Kutut Manggung-nya Nyi Tjondrolukito


Album ini di produksi di pertengahan tahun 1980 oleh Perusahaan Rekaman Fajar, dan diproduseri oleh seorang musisi “jenius” dr Yogyakarta, Bagong Kussudiardjo alias ayah dr budayawan Butet kertaredjasa. Album ini menampilkan seorang pesindhen yg sangat terkenal, yaitu Nyi Tjondrolukito. Siapa itu “Nyi Tjondolukito” ?Mgkn byk dr kaskuser yg bertanya2 spt itu..

Well, terlahir bernama asli Turah,yang lahir di Desa Pogung, Sleman, 20 April 1920, itu. Dari penuturan anak dan menantu Nyi Tjondrolukito, Prima menggali cerita-cerita menarik. Misalnya, pernah suatu kali permintaan Presiden Soekarno agar tampil menghibur tamu luar negeri ditolak Nyi Tjondrolukito. Soekarno marah. Namun, sesaat kemudian Soekarno membenarkan alasan pesinden yang juga “langganan” tampil di Istana Negara ini.

Soekarno sadar, ia tidak mampu menyediakan panggung pentas dalam waktu terbatas. Padahal, untuk pentas gamelan, panggung itu mutlak. Nyi Tjondrolukito tak mau pentas tanpa panggung dan penonton duduk di kursi atau berdiri. Jika begitu, para pemain gamelan akan terlihat rendah. Ia tidak mau itu terjadi karena menjunjung martabat karawitan.

Selama hidup Ny Tjondrolukito berprinsip mengikis konotasi kurang baik yang masih melekat pada pesinden (penyanyi perempuan pada seni gamelan atau wayang). Hingga tutup usia di tahun 1997 tak kurang 200 tembang sudah ia buat dan lebih seratus kaset sudah dihasilkan. Sangat produktif.

Ciptaannya yang terkenal antara lain Uler Kambang dan Kutut Manggung. Namun, ia juga menggubah lirik tembang semisal Dhandanggula. Selain itu, Nyi Tjondrolukito pernah mendirikan sekolah tari Ngesti Budaya, menjadi abdi Keraton Ngayogyakarta, dan tenaga honorer di RRI Jakarta.

“Dia adalah pahlawan seni budaya. Sebagai sinden, ia teguh pada budaya Jawa. Dia tidak pernah menggabungkan lagu Jawa dengan lagu daerah lain atau lagu modern,” ujar Prima.

Kegemaran membaca mengalir pada lirik-lirik tembang ciptaannya. Nyi Tjondrolukito yang hanya tamatan sekolah rakyat setingkat sekolah dasar ini ingin agar lagunya memiliki pesan kebaikan dan moral.

“Dalam Uler Kambang, ia mengutarakan bagaimana bangsa Indonesia adalah bangsa yang luhur dengan Pancasila-nya. Pemimpin juga harus mengayomi rakyat,” kata Prima, anak sulung pengamat pendidikan St Kartono ini.

Prima berpendapat, sosok seperti Nyi Tjondrolukito di daerah-daerah belum banyak terangkat. Apalagi, dokumentasi buku. Mereka hanya dikenal di tingkat daerah. Padahal pasti banyak cerita menarik sekaligus pesan moral yang bisa menjadi teladan bagi generasi muda.

1. Palaran Pangkur and Wolak Walik in Slendro Mayura and Pelog Barang 
2. Uler Kambang, Kutut Manggung in Slendro Mayura

Sumber : http://maspie07.blogspot.com/2008/03/nyi-tjondrolukito-palaran-pangkur.html

Catatan :

Silahkan bila tidak bisa download dari link di atas, dapat di unduh disini:

http://www.4shared.com/dir/13807393/463de4ec/Nyi_Tjondrolukito_Kutut_Manggu.html
password : wayangprabu.com

One thought on “Kutut Manggung-nya Nyi Tjondrolukito”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s