ARJUNA Sang Idola


By Bram Palgunadi

Ini adalah sebuah cerita imajiner, yang selama berminggu-minggu saya pikirkan. Sebagian besar pecinta wayang (tentu saja tidak semuanya), umumnya sangat menyukai figur Arjuna. Dhalang yang memainkan tokoh ini di jagat pewayangan, bahkan seringkali mengungkapkan sejumlah ‘nama alias’ kepada Arjuna. Misalnya, Pandhusiwi (karena putra Pandhu), Janaka, Permadi, Kombang Ali-ali, Panengah Pandhawa (karena ia merupakan anak ketiga di antara lima anak), Palguna (karena lahir di musim kemarau. Palguna = musim kemarau). Dan, tentu masih banyak lagi nama alias yang diberikan kepada Arjuna. Dalam jagat pewayangan, Arjuna seringkali digambarkan sedemikian sempurnanya sebagai seorang laki-laki. Atau, bolehlah dikatakan sebagai ‘lelaki idaman’. Paling tidak, hal itu sering dinyatakan oleh dhalang saat ‘nyandra’ (menceritakan) Sang Arjuna. Sedemikian sempurnanya, sosok Arjuna itu, sehingga kita sendiri seringkali menjadi terjerumus dan menjadi tidak obyektif, saat menalar tentang dirinya. Ada semacam sisi fanatisme yang kelewatan dan sangat berlebihan. Ulasan di bawah ini, saya sampaikan untuk memberikan gambaran sebaliknya. Bukan untuk memburuk-burukkan sosok Arjuna yang luar biasa itu, tetapi sekedar untuk memberikan gambaran, bahwa jika kita memandang dan memperlakukan seorang tokoh secara berlebihan, maka yang terjadi adalah ‘lupa diri’. Selain itu, juga untuk merenungkan, apakah benar seperti itu yang tampak atau justru sebenarnya kita sama sekali tidak tahu yang sebenarnya. Hal ini, bisa terjadi pada tokoh yang dipuja, maupun pada kita sebagai pemuja fanatiknya. Saat membaca tulisan di bawah ini, diperlukan imajinasi, perasaan, dan pemahaman logika; bukan fanatisme buta. Karenanya bacalah dengan perlahan-lahan saja, sambil minum kopi, dan menikmati makanan kecil. Pokoknya sambil santai sajalah. Bagi pendukung kuat dan pecinta tokoh Arjuna, jangan membawa-bawa unsur emosi saat membacanya, meskipun mungkin anda bisa saja tersinggung dan marah, saat membaca ulasan ini. Renungkan sajalah……

Bagi saya, sosok Arjuna adalah seorang pejabat tinggi dari suatu negeri yang terkenal di seantero jagat, dan lazim disebut ‘Kerajaan Amarta’ (Amarta Kingdom), yang terkenal sangat makmur, sejahtera, dan sangat dihormati oleh banyak negeri lainnya. Segala keteraturan dan hasil yang didapat Kerajaan Amarta itu, tentu saja berkat usaha dan upaya para kerabat Pandhawa, yang merupakan penguasa Kerajaan Amarta. Sangat mungkin, sukses Kerajaan Amarta itu juga dibantu dan didukung oleh masyarakat Amarta yang memang sangat mencintai para kerabat Pandhawa. Salah satu kerabat Pandhawa yang sangat terkenal dan jelas sudah menjadi ‘selebritas papan atas’, adalah Arjuna. Selain berperan sebagai pejabat tinggi negara di Amarta, ia memang terkenal sangat ‘dandy’, banyak sekali fans-nya, dan memang harus diakui saja, ia terkenal sangat tampan, modist, pintar, cerdik, sakti, luas wawasannya, banyak pengetahuannya, dan apalagi didukung postur tubuh yang sangat atletis. Ia bukan tipe seperti peragawan, yang sangat mengekspolitasi otot, tetapi kurang mengeksploitasi akal dan otaknya. Karena hal itulah, maka sejumlah besar selebritas pria di Amarta banyak yang iri hati dan diam-diam sangat mengidolakan Arjuna. Sedangkan para selebritas wanita, seringkali secara sadar atau tidak sadar, memuja Arjuna secara berlebihan.

