Pagelaran Wayang Tradisional Kita


By Bram Palgunadi

Kehidupan di kota-kota besar Indonesia, membuat kita tidak bisa menghindarkan mata dan kehidupan kita dari pemandangan dan peristiwa khas, yaitu gedung-gedung tinggi, pencakar langit, kehidupan modern, kehidupan yang serba cepat, serba instan, serba terburu-buru, serba saling bersenggolan kepentingan, saling menekan, saling mengancam, saling mempengaruhi, saling berlomba hampir di segala hal, dan diam-diam mau diakui atau tidak, merupakan kehidupan yang sebenarnya ‘menyakitkan’, karena membuat orang pelakunya menjadi tertekan dan stress. Orang yang hidup di dalam lingkungan modern seperti ini, seringkali hidup dalam kesepian di antara hiruk-pikuk. Orang dihargai dari berapa banyak dia punya uang, harta, dan kedudukannya. Kalau tidak punya uang, tidak punya harta, atau tidak punya kedudukan; ia dianggap tidak ada, tidak eksis, dan tidak perlu diperhatikan. Harta, kedudukan, jabatan, pangkat, dan gelar; menjadi sebuah tujuan yang absurd dan semakin lama menjadi semakin tidak jelas lagi maknanya. Kehidupan spiritual, agama, dan kepercayaan terhadap sesuatu; berubah menjadi kepercayaan terhadap ‘uang’. Orang bukan lagi menyembah Tuhan, tetapi lalu menyembah ‘uang’, karena uanglah yang bisa berakibat dia hidup dan dihargai, dihormati orang lain.

Kota besar yang penuh tekanan, persaingan, dan melelahkan; membuat orang Jepang ini mabuk ‘sake’ secara rutin pada hari Jumat, sepulang dari kantor. Dan, baru pulang selewat tengah malam, setelah menyelesaikan seluruh ritual rutinnya, ‘mabuk sake’.

Apa kita juga hendak meniru ‘kemajuan’ budaya macam ini? Atau kita memang cenderung mudah atau memang ditakdirkan menjadi ‘bangsa pengekor budaya bangsa lain?’ Sebuah pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh kita sendiri.

Minuman keras, merupakan salah satu pelarian yang jelas bisa merusak seluruh peri kehidupan. Dan, bahkan bisa berakibat terjadinya ketergantungan yang parah, selain soal kesehatan yang jelas rusak. Apakah peri kehidupan seperti ini yang hendak kita tiru?Orang Jepang yang ‘sangat modern’, setiap hari Jum’at sore tiba, sepulang dari kantor, lalu berbondong-bondong bergerombol bersama teman, sahabat, dan teman sejawatnya; melepaskan diri dari segala kungkungan kehidupan yang amat sangat modern, yang serba menekan dan menjerat dirinya, dengan cara beramai-ramai bergembira ria, membebaskan diri dari formalisme, makan, dan minum ‘sake’ sampai mabuk! Ini merupakan sebuah ‘ritual’ yang hampir pasti menerpa semua lapisan orang Jepang. Tentu tidak semuanya begitu. Tetapi sebagian besar begitu. Tengah malam atau lewat tengah malam, mereka baru pulang ke rumah masing-masing, dan menemukan kedamaian tradisional di rumahnya. Mereka berganti pakaian, dari semua berpakaian ala Barat di kantor, lalu berganti memakai pakaian tradisional Jepang mereka. Pulang ke rumah, berarti kembali ke tradisi Jepang, lengkap dengan segala ritual dan kebiasaannya. Karena itulah, orang Jepang umumnya membangun rumah tinggalnya secara ‘amat sangat tradisional’. Segala hal dan renik-renik tradisi Jepang, ada di rumah seorang bangsa Jepang. Mereka itu, seakan hidup di dua dunia yang amat sangat berbeda. Satu sisi merupakan kehidupan Barat yang ‘amat sangat modern’. Dan, satu sisi lainnya merupakan  kehidupan Jepang yang ‘amat sangat tradisional’.

