Ki Hadi Sutikno Lakon Wahyu Baskoro Tunggal live Trenggalek


Salah satu dalang asal Trenggalek diawal Januari 2012 menggelar pentas di Desa Ngepeh Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek dengan membawakan lakon Wahyu Baskoro Tunggal dan diabadikan dengan Video Shooting UVS Trenggalek yang selalu bekerjasama dengan PPW jatim dalam Rangka ikut serta melestarikan Budaya Jawa Khususnya Wayang Kulit. Kali ini Kurniafm Trenggalek telah selesai melakukan conversi dalam bentuk Audio pagelaran tersebut

Berikut ini link hasil conversi Audio dari KURNIA FM TRENGGALEK

Salam dari PPW Jatim

Ali M

SELAMAT MENIKMATI 

Mendung diatas Mandaraka [7]


Berganti Cerah, udara Mandaraka.

Oleh MasPatikrajaDewaku (PPW 11-01-0006)

Dialah Wasi Jaladara, nama lain dari Raden Kakrasana, putra sulung dari Prabu Basudewa, raja di Negara Mandura. Pemuda berbadan sentosa dan berkulit bule ini baru saja ia pulang dari bertapa di Argaliman, memenuhi kehendak hati yang didorong oleh sifat satria pinandita dan juga direstui oleh kebijaksanaan ayahndanya di Mandura.

Kaget mendengar teriakan Larasati yang terburu-buru masuk ke dalam ruang tengah, Jaladara segera menyongsong kedatangan Larasati dengan menghujani pertanyaan seputar ketergesaannya menemui dirinya.

“Ada apa teriak teriak menggangguku, ada apa dengan adikku Rara Ireng?” Kata Jaladara menanyakan kepada Larasati perihal teriakannya, yang menyebut nama Bratajaya. Memang, Lara Ireng adalah panggilan sayang sang kakak, Jaladara, kepada adik bungsunya, Bratajaya atau Sumbadra.

Ketika Jaladara keluar, segera Bratajaya berbalik menubruk kakaknya, mengadukan perihal apa yang terjadi, “Aku dikejar kejar lelaki, kakang!”

“Keparat . . . Sudah bosen hidup rupanya orang itu. Menyingkirlah aku akan hadapi.  Kakrasana segera menyisihkan adiknya dan menghadapi orang yang disebut mengganggunya.

Tapi setelah berhadapan, kemarahan Kakrasana menjadi buyar berganti dengan rasa heran. Pamadi-lah yang tampak dengan senjata terhunus.  “Heh kamu Pamadi. Aneh kalau kamu tidak kenal saudara tuamu Bratajaya. Kamu kesini mau apa?

Pamadi yang juga kaget oleh adanya Kakrasana yang dikenalnya adalah Putra Mahkota Mandura terdiam. Keheranan juga muncul oleh peristiwa yang dianggapnya aneh, hingga mempertemukan kerabat Mandura ada di sebuah kademangan kecil, Widarakandang.

Tak lama kemudian, Pamadi menceritakan apa yang telah terjadi hingga ia marah dan mendapatkan orang yang memberinya makanan yang sudah tidak layak makan.

“Benar apa yang Pamadi katakan, Rara Ireng?”

“Kakang, tanyakan ke Larasati, nasi dan lauknya itu tadinya ada di tempat sanggar sesuci Kakang Kakrasana. Semua makanan yang ada disitu semuanya enak dan pantas dimakan orang”. Bratajaya mendesak kakanya untuk menanyakan kebenaran cerita itu kepada Larasati.

Larasatipun berkata dengan sejujurnya mengenai keadaan makanan yang diberikan kepada Semar Badranaya.

“Lho, semua yang dikatakan Bratajaya makanan itu, semuanya enak. Bagaimana ini bisa terjadi?” Tanya Kakrasana.

“Aku tidak merasa memberikan makanan bercampur pasir!!. Jawab Bratajaya yang dari tadi menggelendot ditubuh kakaknya, Jaladara.

Suasana sebentar menjadi hening, karena teka teki seputar makanan yang menyebabkan Pamadi menjadi marah. Semar yang dari tadi diam, kemudian maju menjelaskan sebenarnya yang sudah terjadi, “Ya, kalau ada yang salah, saya minta maaf. Sayalah yang mencampurnya dengan pasir. Sebenarnya makanan yang berasal dari Putri Bratajaya dalam keadaan baik. Tetapi sengaja aku campur dengan pasir. Saya Cuma menyesalkan, momonganku ini tidak meniru leluhurnya dulu, Bambang Sakri, Bambang Sekutrem, Palasara hingga Panembahan Abiyasa dan kemudian Pandu Dewanata, yang bisa sebegitu lama tidak makan dan tidak kehausan walau tidak minum seteguk airpun. Tapi ini, tidak makan tiga hari kok pingsan? Bila satria yang mempunyai cita-cita, kemudian berhenti hanya karena lapar,  lha apa gunanya tapa bertahun tahun. Bila itu yang terjadi, akhirnya semuanya yang telah didapat menjadi tawar, tidak berguna”.

Pamadi merasa terpukul oleh kata-kata pemomongnya. Dipegangnya pundak Semar dan kemudian berkata dengan nada menyesal, “Kakang, semua kesalahku aku minta maaf. Kalau tidak ada kamu, entah apa yang akan terjadi terhadap aku”

Semar terdiam sejenak, kemudian sambil memandang momongannya ia berkata, “Ya sudahlah, kalau sudah merasa akan kesalahan yang sampeyan buat. Saya hanyalah menjalankan darma sebagai pemomong yang tidak sekedar momong. Harus bisa menjadi orang tua, juga harus bisa menjadi pembantu. Dan juga harus menjadi penuntun langkah. Tadi itu sampeyan telah salah dalam langkah”.

Kakrasana yang dari tadi menjadi tidak mengerti awal mulanya memandang Pamadi dengan air muka yang mengandung pertanyaan. Pamadi yang dipandanginya mengerti akan kehendak tanya yang ada di mata Kakrasana, kemudian kata Pamadi, “Baiklah kakang Kakrasana, semua kejadian tadi, sebenarnya bermula dari putus asanya pikiran ini. Oleh sebab hamba sudah menjawab kesediaan hamba kepada uwa Prabu Salya, untuk mencari hilangnya putri Erawati. Sudah sebulan lamanya hamba mencari keberadaan kanda Erawati yang hilang diculik, tetapi sampai saat ini belum terlihat tanda tanda akan keberadaannya”.

Seperti melihat kilatan ndaru kebahagiaan, Kakrasana menjadi terang pikirannya. Kepekaan hati dan pikirannya yang begitu terasah oleh olah kapanditan yang baru saja dijalaninya, telah menuntunnya kearah takdir yang akan dihadapinya dimasa mendatang. Tetapi rasa kemanusiaannya menjadikannya masih menanyakan kembali apa yang didengar adik misannya, “Nanti dulu, tadi kamu bilang mau kemana?”

“Hamba bermaksud mencari dimana hilangnya bunga kedaton Mandaraka, kanda Erawati, yang sudah sebulan ini hilang dari tempatnya”.

“Terus bagaimana kata raja Mandaraka?” Pertanyaan Kakrasana makin memburu.

“Siapa yang dapat menemukan kanda Erawati, bila ia perempuan, akan dianggap sebagai saudara sekandung. Bila yang menemukan adalah seorang pria, ia akan dikawinkan dengan kanda Erawati”.

“Umpanya, aku yang menemukan, bagaimana?!” Jaladara semakin penasaran. Nalurinya yang tajam telah meyakininya apa yang akan terjadi hubungannya dengan Putri Mandaraka yang hilang  itu.

“Terserah kanda Kakrasana saja.”  Kata Pamadi dengan senyum.

Kembali kepekaan seorang wasi menjadikan Jaladara melakukan tidakan yang tidak tergesa gesa. Rancangan telah diatur didalam benaknya agar nanti peristiwa yang berakhir menjadi akhir yang bahagia. Maka kemudian kata Kakrasana, “Tapi kamu jangan bilang kepada Prabu Salya, kalau aku ini Pangeran Pati dari Mandura. Bilang saja aku pendeta muda dari Argaliman, sebut namaku Wasi Jaladara”.

Pamadi mengangguk setuju. Daripada tidak menemukan Erawati sama sekali, maka saudara misannyapun dapat menyingkirkan rasa malu atas kesanggupan yang telah ia katakan kepada orang tua Banuwati. Demikianlah maka kedua satria itu kemudian berangkat ke Mandaraka untuk meminta ijin mencari hilangnya putri sekar kedaton.

—————

Wajah gembira memancar dari Prabu Salya yang telah kembali menerima kedatangan kemenakan yang ia sayangi. Tidak sabar Prabu Salya segera menanyakan ihwal kedatangannya kembali, “Pamade, bagaimana kabar dari kamu yang dulu sudah mempunyai kesanggupan untuk mencari hilangnya kakakmu Erawati?”

“Mohon maaf uwa Prabu, walau sudah hamba umpamakan seputaran wilayah Mandaraka sudah dijajaki, tetapi jejak kanda Herawati bagaikan tersaput kabut, dan hamba gagal mencarinya. Tetapi tanpa disangka hamba bertemu dengan seorang pendeta muda yang tengah bersemedi di Argaliman, beliaulah yang sanggup mengembalikan kanda Erawati”.

Kegembiraan Prabu Salya berganti sedikit kecewa. Terlihat mendung kembali meliputi air muka Prabu Salya. Harapan kelewat besar yang ia letakkan di pundak Pamadi telah runtuh oleh kata kata kepasrahan Pamadi.

Dengan sedikit acuh, Prabu Salya menanyakan siapa yang disebut oleh kemenakannya itu, “Ooh inikah orangnya? Siapakah kamu?”

“Hamba yang bernama Jaladara, asal hamba dari Pertapan Argaliman”. Jawab Jaladara yang berkata khidmat.

“Apakah kamu yang sanggup mengembalikan putriku Erawati?”.

“Hamba Paduka. Tidak hanya sanggup mengembalikan putri paduka saja, bahkan hamba juga sanggup meringkus penculiknya”.

Merah muka Prabu Salya oleh kata kata Jaladara yang menggambarkan kesombongannya. “Heh Jaladara, kenapa kamu bisa mengatakan begitu? Apakah kamu sudah mendapatkan titik terang siapa penculiknya dan dimana putriku disembunyikan?”

Tidak usahlah hamba pergi dari Mandaraka. Nanti malam, semua penjaga malam sebaiknya diliburkan. Hamba sanggup untuk meringkus penculik itu malam nanti. Nanti tengah malam maling itu akan kembali ke Mandaraka”. Dengan sengaja Jaladara memperlihatkan kesanggupannya yang sedemikian tinggi.

Jaladara. . . ! Perkataanmu itu sebenarnya sudah kelewat takabur!” Prabu Salya bangkit karena sikap sombong Jaladara dan enggan meneruskan pembicaraan dengan Jaladara. Ia mengalihkan  pandangannya kepada putranya, Rukmarata dengan ekor matanya. Rukmarata segera mengetahui kehendak ayahndanya yang berjalan masuk ke dalam istanannya, meninggalkan Pamadi, Kakrasana dan Rukmarata.

Rukmarata yang mengerti apa yang harus dilakukan, menatap tajam mata Jaladara sembari berkata, “Jaladara . . .  lancang ucapanmu. Bila nanti tidak terbukti, besok waktu matahari terbit kepalamu akan aku pisahkan dari lehermu!”

Tidak lagi banyak berkata, Jaladara segera beranjak dari paseban dengan menggandeng Pamadi. Setelah sampai diluar, Pamadi yang dari tadi tidak tahan mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Jaladara, segera memburu dengan pertanyaan, “Kalau nanti malam kanda Kakrasana tidak bisa membuktikan kata-kata itu, betapa hamba akan mendapat marah dan malu, kanda”.

“Sudahlah, tidak namanya aku mendahului kemauan yang kuasa. Tetapi catat, bahwa aku rela kehilangan kepalaku bila ucapanku tidak terbukti. Tetapi menjelang tengah malam ini aku mau istirahat dulu. Carikan aku pinjaman tikar untuk sekedar beristirahat”. Santai Jaladara malah rebahan bersandar pada sebatang pohon beringin.

“Lho ini mau kerja apa mau istirahat?” Petruk yang tadi menyongsong kedatangan momongan dan saudara misannya menanya

“Namanya kerja ya harus pakai istirahat. Kalau kerja tanpa Istirahat itu tidak akan bertambah kekuatannya. Istirahat perlu untuk mendapat kekuatan baru”. Bagong menyahut membela Kakrasana.

“Mohon maaf kanda, hamba orang baru disini. Hamba berlum mempunyai kenalan.”

Jaladara yang ternyata mempunyai mata batin yang begitu tajam tersenyum. Kemudian katanya, “Kamu boleh ingkar, Pamade. Tapi aku ini apamu? Aku ini saudaramu tua, semua yang ada di dalam dirimu, sudah aku ketahui”.

“Mohon maaf kanda, hamba belum punya kenalan”, sekali lagi Pamadi yang belum yakin akan kemampuan mata batin Kakrasana kembali berbohong.

Tetapi bagai tersengat kala, Pamadi terkesiap, ketika Kakrasana kemudian bertanya, “Bagaimana? Lha Banowati itu siapa?”