Di Kota Metropolitan Amarta-Pura, papan-papan iklan raksasa banyak menampilkan wajah dan tubuh Arjuna, dalam upaya untuk membujuk dan memikat orang supaya membeli produk-produk dalam negeri Amarta. Bahkan sejumlah produk parfum untuk wanita, yang biasanya memakai tokoh selebritas wanita sebagai unsur penarik hati, sudah digantikan oleh selebritas yang namanya Arjuna! Dengan senyumnya yang manis dan mempesona, foto Sang Arjuna yang oleh perancang iklannya posenya diatur sedemikian rupa, supaya kelihatan sangat ‘sensual’ itu, seakan-akan hendak merayu dan memikat hati para wanita dan gadis Amarta, untuk membeli produk parfum yang diiklankan. Dalam suatu berita sore yang dilansir oleh stasiun televisi ‘Amarta TV’, diberitakan telah terjadi sedikit kericuhan, saat produk parfum bermerk ‘Gairah Kinanthi’ itu untuk pertama kali di-‘launching’. Sejumlah wanita diberitakan berdesak-desak tak terkendali, saat waktu pembelian dengan harga miring karena dikorting, dimulai. Beberapa wanita, terutama para remaja dan janda, dikabarkan pingsan dan ini merepotkan para petugas sekuriti yang menjaga stan tempat ‘launching’ pertama produk parfum terkenal itu. Seorang reporter ‘Amarta TV’ memberitakan, bahwa sejumlah wanita dan remaja putri melakukan protes dan marah kepada para SPG (sales promotion girl), karena tidak kebagian parfum ‘Gairah Kinanthi’ yang diidam-idamkannya! Di layar pesawat televisi, tampak sejumlah wanita dan remaja putri sedang mengacung-acungkan tinjunya kepada sejumlah SPG yang kalang kabut melayani pembelian yang sudah di luar kendali itu! Mereka yang protes dan marah itu, seperti kerasukan setan saja, dan seakan sudah kehilangan sifat kewanitaannya yang lemah lembut! Yang terlihat adalah sekumpulan orang yang berang dan dengan muka merah padam karena marah, berteriak-teriak liar, meminta ‘jatah parfum’ idolanya!

Lalu, ada juga iklan yang di-‘launch’ oleh suatu perusahaan developer kompleks perumahan mewah ‘Amarta Luxury House Developer’, yang memakai Sang Arjuna sebagai tokoh idola yang sukses. Digambarkan dalam iklannya, Sang Arjuna didampingi sejumlah wanita cantik dan sexy, sedang bercengkerama di dalam suatu taman di depan salah satu rumah tinggal mewah yang diiklankan. Iklannya sendiri, tetap santun dan sangat sopan. Tetapi jelas menampilkan sosok Arjuna secara spektakuler dan sangat diekspos, sehingga ia seakan tampil di antara sejumlah besar bidadari, sedang menikmati hari-hari bahagianya di taman sari depan rumah tinggal yang diiklankan itu. Dalam suatu wawancara, direktur perusahaan developer itu menyatakan, bahwa figur Arjuna sebagai tokoh selebritas tingkat internasional, memang diakui memliliki daya pikat yang sangat luar biasa. Dan sambil tersenyum, sang direktur itu menyatakan: “Saya berharap, dari iklan kami itu, para wanita karir dan ibu rumah-tangga di Amarta akan merengek kepada suami masing-masing, untuk dibelikan rumah mewah itu”. Dengan sedikit bercanda, sang direktur menambahkan: “Terus terang saja, kami berusaha mengeksploitasi daya tarik dan daya pikat Arjuna, untuk membuat produk kami laku Mas!” Lalu dengan bangga ia menambahkan: “Dan, jika melihat kecenderungannya, sejak iklan kami dipasang, banyak sekali pasangan keluarga kaya yang datang membeli atau memesan rumah mewah kepada perusahaan kami. Hari ini saja, saya bisa memberikankabar kepada anda semua, bahwa kami sudah hampir kehabisan stok rumah tinggal mewah. Ini semua kan sekedar gaya hidup Mas, ‘life style’ kata orang kita yang sok modern”.  Sang direktur, dengan wajah cerah ceria, sambil merapikan jasnya, berjalan sambil tetap tersenyum bahagia, meninggalkan kerumunan wartawan berbagai media, menuju mobil sedan Jaguar-nya, yang diparkir di depan tempat pertemuan dengan para wartawan itu.

