Mengenang Sang Maestro [1]


KI NARTOSABDO PELOPOR SASTRA PEDHALANGAN

Dhalang Wayang Purwa

Ki Nartosabdo adalah dalang populer yang lahir tanggal 25 Agustus 1925 di Krangkungan, Pandes, Wedi, Klaten, Jawa Tengah. Nama kecilnya adalah Soenarto. Soenarto pernah mengenyam pendidikan lima tahun di SD Muhammadiyah. Setelah itu beliau melanjutkan studi di Akademi Seni Kerawitan Indonesia Surakarta. Karier Beliau dimulai dengan bergabung pada kelompok wayang orang Ngesti Pandawa, pimpinan Ki Sastrosabdo. Ki Sastrosabdo sangat sayang pada Soenarto karena kemahirannya dalam karawitan dan lawakan. Nama Soenarto dirubah menjadi Nartosabdo atas hadiah Ki Sastrosabdo pada tahun 1948.

Pada tahun 1958, Ki Nartosabdo untuk pertama kalinya mendalang dengan Lakon Kresna Duta, suatu lakon yang penuh dengan sanggit dan sangat estetis.

Pentas pakeliran Ki Nartosabdo terkenal dengan gendhing-gendhingnya, antawacana, greget, sanggit, komposisi alur dan dhagelannya. Beberapa lakon yang telah dipentaskan:

  1. Arjuna Cinoba
  2. Gathutkaca Wisuda
  3. Begawan Sendhang Garba
  4. Pandawa Dhadhu
  5. Kangsa Adu Jago
  6. Pandhu Krama
  7. Bima Bungkus
  8. Dewa Ruci
  9. Bima Suci
  10. Bisma Gugur
  11. Karna Tandhing
  12. Drona Gugur
  13. Abimanyu gugur
  14. Duryudana Gugur
  15. Dursasana Gugur
  16. Sumantri Ngenger
  17. Bomanaraka Sura Gugur
  18. Dasamuka Gugur
  19. Kumbakarna Gugur
  20. Subali Gugur
  21. Kresna Gugah
  22. Kresna Duta
  23. Alap-alapan Setyaboma
  24. Parta Krama
  25. Begawan Ciptowening
  26. Wisanggeni Lahir
  27. Mayangkara
  28. Destarastra Tundhung
  29. Babad Wanamarta
  30. Alap-alapan Dropadi
  31. Salya Gugur
  32. Parikesit Lahir
  33. Dewi Sukesi Krama
  34. Prabu Baka Gugur
  35. Semar Mantu

Ki Nartosabdo juga terkenal dalam musik gamelan dan produktif dalam menciptakan gendhing dan lagu-lagu dolanan yaitu:

  1. Swara Suling
  2. Lumbung Desa
  3. Ayo Praon
  4. Gropa Grape
  5. Ngundha Layangan
  6. Sapa Ngira
  7. ABRI Masuk Desa
  8. Aja Ngebut
  9. Mbok ya Mesem
  10. Caping
  11. Sapu Tanganmu
  12. Mari Kangen
  13. Gudheg Yogya
  14. Cep Menenga
  15. Suka Asih
  16. Ibu Pertiwi
  17. Gambuh Kayungyun
  18. Mijil Panglilih
  19. Subakastawa
  20. Lesung Jumengglung
  21. Meh Rahina
  22. Aja Dipleroki
  23. Jamu Jawa
  24. Ngagem Lurik
  25. Santi Mulya
  26. Identitas Jawa Tengah
  27. Slendhang Biru
  28. Goyang Semarang
  29. Sarung Jagung
  30. Ela-ela Gandrung
  31. Pariwisata
  32. Kagok Semarangan
  33. Megal Megol
  34. Kaduk Manis
  35. Cucur Biru
  36. Dumadi
  37. Rondha Kampung
  38. Dhempo
  39. Tedhak Saking
  40. Aja Kisruh
  41. Atiku Lega
  42. Balen
  43. Ngimpi
  44. Piwelingku
  45. Pleca-Plecu
  46. Sadarma
  47. Janjine Piye
  48. Aja Lamis
  49. Cengkir Wungu
  50. Gagat Enjang
  51. Tanpa Tujuan
  52. Aja Ngono
  53. Ora Nglindur
  54. Melathi Rinonce
  55. Setya Tuhu
  56. Aja Ngece
  57. Panyawangku
  58. Hanalangsa
  59. Rujak Jeruk
  60. Randha Nunut

(Biman Putro, 1994).