Pamadi yang terkaget mendengar kata Kakrasana yang tajam memalu dadanya. Tanpa berkata Pamade  berlalu dengan cepat dari hadapan Jaladara dengan muka yang memerah, sementara para panakawan mentertawakan momongannya salah tingkah. Kemana Pamadi? Kembali ia berjalan ke keputren menemui Banowati.

Tengah malam. Kedua satria ini sudah ada ditempatnya masing masing. Arjuna muda tidak terceritakan ada dimana dia ;), sedangkan Jaladara bersembunyi menunggu pencuri dengan mata awas terbuka.

Benarlah. Tengah malam telah menjelang, ketika putra raja Tirtakadasar, Raden Kartapiyoga telah sampai di dalam beteng. Ketika ia masih melihat banyak jaga malam yang berseliweran, dalam hati ia berkata, “Hmm, masih ramai keadaan dalam petamanan. Tapi aku tidak kurang akal, aku akan menyirep semua orang yang ada dalam taman sari”.

Sebentar kemudian, niat itu telah ia ujudkan dengan mengucapkan mantra sirep Begananda. Sirep sakti yang mengalirkan udara sejuk yang mampu membelai sukma hingga mata menjadi terpejam, tidur nyenyak.

//Niat ingsun anyirepi/Hong ilaheng awigena/Sirep lerep turu kabeh/Sagung janma jroning pura/Awit karsaning Dewa, mung ingsun kang datan turu/Ya jagad dewa bathara.//

Kidung dengan mantra sakti telah ditembangkan. Demikianlah, maka satu demi satu para penunggu telah jatuh tertidur. Terbahak Kartapiyoga setelah melihat sekitarnya bergelimpangan prajurit jaga telah roboh tertidur. “Heh orang Mandaraka, jangan terkaget. Besok semua akan kehilangan Surtikanti dan Banowati!”.

Tetapi Kartopiyoga memiliki ketelitan. Satu demi satu Kartapiyoga meneliti orang orang yang jatuh tertidur, ia tidak mau pekerjaannya menjadi terganggu oleh kecerobohannya. Sampai pada satu orang yang ia teliti, Kartapiyoga merasa kagum. “Keparat, aku kira semuanya sudah roboh tertidur siapa ini yang tertidur sambil berdiri dengan mata yang diganjal paku? Gagah perkasa muka merah seperti tembaga yang baru digosok. Belum pernah aku bertemu dengan orang ini sebelumnya, ketika pertama kali aku kesini. Tapi tidak perduli. Surtikanti, Banuwati dimana kamu ?!!.

Kartapiyoga yang terlalu percaya diri membiarkan Jaladara yang diraba masih diam. Maka dengan lompatan panjang ia telah sampai disekitar keputren.

Jaladara yang mengamati ulah Kartapiyoga kemudian ganti bergerak cepat mengikuti langkah Kartapiyoga, dalam hatinya ia berkata, “Huh hampir saja aku terlena. Berat mata ini terkena sirep Beganada. Itu dia, maling sudah datang. Jangan berbangga dulu. Ini Jaladara yang hendak menangkapmu !!”.

Belum sempat menyentuh pintu keputren, Kartapiyoga tersentak ketika punggungnya diraba telunjuk Jaladara. Secara tidak sadar, Kartapiyoga mengelak tetapi sepasang tangan kokoh telah melekat dilengan Kartapiyoga. Dengan naluri dan kesaktian tinggi,  Kartapiyoga melepaskan diri dari cengkeraman tangan Jaladara. Maka tanpa berkata sepatahpun, pertempuran sengit segera terjadi.

Sedikit demi sedikit ilmu mereka yang sedang bertempur telah dinaikkan untuk mengatasi satu sama lain. Tetapi Kartapiyoga yang menjadi heran karena ada salah satu penjaga malam Negara Mandaraka tidak gampang ditundukkan. Dengan rasa penasaran akhirnya Kartapiyoga buka mulut. “Heh penjaga malam, siapa yang mengganggu kerjaku !!??.”

Abdi Mandaraka namaku Jaladara! Siapa kamu maling yang berani menyatroni petamanan Mandaraka”.

“Tidak pakai tedeng aling-aling. Aku pangeran pati dari Negara Tirtakadasar, Putra Prabu Kurandayaksa, namaku Kartapiyoga! Sorongkan lehermu untuk aku pisahkan dari badanmu. Agar tidak menggangu kerjaku memboyong Surtikanti dan Banowati !”. Dengan percaya diri, Kartapiyoga memberitahukan jati dirinya. Pikirnya tak ada seorangpun penjaga malam Mandaraka yang bisa mengalahkannya. Bahkan dengan kepercayaan dirinya yang tinggi ia hendak memisakan kepala dari tubuh penjaga malam itu.

Namun waktu berlalu, Kartapiyoga makin keteteran  menghadapi penjaga malam yang sedemikan sakti, hingga ia sadar, fajar segera menjelang. Maka dikerahkan kesaktiannya hingga batas tertinggi. Tetapi sekali lagi, penjaga malam itu masih dapat melayaninya dengan nafas yang masih teratur. Putus asa telah menghinggapi pikir Kartapiyoga. Maka segera ia menerapkan ajian ajaran ayahnya, amblas ia kedalam tanah, melarikan diri.

Ternyata ada seorang lagi yang tidak kena sirep. Ialah Permadi. Usai Kartapiyoga melarikan diri dan Kakrasana menghentikan usaha menangkap pencuri, Pamadi mendekati Jaladara. Melihat kedatangan Pamadi, Jaladara menjelaskan apa yang terjadi, “Permadi sudah ada titik terang. Aku sudah mendapat siapa dan dimana pencuri itu. Pencurinya sudah aku ketahui bernama Kartapiyoga anak raja Tirtakadasar. Aku hampir bisa meringkusnya tetapi ia masuk kedalam bumi.  Ternyata ia sangat sakti, terbukti bisa lolos dari tanganku. Ayuh ikut aku mengikut jejak Kartapiyoga”.

Tidak lagi membuang waktu kehilangan jejak. Kesaktian Jaladara telah menempatkan Pamadi dalam ruang cincinnya. Kesaktian Jaladara yang sedemikian tinggi telah melacak arah lari Kartapiyoga.

Sampai dihadapan ayahnya, Kartapiyoga dengan tanpa malu menceritakan bagaimana ia dikalahkan oleh Jaladara. “Aduh rama, ketiwasan. Masuknya hamba kembali ke Mandaraka ternyata disana sudah ada prajurit segelar sepapan yang siap menyongsong. Hamba ketahuan penjaga malam yang bernama Jaladara, sehingga terjadi perkelahian. Kesaktian Jaladara ternyata sangat tinggi. Rama, saya pasrah jiwa raga”.

Marah Prabu Kurandayaksa, anak kesayangannya telah dilecehkan oleh penjaga malah bernama Jaladara, “Heeee . . sekarang giliranku. Pasti ia mengejar kamu kemari. Kita hadapi kedatangannya !!”.

Sementara itu ditempat persembunyian Erawati, wanita malang yang sedang menangisi nasibnya dikejutkan dengan kedatangan dua orang satria yang kelihatan santun. Sebersit harapan telah tumbuh. Setelah ketiganya berhadapan, tanya Erawati kepada keduanya meluncur, “siapakah kalian berdua ini? Yang satu berwajah tampan dan yang satu lagi berbadan perkasa. Katakan maksud kedatanganmu. Katakan, kisanak!”.

“Baiklah raden ayu, terus terang hamba masih kulit daging andika. Hamba putra mendiang Prabu Pandu Dewayana, nama hamba Pamadi”.

“Hamba hanya orang kecil saja, nama hamba Jaladara asal hamba dari Argaliman”. Keduanya memperkenalkan diri.

“Kedatangan hamba tanpa dipanggil, adalah demi tugas yang dibebankan oleh ayah kanda Dewi, Prabu Salya. Hamba harus berhasil memulangkan andika Sang Dewi kembali ke Mandaraka”. Kata Pamadi kemudian.

“Begitu juga hamba yang sudah menyanggupi berdasarkan sayembara, yang siapapun dapat mengembalikan andika Sang Dewi kembali”. Jaladara menjelaskan

Gembira bukan kepalang Erawati mendengar kesanggupan keduanya. Sebersit keraguan masih saja menghinggapi hingga ia masih menanyakan kembali tentang diri mereka, “Tapi kalian bukan dari golongan orang yang menipu, bukankan begitu?”

Bukan Raden Ayu, walaupun bagaimana pun andika Raden Ayu hendaknya bisa membedakan dengan jelas, bahwa hamba masih termasuk kulit daging Mandaraka”.

“Kalau itu yang sebenarnya, aku hanya menurut kepada kamu berdua. Tetapi apakah kamu datang kemari tidak diliputi oleh ancaman bahaya?” Kembali Erawati menyangsikan keduanya. Kesangsian oleh sebab perasaan takut yang telah mengurungnya hari demi hari.

“Benar Raden Ayu. Tetapi semua dapat hamba sisihkan terbukti hamba sudah sampai disini”. Jawab Jaladara meyakinkan.

Kalau begitu, bagaimana kamu bisa membawaku dari sini ?.

“Baik kami akan masukkan Raden Ayu kedalam cincinku”. Kata Jaladara kemudian memupus keraguan Erawati.

Demikianlah, Erawati dan Pamadi telah kembali dimasukkan kedalam bilik cincin Jaladara. Jaladara tidak mau diribetkan dengan Pamadi dan Erawati yang tidak dapat mengarungi bahayanya dunia bawah air Tirtakadasar.

Setelah semuanya diatur rapi, Jaladara berrenang mencari adanya orang penting Tirtakadasar. “Heh orang Tirtakadasar, inilah aku Jaladara yang telah ganti menculik Erawati dari Tirtakadasar !!”

Maka peremuan ketiga manusia itu telah menjadikannya Kerajaan Bawah air Tirtakadhasan menjadi ajang pertempuran sengit. Tidak mudah Kakrasana mengatasi Prabu Kurandayaksa yang memang lebih sakti daripada anaknya, Kartapiyoga. Namun takdir telah jatuh. Kurandayaksa dan anaknya Kartapiyoga tidak mampu mengalahkan Jaladara. Bahkan keduanya dapat dimusnahkan setelah pertarungan sengit terjadi berhari hari.

Ketika ia memeriksa masih adanya musuh dalam kerajaan bawah air itu, ia bertemu dengan seorang wanita berujud raksasa yang dengan terang terangan telah menjumpai Jaladara. Jaladara menjadi terheran dan kemudian menanyakan siapa sebenarnya ia, “Aduh raden, hamba tidak ikut-ikutan”

“Siapakan andika yang berujud raseksi?”

“Hamba istri dari Prabu Kurandageni dan sekaligus ibu dari Kartapiyoga. Nama hamba Tapayati”.

Tanpa diperintah, Tapayati mengisahkan keberadaanya di dasar air, “Begini raden. Sebenarnya hamba sangat tdak setuju dengan tindakan suami serta anak hamba, memaksa putri Mandaraka menjadi istri dari anak hamba, Kartapiyoga. Erawati sejak ada di Tirtakadasar setiap harinya hanya menangis hampir tanpa henti. Saya yang menjadi saksi radenlah yang menyelamatkan putri Prabu Salya itu. Hamba berharap agar hamba diperkenankan ikut ke Mandaraka bersama andika dan Putri Erawati. Maksud hamba adalah sebagai saksi mata bahwa radenlah yang telah berhasil menyelamatkan Erawati dari sekapan anak dan suami hamba”.

“Baiklah aku tidak keberatan”. Tadinya Jaladara ragu, tetapi kembali naluri seorang pertapa menyetujui permintaan Tapayati. Tanpa membuang waktu lagi, Jaladara segera kembali ke pinggir bengawan  yang ternyata telah terkepung oleh wadya Astina.

Kemunculan sosok manusia dengan tubuh berkult tembaga, sontak telah menggegerkan wadya Kurawa yang segera mengepung Jaladara dari berbagai arah. Tombak dan mata pedang telah merunduk mengacu ke tubuh Jaladara yang tetap diam ditempat, namun tubuh yang basah berkilat merah tembaga tersinari matahari, telah membuat para Kurawa kehilangan nyali. Seseorang kemudian menyeruak diantara para prajurit dan nyaring berkata,  “Hee kamu pasti yang telah membawa Dewi Erawati. Ayoh jangan banyak cakap, serahkan Dewi Erawati ke tangan Para Kurawa”. Demikian sapa orang yang ternyata Sangkuni, mencoba menakuti Jaladara dengan mengadang ditepi bengawan segelar sepapan dengan wadya mengurungnya.

Jaladara yang tidak mau dihardik menjawab, “Ini hakku, tidak satupun orang yang akan aku serahi Erawati kecuali ayahnya sendiri, Prabu Salya”. Jawab Jaladara tegas.

Aba–aba telah diteriakkan oleh Sangkuni. Para prajurit Astina bergerak serentak mengepung rapat Jaladara. Tidak tinggal diam, Jaladara mengibaskan tangannya dan beberapa pengepung telah terjerembab ketanah. Namun serangan telah bergelombang kembali mengalir. Tidak mau membuang waktu dan banyak jatuh korban, tidak lama kemudian  dalam rapatnya kepungan Jaladara melompat dan meloloskan diri. Diluar lingkaran pertempuran, Jaladara memetik sekuntum bunga, kemudian dipujanya menjadi sosok Dewi Erawati.