Di sebuah jalan raya yang luar biasa lebarnya, yang terkenal dengan sebutan ‘Amarta Boulevard Street’, seorang penjaja majalah dan koran, mencoba menarik perhatian para pejalan kaki, dengan menunjukkan sebuah kover majalah mode terkenal ‘Amarta Fashion’, yang menampilkan sosok Arjuna dalam setelan pakaian setengah formal, gaya Italia. Celana panjang agak longgar, dengan kain campuran wool ringan yang bertenun sangat halus, ikat pinggang kulit serasi berwarna coklat tua dengan gesper logam berwarna kuning emas gemerlap berkilau, kemeja berwarna ‘white sand’ dengan setrip-setrip kecil berwarna ‘light brown’ model ‘mafioso’, dihias sebuah dasi warna merah tua yang sengaja dipasang longgar, dan dipasangkan dengan jaz model mutakhir. Kemejanya hanya dikancingkan sebagian. Satu dua kancing sebelah atas, sengaja dibuka, memperlihatkan sebagian dada bidang sang Arjuna. Seorang model wanita yang cantik dengan pakaian yang tidak kalah sexy-nya, ditampilkan sedang berdiri di samping kiri Sang Arjuna, dengan jari tangan kanan yang lentik sengaja ditampilkan sedang bersandar di pundak Sang Arjuna. Wajah ceria sang wanita, dengan senyum yang sangat menawan dan sinar mata berbinar-binar; memandang kagum dan terpesona kepada Sang Arjuna. Jari-jari tangan kiri sang wanita, terlihat sedang memegang sekuntum bunga mawar merah, seakan hendak dipersembahkan kepada Arjuna pujaan hatinya. Masih di kover depan majalah mode terkenal ‘Amarta Fashion’ itu, sebagai latar belakang, ditampilkan sekelompok wanita dan remaja yang cantik-cantik dan sexy, memakai pakaian yang sangat modist dan besutan mutakhir, semuanya diskenariokan sedang memandang iri kepada sang wanita yang digambarkan sangat beruntung bisa berdiri berdampingan, dengan jari-jari lentik sedang menyentuh pundak Sang Arjuna. Beberapa pejalan kaki yang terpesona (kebanyakan wanita), sejenak mampir melihat-lihat isi majalah mode itu, dan  kemudian dengan sedikit malu-malu membelinya. Beberapa remaja putri yang datang bersama-sama, membeli dan melihat-lihat halaman majalah mode itu. Dan, sambil tertawa cekikikan, mereka memandangi dengan gemas, satu per satu foto-foto Sang Arjuna yang memang ditampilkan secara sangat sensual dan sangat mengundang mata wanita untuk memperhatikan dari ujung rambut sampai ujung kaki. Bayangan Sang Arjuna yang memang sangat tampan, seakan-akan selalu datang dalam mimpi-mimpi para remaja putri, yang masih tergolong ‘teenager’ itu. Seorang selebritas wanita muda yang terkenal sebagai ‘janda kembang’, ikut-ikutan membeli majalah mode itu, sambil melirik sebal kepada sekumpulan remaja putri yang sedang tertawa-tawa ceria, saat memandangi foto Arjuna idolanya, yang ditampilkan dalam pose-pose yang sangat sensual itu. Seakan si janda kembang itu seperti hendak mengatakan kepada sekumpulan remaja putri itu: “Tahu apa kamu tentang Arjuna pria pujaanku hah?” Sebuah lirikan mata penuh iri, bercampur dengan rasa benci kepada para pesaingnya yang jauh lebih muda, diperlihatkan oleh si janda kembang….

