Ki Nartosabdho tahun 1976


http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/1976/02/14/TK/mbm.19760214.TK68740.id.html

14 FEBRUARI 1976

Apakah dalang ini “merusak”

NEGERI Boja pun geger. Dewi Kunthi puteri kerajaan, mengandung tanpa suami. Meski sang ayah Sri Baginda Kunthiboja, menyadari ‘kelengahan’ puterinya, toh pangeran Basudewa marah besar. Kontan ia menggugat Bathara Surya yang dituduhnya ada main dengan adiknya. Kunthi sendiri, sejak lama memang ingin ‘berkenalan’ dengan para Dewata. Maka pendeta Druwarsa pun memberinya azimat sinung cipta wedaring rasa yang tak boleh diucapkan di bawah sinar matahari.

Tapi suatu siang, terlupa atau memang disengaja, Kunthi terlanjur mengucapkan mantera itu — dan buntinglah ia. Karena kemudian sang bayi lahir lewat telinga (dengan pertolongan Druwarsa) maka anak Dewa Matahari ini pun disebut Karna alias Suryaputera…. Penonton kaget.

Dalam lakon Kelahiran Karna ini ki dalang dianggap telah melanggar aturan. Tidak mengawalinya dengan adegan suasana kraton seperti layaknya, melainkan langsung menampilkan konflik inti antara Basudewa dengan Bathara Surya. Sejak lama dianggap sebagai sumber pro dan kontra di kalangan peminat pedalangan — kesenian tradisi Jawa yang konon tabu terhadap pembaharuan — dalang yang satu ini di satu pihak dianggap seorang pembaharu, yang mampu menghidangkan momen-momen dramatik asal mengisi perwatakan yang pas buat setiap tokoh.

Di lain pihak dituduh sebagai biang perusak pakem pedalangan yang sudah mapan atau terlalu suka memasukkan unsur humor yang — selain diakui sebagai daya pemikat untuk sebagian dianggap kurang pada tempatnya. Tapi satu hal jelas: Ki Nartosabdho adalah satu-satunya dalang populer yang paling laris hingga saat ini.

Terutama sejak 1965, banyak kritik dialamatkan kepadanya. Misalnya dari salah seorang tokoh Ganasidi (Lembaga Pembina Seni Pedalangan Indonesia) Jawa Tengah yang kini menjadi anggota DPR Pusat. “Ia memang seorang inovator. Tapi pembaharuannya — yang menang belum pernah terjadi dalam sejalah pedalangan — lebih banyak negatif. Adegan banyolan antara punakawan dengan raja misalnya, tentulah tidak sepantasnya. Ia memang tak pernah melepaskan kesempatan buat membanyol.

Dalam seni tradisi, banyolan memang banyak. Tapi gaya Ki Narto lebih banyak lagi banyolannya dari pada seriusnya. Lalu bagaimana kalau pedalangan macam begini dijadikan kiblat?” katanya. Seorang pembela kesenian di Sala malah beranggapan Ki Narto tak punya prinsip. “Kalau mendalang di Istana Negara ia serius, di luar selalu membanyol. Toh ia tak bisa disalahkan sebab memang itulah pandangan hidupnya dan sumber periuk-nasinya.

Tapi situasi seperti ini tak bisa dibiarkan terus-menerus. Setelah dalang-dalang tua seperti Ki Poedjosoemarto dan Ki Soeratno tidak lagi tampil selera publik mulai merosot. Nah, di sinilah Ki Narto laku. Dan memang begitulah selalu kecenderungan masyarakat kita”. ujarnya.