Banyak pengamat yang menyatakan, bahwa kehidupan orang Jepang, sebenarnya merupakan kehidupan ‘mendua’ yang dipandang sebagai salah satu solusi atau cara untuk mengatasi dan menjembatani kehidupan yang sangat modern dengan kehidupan yang sangat tradisional. Orang Jepang, sebagian besar memang melakukan hal itu, sebagai bagian dari kehidupan mereka sehari-hari di kota-kota besar dan di kota-kota industri. Tetapi jujur saja, jika kita melihat kehidupan mereka itu, serasa ada bagian dari sisi kehidupan mereka yang hilang. Jadi, menurut saya, mereka itu sebenarnya melakukan kehidupan yang timpang! Tapi, mungkin cara itulah yang disepakati ‘secara nasional’ untuk mengatasi berbagai ketimpangan serta ketidak-seimbangan kehidupan Barat dan modern yang mereka alami.

Orang Jepang memang bukan orang Indonesia. Cara orang Indonesia mengatasi masalahnya, juga berbeda dengan orang Jepang. Itu sudah jelas!. Tapi kehidupan ‘mendua’ itu, sedikit banyak yang sudah mulai terjadi di kota-kota besar Indonesia. Mungkin belum berlangsung sekejam di Jepang, tapi sudah terjadi!

Karenanya, kita juga harus mulai memikirkan bagaimana solusinya. Kalau tidak, suatu ketika nanti, kita akan menjadi seperti orang Jepang! Lebih celaka lagi, kita bisa saja kehilangan identitas sebagai orang Indonesia, karena berperi-laku seperti orang Jepang, atau seperti orang Barat. Gejalanya kan sudah mulai tampak, terutama di kota-kota besar.

Di belakang tempat tinggal saya, di atas puncak bukit, ada sebuah cafe tempat minum (persis seperti di Jepang, cuma yang diminum bukan ‘sake’, tapi minuman keras ‘Barat’ lainnya). Tempat ini, setiap malam, terutama pas hari Jum’at dan Sabtu, selalu dipenuhi orang-orang yang ingin melepaskan diri dari kejenuhan dan tekanan kehidupan kota besar. Kalau diperhatikan, mereka itu semalam suntuk sibuk minum, bernyanyi-nyanyi (ada live band-nya), dan tertawa-tawa terbahak-bahak bersama-sama. Kelihatannya, seperti semuanya serba menggembirakan dan serba menyenangkan. Ini bisa berlangsung sampai pagi hari, sekitar jam 03.00 atau 04.00 baru bubaran. Beberapa dari mereka, sering mengalami kecelakaan karena agak mabuk atau sedang mabuk, langsung nyetir mobil atau motor. Sebabnya? Kalau pulang, jalannya sangat menurun, maka kebanyakan dari mereka berakhir dengan mobilnya nabrak pagar rumah orang, terguling motornya, atau mobilnya nabrak mobil lain! Agak sering juga terjadi keributan dengan sesamanya yang sama-sama mabuk. Mereka ini, saya pandang berperi-laku seperti orang Jepang atau orang Barat, padahal mereka jelas orang Indonesia. Dan, para pebisnis cafe ini, secara  sangat jeli memanfaatkan mereka untuk dikeruk isi kantongnya. Seperti sudah saya kemukakan, saya mungkin orang kuna dan ortodoks, jadi tidak habis mengerti, untuk apa sebenarnya mereka melek sampai pagi, sambil bernyanyi-nyanyi dan mabuk. Rasanya seperti membuang banyak kesempatan dan membuang waktu saja yang jauh lebih berharga.

Melihat pagelaran wayang (wayang apapun) secara rutin, bisa menjadi salah satu jalan keluar yang cukup bijak dan baik. Kita bisa bertemu sahabat, teman baru, teman lama, atau sesama penggemar wayang. Bisa ngobrol, bisa berbincang, bisa sekedar mengantuk ditempat, bisa nonton wayang-nya, bisa sambil makan, sambil minum yang anget-anget (kopi, bajugur, teh hangat). Yang menjadi masalah, tidak banyak perusahaan, lembaga, dinas, pabrik, jawatan, bank, pemerintah kota, atau pemerintah daerah; yang sadar bahwa berbagai hal bisa disampaikan dan menjadi bagian dari pagelaran wayang. Mereka baru ‘mudeng’ soal itu, kalau sudah kepepet, dipepet, dan tidak melihat jalan lain. Namun, yang jelas, sebagian besar dari mereka tidak melihat potensi dan kemungkinan peluang yang bisa diraih. Itu yang menjadi masalahnya. Hal ini, ditambah dengan berbagai pagelaran yang dipertunjukkan memang cenderung tidak mengeksploitasi dan mengajari masyarakat penontonnya tentang budi pekerti yang baik. Tetapi lebih banyak mengeksploitasi berbagai hal, yang menurut saya lebih banyak ‘mengeksploitasi naluri rendah manusia’….