Pada tahun 1970 Ki Nartosabdo mendirikan Paguyuban Condhong Raos, yang menjadi ajang olah pedhalangan, karawitan, macapat, kethoprak dan seni sungging. Beliau wafat di Semarang tanggal 7 Oktober 1985. Kota Semarang sebagai kiblat pemerintahan propinsi Jawa Tengah seyogyanya merasa bangga mempunyai tokoh budaya Jawa yang bernama Ki Nartosabdo. Beliau telah mewariskan rumusan luhur yang berkaitan dengan cara pandang rakyat Jawa Tengah dalam mengungkapkan jati dirinya.

Mungguh sumbere Wawasan Nusantara
dadi paugeran raharjaning bangsa
Tri Gatra Panca Gatra
kang ginayuh trus binudi
supaya lestari jejeg santosa
mujudake tata tentrem
karta raharjaning Jawa Tengah
sumbere budaya agung
murih lestarining bangsa
strategi wawasan identitas Jawa Tengah

Dalam lintasan sejarah ada indikasi yang cukup menakjubkan, bahwa rakyat Jawa Tengah sejak zaman dahulu pendidikan humaniora yang berhubungan dengan nilai-nilai budi pekerti luhur sangat diperhatikan. Kehidupan karya cipta sastra tidak menjadi milik kelas bangsawan tertentu saja, melainkan pendidikan yang harus dipelajari oleh masyarakat umum. Penguasaan materi ilmu humaniora menjadi prasarat untuk menjadi pegawai istana (Zoetmulder, 1985: 179).

Kesadaran rakyat Jawa Tengah mengenai arti penting kedudukan ilmu bahasa, sastra, sejarah, antropologi, filsafat, kemanusiaan, kemasyarakatan, keagamaan, kesusilaan dan tata pemerintahan telah memberi pengertian kepada para pejabat kerajaan di Jawa Tengah dahulu untuk mendirikan, mengembangkan, dan membantu proses pengajaran pada saat itu yang berupa padepokan dan peguron. Padepokan ini diasuh oleh para brahmana, wiku, resi, pendhita, dwija yang tinggi ilmunya. Bagi rakyat Jawa Tengah seorang brahmana adalah guru kang kebak ngelmu, sipating kawruh, mumpuni ing samubarang lan putus ing reh saniskara.

Para brahmana itu mendidik, membina, nggulawenthah para cantrik, generasi muda agar menjadi manusia yang mandiri, terhormat, bermartabat, berwawasan, berbudi luhur, prigel, trampil, rikat, trengginas yang selalu siap menyelesaikan setiap persoalan. Gemblengan mental, moral dan spiritual brahmana-cantrik, guru-murid itu dilakukan cukup ketat, kerap dan tertib, sehingga mereka yang lulus dari pendadaran akan tampil menjadi sosok satria utama, prajurit sejati yang mempunyai sifat mandraguna dan alus ing budi.

Secara historis usia budaya Jawa Tengah sudah berusia lebih dari 1 milenium. Menurut Prasasti Sukabumi studi sejarah Jawa Kuno secara tertulis dimulai tanggal 25 Maret 804. Bunyi Prasasti Sukabumi itu demikian: Pada tahun 726 penanggalan Saka, pada hari kesebelas paro terang, pada hari Haryang atau hari kedua dalam minggu yang berhari enam, atau hari keempat dalam minggu berhari lima, Saniscara atau hari ketujuh dalam minggu yang berhari tujuh (Zoetmulder, 1985: 3). Keterangan dalam Prasasti Sukabumi itu amat penting sebagai sumber penulisan sejarah. Di samping itu, prasasti itu telah memperlihatkan bahwa kebiasaan melakukan dokumentasi dan kearsipan sudah membudaya sejak lama di lingkungan masyarakat Jawa.