Ki Narto bukannya tak mendengar kritik. Dengan santai ia menjawab. Suatu hari ketika mementaskan Pendawa Dadu ia menampilkan dialog penuh humor antara Prabu Suyudana (raja Kurupati) dengan penasihatnya Bagawan Durna. Tiba-tiba sang Durna berkata: “Sampun Man, Mangke mindak bibrah” (SudahLah Paman, jangan sampai nanti jadi rusak) — satu sindiran buat para pengritiknya. Tak sedikit pula yang menuduh ia terlalu komersiil. “Saya ini kalau bicara soal seni dan komersiil ya bagaimana. Lha nyatanya kalau tidak begitu kan tidak bisa hidup”, katanya.

Bahwa ia menuruti selera publik penanggapnya — memang diakuinya. “Selera orang kan macam-macam. Yang jelas, dalam banyolan-banyolan saya itu selalu saya selipkan nasihat dan pendidikan. Setiap dalang kan punya cara masing-masing untuk Memikat perhatian penonton”, katanya.

Tapi kritik yang paling banyak terdengar adalah ini: ia terlalu suka mementaskan cerita-cerita carangan — kritik yang sebenarnya tidaklah adil. (Carangan adalah guhahan dari naskah asli atau Pakem). Sebab pakem Pustaka Raja karangan Ranggawarsita misalnya adalah juga carangan dari Mahabharata. Wayang Panji (tentang kerajaan Kediri), wayang Suluh (tentang perang kemerdekaan), Wayang Wahyu (dari kitab Injil) pun adalah carangan yang akhirnya menjadi semacam pakem.

Mahabharata dan Ramayana sendiri yang berasal dari India, sudah dirubah menjadi carangan bergaya Indonesia di tangan para pujangga jaman Erlangga. Sejak abad ke-11. Dan Ki Narto bukannya tak suka yang serba pakem (dan mampu pula mementaskannya dengan baik). Tapi pementasan cerita-cerita berat seperti misalnya Babad Wanamarta, Bima Suci Wahyu Makutarama — biasanya disesuaikan dengan waktu dan kebutuhan. Misalnya untuk upacara selamatan desa atau menyambut Tahun Baru 1 Syura.

Dalam pada itu masuk akal juga kalau suatu kali Ki Narto ‘berani’ merubah atau menambah bait-bait suluk. Dalam sebuah suluk ada kata tambur yang pada jaman dulu belum dikenal, baru dikenal pada jaman Belanda. “Jadi apa salahnya kalau misalnya saya memasukkan kata-kata saputangan, cempala kotak, topeng Bujangganom dan sebagainya?” Suluk adalah puisi, untuk menggambarkan situasi biasanya diucapkan pada awal sesuatu babak pedalangan.

Kesenian tradisi Jawa tampaknya memang mulai harus melepaskan diri dari soal pakem dan bukan pakem. Dengan cara amat sederhana (tapi cukup modern) berkatalah Ki Narto tentang kreativitas: “Kreasi baru itu ibarat bakmi, yang bukan makanan harian itu Suatu saat kita toh akan kembali makan nasi. Juga seperti bistik. Tuhan menciptakan sapi, yang pengolahannya terserah kepada kita. Tuhan sendiri kan tidak menciptakan sate? Saya sendiri yakin gending-gending ciptaan saya misalnya, tentu tak tahan lama dibanding dengan gending Gambir Sawit yang adiluhung itu. Tapi betapa pun, setiap kreasi yang baik, termasuk kreasi yang baru, selalu lahir dari pikiran yang wening”.

Yang paling proporsionil barangkali pendapat Sardono W. Kusumo. “Kita tak bisa menilai Ki Narto dengan kacamata tradisi atau pembaruan. Kesenian Ki Narto adalah kesenian rakyat yang khas Ki Narto. Sebagai seniman kreatif ia tak bisa diukur dengan patokan-patokan pakem yang kaku. Pedalangan gaya Ki Narto adalah kesenian yang khas Ki Narto”, kata penari dan koreograf muda yang terkemuka itu.