Saya, terus terang saja, mungkin dipandang kuna atau ortodoks, tapi melihat segala yang ada di sekeliling saya, kok jadi merasa kasihan. Lawong pagelaran tradisional, kok menjadi ajang untuk ‘mengeksploitasi naluri rendah manusia’. Bukankan mbah-mbah dan leluhur kita dulu selalu mengajarkan kepada kita untuk hidup baik, hidup ‘prasaja’ (sederhana), ati-ati lan setiti (hati-hati dan cermat), dan hidup selalu harus ‘eling lan waspada’ (ingat dan waspada). Haruslah dipahami juga oleh kita, bahwa semua hal yang mendatangkan mala-petaka dan dosa, hampir boleh dibilang semuanya merupakan hal yang serba menyenangkan, membuat kita lupa diri, dan memang cenderung ‘mengeksploitasi naluri rendah manusia’…..

Saya sangat merindukan suatu pagelaran kesenian tradisional seperti pagelaran wayang misalnya, yang tidak saja bisa memberikan kegembiraan dan kesenangan di hati; tetapi juga menambah isi batin saya dengan berbagai hal, petuah, nasehat, spirit kehidupan, makna dan tuntunan kehidupan; serta bisa memperluas wawasan jagat pengetahuan saya. Saya merindukan dhalang yang mau melaksanakan darma baiknya sebagai seorang dhalang. Bukan sekedar melakukan pagelaran wayang untuk ‘mengeksploitasi naluri rendah manusia’, sekedar tontonan ‘badan wadhag’ dan ‘mata raga’ semata. Saya merindukan pagelaran wayang yang menyentuh dan memikat, tidak saja raga saya, tetapi juga batin saya. Saya juga merindukan munculnya dhalang-dhalang yang sadar fungsi dan perannya, sebagai layaknya seorang ‘dhalang sejati’, yang bukan sekedar bertindak sebagai ‘orang yang menghibur penonton’ semata. Saya merindukan pagelaran wayang, yang mengeksploitasi drama, cerita, antawacana, janturan, sabetan, gendhing, tembang, dan suluk; yang menyentuh, memikat hati, dan mampu menggetarkan hati sanubari dan perasaan penontonnya, seakan-akan mereka itu adalah pelaku-pelaku yang diceritakan di dalam pagelaran wayang. Bukan sekedar, sebagai orang yang menonton secara pasif, yang kemudian pulang dengan segudang pertanyaan tak berjawab: “Untuk apa saya tadi nonton wayang?”

Saya juga merindukan pagelaran wayang yang mampu membawa penontonnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari cerita wayangnya, karena mereka itu sebenarnya adalah pelaku sesungguhnya dalam cerita-cerita wayang yang digelar. Mereka sesungguhnya bukanlah penonton, tetapi pelaku di dunia dunia nyata! Wayang, adalah gambaran kehidupan nyata mereka, yang digelar dalam bentuk bayang-bayang kehidupan di layar wayang, yang bisa menjadi cermin dan merefleksikan bagaimana mereka bersikap dan berperi-laku. Lebih jauh lagi, pagelaran wayang, seharusnya bisa mengubah orang yang lupa dan tidak ingat kepada Tuhan-nya, menjadi ingat kembali kepada Tuhan-nya. Bisa mengubah seseorang yang bersalah, menjadi ingat kepada apa kesalahannya dan apa yang harus diperbuatnya untuk memperbaiki kesalahannya. Bisa membawa kembali orang yang lupa kepada siapa ia harus berbakti, menjadi orang yang baik dan berbakti. Bisa menyadarkan tentang bela negara dan bela pati, yang diperlukan bagi eksistensi sebuah negara, dan menjadikan mereka ksatria-ksatria tangguh pembela tanah tumpah darahnya. Bisa membakar kembali semangat mereka yang sudah putus asa, menjadi orang-orang yang poenuh semangat dan pantang mundur. Bisa membawa mereka yang lupa kepada agamanya, untuk kembali beragama. Bisa membuat orang merenungkan hidupnya, untuk apa dia ada, dari siapa dia ada, dan kepada siapa dia akan kembali nanti. Mampu membawa dan menyadarkan orang yang membuat kesalahan dan kejahatan, untuk menyesali dan menebus berbagai kesalahan dan kejahatannya dengan berbagai budi dan darma baik. Bisa membuat orang menangis karena menyesali perbuatannya, dan menjanjikan kehidupan yang jauh lebih baik baginya. Ringkasnya, pagelaran wayang, bukanlah sebuah pagelaran ragawi semata. Pagelaran wayang merupakan pagelaran kehidupan manusia. Seperti layaknya sebuah cermin, saat kita melihatnya maka kita seperti melihat diri kita apa adanya, tepat seperti aslinya. Lalu, menyadarkan kita kepada kondisi kita yang sebenarnya, dan bisa mernyadarkan dan menghadirkan sejumlah bekal kehidupan yang ‘baru’ dan jauh lebih baik.