Pada tahun 930 pengaruh kekuasaan Jawa Tengah bergeser ke arah Jawa Timur. Empu Sindok memindahkan kekuasaan di sekitar Lembah Kali Brantas bagian hulu. Selama berabad-abad setelah kerajaan Mataram Kuno berpindah teritorial Jawa Tengah mengalami kekosongan dan berada dalam hegemoni pemerintahan kerajaan. Kerajaan di Jawa Timur di Jawa Timur, yaitu Medang, Kahuripan, Daha, Jenggala, Kediri, Singasari dan Majapahit.

Kedudukan Jawa Tengah mulai diperhitungkan kembali setelah lahir kerajaan Demak Bintoro. Rajanya yaitu keturunan Prabu Brawijaya yang bernama Raden Patah dengan bergelar Sultan Syah Alam Akbar tahun 1478-1518. Sejak berdirinya kerajaan Demak hingga kini propinsi Jawa Tengah merupakan wilayah yang cukup terkemuka dalam hal kebudayaan di Asia Tenggara.

Kekayaan propinsi Jawa Tengah yang berupa aneka ragam sumber daya alam hewani dan nabati, sejarah, kebudayaan, kesenian, bahasa, sastra, adat istiadat, jumlah penduduk, letak geografis, iklim, laut, daratan dan pegunungan merupakan modal yang berharga untuk membangun peradaban yang anggun dan agung. Pesan moral almarhum Ki Nartosabdo buat rakyat Jawa Tengah perlu diperhatikan:

Bab Panca Gatra Ideologi Pancasila
mindakake demokrasi Pancasila
ekonomi ngleksanakake pasal
telung puluh telu UUD empat puluh lima
sosial budaya tansah
angleluri kapribaden bangsa
katentremaning bebrayan peranganing pembangunan
strategi wawasan identitas Jawa Tengah.

Kita bisa memprediksi bahwa jatidiri Jawa Tengah akan berjaya dan mengalami zaman kencanarukun dengan tidak perlu waktu lebih dari 10 tahun.

Syaratnya cuma sederhana kerja keras dan tertib dalam segala hal. Targetnya minimal memberi kontribusi kebudayaan paling berkualitas di kawasan regional Asia Tenggara. Kesadaran rakyat Jawa mengenai potensi yang dikandung oleh laut diekspresikan secara estetis oleh Ki Nartosabdo dalam lagunya Ayo Praon demikian:

Yo kanca neng gisik gembira
alerab-lerab banyuning segara
anggliyak numpak prau layar
ing dina Minggu keh pariwisata
alon praune wis nengah
byah byuh byah banyu binelah
ora jemu jemu karo mesem ngguyu
ngilangake rasa lungkrah lesu
adhik njawil mas jebul wis sore
witing kelapa katon ngawe-awe
prayogane becik bali wae
dene sesuk esuk tumandang nyambut gawe

Terjemahan :

Mari kawan bergembira ria
berombak-ombak air samudra
pada hari Minggu banyak wisatawan
ramai naik perahu layar
pelanlah perahu sudah menengah
berdeburan air membelah
tiada jemu sambil senyum
menghilangkan rasa lelah
adik bilang telah sore
pohon kelapa tampak melambai
lebih baik kembali dulu
besuk pagi hendak bekerja

Syair tembang dolanan di atas mengandung nilai rekreasi dan produksi, berwisata dan berkarya secara serasi, selaras dan seimbang. Secara simbolik mengandung makna bahwa sesuatu harus dikerjakan dengan tidak berlebihan.

Karena sikap yang berlebihan pada akhirnya hanya akan merugikan diri sendiri dan orang lain.

Dikutip dari buku “Sejarah Sastra Jawa” karangan Dr. Purwadi, M. Hum. Tahun 2006.

Advertisements

One thought on “Mengenang Sang Maestro [1]”

  1. Terima kasih.
    Sedikit usul pada terjemahan: “Yo kanca neng gisik gembira”.
    Ada kata “gisik” di situ, yang menggambarkan suasana pantai atau tepi laut.
    Dalam terjemahan Indonesianya belum disinggung.
    Seyogyanya terjemahannya adalah: Mari kawan bergembira ria ke pantai .

    Salam,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s