Gembira sorak Para Kurawa telah menemukan Dewi Erawati palsu yang kemudian digendong kedalam tandu untuk dibawa ke Mandaraka. Pada saatnya nanti kegembiraan para Kurawa berubah sebaliknya ketika sampai di Mandarka, Erawati telah kembali ke ujud semula, sekuntum bunga.

————————

Mendung telah tersaput angin. Cerah wajah Prabu Salya ketika menemukan kembali putri sulungnya dalam keadaan tak kurang suatu apapun. Tak lama kemudian setelah kedatangan Jaladara kembali ke Mandaraka, dipanggilnya Wasi Jaladara kehadapan Prabu Salya, “Kamu sudah membuktikan omonganmu bisa mengembalikan anakku Erawati. Dan aku juga akan membuktikan janjiku, tidak akan ingkar. Tetapi hendaknya kamu bersabar, tunggulah hari baik. Tapi lain dari itu, aku melihat ada raksasa wanita. Siapakah ia Jaladara?”.

“Silakan gusti Prabu menanyakan sendiri jati dirinya”. Jawab Jaladara takzim.

Heh wanita raksasa, siapakah dirimu sebenarnya?” Prabu Salya memandangi Raseksi itu sambil bertanya.

“Hamba adalah ibu dari Kartapiyoga yang telah terbunuh Jaladara.”

“Aku ingin tahu bagaimana kamu beserta keluarga dan para pengikutmu berdiam disuatu negara didalam air yang bernama Tirtakadasar?”

“Terus terang hamba sebagai istri dari Prabu Kurandayaksa sebenarnya dahulu hamba diculik. Ketika hamba sedang mencuci ditepi Bengawan Swilugangga, tidak mengerti datangnya bahaya, hamba diseret kedalam bengawan. Dari situlah hamba dijadikan istri dari Prabu Kurandayaksa. Demikian hingga yang terjadi, hamba mempunyai anak bernama Kartapiyoga itu”.

“Lho, andika itu berasal dari mana asal usulnya?” Ketertarikan akan jalan cerita raseksi itu, Prabu Salya kemudian menanyakan lebih dalam.

“Hamba adalah putri pendeta bernama Begawan Bagaskara, hamba terpisah dengan ayah hamba Begawan Bagaskara sejak saat itu. Ayah hamba dua bersaudara, yang muda bernama Begawan Bagaspati, dua duanya adalah pendita yang berujud raksasa. Juga berputri satu yang namanya adalah Pujawati. Hambalah yang bernama Tapayati”.

Terkesiap hati Dewi Setyawati, istri Prabu Salya yang ikut dalam lingkungan pembicaraan. Karena ialah putri dari Pendita di Argabelah, kakak beradik Begawan Bagaspati dan Begawan Bagaskara. Setyawati alias Pujawati bergerak mendekat ketika mendengar kisah dari Tapayati yang kemudian memeluknya, “Kanda, hambalah yang bernama Pujawati itu. Aku sudah beranak lima kanda!”.

Hening para hadirin yang ikut dalam sidang ketika melihat  keduanya saling berpelukan. Seakan mereka ikut merasakan betapa takdir telah mempertemukan kedua saudara misan itu dalam pertemuan yang tak diduga-duga. Ketika suasana haru tela mereda, Tapayati berkata memohon maaf kepada suami istri itu, “Mohon maaf Sang Prabu, bahwa anak hamba Kartapiyoga yang telah beraninya menculik saudaranya sendiri, Erawati.”

“Tapi aku masih heran, bagaimana Prabu Kurandayaksa bisa membuat Istana dalam air dan bermukim disitu?”. Tanya Prabu Salya.

“Itu adalah kekuatan dari pusaka yang bernama manik sotyaning candrama yang bisa digelar dan digulung. Bisa diringkas menjadi satu ujud seperti yang hamba bawa ini”.

“Oooh itukah bentuk pusaka itu?” Takjub Prabu Salya melihat kesaktian pusaka yang dibawa Tapayati

Kecuali dapat digelar dan digulung sebagai gelaran sebuah negara, pusaka ini juga dapat dibuat sarana untuk mengubah segala bentuk yang buruk menjadi ujud yang baik” tambah Tapayati.

“Apakah kira kira dapat dipakai untuk meruwat ujud ayunda yang serupa raseksi?”

Itulah yang sebenarnya hamba inginkan . . . . ”. Tapayati menjawab dengan wajah yang berharap.

Baiklah ayunda. Tahanlah nafas ayunda, aku akan merubah ujud ayunda sebagaimana yang ayunda inginkan”. Begitulah kesaktian pusaka manik sotyaning candrama tlah dijadikan sarana untuk mewujudkan keinginan Tapayati. Kehendak Dewa telah terjadi, Tapayati berganti ujud yang buruk menjadi sosok cantik mirip dengan dewi Setyawati.

Kembali Setyawati dan Tapayati berrangkulan haru. Kebahagiaan telah merebak diantara saudara trah Bagaspati dan Bagaswara. “Bagaimana hamba dapat mengucapkan terimakasih sinuhun?

“Tidak usahlah berterimakasih kepadaku.”

“Bagaimanapun, hamba harus mempunyai rasa terimakasih. Hamba berjanji, dinda Pujawati semogalah seluruh isi jagad menyaksikan, sampai ajal menjemput, kita berdua tak akan dapat terpisahkan.” Sumpah Tapayati akan terjadi. Hidup mereka berdua berakhir di padang Kurusetra ketika Prabu Salya gugur di medan perang Baratayuda.

Setelah hening sejenak, Prabu Salya berkata, “Tapi begini ayunda, karena ayunda sudah berujud manusia yang sempurna ujudnya, akan aku ubah nama ayunda dengan nama baru; Endang Sugandini”.

Demikianlah, mendung telah benar benar tersaput dari langit Mandaraka. Jaladara sabar menunggu waktu yang telah dijanjikan. Ketika waktu telah ditakdirkan, Jaladara yang kemudian menjadi suami setia dari Erawati, setia hingga akhir hayat. Wasi Jaladara atau Kakrasana bertahta di Mandura dengan jejuluk Prabu Baladewa

Link Pagelaran Wayang dari Ki Nartosabdo yang berhubungan dengan keseluruhan cerita Mendung diatas Mandaraka dapat dilihat di:

 http://www.mediafire.com/?5qojwb6u9csd1

atau ingin mempelajari pedhalangan lengkap dengan cerita ini, Bukunya dapat diunduh di:

http://wayangpustaka.wordpress.com/2009/11/28/160/

Peranakan Tionghoa Pelestari Wayang Jawa


Kompas.com/Adhika PertiwiIlustrasi

Lakon wayang kulit Jawa dengan pengantar bahasa Jawa, Mandarin, dan dialek Hokkian mungkin hanya bisa ditemui di Indonesia. Itulah keahlian Ki Dalang Widayat (72), peranakan Tionghoa asal Nganjuk, Jawa Timur.

Di Desa Kecubung, Kecamatan Pace, Nganjuk, Jawa Timur, warga baru saja mengadakan ruwatan awal tahun dengan menanggap wayang kulit yang dipimpin dalang Ki Widayat. Berkulit gelap dan bermata lebar, sejatinya Widayat dilahirkan dengan nama Tjioe Bian Djiang dari ayah bernama Tjioe Kok Hin dan ibu bernama RA Djoeariah, bangsawan dari Paku Alam, Yogyakarta.

”Setiap tahun, saya pasti main buat warga desa. Kemarin, pentasnya di depan rumah ini sambil menutup jalan. Kalau pentas di kota besar sudah jarang,” ujar Widayat di rumah menantunya yang dijadikan toko jamu Walisongo.

Tumpukan wayang kulit disimpan rapi di samping toko yang dijadikan ruangan tempat tinggalnya. Wayang itu berasal dari pelbagai zaman, bahkan ada yang berusia lebih dari satu abad.

Penganut kejawen itu menceritakan, kisahnya mendalami pedalangan berawal dari kebiasaan menonton wayang bersama ibunya; kedekatan dengan komunitas pelestari budaya, termasuk di kalangan Tionghoa; hingga akhirnya bergabung dengan Himpunan Budaya Surakarta, tempatnya menuntut ilmu pedalangan. Di tempat itu, ia bertemu seniornya, Harmoko, yang pada masa Orde Baru menjadi Menteri Penerangan. Ilmu pedalangan semakin terasah berkat bimbingan ayah angkatnya, Ki Dalang Soemomardjan, orang Belanda asal Leiden yang beristri orang Jawa.

Pada tahun 1960-an, Widayat aktif mendalang. Pentas perdana semalam suntuk dilakukan di Jakarta tahun 1962 dengan lakon ”Tumuruning Wahyu Katentreman” (Turunnya Kedamaian), disesuaikan dengan permintaan penanggap yang menyikapi suasana politik semasa Games of the New Emerging Forces (Ganefo) dan sikap Bung Karno yang menyatakan Indonesia keluar dari Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Kiprah Widayat mendalang menyurut pascagejolak politik tahun 1965. Para seniman pun tiarap. Bahkan, ia dimintai keterangan untuk menyatakan dirinya ”bersih”. Karena situasi politik saat itu, ia pun menjadi dalang antarkampung. Meski demikian, dia masih setia menjalani kehidupan yang njawani, seperti tirakat 40 hari.

Penampilan di luar tingkat desa, setelah 29 tahun penantian, baru kembali dinikmati pada tahun 2004 ketika tampil di Kia-Kia Kembang Jepun, Surabaya. Setelah itu, Widayat ditanggap dalam peringatan 600 Tahun Ekspedisi Zheng He (Cheng Ho) di Semarang.

Dalang peranakan Tionghoa pelestari wayang Jawa dari generasi muda masih dapat ditemui meski hanya dalam hitungan jari. Salah satunya adalah Tee Bun Liong (45) alias Sabdo Sutedjo asal Kedungdoro, Surabaya. Pria yang menjadi dalang cilik tahun 1976-1978 itu laris ditanggap di lingkungan warga, pejabat, kelenteng, dan gereja.

”Di luar tanggapan pentas di masyarakat atau perusahaan, saya sering main di ulang tahun kelenteng atau paroki. Setiap bulan bisa main dua-tiga kali,” ujarnya. Kecintaan Sabdo pada seni wayang purwa berawal dari keterlibatannya pada seni wayang wong.

Menurut Sabdo, ada juga dalang senior peranakan Tionghoa, yaitu Radya, asal Muntilan, Jawa Tengah. Widayat yang bersahabat dengan Ki Anom Suroto juga punya murid peranakan Tionghoa. Dari lingkungan keluarga, Widayat berharap Yoga Rizky (15), cucunya yang setia menonton dan membantunya, mau menjadi penerus.

Keindahan pemahaman lintas budaya, ujar pendiri Yayasan National Building, Eddie Lembong, merupakan aset yang memperkuat persatuan Indonesia. (Iwan Santosa)

Sumber :

http://oase.kompas.com/read/2012/01/22/08595119/Peranakan.Tionghoa.Pelestari.Wayang.Jawa

CERITA PANJI: REPRESENTASI LAKU ORANG JAWA


Oleh : KARSONO H SAPUTRA

Pengajar tetap pada Program Studi Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia

Dari : Jumantara (Jurnal Manuskrip Nusantara) Vol. 01 No.1 Tahun 2010 Perpustakaan Nasional 2010

Pengantar

Ada dua kemungkinan besar suatu teks (sastra) diciptakan atau ditulis. Kemungkinan pertama, suatu teks ditulis untuk mencatat apa yang pernah terjadi dan apa yang pernah ada dalam masyarakat sehingga teks tersebut kemudian menjadi sarana pengingat, baik bagi penulisnya maupun bagi masyarakat sebagai ingatan kolektif.

Dalam ranah sastra dan budaya Jawa, contoh ekstrim teks semacam ini adalah karya-karya yang kemudian dikelompokkan sebagai babad, yang juga disebut sebagai sastra sejarah, yakni suatu karya sastra yang ditulis berdasarkan peristiwa-peristiwa nyata namun penulisannya menggunakan pasemon atau perlambang yang diramu dengan berbagai unsur, antara lain sarasilah, hal-hal gaib, dongeng, legenda, dan mitos, yang kesemuanya berkelindan menjadi satu
kesatuan.

Kemungkinan kedua, teks diciptakan atau ditulis karena visi atau jangkauan masa depan. Contoh ekstrim teks semacam ini adalah teks-teks yang dapat dikelompokkan ke dalam “ramalan”, misalnya Jangka Jayabaya dan Serat Jakalodhang, yang secara perlambang mengisyaratkan peristiwa yang akan terjadi di kemudian hari. Sudah barang tentu ada pula teks yang ditulis dengan misi keduanya. Secara terbatas, teks-teks yang yang dikelompokkan ke dalam wulang dapat digunakan sebagai contoh.

Teks wulang berisi ajaran sosial berdasar sistem nilai yang berlaku ketika teks ditulis namun dengan jangkauan ke depan, dengan asumsi penerapan ajaran itu akan mengakibatkan kehidupan dunia akan berjalan secara harmonis.

Penelitian kecil ini didasari atas asumsi pertama, yakni suatu teks ditulis untuk mencatat apa yang pernah terjadi dan apa yang pernah ada dalam masyarakat, dengan cerita Panji sebagai objek penelitian, dan bahwa cerita Panji merupakan representasi laku bagi orang Jawa dalam mencapai kasampurnan.

