SH Mintardja, Kesederhanaan Sang-“Mahesa Jenar”


sumber : tembi.org

SH Mintardja adalah sosok yang melestarikan tradisi mendongeng dan bertutur melalui media sastra tulis. Beliau memang sadar apa yang ia lakukan adalah untuk memperkaya budaya Indonesia dengan menggali nilai-nilai tradisi, dalam hal ini adalah tradisi Jawa. Sumbangan beliau ini sungguh sangat bermakna dalam karena dia dengan segenap intensitasnya telah mengaktualisasikan kembali ajaran luhur yang terkandung dalam budaya Jawa. Sebagai seorang sastrawan SH Mintardja setia pada pilihannya.

Lelaki kelahiran Yogyakarta 26 Januari 1933 ini, telah melakukan perjalanan panjang kreatifitasnya dalam suatu bentangan sejarah sastra Indonesia. Dalam perjalanan budaya yang jauh tersebut, ia senantiasa membisikan pesan-pesan moral dengan menggunakan bungkus tradisi Jawa yang kental untuk menggugah semangat kesadaran nasionalisme dan patriotisme untuk mengingatkan orang tentang pentingnya keselarasan hidup. Hal inilah yang membuat orang terpesona, serta membuat para pembacanya terhibur sekaligus penasaran untuk selalu mengikuti bangunan dramatik yang dia tulis dalam karya-karyanya.

Sudah banyak karya yang telah dia tulis, dan jika karya-karya itu dirangkai tidak dapat terbayangkan betapa panjangnya. Dapat dibayangkan sejak pertengahan tahun 1967 ia setiap harinya selalu menghasilkan dua buah tulisan bersambung untuk dimuat setiap hari di surat kabar Kedaulatan Rakyat terbitan Yogyakarta. Karya yang sangat spektakuler adalah “Api di Bukit Menoreh” yang baru saja selesai pada ahkir tahun 2001 dan dilanjutkan lagi dengan karyanya yang lain yaitu “Tanah Warisan” yang sampai tulisan ini dibuat sudah memasuki episode ke-152. Hal ini menandakan kegairahan kepenulisannya tak pernah surut, disamping sekaligus mencerminkan adanya kualitas disiplin dan kesetiaan.

Karya SH Mintardja “Nagasasra Sabuk Inten” yang ia ciptakan pada tahun 1964 dengan tokoh “Mahesa Jenar” merupakan tonggak yang mengukuhkan dia pada bidang sastra, khususnya penulisan cerita laga bersambung dengan latar belakang budaya Jawa. Ada suatu pengalaman dalam perjalanan tulisan tersebut, karena menurut banyak orang bahwa tokoh “Mahesa Jenar” makamnya ada di daerah Godean Yogyakarta, padahal menurut penulisnya (SH Mintardja) sendiri bahwa cerita “Nagasasra Sabuk Inten” adalah cerita fiktif, dan nama “Mahesa Jenar” menurutnya ia peroleh hanya begitu saja. Namun diakuinya bahwa nama “Mahesa Jenar” dipengaruhi oleh situasi jaman pada waktu karya ini dibuat. Bahwa “Mahesa” memiliki arti “kerbau” dan “Jenar” memiliki arti “merah” bahwa kedua kata tersebut melambangkan sikap nasionalisme. Adanya pandangan dalam masyarakat yang menganggap bahwa nama itu benar-benar ada, merupakan suatu hal yang menandakan bahwa buah karyanya bisa mengakar di hati masyarakat, bahkan mampu menembus batas-batas kultural, karena seringnya dia memperoleh surat-surat dari luar Jawa yang isinya beraneka macam ada yang memberikan pujian maupun kritik terhadap karyanya tersebut. Bahkan yang aneh banyak pula yang meminta untuk memberikan nama bagi anak yang bakal lahir, dan ada pula yang meminta nomor undian. Semua respon dari masyarakat tersebut merupakan cermin dari hasil karyanya yang sudah mendarah daging dalam pikiran para penggemar tulisannya.