Bisa dimaklum kalau 21 Januari kemarin di gedung Mitra Surabaya Ki Narto digelari Seniman Besar Senapati Mandala Budaya (gelar yang agak berlebih, tentu) oleh YASBI (Yayasan Seni Budaya Indonesia) Surakarta cabang Surabaya.

Upacara malam itu — yang dirangkai dengan konser karawitan dari yang klasik hingga perkembangannya kini oleh grup Condong Raos serta pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan cerita Palgunadi — cukup megah dan khidmat meski di luar turun hujan. Tentu bukan lantaran tubuhnya yang besar itu maka Ki Narto disebut Seniman Besar. Melainkan seperti kata Moedhakir Wirogoeno pendiri dan ketua YASBI, “karena kepemimpinannya yang tangguh terutama keberanian dan ketekunannya mencipta yang terus-menerus tanpa mempersoalkan apakah karyanya baik atau buruk”.

Dengan alasan sama, Moedhakir punya rencana akan menyampaikan gelar serupa kepada Ngaliman, salah. seorang koreograf Sendratari Ramayana dan L. Martopangrawit, pencipta gending-gending Jawa — keduanya dari Sala.

Gitar dan Biola

Lahir di desa Wedi Klaten, 25 Agustus 1925, Ki Narto hanya berpendidikan Standaard School Muhammadiyah (SD 5 tahun), anak seorang ahli kerajinan pembuat sarung keris. Ketika ibunya menjanda, Soenarto gagal melanjutkan pelajaran.

Untung ia tertolong oleh bakatnya. Selain senang karawitan, sejak kelas III SD ia sudah mengenal gitar dan biola. Dan sampai sekarang pun masih gemar memainkannya.

Suatu ketika ia main-main menabuh kendang untuk rombongan ketoprak yang main di Klaten. Ki Sastrosabdho mendengar kelihayan anak desa ini. Kontan pendiri dan ketua grup wayang orang Ngesti Pandowo yang berdiri tahun 1937 ini bilang kepada pembantunya: “Terserah bagaimana caranya, pokoknya saya ingin anak itu ikut kita”.

Setelah dibujuk-rayu dengan dibelikan pakaian dan makanan, akhirnya saya ikut. Tanggal 10 Agustus 1945 saya main pertama kali dalam Ngesti di pasar malam Asia Bersatoe di Purwokerto”, tutur Ki Narto mengenang masa lampaunya.

Tapi lantaran kegemarannya berjudi, banyak anggota Ngesti yang tak menyukainya. Pimpinan karawitan Ngesti pun menugasinya sebagai pengendang supaya gagal dan mendapat malu hingga tak krasan. “Tapi berkat pengestu para orang tua, kendangan, saya mampu bikin Ki Sastro menangis”, kata Ki Narto.

Maka Ki Sastro pun memanggil pemuda Soenarto ke hotelnya, ‘diinterogasi’ sekitar desas-desus sekitar dirinya. Ia mengakui, “tapi hal itu saya jamin tak akan merusak tugas saya”. Ki Sastro pun menegaskan: “Kalau mau ikut Ngesti terus, kebiasaan itu harus dihentikan” — sambil memberinya selembar surjan. Pakaian itu tak berumur 3 hari. Soenarto menjualnya untuk main domino — dan itu berulang berkali-kali.

Ki Sastro jengkel. Ia menghubungi orang tua Soenarto. Saat itu Ngesti lagi main di Sala. Ketika ibunya menyusul, Narto sedang berendam di kali Bengawan Sala, konon sudah berlangsung 33 hari. Bukan sekedar mandi tapi juga bertapa, sekaligus mengeringkan pakaian yang hanya satu-satunya. “Ketika ibu mengajak pulang, saya menurut saja.

Memang berasal dari desa, saya pun kembali ke desa”, katanya. (Di lain kesempatan ia pernah menyatakan sebagai keturunan pada derajat ke-7 — gantung siwur, istilahnya — dari Raden Mas Said, alias Sambar Nyawa, gelar KGPAA Mangkunagara I, pendiri kerajaan Mangkunagaran, Surakarta).

