Prof. Dr. Zoetmulder


Orang Belanda Yang NJawani 

Sumber : tembi.org

Zoetmulder adalah sosok pengabdi pada kerajaan Allah. Beliau menjadikan pengabdian kepada ilmu pengetahuan dan kebudayaan sebagai panggilan tugasnya. Melalui tangan Romo Zoet, kini generasi muda Indonesia bukan hanya dapat mempelajari kembali, tapi juga mengetahui dan mengerti reputasi tinggi dari peradapan nenek moyang jawa di bidang bahasa serta sastra kuna dan madya yang berupa budaya pustaka jaman sekarang. Apa yang dilakukan oleh Romo Zoet banyak menimbulkan keraguan dikalangan orang-orang Katolik, karena pemahaman inkulturasi belum dikenal begitu luas dikalangan agama katolik. Tetapi setelah pemahaman tentang inkulturasi diperkenalkan secara luas, maka apa yang dikerjakan oleh Romo Zoet kelihatan luar biasa. Keadaan tersebut semakin diperkuat ketika Sri Paus datang ke Indonesia (Yogyakarta), beliau turut mangayubagya atas perkembangan umat Katolik di Indonesia yang sanggup membaur dengan budaya lokal khususnya Jawa, jadi umat katolik di Indonesia tidak perlu menjadi Londho tetapi tetap menjadi Katolik yang Njawani. Pada kontek pemahaman tersebut maka penelitian dari Romo Zoet tersebut menjadi pembuka jalan bagi terjadinya dialog antara iman Katolik dengan kebudayaan setempat (dalam hal ini jawa).

Menurut YB Mangunwijaya bahwa Romo Zoet itu lebih njawani dibandingkan dengan orang jawa, beliau adalah seorang ilmuwan sejati dan cara kerjanya mirip seorang resi pada jaman Jawa Kuno. Banyak karya yang telah beliau ciptakan, dan karya-karyanya serba standar untuk keperluan studi sastra Jawa Kuna. Buku-buku hasil karyanya tidak dapat ditinggalkan oleh mereka yang ingin belajar serius tentang jawa kuna. Karya beliau yang dijadikan acuan oleh banyak ilmuwaan seperti “Manunggaling Kawula Gusti-Pantheisme dan Monisme dalam Sastra Suluk Jawa” (1990), yang kedua adalah “Kalangwan—Sastra Jawa Kuna Selayang Pandang” yang merupakan studi tentang kakawin lengkap para pujangga Jawa Kuna dari periode awal abad ke-8 sampai ahkir abad ke-17, yang berdasarkan tinjauan filologis. Kedua karya ini sudah di-Indonesia-kan oleh Romo Dick Hartoko (almarhum). Sedangkan karya lainnya yang tidak kalah hebatnya dengan kedua karya sebelumnya adalah “Old Javanese-English Dictionary” dikerjakan sejak tahun 1952 selama 30 tahun. Buku berbentuk kamus ini memuat 25.500 isian. Karya langka tersebut telah di-Indonesia-kan menjadi “Kamus Jawa Kuna-Indonesia” (1990) oleh Dr. Darusuprapto dan Dra. Sumarti Suprayitna.

Sejarah kehidupan Romo Zoetmulder diawali pertama kali dengan datang ke tanah Jawa pada usia 18 tahun (1924) selaku misionaris muda Katolik. Melalui sebuah perjalanan pendidikan formal dasar dan menengah yang ia selesaikan di Belanda, kemudian beliau langsung meneruskan pendidikan filsafat di Kolese Ignatius Kotabaru lulus dengan predikat cum Laude, dan dalam tempo hanya satu tahun ia mendapat gelar sarjana mudanya, setahun kemudian memperoleh gelar sarjana dengan hasil Cum Laude, dan dua tahun kemudian mendapat gelar Doktor dengan predikat Cum Laude pula pada usia 29 tahun dalam bidang bahasa dan sastra Jawa Kuna. Hal ini merupakan suatu prestasi yang sangat luar biasa. Kunci dari prestasi yang luar biasa ini menurutnya merupakan hasil dari sikap disiplin dalam segala hal, dan selalu menghargai akan waktu.

Romo Zoetmulder merupakan seorang pendidik dan perannya tidak dapat dilupakan begitu saja, dengan sponsor dari Sri Sultan HB IX dia menjadi salah seorang yang ikut mempersiapkan pendirian Balai Perguruan Tinggi di Yogyakarta (1946) yang ahkirnya kelak menjadi Universitas Gadjah Mada. Selanjutnya dia dikenal sebagai Maha Guru di Fakultas Sastra. Sebagai maha guru jejaknya tercetak melalui sejumlah anak didiknya yang banyak menjadi ilmuwan dan cendekiawan Indonesia yang tekun dalam bidangnya masing-masing seperti Prof. Dr. Kuntjoroningrat, Dr. Leo Sukoto, Prof. Baroroh Baried, termasuk yang digadang-gadang menggantikan perannya Dr. Ig. Kuntoro Wiryomartono SY.

Yang sangat menggembirakan dan mengharukan bagi romo Zoetmulder, yaitu ketika dia memperoleh “hadiah” berupa buku “antologi Bahasa Sastra Budaya”. Hadiah tersebut berasala dari para bekas mahasiswanya yang merasa berhutang budi di lapangan keilmuan. Hadiah buku tersebut merupakan bukti rasa hormat dan rasa menghargai dalam etika pergaulan sesama kaum ilmuwan, sedikitnya ada 42 penyumbang karya ilmiah dalam buku tersebut, yang sebagian merupakan karya ilmiah dari para ilmuwan sahabatnya, baik yang tinggal di Indonesia maupun di Luar Negeri.

Sebuah ironi, bahwa Romo Zoetmulder dilahirkan di negeri Belanda yang sangat jauh dari tanah jawa, tetapi beliau lebih njawani dibandingkan orang yang mengaku orang jawa asli. Beliau menjadi warga negara Indonesia pada tahun 1950 dan dia disiapkan menjadi seorang misionaris , namun ahkirnya sosoknya dikenal sebagai pemelihara kesinambungan sebuah kebudayaan bagi bangsa Indonesia. Dan reputasinya yang telah mendunia tersebut tetap beliau bawa dengan kehalusan dan kesederhanaan sikap ketika dia bersapa dan bertutur kata dalam bahasa jawa krama dengan komunitasnya. Tetapi yang menjadi pertanyaan sekarang ini adalah apakah bahasa dan sastra jawa kuna yang telah beliau terjemahkan dengan mengorbankan waktutunya dan usaha yang tidak mudah tersebut masih dianggap berguna apa tidak oleh generasi sekarang ini. Jawabannya hanya dapat dilakukan oleh generasi sekarang ini. Dan Romo Zoetmulder sudah berbuat banyak. Amin.

Didit P Daladi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s