Data Penelitian

Yang disebut cerita Panji adalah cerita dengan tokoh utama Panji (Inu Kertapati), seorang pangeran dari Jenggala, dan Sekartaji atau Candrakirana, sekar kedaton Kadiri, dengan latar tempat utama Jenggala, Kediri, Urawan, Singasari, dan (kadang-kadang) Gagelang.

Kedua orang putra raja itu dipertunangkan sejak kecil. Kisahan/cerita terjadi di seputar pengembaraan salah seorang di antara tokoh utama (Panji atau Sekartaji) dengan diikuti oleh para kadean ‘pengikut’ (untuk Panji) atau para emban ‘dayang-dayang’ (untuk Sekartaji) dan disusul oleh tokoh utama yang lain karena mencari tokoh utama yang pergi (Sekartaji atau Panji). Dalam pengembaraan itu tokoh utama selalu berperang dan mengalahkan musuhmusuhnya.

Kisah diakhiri dengan pertemuan kedua tokoh utama dalam perkawinan. Kedua tokoh itu—dan juga para pengikutnya—berganti nama atau menyamar dalam pengembaraan. Panji, misalnya, berubah nama menjadi Klana Jayengsari, Kudanarawangsa, Angronakung, dan seterusnya. Biasanya, nama samaran tokoh utama menjadi judul cerita. Meskipun demikian terdapat pengecualian pada Panji Angreni. Angreni, yang menjadi judul cerita, bukanlah nama samaran Panji ataupun nama samaran Sekartaji, melainkan nama putri Patih Jenggala Kudanawarsa. Panji mencintai dan mengawini Angreni. Namun percintaan itu tidak direstui oleh raja Jenggala. Oleh karena itu, berdasar tokohnya, cerita Panji dapat dikelompokkan ke dalam dua golongan besar, yakni cerita yang mengandung tokoh dan kisahan Angreni (Panji memiliki istri pertama dan kemudian istri tersebut dibunuh oleh suruhan raja Jenggala, ayah Panji) dan cerita yang tidak mengandung kisahan Angreni.

Nama tokoh utama Panji berasal dari kata panji atau apanji atau mapanji dalam bahasa Jawa kuna yang merupakan gelar bangsawan tinggi. Beberapa tokoh sejarah yang menggunakan nama panji atau apanji atau mapanji misalnya Panji Tohjaya, putra Ken Arok dengan Ken Umang, serta Sang Mapanji Angragani, salah seorang patih Singhasari yang memimpin Pamalayu pada zaman Raja Kretanagara. Adapun nama “Inu” berasal dari kata hino dalam bahasa Jawa kuna, yang merujuk pada golongan bangsawan tingkat tinggi; bahkan bukan tidak mungkin seorang putra mahkota (Slametmuljana, 1979: 163). Oleh karena itu, berdasar latar tempat dan latar waktu, dapat dimengerti jika tokoh utama cerita Panji bernama Panji (berikut nama Kudawaningpati) atau Inu (berikut nama Kertapati), yang merupakan putra mahkota kerajaan Jenggala.

Pigeaud (1967: 233) menyebut cerita Panji sebagai roman yang berkembang di pesisir2 Jawa Timur pada abad ke-16 sampai abad ke-17 sebelum masa kesusastraan Islam. Berg, dalam Baried (1987:3), mengemukakan teori bahwa cerita Panji terjadi pada zaman Pamalayu dengan tahun 1227 sebagai terminus a quo ‘perkiraan waktu paling awal suatu peristiwa terjadi’ dan tahun 1400 sebagai terminus ad quem ‘perkiraan waktu paling akhir suatu peristiwa terjadi’.

Poerbatjaraka (1968: 403–405) menolak pendapat Berg tersebut dengan dua alasan: (1) jika cerita Panji tersusun pada rentang waktu tahun 1227 sampai tahun 1400, pastilah ingatan orang (penyusun cerita) tentang (kerajaan) Singasari3 masih baik sehingga tidak akan mengacaukan keberadaannya sezaman dengan Jenggala dan Daha, serta (2) tidak pernah ditemukan bukti bahwa cerita Panji ditulis dalam bahasa Jawa kuna. Pendapat Poerbatjaraka mengenai tidak ditemukannya teks Panji berbahasa Jawa kuna didukung oleh Robson (1971) dan Zoetmulder (1983).4 Selanjutnya Poerbatjarakaberpendapat bahwa cerita Panji sezaman dengan Paraton,6 yang merupakan karya sastra prosa masa Jawa perengahan dan diperkirakan sezaman dengan penciptaan (penulisan?) beberapa teks kidung berlatar tempat Majapahit, misalnya Sundayana, Ranggalawe, dan Sorandaka. Gaya penceritaan cerita Panji pun mirip dengan gaya penceritaan kidung-kidung tersebut.

Secara garis besar bentuk cerita Panji dapat dikelompokkan ke dalam teks lisan, teks tulis, dan dalam seni rupa—yakni gambar (wayang beber) dan relief.7 Teks lisan cerita Panji muncul dalam bentuk cerita rakyat (dongeng) dan dalam seni pertunjukan.

 Dongeng yang dapat dikelompokkan ke dalam cerita Panji antara lain “Keong Emas”, “Timun Mas”, “Panji Laras”, “Andhe-andhe Lumut”, dan “Kethek Ogleng”. Berbagai teks Panji yang termasuk ke dalam dongeng ada yang kemudian ditulis ke dalam naskah dan/atau diterbitkan sebagai buku, bahkan ada yang dijadikan dasar lakon seni pertunjukan, terutama untuk anak-anak.

Dalam seni pertunjukan, cerita Panji menjadi dasar lakon berbagai wayang, (wayang beber, wayang wong, wayang topeng, dan wayang gedhog), pranasmara, kethoprak, dan darama tari lain; serta dalam berbagai teater rakyat keliling yang hidup dengan cara mbarang, baik ditanggap ‘dipanggil’ maupun pertunjukan keliling selama waktu tertentu, terutama pada musim panen, seperti andheandhe
lumut, kethek ogleng, dan reyog.

Dalam bentuk sastra tulis, berdasar informasi katalog-katalog koleksi naskah yang ada, terdapat banyak naskah yang mengandung cerita Panji Jawa, yang tersebar di Jakarta (Perpustakaan Nasional Republik Indonesia/PNRI dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia/FIB UI), Surakarta (Sasana Pustaka dan Radya Pustaka), Yogyakarta (Museum Sono Budoyo), serta Leiden, Negeri Belanda (Perpustakaan Univeritas Leiden dan Perpustakaan KITLV).8 Di samping itu kemungkinan ada naskah yang menjadi koleksi pribadi dan belum terdata atau terinformasikan kepada masyarakat umum melalui katalog atau sejenisnya. Di antara teksteks yang terkandung di dalam naskah itu beberapa di antaranya sudah diterbitkan, baik dengan maupun tanpa metode kerja filologi, misalnya Panji Narawangsa edisi Balai Pustaka yang kemudian dijadikan dasar disertasi dan kemudian diterbitkan oleh Kaeh (1989) dengan judul yang sama, Panji Priyembada dan Panji Jaya Lengkara (Sedyawati, 1989), Panji Jayengtilam edisi Balai Pustaka, Panji Angreni (Karsono, 1998); serta sebuah skripsi “Suntingan Teks Panji Jayakusuma” (Irawan, 2004).

Cerita Panji yang merupakan sastra Jawa kemudian juga dikenal di ranah sastra Melayu, Bali, Lombok, Sulawesi Selatan, dan bahkan ranah sastra Thai dan Kampuchea juga mengenal cerita Panji.9

Penelitian kecil ini menggunakan salah satu redaksi cerita Panji tulis, yakni Panji Angreni (selanjutnya disebut dengan PA) KBG 185 koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI).

Poerbatjaraka (1968: 400–401) menyebutkan bahwa kisahan Angreni—yang merupakan tradisi Gresik—”dimasukkan” ke dalam tradisi keraton Surakarta oleh Yasadipura I melalui Panji Jayalengkara. Teks Panji Jayalengkara baru inilah yang kemudian menjadi Panji Angreni, yang oleh Poerbatjaraka disebut dengan Panji Palembang berdasarkan keterangan pada kelopak depan naskah PA KBG 185. Teks ini dipilih semata-mata alasan bahwa¯ sepanjang catatan penulis¯ kelengkapan struktur naratifnya dibanding teks yang lain. Di samping itu, struktur teks tulis “tidak berubah” dibanding dengan teks lisan.

PA KBG 185 berukuran sampul 18,5 x 25,8 cm, ukuran kertas (alas tulis) 18 x 24,7 cm, dan kolom teks 18 x 17,5 cm. Ketebalan naskah 353 halaman dengan masing-masing halaman terdiri atas 15 baris tulisan, kecuali halaman 1 dan 2 yang masing-masing berisi sembilan baris. Kelopak naskah menginformasikan bahwa naskah ini merupakan salinan dari suatu naskah yang diterima sebagai hadiah dari residen Palembang¯ sehingga kemudian naskah ini oleh Poerbatjaraka disebut sebagai Panji Palembang¯ tetapi “naskah asli” tidak diketahui keberadaannya ketika penelitian ini dilakukan.

 Titimangsa menunjuk pada 4 Rabi’ulawal 1723 AJ (sengklalan: guna paksa kaswareng rat) atau tahun 1795 AD. Tahun tersebut merupakan tahun penyalinan dan bukan tahun penciptaan teks, mengingat bahasa teks lebih tua dari teks-teks yang ditulis pada periode yang sama. Teks ditulis dalam bentuk macapat, terdiri atas 48 pupuh ‘bab’. Teks sudah diterbitkan oleh Karsono (1988) meskipun bukan edisi filologis.

Struktur Naratif PA

Karsono (1998) menganilisis PA dengan teori struktural sebagaimana dikemukakan oleh Todorov. Salah satu hasil analisisnya adalah konfigurasi satuan cerita yang terdiri atas 140 satuan cerita dengan 52 satuan cerita yang menunjukkan adanya hubungan kausalitas. Konfigurasi satuan cerita kausalitas tersebut apabila diringkaskan menjadi sebagai berikut.

  1. Perkawinan Panji Inu Kertapati dengan Angreni.
  2. Tindakan Brajanata, suruhan raja Jenggala (ayah Panji), membunuh Angreni karena dianggap sebagai penghalang perkawinan Panji Inu Kertapati dengan Candrakirana, putri Kediri.
  3. Kesedihan Panji Inu Kertapati setelah mendapati mayat Angreni di muara Kamal.• Penjemputan sukma Angreni oleh Batara Narada, yang kelak akan diturunkan di Nusakancana dan menitis pada Ngrenaswara.
  4. Pengembaraan Panji dan para kadean; Panji dan para kadean beralih rupa dan berganti nama: Panji Inu Kertapati berganti nama menjadi Klana Jayengsari. •Penaklukan-penaklukan Bali, Balangbangan, Puger, Sandipura, Sandikoripan, Lumajang, Lobawang, Pananggungan, Pragunan, Sidapaksa, dan Pajarakan; usai setiap penaklukan, Klana Jayengsari memperoleh putri boyongan; putri atau saudara raja yang ditaklukkan itu kemudian diperistri oleh Klana Jayengsari.
  5. Tindakan raja Kediri minta pertolongan Klana Jayengsari untuk menghadapi ancaman raja-raja sewu negara yang hendak menyerang Kediri sebagai akibat penolakan lamaran mereka atas Candrakirana; Klana Jayengsari menetap di Kediri dan memperoleh hadiah Candrakirana setelah mengalahkan musuh-musuh Kediri. •Keyakinan Klana Jayengsari bahwa Candrakirana dan Angreni satu adanya berkat penjelasan Hyang Narada.
  6. Penyerangan Jenggala atas Kediri karena Jenggala mengganggap Kediri ingkar janji dengan mengawinkan Candrakirana dengan Klana Jayengsari, padahal Candrakirana telah dipertunangkan dengan Panji Inu Kertapati. Klana Jayengsari mengalahkan pasukan Jenggala.
  7. Penyerangan raja Nusakancana terhadap Kediri; Klana Jayengsari berhasil mengalahkan raja Nusakancana dan bala tentaranya; Klana Jayengsari menerima penyerahan diri Ngrenaswara, adik raja Nusakancana.
  8. “Penyatuan” Candrakirana dengan Ngrenaswara di laut saat Klana Jayengsari merayakan kemenangan; kedua istri Klana Jayengsari itu menjadi satu kesatuan secara gaib menjadi Candraswara.
  9. Kedatangan Bambang Sotama yang menyamar sebagai Panji Inu Kertapati bersama para kadean; raja Jenggala beserta laskarnya serta Bambang Sotama menyerang Kediri; pertempuran Bambang Sotama dengan Klana Jayengsari beserta para pengikutnya; Bambang Sotama dan pengikutnya kalah, sukmanya melesat ke langit; Klana Jayengsari dan pengikutnya kembali ke wujud asalnya: Klana Jayengsari menjadi Panji Inu Kertapati, sedang para pengikutnya lembali menjadi para kadean.
  10. Pertemuan seluruh keluarga: kebahagiaan abadi.