Pagelaran wayang, seharusnya mengikat erat penonton dengan pagelaran wayang yang ditonton. Karenanya, jika suatu pagelaran wayang tidak bisa menampilkan dirinya seperti cermin, maka kita tidak akan mendapatkan pelajaran apapun dari pagelaran itu. Dalam kasus ini, kita lalu bersikap seperti menonton film atau sinetron, lalu ada jarak antara penonton dan yang ditonton. Kita, lalu menjadi menerapkan jarak, dan menetapkan diri benar-benar sebagai penonton, bukan lagi sebagai pelaku dan bagian dari cerita yang digelar. Setelah pagelaran selesai, kita lalu pulang dengan gembira dan sekedar gembira, tanpa mendapat manfaat apa-apa dari pagelaran itu, kecuali hal-hal yang bersifat ragawi dan sama sekali tidak menyentuh sisi rohani kita. Apapun yang diceritakan di dalam pagelaran wayang itu, berlalu dan hilang begitu saja dari ingatan kita. Pagelaran wayang saat ini, kebanyakan (tentu tidak semuanya) berlangsung seperti ini. Sekedar menjadi hiburan ragawi semata. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan berbagai hal yang bersifat rohani dan batiniah.

Jika kita tetap berperi-laku seperti ini, maka apa yang kita lakukan, sebenarnya sama dengan yang dilakukan orang Jepang, yaitu sekedar melupakan diri dari permasalahan yang mendera kita setiap hari. Menonton wayang, lalu setara dengan orang Jepang yang melupakan kejenuhan dan kepenatan hatinya dengan mabuk ‘sake’ setengah malam, lalu pulang ke rumah…..

Kita adalah orang Indonesia! Dan, orang Indonesia bukanlah orang Jepang atau orang Barat! Itu jelas! Bahkan Bung Karno dulu seringkali mengatakan dalam setiap pidatonya yang berapi-api: “Bangsa Indonesia bukanlah ‘bangsa tempe’, yang bisa diiris-iris dengan mudah, lalu digoreng, dan dimakan!” Maksudnya, tentulah bangsa ‘Indonesia bukanlah bangsa yang mudah dipecah-belah dan dijajah secara mudah oleh bangsa asing!’ Maka jadilah bangsa Indonesia yang berbudaya Indonesia, menjunjung tinggi martabat bangsanya dengan mempertahankan dan meluhurkan budaya Nusantara, cinta kepada Ibu Pertiwi, dan menjadi ksatria-ksatria pembela tanah air Indonesia yang teguh, tanggap, tatag, tangguh, dan bersedia bela pati untuk negara, yang namanya Republik Indonesia! Kata Bung Karno dulu: “Jangan menjadi begundal dan cecunguk negara asing!”, dengan sekedar ikut-ikutan budaya mereka……

Karenanya, banggalah menjadi bangsa Indonesia, dan jadikan budaya Nusantara sebagai budaya sendiri yang dibanggakan. Dan, jadikan budaya dan pagelaran wayang sebagai sarana untuk memperbaiki mutu kehidupan bangsa, bukan sekedar sarana untuk membuat hati gembira semata….

Betapa bebas dan semaraknya pagelaran Wayang Ajen di Kota Bekasi ini. Bersuasana total theater, lesehan, dan sangat merdeka. Para penonton bebas duduk santai sambil berbincang, makan, minum, atau apa saja. Suasana inilah yang membuat penonton mudah menyatu dengan pagelaran wayang. Tinggal soal dhalang, bisa tidak menjadikan pagelaran wayang itu menyatu dengan penontonnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s