Wawancara eksklusif bersama Arjuna (2)


Kemudian Arjuna bercerita panjang tentang cinta dan perkawinannya dengan wara Sumbadra. Begini cerita singkatnya :

Wara Sumbadra adalah putri dari Prabu Basudewa, raja kerajaan Mandura. Dia adalah adik dari dua satria besar yaitu Prabu Baladewa dan Prabu Kresna. Baladewa yang semasa mudanya bernama Kakrasana, sebagai putra tertua, akhirnya kemudian mewarisi negara Mandura setelah ayahandanya mengundurkan diri dari tahta kerajaan. Sementara Kresna, yang bernama Narayana dimasa mudanya, diangkat menjadi raja di negri Dwarawati.

Hingga suatu saat melihat Wara Sumbadra yang masih sendiri dan sudah waktunya menikah maka Baladewa menemui Kresna di Kerajaan Dwarawati. Mereka kemudian berunding tentang rencana perkawinan Sumbadra. Terjadi pertentangan pendapat antara keduanya. Prabu Kresna ingin mengawinkan Sumbadra dengan Arjuna, sementara Prabu Baladewa tidak menyetujui dan ingin mengawinkan Sumbadra dengan Burisrawa. Dengan bijak kemudian Prabu Kresna mengingatkan pesan Prabu Basudewa, bahwa bila Sumbadra kawin agar dinaikkan kereta emas, disertai kembang mayang kayu Dewanaru dari Suralaya, dengan diiringi gamelan Lokananta, berpengiring Bidadari. Mempelai laki-laki menyerahkan harta kawin berupa kerbau danu.

Agar adil maka kemudian disepakati agar siapapun yang dapat memenuhi persyaratan tersebut maka dialah yang berhak memboyong Sumbadra. Prabu Baladewa akan mengajukan persyaratan itu kepada raja Duryudana dan kemudian Prabu Kresna menyuruh Samba dan Setyaki ke Ngamarta untuk menyampaikan persyaratan itu juga.

Disisi lain Prabu Kalapardha raja negara Jajarsewu juga jatuh cinta kepada Sumbadara. Untuk itu Prabu Kalapardha kemudian menyuruh Kala Klabangcuring supaya menyampaikan surat lamaran ke Dwarawati. Kala Klabangcuring berangkat, ditemani Kala Kurandha dan Kala Kulbandha dengan diiringi oleh Kyai Togog Wijamantri menjadi penunjuk jalan.

Sementara itu di negri Ngamarta, Prabu Puntadewa tengah duduk dihadapan saudara-saudaranya yaitu Werkudara, Arjuna, Nakula dan Sadewa yang tengah menyambut kedatangan Bagawan Abyasa. Di saat itu Samba dan Setyaki datang menyampaikan berita tentang syarat perkawinan kepada Prabu Puntadewa. Bagawan Abyasa mendengarkan dengan seksama dan dengan penuh kewaskitaan menyanggupi untuk memenuhinya guna keberhasilan cucunya tercinta.

Bagawan Abyasa kemudian mengatur strategi dan membagi tugas. Werkudara disuruh mencari kerbau danu, Arjuna disuruh ke Kahyangan Cakrakembang minta pohon Dewandaru, gamelam Lokananta dan Bidadari.

Sesaat kemudian Arjuna berangkat ke Cakrakembang, ditemani para panakawan.

Werkudara yang melaksanakan tugas kemudian masuk ke hutan Setragandamayu. Singkat cerita, ia berhasil memperoleh kerbau danu setelah mengalahkan Dhadhungawuk dan menghadap Sang Hyang Pramuni. Langkah selanjutnya, Werkudara menemui Anoman di Kendalisada, ia meminta petunjuk tentang keberadaan kereta emas dan tiang dhomas. Oleh Anoman, Werkudara diajak ke Singgela menemui Prabu Bisawarna. Setelah beberapa lama terjadi dialog, maka Prabu Bisawarna mengabulkan permintaan Werkudara dan segera Werkudara bersama Anoman kembali ke Ngamarta.