Konsep dan Teori

a. Kasampurnan

Hidup, bagi orang Jawa, diibaratkan sebagai suatu perjalanan. Beberapa proposisi (ungkapan) yang mempersamakan bahwa hidup sebagai suatu perjalanan misalnya urip mung mampir ngombe ‘hidup hanya sekedar mampir untuk minum’, mulih marang sangkan paran ‘kembali ke asal muasal’, dan urip mung saderma nglakoni ‘hidup hanya sekedar menjalani’. Bagi orang Jawa, kasampurnan hidup terjadi apabila dapat mulih marang sangkan paran, yang juga berarti menyatu kembali dengan sang khalik, ibarat curiga manjing warangka ‘bilah keris masuk kembali ke dalam sarungnya’, sedang kasampurnan dapat dicapai dengan laku.

 Zoetmulder (1990) menyatakan bahwa hubungan manusia—secara tegas: aku—dengan Tuhan merupakan hubungan pribadi. Oleh karena itulah pencarian Tuhan (laku) tidak dilakukan secara massal, melainkan secara pribadi. Bagi orang Islam, misalnya, dzikir menjadi semacam latihan yoga dalam pernapasan yang makin lama ditahan dan makin lambat dikeluarkan.

Sebagaimana telah disebutkan di atas, bahwa cerita Panji tumbuh pada masa peralihan antara masa Hindu-Buda ke Islam, sehingga terminologi Islam sebagaimana disebut Zoetmulder mungkin belum benar-benar merasuk dalam kehidupan orang Jawa pada masa itu; bahkan laku dalam pengertian ‘perjalanan religius (manusia) untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan’ tidak ditemukan dalam kosa kata bahasa Jawa kuna. Meskipun demikian hubungan antara manusia dan Tuhan bersifat pribadi ditemukan pula dalam terminologi Hindu-Buda.

Rahardjo (2001: 181–189) menyebutkan bahwa dalam agama Hindu kebenaran terting-gi atau prinsip tertinggi selalu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan akhir kehidupan manusia serta bentuk dan upaya manusia untuk mencapai tujuan tersebut. Tujuan hidup manusia bagi penganut Hindu adalah untuk menyatu kembali dengan sumber dari segala apa yang ada, yakni Brahman. Berdasar kepercayaan ini, hidup manusia sejak lahir hingga mati ibarat perjalanan suci, yang dalam perjalanan suci itu terdapat sejumlah tempat perhentian tetapi bukan titik akhir. Penghentian terakhir dari perjalanan adalah mokºa, yakni kembali menyatu dengan Brahman, sumber dari segala yang ada, sehingga tidak perlu dilahirkan kembali ke dunia fana.

Hadiwijono (1971: 25–29) menjelaskan bahwa pengertian awal Brahman adalah “… ilmu atau ucapan yang suci atau ucapan yang suci, suatu nyanyian atau mantera, sebagai pernyataan yang konkret dari hikmat rohani”, namun seiring dengan perjalanan agama Hindu pengertian Brahman berkembang menjadi “ … zat alam semesta, hidup di dalam segala yang hidup, yang tetap berada, kenyataan yang sebenarnya terhadap segala yang bersifat semu dari yang tampak ini”. Hanya Brahmanlah yang nyata dan merdeka, dan dapat disebut “yang menjadikan dunia”. Proses “menjadikan” tidak berarti menciptakan, namun “mengalir” dengan sendirinya dari Brahman. Atman merupakan pasangan Brahman. Atman pada mulanya adalah napas, jiwa, dan pribadi; kemudian berkembang menjadi pribadi (dzat) manusia. Atman adalah subjek yang tetap ada di tengah segala yang berubah. Manusia, yang dikuasai samsara karena keinginan-keinginannya, harus melepaskan keinginankeinginan itu untuk mencapai mokºa, pergi ke Brahman. Dengan kata lain, kelepasan atau mokºa berarti kebersatuan antara Atman dan Brahman. Dalam dunia kedewataan, peran oeakti (: kekuatan, dilambangkan sebagai istri dewata) amat penting dan kesatuan itu diwujudkan dalam bentuk persatuan dewata dengan oeakti-nya.10

b. Laku

Secara harfiah laku berpadanan dengan ‘perjalanan’. Dalam kebudayaan Jawa, laku memiliki pengertian ‘perjalanan religius (manusia) untuk mencapai kesatuan dengan Tuhan’, dilaksanakan dengan matiraga sebagai wujud pengendalian hawa nafsu. Matiraga memiliki berbagai bentuk pelaksanaan antara lain 1) sesirih atau ngurang-ngurangi ‘mengendalikan’, misalnya mengurangi makan dan minum, mengurangi tidur, dan mengurangi menikmati kamukten ‘kemuliaan’, 2) nenepi ‘pergi ke tempat sepi untuk tafakur’, dan 3) tarak brata ‘bertapa untuk menyatukan hati dan pikiran’.

Sudah barang tentu tataran laku tergantung pada pencapaian kedewasaan penghayatan terhadap kasampurnan: semakin tinggi tataran batin yang telah dicapai kian tinggi pula tingkat laku yang ditempuh seseorang.

c. Semiotika

Peirce menyebut bahwa segala sesuatu—termasuk teks—berkemungkinan menjadi tanda (representamen) selama sesuatu tersebut merupakan representasi dari objek (denotatum) dan dapat diinterpretasikan (interpretan). Ada syarat yang harus juga dipenuhi agar representamen dapat diterima sebagai tanda, yakni adanya ground. Yang dimaksud dengan ground adalah persamaan pengetahuan yang ada dalam pikiran pengirim dan pikiran penerima. Apabila ground tidak ada, maka representamen tidak dapat dipahami oleh penerima, sehingga representamen tak dapat disebut sebagai tanda. Hubungan objek (O) dengan representamen (R) dan interpretan (I). Hubungan tersebut dinyatakan melalui segitiga semiotika.

Gambar 1:

Analisis

Dalam kerangka semiotika, PA pertama-tama haruslah dianggap sebagai tanda yang merepresentasikan suatu objek dan mempunyai interpretan. Teks PA tidak hadir dengan sendirinya, melainkan merepresentasikan objek atau denotatum. Objek yang diwakili oleh PA mestinya cerita Panji yang ada dalam masyarakat. Adapun interpretannya adalah struktur naratif PA. Dengan demikian dalam segitiga semiotika PA sebagai tanda dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 2:

Hubungan antara R dan O merupakan hubungan ikon metaforis karena adanya kemiripan namun tidak secara mutlak. Kemiripan terutama terletak pada kerangka cerita berikut nama tokoh-tokoh dan latar tempatnya. Hal ini terjadi karena cerita Panji dalam masyarakat beredar dalam beragam “bacaan”. Adapun
hubungan antara O dan I merupakan argument, sebab hubungan itu merupakan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan: struktur naratif PA yang merupakan wujud tekstual teks PA tak lain merupakan reperesentasi dari cerita Panji yang terdapat dalam masyarakat Jawa.

Pemaknaan di atas baru pada tataran pertama, karena pemaknaan masih terus berlanjut. Interpretan tataran pertama (I1) dapat berkembang menjadi R2 yang merepresentasikan O2 dan menghasilkan I2, yang selanjutnya I2 menjadi R3 yang merepresentasikan O3 dan menghasilkan I3, demikian dan seterusnya. Proses pemaknaan demikian disebut sebagai proses semiosis.

Dalam kerangka proses semiosis inilah pemaknaan PA tampaknya harus dirunut jauh ke belakang pada masa purwarupa cerita Panji terbentuk hingga proses pembentukannya sebagai teks tulis sebagaimana dilakukan oleh Rassers (1922) yang mengaitkan cerita Panji dengan sistem masyarakat purba Jawa dan kepercayaan totemisme. “Pembacaan” teks-teks lama Jawa semacam itu juga disarankan oleh Berg (1974). Demikian pun Wellek dan Austin (1976: 94) mengatakan bahwa “sastra menyajikan lehidupan, dan kehidupan sebagian merupakan kenyataan sosial, walaupun sastra meniru alam dan dunia subjektif manusia”.

Berbeda dengan penelitian Rassers yang menyebutkan bahwa cerita Panji merupakan representasi inisiasi persekutuan (perkawinan) kedua kelompok kerabat masyarakat purba Jawa yang ditunjukkan melalui pengembaraan tokoh utama—Panji dan Candra Kirana—sebelum mereka dewasa dalam perkawinan, penelitian ini bertolak pada hipotesis bahwa cerita Panji merupakan representasi kepercaan Hindu-Buda tentang persatuan dengan Yang Mutlak, yang dalam mistik Islam kemudian menjadi manunggaling kawula dan Gusti.

Berdasar uraian di atas proses semiosis teks PA menjadi sebagai berikut. Gambar 2 di atas mengemukakan bahwa R1 adalah teks PA sebagai representamen dari O1 berupa cerita Panji yang ada dalam masyarakat Jawa. Selanjutnya I1, yakni berupa struktur naratif PA, berproses menjadi R2 yang merupakan representamen dari O2 berupa kisah pengembaraan/pencarian Panji dengan I2 berupa struktur naratif pengembaraan PA. I2 berproses menjadi R3 yang mewakili O3 sistem religi Hindu berupa proses penyatuan Atman dan Brahman dengan I3 berupa satuan-satuan naratif (episode) PA.

I3 berproses menjadi R4 yang mewakili O4 berupa persatuan Atman dan Brahman dengan I4 berupa satuan naratif pertemuan Panji dengan kekasihnya (Angreni/Candrakirana/Ngrenaswara) dalam bentuk Candraswara.

Hubungan antara O1 dan R1 serta antara O2 dan R2 merupakan hubungan ikon metaforis: ada klemiripan antara O1 dan R1 serta antara O2 dan R2, meskipun bukan kemiripan secara keseluruhan. Adapun hubungan antara O3 dan R3 serta antara O4 dan R4 merupakan hubungan ikon topologis karena adanya kemiripan bentik O3 dan R3 serta antara O4 dan R4.

Berdasarkan uraian di atas, proses semiosis tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 3:


Yang masih menjadi pertanyaan adalah hubungan antara O dan I. Terdapat tiga macam hubungan antara tanda dan interpretannya, yakni rhême, discent, dan argument. Tanda merupakan rhême bila dapat diinterpretasikan sebagai representasi dari suatu kemungkinan objek, namun hasil interpretasi tak dapat dikatakan benar atau salah. Rhême merupakan suatu kemungkinan interpretan. Tanda merupakan discent bila tanda tersebut menawarkan hubungan yang benar ada atau tidak ada, benar atau salah, bagi interpretannya, baik dengan penjelasan maupun tanpa alasan. Suatu tanda merupakan argument apabila sudah menunjukkan perkembangan dari premis ke kesimpulan yang cenderung mengarah pada kebenaran. “Manusia memerlukan makan untuk hidup. Dadap seorang manusia. Dadap memerlukan makan untuk hidup”. Ketiga proposisi ini membentuk argumen, tetapi setiap kalimat kohern, serta menunjukkan kebenaran.

 Pada tahap pertama semiosis, sebagaimana dinyatakan pada gambar 2, hubungan antara O dan I merupakan hubungan argument, sebab hubungan antara Cerita Panji yang beredar dalam masyarakat Jawa (O) dan struktur naratif PA (I) merupakan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Namun apakah hubungan antara O2 dan I2, O3 dan I3, serta O4 dan I4 juga merupakan hubungan yang bersifat argument?

Hubungan antara O2 dan I2 memang masih menunjukkan hubungan argument karena kebenarannya masih dapat dipertanggungjawabkan. Adapun hubungan antara O3 dan I3, serta O4 dan I4 sesungguhnya merupakan hubungan interpretatif dengan kebenaran yang hanya dapat diyakini oleh masyarakat yang hidup pada masa penciptaan dan pertumbuhan cerita Panji. Jika demikian apakah hubungan antara O3 dan I3, serta O4 dan I4 merupakan discent karena hubungan itu bisa benar namun bisa juga salah?

Dalam kenyataan, sebagaimana dinyatakan pada awal tulisan ini, sesuatu ditulis setidaknya memiliki representasi atas dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, sesuatu ditulis untuk mencatat sesuatu yang pernah ada atau yang pernah terjadi.

Kemungkinan kedua, sesuatu ditulis karena visi atau jangkauan masa depan. Tampaknya kemungkinan pertamalah cerita Panji tercipta atau ditulis, apalagi jika hal ini dihubungkan dengan asumsi Poerbatjaraka (1968) bahwa pada masa Majapahit akhir orang Jawa mencari bacaan baru serta semangat kejawaan yang semakin merebak pada masa akhir Majapahit. Jika asumsi ini benar, tampaknya hubungan antara tanda dan interpretannya pada proses semiosis tahap tiga dan tahap dan empat memiliki hubungan yang bersifat argument, sehingga keempat tahap proses semiosis itu dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 4:

Di sisi lain sosok Panji Inu Kertapati (Klana Jayengsari) merupakan represen-tamen yang merepresentasikan Atman sebagai objek. Panji melakukan perjalanan atau pengembaraan mencari kekasihnya, Angreni, yang konon menurut Batara Narada kelak akan menitis pada Ngrenaswara, adik raja Nusakancana. Perjalanan Panji Inu Kertapati (Klana Jayengsari), yang semula ingin mencari kematian karena diilhami oleh kisah raja Angling-darma, ternyata merupakan kisah peperangan dan pertempuran untuk menaklukkan musuh-musuhnya. Musuh-musuh itu pun dalam terminologi kejawen sesungguh-nya merupakan representasi nafsu dirinya sendiri. Setiap kali usai penaklukan, Panji Inu Kertapati (Klana Jayengsari) menemukan kebahagiaan dengan memperoleh istri baru. Namun kebahagiaan tersebut sesungguhnya bukan kebahagiaan baka, bukan kebahagiaan kekal, sebab yang sebenarbenarnya dicari belum ditemukan: Angreni. Segitiga semiotik tokoh Panji sebagai suatu tanda dan proses semiosisnya dapat dinyatakan sebagai berikut.