Di Wedi, selain membantu ibunya berjualan buah mlinjo dan cabai di pasar, ia iseng-iseng membuat seruling. Ini berlangsung sampai 4 bulan. Sebentar menjudi loper pengantar susu, bahkan pernah jalan kaki ke Yogya mencari pekerjaan.

Ternyata Ki Sastro merasa kehilangan. Tapi utusannya 2 kali gagal mengajak Soenarto ikut, hingga terpaksa ia sendiri memerlukan datang. Satu setengah hari di Wedi, sengaja. Narto tak diajaknya ngomong, “sebagai pelajaran percobaan”.

Akhirnya Narto tak tahan, ia mengajukan niat ikut Ngesti. Sejak itulah ia boleh dikata menjadi semacam maskot. Ia mengadakan beberapa perubahan pada gerak tari para pemain Ngesti dan mencipta gending. Lebih dari itu ia selalu menjadi pusat perhatian penonton manakala tampil menabuh 6 kendang, 1 tambur, 1 jazz, 1 bedug sekaligus.

Tak kalah dengan pemain drum jazz Amerika, Gene Krupa. “Itu dulu, tahun 1964 ketika saya masih suka dikeploki penonton. Sekarang saya kan sudah tua”, katanya.

Sebelumnya, selama 2 tahun, ia mendapat kesempatan belajar di ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia) yang baru saja dibuka di Sala. “Pak Lurah Martopangrawit itu guru saya dalam karawitan Jawa, sedang dalam karawitan Bali saya berguru pada Pak Made Rembang”.

Karena jasa-jasanya, oleh Ki Sastro tahun 1948 ia dianugerahi gelar “sabdho” hingga namanya menjadi Ki Nartosabdho. Ada seorang lagi yang mendapat gelar serupa yaitu almarhum Soedarso (Darsosabdho) yang terkenal sebagai tokoh Gareng. Ki Sastrosabdho sendiri meninggal tahun 1965.

Hidup Sederhana

Komposisi Ki Narto yang pertama adalah Srawa Suling (1952) yang sangat populer saat itu, di samping Modernisasi Desa.

Dengan tema Swara Suling, ia menciptakan sebuah poutpurri 3 babak sepanjang 5 menit berjudul Wandali (Jawa-Sunda-Bali) dan memang penampilannya bergaya Jawa, Sunda dan Bali untuk setiap babak.

Ia sendiri sudah tak bisa menghitung jumlah ciptaannya. Tapi semuanya tercatat rapih dalam 3 buku tulis tebal dengan tulisan Latin atau Jawa yang bagus.

Komposisinya yang terakhir antara lain: Ketawang Suka-suka, Ketawang Cengkir Wungu, Wira-Wiri, Panon Langking, Pujiku, Jakarta Indah.

Untuk menyambut anjuran hidup sederhana, ia membuat gending Dara Muluk. Ada beberapa ciptaannya yang bisa dimainkan secara langgam kroncong seperti Aja Lamis, Setyatuhu, Kadung trisna, Rasamadu.

Kecuali memimpin Condong Raos (berdiri 1 April 1969) yang selalu mengikutinya ke mana saja ia main, 2 tahun lalu ia juga membentuk grup orkes kroncong walaupun “hanya untuk hobi dan latihan sendiri di rumah”.

Beberapa kalangan beranggapan, tak ada gending ciptaan Ki Narto yang ‘berat’. Gending Ibu Pertiwi (sering diperdengarkan dalam upacara pernikahan masyarakat Jawa) yang sebenarnya cukup mantap, dianggap “hanya gubahan gending Subakastawa yang anonim yang dulunya hanya partitur lalu diberi lirik oleh Ki Narto”.

