wayang kang wus kaleksanan lsp . . . . Juga dipuji doakan keselamatan terhadap para penonton, dan semua crew pagelaran.

Inilah sebenarnya esensi dari wayangan dengan segala ubarampe dan uparengga yang menjadi ciri yang menyiratkan serenity padesaan Jawa, yang mindset-nya manusianya saat itu masih begitu dipenuhi oleh ajaran yang selaras dengan damainya lingkungan alam.

Link undhuh ada di:

http://jumbofiles.com/user/Samudrianto/65625/Bondhan%20Paksa%20Jandhu

3 thoughts on “Ki Kondho Murdiyat : Bondhan Paksa Jandhu”

    1. Mas Ali, menawi kepareng kulo nyuwun download-ipun Ki Kondo Murdiyat – Bondan Paksa Jandhu. Kolowingi kulo sampun download Ki Kondo Murdiyat lakon Semar Bangun Kahyangan, nanging hasil-ipun kurang sae. Mbok bilih kaset-ipun ingkang sampun sepuh. Matur nuwun. Salam kagem sedoyo pencinta wayang kulit khusus-ipun pecinta-ipun ki Kondo Murdiyat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s