Gambar 5:

Hubungan antara representamen dan objek atau denotatum merupakan simbol karena adanya kesepakatan di antara penganut Hindu pada masa itu mengenai konsep manusia dalam kedudukannya dengan makrokosmos. Demikian pun hubungan antara objek dan interpretan merupakan hubungan yang bersifat argument karena kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan Dengan pola yang sama, Candrakirana pun dapat dianggap sebagai tanda (representamen) yang mewakili objek Brahman, yang menjadi tujuan akhir pengembaraan atau perjalanan Panji Inu Kertapati. Di sisi lain, Panji juga dapat menjadi representamen atas dewa yang berupaya menyatu dengan oeakti-nya; sehingga Candrakirana juga dapat dibaca sebagai representamen dari objek oeakti ‘istri’ dewa. Persatuan dewa dan oeakti-nya akan menciptakan kekuatan (kebahagiaan).

Hasil pendekatan semiotik untuk mencari makna teks lama bagi masyarakat yang melahirkan sebagaimana ditunjukkan dalam analisis di atas belum tentu memiliki kebenaran mutlak, atau pemaknaan bahkan mungkin salah, karena tidak ada perangkat untuk pembenaran dengan mengacu pada masyarakat bersangkutan. Meskipun demikian setidak-tidaknya hasil temuan pende-katan ini dapat menjadi bahan diskusi.

 Kebenaran atas analisis di atas dapat dipertahankan apabila 1) Panji dapat dianggap mewakili atau dapat diterima sebagai representasi dari orang Jawa secara orang per orang, 2) Angreni, Candrakirana, dan/atau Angrenaswara dapat dianggap sebagai representasi “kebenaran abadi” dan “kebahagiaan abadi”
sebagaimana halnya dalam kosmogoni Hindu sebagai oeakti dewa, dan 3) pengembaraan Panji Inu Kertapati (yang dalam pengembaraan itu berganti nama menjadi Klana Jayengsari) adalah representasi laku orang Jawa untuk mencapai kasampurnan dapat diterima.

Dalam hal tokoh Panji sebagai representasi orang Jawa secara orang per orang agaknya harus dirunut pada proses “kelahiran” cerita Panji di tengah-tengah sastra Jawa kuna yang sangat dipengaruhi oleh sastra India, baik bentuk maupun kandungan isinya. Cerita Panji konon merupakan cerita “asli” Jawa, sehingga tokoh Panji pastilah juga tokoh asli Jawa. Jika apa yang dikatakan oleh Scott (1974: 123) bahwa “Seni tidak tercipta dari kekosongan” benar, kehadiran cerita dan tokoh Panji pastilah ada acuannya.

Dugaan yang paling mudah tentang acuan “dunia nyata” tokoh Panji adalah orang atau tokoh yang pernah ada dalam kehidupan nyata. Siapa pun orang ataupun tokoh tersebut—yang oleh Poerbatjaraka dipersamakan dengan Kamesywara I, meskipun banyak yang menentangnya—dapat dianggap sebagai representasi orang Jawa, setidaknya tokoh citraan ideal orang Jawa.

Adapun Angreni, Candrakirana, dan/atau Angrenaswara merupakan representasi kebenaran dan/atau kebahagiaan abadi bagi Panji dapat dirunut secara tekstual dalam PA. Angreni merupakan sandaran “kebahagiaan” awal Panji. Ketika kemudian Angreni meninggal dan tubuhnya musnah, Panji “mengejar” Angreni. Panji belum menemukan yang dicarinya sekalipun Candrakirana—yang ditemuinya di istana Kediri—sama persis dengan Angreni. Baru setelah terjadi kemukjizatan atas kuasa Hyang Narada: Angreni dan Candrakirana menyatu dalam diri Angrenaswara, Panji menemukan kebahagiaan abadi.

 Bahwa pengembaraan Panji Inukertapati sebagai representasi laku tentulah harus dirunut secara tekstual pula. Satuan peristiwa “Pengembaraan Panji dan para kadean; Panji dan para kadean beralih rupa dan berganti nama: Panji Inu Kertapati berganti nama menjadi Klana Jayengsari” akibat “tindakan Brajanata, suruhan raja Jenggala (ayah Panji), membunuh Angreni” merupakan “kelahiran” Panji Inu Kertapati atas kesadaran perjalanan kehidupannya. Ia harus mencari dan menggapai kebahagiaan abadi. Pencapaian itu harus dijalaninya dengan laku melalui pengembaraan. Dalam menjalani laku itu ia melakukan sesirih, nenepi, dan tarak brata; sudah tentu peristiwa-peristiwa itu dilakukannya secara simbolis.

Sesirih, misalnya, ditunjukkan oleh Panji dengan penerapan aji asmaragama atau asmaranala karena tuntutan kewajiban sebagai lelananging jagad terhadap putri-putri boyongan yang menjadi selirnya. Panji “mengendalikan diri” dan hanya melakukan hubungan badan dengan dengan putrid yang diyakini sebagai Angreni. Demikian pun dengan nenepi dan tarakbrata yang memang dinyatakan secara tekstual.

Simpulan

Analisis semiotika terhadap PA secara selintas memang memberi bukti bahwa PA ditulis untuk mencatat apa yang pernah terjadi dan apa yang pernah ada dalam masyarakat. PA juga merupakan representasi laku orang Jawa untuk mencapai kasampurnan abadi. Meskipun demikian hasil analisis itu belum definitif sifatnya karena masih harus dibuktikan dengan perangkat dan metodologi yang lebih sahih. Meskipun demikian, temuan itu dapat mengundang pemikiran lebih lanjut.

Catatan Kaki :

2 Dalam Kebudayaan Jawa (baru), istilah “pesisir” memiliki dua pengertian, yakni (1) wilayah di luar negari gung Mataram—Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat—dan (2) wilayah di sepanjang pantai (Karsono, 2005: 8). Dalam tulisan ini, pesisir merujuk pada pengertian wilayah di sepanjang pantai

3 Berdasar data sejarah, kerajaan Daha atau Kadiri berakhir pada tahun 1222, sedang kerajaan Singasari didirikan oleh Ken Arok setelah keruntuhan Kadiri (Slametmulyana, 1979).
4 Zoetmulder (1983: 533) mengatakan bahwa tak ada satu pun kakawin yang menampilkan kisah Panji, sedang Robson (1971: 11) mengatakan bahwa “In Javanese, it is not found in kakawin or prose form, only kidung, both tengahan and macapat”.
5 Poerbatjaraka, op.cit., hlm. 405-407. Dalam hal ini yang dimaksud oleh Poerbatjaraka tentulah cerita Panji tulis (naskah).
6 Salah satu teks Pararaton, yakni yang termuat ke dalam naskah no. 19 L. 600 koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), digubah pada tahun 1600 AD (dengan sengkalan ‘kronogram’ loro paksa misayeku/1522 Ç).
7 Munandar (1992: 6–9) mengidentifikasi relief-relief di Gambyok (Kediri), teras II Panataran, dan punden berundak Gunung Pananggungan merupakan relief yang menggambarkan tokoh Panji. Dari kajian arkeologis, bangunan-bangunan tersebut berasal dari masa Majapahit akhir.

8 Kaeh (1989: 349–357) mendaftar 329 naskah Panji, 140 buah di antaranya mengandung teks Panji Jawa; namun daftar naskah tersebut “campur aduk” dan beberapa di antaranya mengandung teks tidak lengkap, hanya berupa ringkasan. Baried (1987: 206–218) juga mendaftar naskah yang mengandung teks Panji, 92 di antaranya mengandung teks Panji Jawa. Setelah dicocokkan dengan katalog-katalog yang terbit di kemudian hari, banyak di antara naskah-naskah tersebut sudah tidak ada dalam koleksi dan beberapa di antaranya mengandung teks lakon

9 Lihat Poerbatjaraka (1968), Pigeaud (1967), Baried (1987: 1–2), Saleh (1988), dan Kaeh (1989: 8–11). Persebaran cerita Panji ke Kampuchea dan Thailand tampaknya tidak langsung dari Jawa, melainkan melalui sastra Melayu. Teks-teks tersebut sebagian ditulis pada dasawarsa kedua abad ke-19 dan sebagian yang lain lebih muda, mamun Saleh (1988: 44) memperkirakan abad ke-16 hingga awal abad ke-17 orang Patani sudah mengenal cerita Panji dan kemudian dibawa ke Ayutthaya pada masa pemerintahan Phracau Yu Hua Barommakot (1732–1758).

DAFTAR PUSTAKA
Baried, Siti Baroroh, dkk.
1987 Panji: Citra Pahlawan Nusantara. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Berg, C.C.
1974 Penulisan Sejarah Jawa, diterjemahkan oleh S. Gunawan.
Jakarta: Bhratara.
Hadiwijono, Harun
1971 Agama Hindu dan Buddha. Djakarta: Badan Penerbit Kristen.
Kaeh, Abdul Rahman
1989 Panji Narawangsa. Kualalumpur: Dewan Bahasa dan
Pustaka Kementrian Pendidikan Malaysia.
Karsono H Saputra
1998 Aspek Kesastraan Panji Angreni. Depok: Fakultas Sastra
Universitas Indonesia.
2005 Percik-Percik Bahasa dan Sastra Jawa. Jakarta: Wedatama Widya
Sastra.
Munandar, Agus Aris
1992 “Cerita Panji dalam Masyarakat Majapahit Akhir” dalam
Lembaran Sastra Universitas Indonesia 17/Juli 1992, hlm. 1-
16. Depok: Fakultas Sastra UI.
Pigeaud, Theodore G. Th.
1967 Literature of Java. Catalogue Raisonné Javanese Manuscripts in
the Library of the University of Leiden and Other Public Collections
in the Netherlands. The Hague: Martinus Nyhoff.

Poerbatjaraka, R.M.Ng.
1968 Tjerita Pandji dalam Perbandingan, diterjemahkan oleh Zuber
Usman dan H.B. Jassin. Djakarta: Gunung Agung.
Rahardjo, Supratikno
2002 Peradaban Jawa. Dinamika Pranata Politik, Agama, dan Ekonomi
Jawa Kuno. Jakarta: Komunitas Bambu.
Rassers, W.H.
1922 De Pandji-Roman. Antwerpwn: D. de Vos-Van Kleff.
Robson, S.O.
1971 Wangbang Wideya. The Hague: Martinus Nijhoff.
Saleh, Ratiya
1988 Panji Thai dalam Perbandingan dengan Cerita-Cerita Melayu.
Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian
Pendidikan Malaysia.
Scott, Wilbur
1974 Five Approaches of Literary criticism. New York-London: Collier
Books-Collier Macmillan Publishers.
Sedyawati, Edi
1982 “Kata Pengantar” dalam Kern, Çiva dan Buddha. Dua
Karangan tentang Çiva¿sme dan Buddhisme di Indonesia. Jakarta:
Penerbit Djambatan.
Slametmuljana
1979 Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
Karya Aksara.
Wellek, René dan Austin Warren
1967 Theory of Literature. Auckland: Penguin Books.
Zoetmulder. P.J.
1983 Pantheism and Monism in Javanese Suluk Literature. Islamic and
Indian Mystycism in an Indonesian Setting, edited and translates
by M.C. Ricklefs. Leiden: KITLV Press.
Zoetmulder. P.J.
1990 Manunggaling Kawula Gusti. Pantheïsme dan Monisme dalam
Sastra Suluk Jawa. Suatu Studi Filsafat, diterjemahkan oleh Dick
Hartoko. Jakarta: PT Gramedia 1990, bekerja sama dengan
Perwakilan Koninklijk Institut voor Taal-, Land-, en
Volkenkunde dan Ilmu Pengetahuan Indonesia.

DAFTAR BACAAN SEMIOTIK
Christomy, Tommy
2004 “Peircean dan Kajian Budaya” dalam Semiotika Budaya, T.
Christomy & Untung Yuwono (peny.). Depok: Pusat Penelitian
Kemasyarakatan dan Budaya Direktorat Riset dan Pengabdian
Masyarakat Universitas Indonesia.
Hoed, Benny. H.
2002 “Strukturalisme, Pragmatik, dan Semiotik dalam Kajian
Budaya. Sebuah Pengantar” dalam Indonesia Tanda yang Retak,
Tommy Christomy (peny.). Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Nöth, Winfried
1990 Handbook of Semiotik. Bloomington and Indiana Polis: Indiana
University Press.
van Zoest, Aart
1993 Semiotika. Tentang Tanda, Cara Kerjanya dan Apa yang Kita
Lakukan Dengannya, diterjemahkan oleh Ani Soekawati.
Jakarta: Yayasan Sumber Agung.
Zaimar, Okke K.S.
2008 Semiotik dan Penerapannya dalam Karya Sastra. Jakarta: Pusat
Bahasa Pendidikan Nasional.