Tapi memang ada ciptaannya yang kelas ‘berat’ misalnya Sekar Ngenguwung yang melankolik. “Gending ini saya ciptakan cukup lama dan inspirasinya ada hubungannya dengan suasana batin saya”, katanya.

Yang betul-betul ringan (dan enak!) adalah sejumlah gending-gending dolanan (mainan anak-anak). Betapa pun niat Ki Narto membuktikan kemampuan gamelan Jawa sangatlah terpuji. “Dulu tak ada gending Jawa berirama rumba, samba, walz atau dangdut. Saya mau mencobanya. Misalnya Ladrang Sang Kelana, bisa kita mainkan dengan irama “, katanya.

Dalam konser karawitan di gedung Mitra Surabaya yang menghidangkan 14 komposii ciptaan Ki Narto — sempat pula ditampilkan lagu Begadang punya Oma Irama dalam Pelog Patet Nem. Sekarang ia lagi menyiapkan konser Jayawijaya yang menggambarkan situasi sejak Majapahit hingga kini. “‘Pernah saya coba lamanya sekitar 1 jam 20 menit”, katanya. Iramanya disesuaikan dengan masing-masing jaman: jaman kerajaan-kerajaan, jaman Belanda, Jepang dan seterusnya.

Untuk itu ia membaca buku-buku karangan Ir. Moh. Yamin. “Lha ciptaan yang begini ini kok dikatakan merusak”, ia tertawa. “Saya justru ingin menunjukkan keampuhan gamelan Jawa. Tapi pelaksanaannya memang agak repot. Diperlukan 4 perangkat gamelan sekaligus yang nadanya sama betul dan bisa bermain serempak”.

Lebih terkenal sebagai dalang, ia banyak belajar sendiri. Dulu, seorang dalang biasanya keturunan dalang pula. Bahkan ada kepercayaan bahwa dalang yang baik adalah yang kewahyon –mendapat wahyu. “Tapi saya tidak. Saya hanya memilih teknik-teknik yang baik dari beberapa dalang terkemuka”, kata Ki Narto.

Dua tokoh dalang tua yang ia kagumi bertahun-tahun adalah Ki Ngabei Wignyosoetarno (Sala) dan Ki Poedjosoemarto (Klaten).

Di samping itu ia juga menekuni beberapa buku: Bhagawat Gita, Sejarah Wayang, Kapustakan Jawi, Mahabharata, Pustaka Raja.

Satu peristiwa yang mengangkatnya menjadi terkenal ialah tahun 1958. Ketika itu Ngesti main di Jakarta. Sukiman, kepala studio RRI Jakarta tertarik pada kendangan Ki Narto. Ia menemui Ki Narto yang menginap di PHI Kwitang. Di sana saya tidur di atas tikar lusuh dan banyak kepindingnya”, katanya. “Pak Kiman mengajak melihat latihan karawitan RRI dan saya diminta memberi petunjuk-petunjuk.

Mendengar saya suka membaca buku-buku pedalangan, Pak Kiman menawari saya main di RRI. Tapi saya masih minta waktu”.

Saya Panik

Maka dengan janji, tanggal 28 April 1958 Ki Narto mendalang di gedung PTIK Jakarta disiarkan RRI dengan cerita Kresna Duta: “Saya panik. Maklum baru pertama kali. Lebih-lebih main di Jakarta dan disiarkan RRI. Pada adegan pertama, mencari cempala saja bingung, padahal sudah tergeletak di pangkuan saya”, tuturnya.

Cempala adalah alat pemukul dari kayu yang biasa digunakan ki dalang untuk memperkuat pelukisan suasana dramatik dengan memukul-mukulkannya pada sisi kotak wayang.

Sejak itulah namanya menanjak, hingga mendapat kesempatan main pada Dies Natalis UGM Yogya, kemudian di Balai Pemuda Surabaya dan Sala.