Semua cerita yang dibuat oleh SH Mintardja sepertinya banyak yang berlatar belakang sejarah, padahal menurutnya ia hanya bermain-main di celah-celah sejarah tersebut. Dalam hal ini sejarah hanya dimanfaatkan sebagai latar belakang. Konflik yang muncul hanya ditambahkan disitu, malah konflik tersebut justru problema masa kini namun oleh beliau dikenai baju masa silam. Oleh karena itu ia tetap mencermati kitab-kitab lama, salah satunya yaitu Babad Tanah Jawi. Dari buku babad tersebut beliau mendapatkan kemudahan dalam memperpanjang cerita dan menggambarkan wajah generasi ke generasi seirama dengan langkah sejarah. Sampai sekarang sudah banyak naskah-naskah karyanya tidak hanya dimuat oleh surat kabar dalam bentuk cerita bersambung saja, tetapi karyanya sudah banyak yang dipakai untuk lakon cerita ketoprak, salah satunya yang cukup terkenal adalah “prahara” dan “Ampak-Ampak Kaligawe” yang oleh TVRI Yogyakarta dijadikan sebuah ketoprak sayembara yang cukup sukses menyedot penonton. Bahkan beberapa karyanya telah disandiwarakan oleh Sanggar Prativi Jakarta untuk diputar di radio-radio di seluruh Indonesia, dan ada pula karyanya yang telah difilmkan.

SH Mintardja dalam menyikapi hidupnya hanya ingin hidup dan berjalan lempeng (Lurus), dia hanya mendambakan hidup tenang, tentram, damai dalam kasih Tuhan dan kasih sesamanya. Dalam sikap yang sederhana tersebut dia tetap mencari keseimbangan dalam hidup. Dalam bersikap ia serba semeleh, sabar, tenang, dan terkesan tidak ingin menyakiti orang lain. Pilihan sikap inilah yang membuat SH Mintardja tidak memiliki ambisi materi. Kesederhanaan dalam menyikapi hidup tersebut menjadikan dia laksana resi yang tidak silau oleh kemewahan dunia.

Tapi sayang SH Mintardja telah tiada, dia meninggalkan karya-karya yang begitu besar serta ajaran hidup yang sederhana. Karya beliau sampai sekarang masih dipakai oleh beberapa surat kabar dan masih banyak karyanya yang dipakai untuk kegiatan berkesenian. Karyanya akan tetap abadi dan selalu menjadi bahan bacaan yang enak walaupun beliau sudah tiada. Inilah bentuk penghormatan dari pembvaca terhadap karya-karya beliau.

Didit P Dalad

3 thoughts on “SH Mintardja, Kesederhanaan Sang-“Mahesa Jenar””

  1. Bahwa “Mahesa” memiliki arti “kerbau” dan “Jenar” memiliki arti “merah” bahwa kedua kata tersebut melambangkan sikap nasionalisme.

    numpang naya neh.. kata “jenar” yang sebenarnya artinya kuning atau merah? sebab disebuah buku jawa jenar berarti kuning…
    matur nuwun

  2. “Jenar” artinya kuning Pak Bud. kalau merah dalam bahasa madya adalah “abra”.
    Kalau “kerbau merah” itu julukan bagi kesebelasan Semen Padang, yang bahasa sananya “kabau sirah”,
    Nah walaupun PSIS sudah ganti kostum dari kuning menjadi biru, tapi pendukung tim PSIS atau wartawan peliput bola yang gak ngerti arti julukan Mahesa Jenar , masih saja memakai julukan itu untuk kesebelasan PSIS. Tapi sebagian yang ngerti menggantinya menjadi traktor biru.
    Lho kok jadi sepak bola . . . ? :)
    Thanks Mas Prabu, pertanyaan saya tentang nama Singgih Hadi Mintarja di forum milis, diurai panjang disini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s