Mendung diatas Mandaraka [6] : Semar mBarang Jantur


Dikisahkan kembali oleh: MasPatikrajaDewaku (PPW 11-01-0006)

Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang melihat keadaan itu, tergopopoh-gopoh mendapatkan momongannya yang tergeletak tak berdaya. Petruk memijit mijit kaki, sedangkan Bagong mengipas-kipaskan daun waru ke tubuh Pamade. Semar yang sedikit banyak mengerti cara mengatasi masalah pengobatan sibuk memijit dan mengurut tubuh Pamade. Tak lama kemudian Pamade sadar dan membuka matanya.

Melihat momongannya membuka mata, Semar segera menghujani pertanyaan menyangkut sebab musabab peristiwa yang terjadi. “Eeh sampeyan kenapa ini? Bagaimana ini bisa terjadi? Sudah terbiasa sampeyan melawan para raksasa berapa ribu-pun tidak terjadi seperti ini. Apakah sampeyan terkena taring dari para raseksa yang menghadang tadi?”

“Kalaupun aku digigit oleh para raksasa, tidak akan terjadi, taring raksasa itu melukai kulitku”.

Gimana tadi gus, kenapa bisa terjadi seperti itu? Begitu juga Gareng dan Bagong ikut menambahi pertanyaan-pertanyaan konyol.

“Kakang, bagaimana aku bisa seperti ini, kakang, Aku tidak kuat bergerak, semua badanku terasa ngilu. Kepala ini terasa berdenyut dan keringat dingin mengalir disekujur tubuh ini”. Dengan masih tetap berbaring, Pamadi menijit kepalanya yang masih juga terasa berat dan pening.

“Eeeh ampuh omongan Surtikanti. Sampeyan-lah yang sebenarnya bersalah. Pada saat ndika hendak pergi waktu itu kan telah diajak mampir oleh putri putri Prabu Salya, Surtikanti dan Banuwati. Sampean tidak mau, ketika diajak oleh Sutikanti. Tetapi ketika diajak mampir oleh Banuwati, sampeyan nurut. Itulah yang membuat Surtikanti kecewa dan menyumpahi sampeyan. Kalau sampeyan lapar jangan sampai menemukan makanan, kalau kehausan jangan sampai menemukan air walau seteguk. Marilah kita berjalan lagi tinggal selangkah lagi kita bakal menemukan pedesaan. Dan disana pasti kita dapat menemukan orang yang memasak makanan. Nanti disana, saya akan mencarikan orang yang mau memberi kita makanan” Semar masih mengingatkan peristiwa tadi dihubungkan dengan kata serapah Surtikanti ketika di Mandaraka.

“Aduh kakang, aku sudah tidak kuat lagi bangun”. Pamade masih mengeluhkan apa yang dirasa. Semar berpikir sejenak, bagaimana caranya mengatasi keadaan yang terjadi tiba-tiba ini.

Sejurus kemudian dipanggilnya ketiga anaknya, “Toleee, Petruk Gareng dan Bagong, ayo kita gendong momongan kita ketempat yang teduh dibawah pohon gendayakan itu”.

Ketiganya kemudian menggotong tubuh momongannya yang memang sangat lemah itu. Setelah keadaan menjadi lebih baik, Semar kemudian mengumpulkan ketiga anaknya, agar mendekat dan berrembug mencari pemecahan bagaimana jalan keluar dari persoalan itu “Tolee aku benar benar bingung merasakan keadaan momongan kita. Lho kok bisa terjadi seperti itu, kalau hanya tidak makan beberapa hari kemarin, rasanya nggak bakal seperti itu kejadiannya”.

Petruk kemudian memberikan pandangan kepada bapaknya yang sekiranya bisa dijadikan dasar pemikiran selanjutnya, “Tetapi mungkin  ini sebenarnya karena ampuhnya kata-kata orang yang dibuat kecewa”.

Sekarang usaha kita bagaimana? Tanya Semar, yang kemudian disambungnya. Cara kita bagaimana supaya  kita secepatnya mendapatkan makanan?”.

“Kita masak nasi saja Ma? “Gareng mencoba mengusulkan. Kemudian ia melanjutkan idenya, ‘”Supaya kita dapat cepat dapat makanan, kita masak nasi saja. Kalau masalah lauk itu belakangan. Yang penting nasi harus ada. Kalau dalam keadaan kepepet, kecap sama bawang-pun bisa menjadi lauk yang enak”.

“Kalau gitu ayoh cepat cepat masak nasi, kamu bawa beras? “Semar cepat menjawab dengan tidak banyak pikir.

“Nggak bawa kok. Kalau ada, ya pasti kita sudah dari kemarin kita masak buat momongan kita”. Jawab Gareng kemudian

Semar diam karena jawaban Gareng yang tidak masuk akal. Kemudian dipanggilnya nama anaknya yang lain, “Petruk, bisanya kita dapat makan kita harus bagaimana?”

“Cari!’

“Dimana?”

“Ketempatnya”.

“Kamu sudah tau tempatnya?”

“Belum”. Jawab Petruk tidak memecahkan masalah. “Bagaimana kita cari makan kalau kita sendiri juga sudah kecapaian begini?!”

Sekarang dipanggilnya Bagong, walaupun Semar sudah menduga, kalau kali ini juga Bagong pasti juga jawabanya tidak akan memuaskan, “Bagong!?”

“Apa?”

“Bagaimana supaya kita dapat makan gimana Gong?”

“Nyuri!” usul Bagong dengan wajah lugunya. Lha gimana kita dapat makan kalau kita sekarang juga dalam keadaan lapar begini kok ditanyai”.

Tetapi sejurus kemudian Semar semringah. Ia telah menemukan cara bagaimana mengatasi masalah. “Gini saja, kita cari makan tapi dengan cara yang halal. Kita akan ngamen Jantur. Kamu tau apa itu Jantur?”

“Lho menghina?!’ Aku ini orang yang penuh dengan kesusasteraan. Jantur, dapat dari kata Jan dan Tur. Tukijan rumahnya di mBatur.” Petruk menjawab asal-asalan, begitu juga Gareng dan Bagong masing masing menyampaikan arti kata jantur. Semuanya ngaco.

Semar menyalahkan omongan anak-anaknya, katanya, “Oooh goblok. Jantur itu artinya cerita. Aku mau ngamen dengan bertutur cerita, dan nanti akan aku barengi dengan sulapan”.

Maka ketika mereka sudah sepakat, keempat panakawan itu segera menyiapkan perlengkapan ngamen. Berbekal arah adanya asap yang mengepul yang kelihatan dari dalam hutan, mereka berangkat kearah pedesaan yang terdekat.

Setelah sampai di pedesaan pinggir hutan, mereka mulai menggelar kemampuan mereka dengan cerita dan banyolan kadang disertai dengan nyanyian dan joged. Mereka berjalan sambil mengamen dari rumah ke rumah, dari desa ke desa,  hingga sampailah mereka di padukuhan yang bernama Widarakandang. Sebuah desa yang terhitung agak besar dan berpenduduk lebih banyak banyak. Tidak heran, karena keadaannya lebih baik dibanding desa tetangga karena kesuburan dan keasrian alamnya.

Disebuah rumah demang Widarakandang, berdiam Putri Raja Mandura bernama Dewi Bratajaya. Dialah adik dari Kakrasana atau sebagai pertapa bernama Wasi Jaladara. Tinggal pula disitu kakak Bratajaya yang lain, Narayana, putra kedua dari Prabu Basudewa. Tetapi Narayana adalah seorang yang senang berpetualang menunutut ilmu kepada orang-orang sakti, sehingga banyak waktunya yang ia habiskan diluar Widarakandang. Narayana bersahabat erat dengan anak sulung Nyi Demang yang lain, yang bernama Udawa. Narayana selalu mengajak Udawa kemana ia pergi.

Saat ini Bratajaya diperintahkan oleh ayahnya Prabu Basudewa agar bertapa ngrame. Sebuah ritual tapa yang dijalankan bukan dengan duduk tepekur, tetapi melakukan kerja bakti untuk siapapun yang membutuhkan pertolongan. Di Widarakandang itulah mereka menetap, tepatnya di kediaman keluarga Demang yang bernama Antyagopa dan istrinya yang bernama Nyai Sagopi.

Pada saat itulah Bratajaya sedang duduk bersama teman yang dianggap saudara perempuannya (yang sebenarnya adalah anak biologis dari Prabu Basudewa) yang bernama Ni Ken Larasati. Ia adalah anak dari Nyi Sagopi.

“Larasati, sudah berapa lamakah kanda Kakrasana bertapa di Argaliman, Larasati?” Kata Bratajaya yang dari tadi diam melamun.

“Sudah sekitar empat puluh hari dan empatpuluh malam putri. Hari inipun seharusnya Kakang Wasi Jaladara pulang ke Widarakandang”

“Begitu sentosanya kakang Wasi Jaladara wadag dan jiwanya. Kesentosaan jiwa dan raga Kakang Wasi Jaladara telah tertempa di Widarakandang sebagai seorang petani dan kesentausaan jiwanya  karena olah tapa di Argaliman, adalah bekal yang teramat berharga bila nanti menggantikan rama Prabu Basudewa setelah surut kelak.’”  Demikian keduanya saling berbicara mengenai keadaan kakak sulungnya dan juga dirinya yang sedang dalam perintah ramandanya, untuk menjalankan tapa ngrame. Sampai kemudian panakawan yang sedang ngamen datang di depan rumah, sambil memainkan peralatan sederhana mereka.

“Larasati, siapakah mereka yang datang itu?” Tanya Bratajaya ketika ia melihat keramaian dihalaman

“Siapa disitu? “ Larasati yang berjalan ke halaman menanya kepada para panakawan yang cengar-cengir mendekat.

“Saya tukang ngamen”

“Amen apa?”

“Semua macam tontonan ada termasuk sulap”. Jawab Petruk

“Berapa ongkos nanggap-nya?”

“Saya yang memutuskan berapa ongkos ngamen. Anak anak itu saya yang ngatur.”  Semar maju mendekat dan menjelaskan.

“Baiklah, kalian saya tanggap”.

Maka mulailah mereka ramai menyanyi dan melagukan tembang-tembang pembuka.

Setelah itu Larasati menanyakan kemampuan lain dari para penakawan. Sekalian juga menanyakan upah untuk mbarang amen seperti yang hendak mereka tampilkan.

“Saya tidak minta upah yang mahal-mahal. Tapi omong-omong yang punya rumah ini sampeyan atau yang sedang duduk itu?”  Kata Semar meminta penjelasan.

“Yang punya rumah itu adalah Dewi Bratajaya”. Jawab Larasati sambil menunjuk ke arah Bratajaya

“Sebaiknya yang memberi perintah yang punya rumah saja”.  Semar meminta.

“Baiklah. Putri silakan memberi perintah para pengamen ini dan minta kesepakatan mengenai ongkos ngamennya”.

“Baiklah Larasati  . . . . . “ Bratajaya memutuskan,” Kalau aku ingin mendengarkan dongeng dan sulapan ongkosnya berapa?”

“Sebetulnya nggak usah pake duit saja putri, saya diberi nasi lengkap dengan lauknya saja. Lauknya apa saja, asal semuanya enak. Tempatkan semua itu di satu tampah besar. Itu sudah cukup”.

“Baiklah, Larasati, ambilkan sesajen yang ada di sanggar pamujan itu, untuk diberikan kepada para pengamen”.

Demikianlah, tontonan mulai digelar, sementara Larasati setelah menyiapkan perlengkapan ongkos kerja, yang kemudian segera menemani Bratajaya mengamati kelucuan tontonan.

Kula miwiti carita

Dongeng wantah minangka ajejampi.

Kinidung ing basa tanggung

Narbuka ing budaya

Tata titi tatane sampun kacakup

Saboboting crita cekak

Dadi sengsem kang mrikasani

Semar memulai unjuk kemampuan dengan sebait kidung. Disusul dengan sulapan yang konyol. Larasati yang melihat kekonyolan itu, menertawakan polah tingkah panakawan dengan sulapannya yang serba amatiran.

Ketika Semar memeragakan sulapan daun kelapa muda yang diubah menjadi seekor ular, kaget dan ketakutan Dewi Bratajaya, yang kemudian pingsan dan diangkat oleh para abdi keruang dalam. Sementara dalam kekalutan suasana itu, anak-anak Semar segera mengemasi semua makanan dan membungkus bersama sehingga menjadi satu tumpukan, malah makanan yang ada dilumuri pasir dan debu oleh Semar. Anak anaknya yang heran dengan perlakuan ayahnya bertanya-tanya, tapi Semar tidak menggubris.

Gembira Pamadi, ketika Semar beserta anak-anaknya telah sampai dihadapannya, yang kemudian bertanya, “Kamu peroleh dari mana makanan itu kakang Semar?”

“Saya dapatkan dari pedukuhan terdekat dari hutan sini. Namanya Pedukuhan Widarakandang. Disitu ada dua wanita cantik yang berdiam di kademangan. Dari situlah kami mendapatkan makanan itu”. Jawab Semar menjelaskan dengan demikian benderang

Nasi beserta lauk itu segera digelar dihadapan Pamadi. Namun begitu melihat ujud nasi yang sudah menyatu dengan lauk bahkan tercampur pasir, timbul kemarahan Pamadi. Tanpa diduga oleh para Panakawan, Pamadi segera menghunus pusaka, dan berjalan cepat malah hampir setengah berlari, mendatangi tempat yang disebutkan oleh Semar.