Sementara itu ia juga masih sempat mengarang cerita-cerita wayang (yang puluhan tahun nanti mungkin bisa jadi pakem!) seperti Dasa Griwa, Mustaka Weni, Ismaya Maneges, Gatutkaca Sungging, Gatutkaca Wisuda, Arjuna Cinoba, Kresna Apus, Begawan Sendang Garba — tak kurang dari 10 lakon.

Cerita ketoprak belum pernah ia menulisnya tapi sudah berkali-kali main. Pada masa revolusi fisik dulu, grup Ngesti sendiri sering mementaskan cerita-cerita carangan. Antara lain Praja Binangun (Negara yang sedang berdiri) yang sedang berperang melawan Bantala Rengkah (tanah rengkah, Nederland) yang rajanya bernama Kala Pamuka (van Mook) dengan senapatinya Raja Dahana (kereta api, Jenderal Spoor)….

Ki Narto sendiri kalau mengarang cerita atau gending biasa bergadang sampai jam 3 pagi — satu hal yang lumrah bagi seorang dalang yang biasanya main semalam suntuk sejak jam 8 malam sampai subuh.

Meskipun setiap hari cuma minum jamu ramuan dedaunan yang biasa dikenal dalam masyarakat Jawa (daun pepaya atau beras kencur) dan sering mendalang, toh badannya sehat-sehat saja. Pergi ke dokter cuma sekali-sekali, olah-raganya cuma jalan-jalan pagi hari. Waktunya hampir tak pernah lowong.

Bulan Januari kemarin saja 5 kali pergelaran dan 6 malam berturut-turut rekaman. Rata-rata sebulan main 10 kali (tapi minimum 3 kali). Ada bulan-bulan laris baginya. Misalnya Ruwah, Besar dan Rejeb (di mana banyak orang mengadakan pesta menurut perhitungan tarikh Jawa) serta bulan Agustus (untuk memperingati proklamasi kemerdekaan).

Kadang-kadang setelah mendalang semalam suntuk malah tidak tidur sama sekali, seperti ketika main 2 malam berturut-turut di Jakarta dan Surabaya. Atau juga ketika mendalang di Medan, Lombok, Bali, Singkawang. Banjarmasin.

Semuanya dengan iringan Condong Raos lengkap dengan kesepuluh pesinden (waranggana, biduanita) antara lain Nyi Ngatirah, Nyi Sumaryati, Nyi Sumarni, Nyi Sudarni dan Nyi Supadmi.

Berapa honorarium sekali mendalang’? Ki Narto enggan menyebut jumlah. Dari beberapa orang yang pernah menanggapnya, tak kurang dari sekitar Rp 150 ribu (di Semarang) dan minimal Rp 200 ribu (di luar Semarang). Tapi ke Medan atau Singkawang misalnya, sama dengan 10 kali mendalang di Semarang.

Sebagai perbandingan, seorang dalang dari Klaten hanya mendapat Rp 30 ribu semalam sudah termasuk untuk gamelan dan transpor. Ny. Rahati Subeno (wanita dalang yang juga anggota DPR Semarang) malah cuma Rp 25 ribu itu saja masih harus dibagi dengan para pesinden dan niyaga (penabuh gamelan) sejumlah tak kurang dari 15 orang.

Di Semarang, saat ini terdaftar tak kurang dari 125 dalang, 2 di antaranya (kecuali Ki Narto) yang cukup laris, yaitu Ki Hadi dan Ki Prawirotjarito. Jelas, penghasilan Ki Narto memang luar biasa. Belum lagi ditambah dengan produksi kaset-kaset-nya, meskipun ia juga enggan pula menyebut jumlah penghasilannya dari sektor ini.

Pertama kali merekam Goro-goro (banyolan Semar-Gareng-Petruk) di Lokananta (Sala) dengan waranggana Nyi Ngatirah, kini Ki Narto juga rekaman untuk perusahaan Irama. Dengan piringan hitam dan kaset yang jumlahnya cukup banyak, beberapa orang menyatakan Ki Narto juga mau merekam untuk studio-studio lain (di Semarang saja ada 3 studio rekaman ‘gelap’).