Ditempat lain yaitu di negri Astina, Prabu Suyudana dihadap oleh pendeta Durna, Patih Sengkuni dan keluarga Korawa. Prabu Baladewa datang dan memberitahu tentang permintaan Sumbadra. Untuk mengejar waktu berlomba dengan pihak Pandawa maka Prabu Duryudana memerintahkan Patih Sengkuni dan Korawa untuk pergi mencari persyaratan. Pendeta Durna diminta menemui Dewi Wilutama untuk minta pohon Dewandaru, gamelan Lokananta dan bidadari pengiring mempelai.

Di tengah jalan, para Korawa berjumpa Werkudara yang telah berhasil melaksanakan tugasnya. Terjadi silang sengkete dan percekcokan tentang barang-barang yang dibawa Werkudara. Kurawa bermaksud merebut dengan paksa kerbau danu. Tidak ayal terjadilah perkelahian seru. Namun seperti diduga Kurawa tidak mampu melawan keperkasaan Werkudara hingga mereka lari tunggang langgang menghindari amukan Werkudara dan Anoman.

Di tempat lain, perjalanan Arjuna mencari persyaratan diawali dengan menghadap Hyang Kamajaya dan Dewi Ratih di Kahyangan Cakrakembang. Arjuna adalah “anak kesayangan” sejoli Dewa Dewi nan rupawan itu sehingga dengan senang hati mereka mengabulkan permohonan Arjuna meminjam pohon Dewandaru, gamelan lokananta dan bidadari pengiring mempelai.

Kembali ke negri Astina dimana Burisrawa tengah kasmaran dan ingin segera dikawinkan dengan Sumbadra dan meminta bantuan Prabu Suyudana dan Prabu Baladewa. Disaat itu tiba-tiba datanglah Patih Sengkuni dan para Korawa. Untuk menghilangkan rasa malu dan bersalah atas kegagalannya, mereka kemudian melakukan kebohongan dan kelicikan. Mereka mengatakan telah berhasil memperoleh kerbau danu dan tiang dhomas, tetapi dirampas oeh Werkudara. Tidak lama kemudian pendeta Durna datang, dan melakukan hal serupa yang dilakukan oleh Sengkuni. Ia mengatakan telah berhasil, tetapi dirampas oleh Arjuna.

Mendengar laporan Sengkuni, pendeta Durna dan para Kurawa, Prabu Baladewa merasa tidak senang dan akan segera bertindak. Kemudian dia mengajak Burisrawa ke Dwarawati untuk dikawinkan dengan Sumbadra.

Di negara Ngamarta Bagawan Abyasa dan Prabu Puntadewa tengah menanti kedatangan Werkudara dan Arjuna. Berturut-turut kemudian Werkudara datang melaporkan bahwa dengan dibantu Anoman, ia telah memperoleh empat puluh kerbau danu dan telah siap di alun-alun. Arjunapun kemudian datang melaporkan bahwa dewa telah mengijinkan permintaannya. Kemudian Hyang Narada datang bersama bidadari pengiring mempelai, beserta pohon Dewandaru dan gamelan Lokananta.

Sementara itu Prabu Kalapardha raja Jajarsewu, menerima laporan dari Tejamantri, bahwa para utusan mati oleh Arjuna. Prabu Kalapardha murka dan segera berangkat ke Dwarawati untuk membunuh Arjuna.

Karena semua persyaratan telah dipenuhi, maka Arjuna dan keluarga Pandawa kemudian datang ke Dwarawati untuk menyerahkan semua persyaratan yang diminta. Di Dwarawati telah hadir Hyang Narada dan para dewa untuk menyerahkan persyaratan yang diminta oleh Sumbadra. Setelah segala sesuatu telah siap, Arjuna dipertemukan dengan Sumbadra.