“Rama, bagaimana ini? Tidak urung tidakanmu mencampur nasi dengan lauk sama pasir itu bakal berakitbat pembunuhan.” Petruk bertanya setengah menyalahkan Semar.

“Coba lihat. Jawab Semar sambil memandang ketiga anak-anaknya, Tadinya momongan kita bergerakpun tidak kuasa, tetepi setelah melihat ujud nasi yuang aku berikan, ternyata ia bisa berdiri bahkan berlari secepat itu. Itu artinya ia sudah tidak lagi lapar”.

“Yang sudah berhenti lapar itu nggak aku pikir, tapi kalau ada peristiwa pembunuhan bagaimana? “Tanya Petruk dengan wajah kawatir.

Tapi Semar tetap senyum saja dan menjawab enteng, “Ya biarkan saja, pasti ada yang berwajib yang menangani. Tapi daripada kita hanya menduga duga, ayoh kita nyatakan apa yang terjadi di Widarakandang nanti”. Tergesa-gesa, para panakawan berlari mengikuti arah Pamade.

Maka Semar dan anak-anaknya menyusul jejak tujuan ke Widarakandang. Gareng berlari terpincang, Petruk berlari tersuruk-suruk. Sedangkan Bagong dan Semar terbirit birit membawa badannya yang kegemukan. Walau sekencang apapun Pamadi berlari, namun ia tersusul oleh para panakawan, karena jelas para panakanawan telah langsung menuju ketempat peristiwa ngamen terjadi.

Berdebaran mereka melihat peristiwa yang tejadi dihadapan mereka, Pamadi sedang menghunus pusakanya berhadapan dengan dua orang wanita, Bratajaya dan Larasati

Gemetar menahan marah, Pamadi bertanya, “Siapakah yang memberiku nasi lewat Kakang Semar Badranaya?”

“Semar Badranaya itu siapa? “Tenang Bratajaya menjawab, sementara Larasati memandang Pamadi ketakutan dibalik punggung Bratajaya.

“Pamomongku yang tadi datang ngamen kesini”. Pamadi memberi penjelasan dengan masih menahan kemarahannya. Sementara Larasari yang telah sadar dengan apa yang terjadi, berlari kedalam rumah mencari pertolongan sambil berteriak

“Terus terang saja, aku yang memberi”. Bratajaya masih bersikap tenang.

“Gegabah dengan Pamade, aku sobek perutmu”. Pamadi yang diliputi kemarahan bergerak maju. Tetapi pada saat bersamaan, keluar dari dalam rumah seorang pemuda bertubuh perkasa dengan kulit yang berwarna merah tembaga dan mempunyai sorot mata yang sangat tajam.

Link pagelaran Wayang Purwa dari Ki Nartosabdo yang berhubungan dengan cerita diatas:

http://www.mediafire.com/?gh7b931vxmhqb16

Harta Karun Cerita Panji


Judul Buku : Konservasi Budaya Panji

Penulis : Aminudin Kasdi, Dwi Cahyo, Lydia Kieven, Nasrul Ilahi, RM Yunani Prawiranegara dkk.

Penerbit : Dewan Kesenian Jawa Timur

Tebal :216 halaman

CERITA Panji adalah harta karun terpendam yang dimiliki jawa Timur. Lahir di Kediri, berkembang sejak jaman Majapahit, menyebar ke banyak daerah hingga mancanegara, dan beredar dalam berbagai cerita rakyat. Cerita Panji bukan sekadar cerita. Ini adalah pusaka yang tak ternilai harganya. Sudah saatnya kita menyelamatkan, memelihara, mengembangkannya sebagai kontribusi positif pembangunan budaya bangsa. Pada dasarnya, Cerita Panji adalah sekumpulan cerita pada masa Hindu Budha di Jawa yang berkisah seputar kisah asmara Panji Asmorobangun dan Puteri Candrakirana (Dewi Sekartaji) yang penuh dengan petualangan sampai akhirnya memerintah di Kerajaan Kadiri. Tetapi ternyata, ditemukan banyak ajar pendidikan formal dan nonformal, bahkan sebagai bahan baku industri budaya.

Cerita Panji adalah cerita Jawa asli yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah nusantara (Bali, Sunda, Lombok, Kalimantan, Palembang, Melayu) serta di berbagai negara di daratan Asia Tenggara. Hal ini merupakan aspek penting yang perlu disosialisasikan sebagai alternatif cerita wayang yang selama ini hanya menjadi monopoli Mahabrata dan Ramayana yang datang dari India.

Beberapa kesenian tradisional yang selama ini menggunakan cerita Panji misalnya Wayang Beber (Malang), Wayang Topeng (Pacitan), wayang golek Kediri, waang thengul (Bojokerto), wayang krucil (Nganjuk), Legong Kraton (Lasem), Lutung Kasarung (Jabar) dan banyak kesenian di Bali, Kalimantan, Kamboja dan sebagainya. Sementara yang berupa fisik, terdapat dalam relief di beberapa candi (punden berundak) di lereng Gunung Penanggungan, Candi Penataran dan peninggalan purbaka di lereng gunung Arjuno. Bahkan, patung Panji pernah ditemukan di Candi Selokelir di lereng Penanggungan.

Menurut Henricus Supriyanto, Cerita Panji merupakan satu-satunya budaya Indonesia yang menyebar sampai dengan Kamboja dan Thailand. Ini adalah ekspor budaya Indonesia. Sebagaimana cerita-cerita sastra Islam yang berkembang di Indonesia berasal dari Parsi. Karena itu keberadaan cerita Panji ini perlu dikukuhkan kembali sebagai asset budaya Indonesia, karena kebudayaan global yang dicari justru budaya lokal sebagai identitas bangsa. Lihat juga legenda Ular Putih dari Cina Selatan yang sudah mengglobal. Bahkan buku Raffles tentang sejarah Jawa, sudah beredar luas dalam bahasa Indonesia.Banyak yang terperangah, bahwa Panji ternyata bukan sekadar dongeng menjelang tidur. Panji adalah sosok sejarah sekaligus lehenda. Sosok Panji ternyata sudah amat sangat lama terpatri di lereng Gunung Penanggungan, Arjuno dan juga tertatah di Candi Penataran. Cerita-cerita terkait Panji juga banyak mengajarkan kearifan lokal dalam menjaga kelestarian alam. Salah satu dongeng Panji terkait pertanian misalnya Enthit. Di situ ada tembang, ”sing nandur timun mentheg-mentheg iki sapa… enthiiit.” Bukan hanya timun, tapi cabe, kacang panjang, dan berbagai macam sayuran serta hasil bumi lainnya. Dongeng itu bahkan kemudia dikembangkan menjadi lagu Jawa.

Di luar Jawa ada beberapa. Di Kalsel sistem lumbung pangan sangat kuat, punya stok padi 12 tahun lalu. Mereka paling dapat bertahan ketika krisis. Mereka tanpa menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Kebijakan pertanian Indonesia tidak cukup kuat, pertanian organik belum menjadi kebijakan politik yang kuat. Kasus petani Kediri yang dipenjara karena memproduksi benih adalah kasus yang sangat memprihatinkan. Masih butuh kebijakan untuk mendukung budaya petani dengan tradisinya.

Tetapi yang Yunani Prawiranegara, pertanian ramah lingkungan tidak ada benang merahnya dengan cerita Panji? Gak gathuk. Kecuali cerita Enthir yang berasal dari cerita Panji. Benang merahnya apa? Cerita Panji muncul setelah majapahit, bersifat kerakyatan, bukan bahasa Majapahit tapi dengan bahasa rakyat. Berkembang hingga ke Makasar, Siam, Kamboja dan sebagainya. Aspek arkeologinya ada di Penanggungan dan Arjuno. Juga di Penataran. Aspek seninya Wayang Topeng Malang, Wayang Klithik, tari Beskalan (remonya Malang) juga bersumber dari gerak-gerak Panji. Jadi, spirit apa yang melatarbelakangi pertanian ramah lingkungan ini terkait dengan cerita Panji?

Rakyat

Tapi yang jelas, kata, Yunani, Panji adalah cerita rakyat meski berasal dari Kraton. Spirit Panji dalam pertanian berpihak pada rakyat, bukan penguasa. Cerita panji banyak relief di Penanggungan dan Arjuno, merupakan sikap sifat rakyat Majapahit yang jenuh dengan politik, lari ke gunung, alam back to nature, neo megalithicum, candi-candi dibangun di lereng gunung, punden berundak. Dalam kehidupan pertanian hendaknya menghormati leluhur, seperti punden berundak. Kembali pada alam, ini kedua, karena dengan profil di Arjuna dan Penanggungan diadopsi dengan pesantren, Mandalagiri, ini sesuai dengan spirit Panji.

Panji selama belasan tahun. Dalam tempo 13 tahun itu Lydia berkelana sambil menjadi tour guids naik angkot, jalan berkilo-kilo meter. Bahkan Lydia sendiri sudah melakukan ekspor budaya Panji ke Jerman.

Cerita Panji bisa disejajarkan dengan Mahabarata dan Ramayana, serta Serat Centhini, yaitu sumber yang tak pernah kering, bagaikan ensiklopedi, dan mengandung aspek simbolik, religi bahkan juga kemiliteran. Tidak hanya bicara soal lingkungan kraton. Bahkan, cerita dapat menjadi mediator masyarakat kraton dengan luar kraton dengan tradisi lakunya. Cerita Panji masih memiliki peluang untuk dikembangkan lagi, diekspresikan dalam susastra, seni pertunjukan atau multikespresi

Dalam cerita rakyat dikisahkan bahwa Raden Panji keluar dari kraton, mengembara untuk mencari kekasihnya. Menurut Dwi, ini terlalu simple. Pengembaraan Panji itu adalah sebuah perjalanan eksploratif sosiobudaya untuk memotret lingkungan di luar kraton. Ada korelasi yang menarik antara kraton dan luar kraton. Karena itu dalam cerita Panji banyak menyerap budaya-budaya luar kraton.

Mengenal Figur Panji

Siapakah sesungguhnya Panji? Masih banyak yang beranggapan bahwa Panji adalah sosok fiktif yang hanya ada di di cerita dongeng. Citra ini memang tak lepas dari kemasan budaya tutur Panji yang lebih berupa ”Dongeng yang Disejarahkan” ketimbang ”Sejarah yang Didongengkan”. Bila dirunut ke belakang, barangkali ini tak lepas dari pengaruh kekuasaan Majapahit ketika cerita heroik soal ”pahlawan Kadiri” ini lahir.

Menurut Dwi Cahyono, memahami Panji setidaknya berhadapan dengan tiga aspek, yaitu sejarah, apakah Panji memang manusia yang betul-betul ada dalam sejarah? Aspek kedua, sebagai karya sastra, hanya rekaan, nonfaktual. Ketiga, Panji sebagai ekspresi yang lebih variatif dalam seni pertunjukan. Bagaimanapun Panji musti dapat didudukkan dalam kerangka sejarah, karena tidak bisa dilepaskan dari sejarah Jawa masa Kediri, Singosari dan Majapahit jaman Hindu Budha. Mana yang betul-betul faktual dan mana yang merupakan ekspresi kreatif atau rekaan belaka.

Dalam bukunya, Prof. DR. CC. Berg (1928) menyebutkan, bahwa penyebaran cerita Panji dimulai adalah Kertanegara Raja Singasari mengadakan pamalayu, tahun 1277 M sampai kurang lebih tahun 1400 M. Dari sumber ini diketemukan Panji adalah pahlawan kebudayaan sebagaimana tahun 1996 pernah dijadikan tema sentral Pekan Budaya Bali, karena cerita Panji dianggap paling banyak memberikan keteladanan membangun kebudayaan Indonesia.

Ki Ageng Sri Widadi dari Kasunyatan Jawi, dalam makalahnya yang tak dibacakan dalam pertemuan itu menulis, Panji adalah tokoh yang menggunakan kesenian untuk menundukkan lawan. Panji pandai bermain gamelan, juga penari yang piawai, sebagai dalang yang pintar mempesona penonton, bahkan berjasa menyusun nada-nada gamelan berlaras pelog.

Hal ini dikuatkan oleh Dwi Cahyono, arkeolog dari Universitas Negeri Malang. Menurutnya, Panji adalah tokoh manusia biasa, yang merupakan Pangeran Jawa dan bukan pahlawan pendatang seperti Tama dan Pandawa Panji adalah sosok yang piawai berolah seni, seorang Maecenas kesenian Jawa masa lalu. Panji acap diceritakan sebagai pemain musik, penari, pemain drama (sendratari) dan penulis puisi. Panji adalah tokoh teladan masa lampau, dan perilakunya merupakan teladan arif dalam mengembangkan lingkungan dengan cara-cara yang sarat dengan nilai ekologis. Keteladanan Panji sebagai seseorang yang dipredikati sebagai ”pahlawan budaya” masa lalu (masa Hindu-Budha) itulah kiranya yang perlu diupayakan untuk dapat ditransformasikan bagi pengembangan kesenian lokal dan pertanian serta pengelolaan lingkungan hidup pada masa kini maupun mendatang.

Henry Nurcahyo