Pokoknya Rp 100 ribu.

Akibat kaset ini, tentu saja banyak dalang-dalang terpojok, dan tentu saja juga sejumlah niyaga dan waranggana yang boleh dikata kehilangan penghasilan. Orang lebih suka memutar kaset yang lebih murah dari pada nanggap wayang yang dianggap terlalu mewah.

Ki Narto kabarnya juga sering merekam permainannya yang disiarkan RRI, sebab merekam langsung di RRI tidak diperbolehkan. Dan tak sedikit para penggemarnya yang minta kaset untuk tanda-mata.

Bagi Ki Narto kecuali kaset semacarn itu punya nilai dokumentasi, juga”untuk meningkatkan mutu seni pedalangan kita….”.

Perusahaan Natah Wayang

Meskipun cuma punya anak tunggal (Jarot Sabdono, baru kelas III SMP). namun Ki Narto menanggung 25 jiwa — terdiri dari anak kemenakan, ipar dan 6 karyawan. Ki Narto memang punya semacam perusahaan pembuatan wayang kulit (natah-sungging) meskipun mengaku hanya untuk koleksi sendiri.

Koleksinya sudah 4 kotak besar 3 kotak di antaranya dipoles dengan prada “Wayang saya selalu pakai prada, bukan bronz. Dengan prada, selain pindah juga awet seperti ini”, katanya sembari memamerkan wayang Janaka dari jaman Demak yang sudah berumur 300 tahun.

Konon sejak jaman Majapahit, wayang Indonesia selalu dipoles dengan prada yang diimpor dari Muangthai. Prada bikinan Hongkong (merek Real Gold roil cap GaJah) sekarang mencapai harga sekitar Rp 5.000, 1 kotak kecil berisi 10 bungkus. Sedang bronz, hanya Rp. 250 untuk setiap onze.

Kalau dulu selalu berkendaraan sepeda, kini Ki Narto selalu tampak dengan mobil sedan Mercedes Benz 220 S warna kuning gading tahun 1965. Rumahnya pun tidak lagi kompleks perumahan karyawan Ngesti Pandawa yang sederhana dan berjejal di pojok lapangan simpang lima’ Pancasila.

Sekitar tahun 50-an grup Ngesti memang menetap di Semarang dan selalu bermain setiap malam di gedung GRIS jalan Pemuda. Dan tahun 1952 membuka kompleks perumahan untuk 99 kepala keluarga karyawannya.

Kecuali Ngesti, di Semarang ada 2 grup lain, yaitu Sri Wanito dan Wahyu Budoyo. “Tapi seperti halnya rokok, masing-masing punya keunggulan sendiri-sendiri”, komentar Ki Narto. Ki Narto sendiri kecuali sebagai Kepala seksi karawitan juga wakil ketua Ngesti serta salah seorang penasihat Ganasidi meskipun lebih banyak bermain diluar gedung GRIS.

Sudah 3 tahun ini ia menempati rumah sendiri di jalan Anggrek tak jauh dari kompleks perumahan Ngesti, nomor 7 (untuk rumah tangga dan kantor) serta nomor II (untuk latihan). Boleh dikata, setiap tukang becak tahu di mana rumah Ki Nartosabdho: jalan Anggrek X/7 Semarang, belakang Gedung Olah Raga alias GOR simpang lima Semarang….

One thought on “Ki Nartosabdho tahun 1976”

  1. Tulisan yang lengkap, jadi mengenal lebih dekat profil Ki Nartosabdho. Seniman yang mumpuni disegala bidang yang hasil karyanya masih bisa dinikmati hingga sekarang. Pembaharu dalam seni budaya wayang dan karawitan. Seniman ingkang patut tinulat dining para mudha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s