Namun sesaat kemudian Prabu Baladewa datang bersama Burisrawa, lengkap berpakaian pengantin. Prabu Kresna memberitahukan bahwa Sumbadra telah dikawinkan dengan Arjuna karena semua persyaratan terpenuhi. Prabu Baladewa yang percaya kepada laporan Kurawa, meminta agar perkawinan itu dibatalkan, sebab Korawalah yang berhasil mendapatkan semua permintaan Sumbadra namun dirampas oleh Arjuna dan Werkudara. Suasana memanas. Dhadhungawuk dan Hyang Narada ingin menjernihkan situasi dengan memberi penjelasan, bahwa Werkudara dan Arjunalah yang memperoleh hasil dan para Korawa yang mencoba merampasnya.

Namun Prabu Baladewa yang telah terhasut oleh Kurawa, marah lalu mengamuk. Werkudara menahan amukan Prabu Baladewa. Keluarga Korawa membantu, tetapi malah diserang oleh amukan kerbau danu. Korawa akhirnya melarikan diri kembali ke Ngastina. Sementara itu pergulatan Prabu Baladewa dan Werkudara kemudian dipisahkan oleh Kresna. Memang dasar Prabu Baladewa berwatak keras tetap teguh pada pendirian. Akhirnya untuk meluluhkan hati Sang Kakak, Arjuna dan Sumbadra menghadap Prabu Baladewa. Dengan diiringi tangis dan airmata, Sumbadra mohon dibunuh saja bila harus bercerai dengan Arjuna. Akhirnya luruhlah hati Prabu Baladewa, seketika hilang kemarahannya dan merestui perkawinan adiknya.

Namun diperbatasan Dwarawati terdengar kabar bahwa Prabu Kalapardha datang bersama perajurit dan ingin menyerang kerajaan Dwarawati. Werkudara ditugaskan untuk memadamkan serangan musuh. Raja raksasa gugur, semua perajurit raksasa hancur, habis binasa. Kerajaan Dwarawati telah aman, hingga kemudian berlangsunglah pesta perkawinan Arjuna dan Sumbadra.

<<< ooo >>>

“Ngono kuwi mau Gong ceritane aku nggarwa nDaramu ayu Sumbadra”

“Wah… rame tenan nggih nDara. Nganti ngeces kula mirengaken crita nDara”

“Lha kowe ngomong wae wis ngeces kok Gong, apa maneh nek ndomblong”

“He he he … nDara Arjuna ternyata bisa ndagel to. Ning kula badhe tanglet niki nDara”

“Apa Gong?”

“Napa sebabe nDara putri Sumbadra mboten nate basa kaliyan sinten kemawon, termasuk kaliyan panjenengan selaku garwanipun ngih”

“Lha kuwi wis trade mark-e nDaramu. Wis ket mbiyen ngono dadi ora perlu dipermasalahake”

“Lha menawi nyebut pangeran dateng njenengan niku sampun perjanjian napa kajengipun piyambak nDara?”

“Kuwi aku yo ora ngakon Gong. Ketoke kuwi panggilan sayang khusus kanggo aku garwane”

“Lha nek njenengan nyeluk nDara putri kados pundi?”

“Kok takon wae ana apa to Gong?”

“He he he … namung kangge supados ngertos kemawon kok. Ampun duka lho, njenengan sampun janji mboten badhe duka to?”

“Ora Gong, mung sajake kowe bercita-cita dadi wartawan yo?”

“Kadose nggih ngaten”

“Oooo layak”

“Jawabane napa nDara?”

“Lha nek aku nyeluk garwaku, yo disesuaikan karo wektu lan tempat sarta suasanane. Kadang yayang … kadang mbokne kulup …. kadang dimas …. kadang wong ayu …. kadang Sum tok”

“Lha menawi nyeluk Sum thok niku pas nembe napa nDara ?”

“Yen pas mangkel ora dicaosi …”

“Di caosi napa nDara ?”

“Off the record !”

“Nggih … sampun. Dilanjut nggih nDara critanipun. Sakniki kados pundi critane kaliyan nDara Srikandi?”

(to be continued)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s