Ki Reso Wiguno


PENERUS KELANGSUNGAN KEBUDAYAAN JAWA

Sumber: tembi.org

Dilahirkan dengan nama Sudakir, di desa Wirun pada tahun 1918. Resowiguno bukan dari keturunan pembuat alat-alat musik tradisional gamelan. Dia hanya dari keluarga buruh tani miskin, yang sejak kecil sudah ditinggal mati oleh ayahnya. Karena keadaan tersebut maka sejak kecil Resowiguno sudah dijadikan tulang punggung dalam keluarganya. Dia menjadi kuli kayu bakar yang setiap hari kamis harus mengantar sepikul kayu ke tempat Besalen (tempat membuat gamel;an) Karto Pandoyo. Karena seringnya mengantar kayu bakar ke tempat Karto Pandoyo, maka sedikit demi sedikit Resowiguno belajar serta menimba ilmu pengetahuan tentang membuat gamelan. Selama lima tahun ia ngenger di tempat tersebut, dimulai dengan menemani juragannya nglaras ke tempat-tempat yang sepi, dengan berjalan kaki sejauh lima kilometer. Sampai ahkirnya oleh juragannya diangkat sebagai tukang nengah, yaitu suatu jabatan tukang pande yang membawahi tukang penyukat, nepong, dan ngapit. Ki Resowiguno tidak puas begitu saja hanya pada satu orang saja, maka ia selalu ingin belajar dari banyak empu pembuat gamelan. Ia berpindah dari guru yang satu ke guru yang lain. Sampai ahkirnya ia belajar khusus tentang masakan gong di Semarang. Dari pengalaman berguru itu maka ia pada tahun 1956 Resowiguno memberanikan diri membuat besalen (tempat membuat gamelan) di rumahnya. Awal usaha dari Resowiguno tersebut mendapat dukungan dari Cokrowarsito, Dr. Mantle Hood dari Rockefeller Fondation, serta dari Sri Pakualam VIII. Kekaguman dalam pembuatan gamelan tersebut diungkapkan oleh Sri Pakualam VIII yang mengatakan bahwa hasil dalam pembuatan Gong Ageng sangat bagus dan bermutu baik. Kekaguman tersebut terutama dalam penglihatan Resowiguno didalam memperkirakan kapan besi itu harus dikeluarkan dari perapian untuk ditempa dan tanpa satupun alat pembantu.

Pujian dari Sri Pakualam VIII tersebut tidak berlebihan karena kesulitan utama dalam pembuatan gong besar adalah dalam penempaan bahan untuk membuat ukuran yang mencapai diameter di atas 80 cm, dan bentuk seperti yang diinginkan, disamping bahan logam campuran harus benar-benar memenuhi syarat berat dan perbandingannya. Memang sangat rumit dalam pembuatan gong tersebut, karena racikan gamelan berasal dari sebuah bahan utuh berupa lempengan setebal 3 cm berbentuk bulat (lakaran), yang harus dibentuk hingga terbentuk gong, hanya melalui proses tempaan semata. Bila cacat sedikit saja sudah dapat merusak segalanya. Menurut Ir. Priadi Dwi Hardjito, dari ITB mengatakan bahwa lmu pengetahuan serta teknologi modern baru bisa menghasilkan hal yang sama seperti yang dilakukan Resowiguno jika melalui proses laboratorium berhari-hari, dan melalui perhitungan-perhitungan berdasar tabel serta diagram yang njlimet. Menurutnya kerja dari Resowiguno merupakan hasil budaya Jawa yang tradisional. Dan itu merupakan puncak teknologi.

Resowiguno dalam melakukan pengecoran bahan logam hanya menggunakan prapen sederhana, ia tidak pernah mengenal termometer untuk menandai titik lebur timah putih maupun tembaga pada titik panas 8450 Celsius, hanya dengan sentuhan tangannya dalam hal ini ujung jarinya pada lingir atau tepi potongan contoh lakaran, mampu mengganti proses scanning di laboratorium. Penglihatannyapun secara prima mampu mengganti fungsi alat electromicroscope untuk mengganti paduan-paduan molekul, serta pendengarannya dapat mengganti peran alat teknologi yang disebut digital storage dan osciloscope, untuk menguji suara pada saat melaras nada.

Resowiguno dalam usia yang sudah renta, masih ikut meramaikan besalennya dengan hiruk pikuk oleh suara logam yang tertempa palu. Hal itu merupakan suatu pertanda bahwa gamelan serta gong masih dihasilkan oleh Resowiguno. Dan yang sangat menggembirakan adalah tiga dari enam putranya sudah mewarisi kepandaian bapaknya, dan sudah cukup mumpuni meneruskan tradisi pembuatan gong secara baik. Bahkan Supoyo satu diantara ketiga anaknya yang membuat gong tersebut kini mampu membuat gong ageng dengan diameter lebih dari 100 cm. Hal ini menjawab keprihatinan dari almarhum Presiden Ir. Soekarno ketika memberikan wejangan kepada Resowiguno agar menularkan kepandainnya kepada orang lain, karena kepandaian Resowiguno begitu penting bagi kelangsungan kebudayaan Jawa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s