Di suatu perempatan jalan, di ujung jalan  ‘Amarta Boulevard Street’, terdapat suatu papan iklan super besar, yang suka atau tidak suka akan membuat mata orang yang lalu-lalang di jalan raya besar itu memandang ke arah papan iklan besar itu. Sebuah iklan film laga paling mutakhir, yang mengangkat kisah perjalanan Sang Arjuna, yang berjudul ‘Journey to Nirwana’, hasil besutan perusahaan film terkenal ‘Amarta Film Corporation’, rupanya juga sedang menampilkan pertunjukan ‘primier’-nya di gedung bioskop yang terkenal mewah dan mahal. Di depan gedung pertunjukan itu, terlihat segerombolan anak-anak muda, pria dan wanita, dan juga sekumpulan selebritas; sibuk berbincang sambil antri tiket pertunjukan. Rupanya, film mutakhir itu demikian menarik perhatian, sehingga orang berjubel hendak menontonnya. Tentu saja, di dalam dan di luar gedung pertunjukan itu, dipasang poster-poster besar tentang film ‘Journey to Nirwana’ yang sedang naik daun dan laku keras. Gambar di poster-poster film itu, jelaslah menampilkan adegan laga Sang Arjuna melawan musuh bebuyutannya, seorang raja raksasa ‘alien’, yang berupa monster yang dikenal oleh para penggemarnya sebagai ‘Rivigz, The King of Long Red Hair Monster’, yang digambarkan bertubuh gempal, tinggi besar, berambut ‘riwig’ dan gondrong berwarna merah api, lengkap dengan kepala bertanduk lima. Sudah barang tentu, di akhir film itu sudah bisa ditebak, siapa pemenangnya. Tentulah Sang Arjuna! Sejumlah wartawan, terlihat sibuk mewawancarai beberapa anak muda penggemar film laga. Sejumlah awak stasiun ‘Amarta TV’ juga terlihat sibuk mengatur peralatannya, untuk suatu acara siaran ‘live’, langsung dari gedung pertunjukan itu. Pokoknya, semua sibuk mengeksploitasi Sang Arjuna. Masing-masing disesuaikan dengan kepentingan, bisnis, dan jarahan rejeki sendiri-sendiri. Sungguh suatu pemandangan dan kegiatan yang luar biasa!

Sejauh ini, kita sudah mulai memahami bagaimana kehidupan Sang Arjuna! Paling tidak, dari bahasan imajiner di atas itu. “Sudah memahami?” tanya sahabat saya secara tiba-tiba, menyadarkan saya dari segala lamunan tentang kehidupan Sang Arjuna yang serba penuh gemerlap. Lalu sahabat saya itu, melanjutkan bertanya: “Sudahkah kamu tahu benar apa yang sebenarnya terjadi dengan kehidupan Sang Arjuna?” Saya hanya terbengong-bengong saja, mendengar pertanyaan sahabat saya itu. “Mau mendengar kisah yang sesungguhnya?”, tanya sahabat saya tanpa menunggu saya bereaksi. Dan, sebelum saya sempat berkata-kata barang sepatah katapun, sahabat saya itu langsung saja nerocos bercerita tentang kisah hidup Sang Arjuna yang sesungguhnya. “Coba engkau duduk di sini, dekat saya! Pesan makanan kecil dan minuman dulu ya, biar enak ceritanya. Akan aku ceritakan kepadamu kisah yang sebenarnya!” Makanan dan kopi hangat sudah dipesan dan sudah ada di muka saya dan sahabat saya itu. Sambil mencicipi makanan kecil dan ‘nyruput’ sedikit kopi yang terasa masih sangat panas itu, cerita sahabat sayapun dimulailah….

“Apa yang kita tahu tentang Sang Arjuna itu, sepenuhnya benar”, begitu kata sahabat saya memulai ceritanya secara tiba-tiba. “Tapi banyak bagian-bagian dari kehidupan Sang Arjuna, yang kita sebenarnya sama sekali tidak pernah tahu”, begitu lanjutnya. Lalu ia asyik nerocos bercerita tentang kehidupan Sang Arjuna, sementara saya hanya bisa terbengong-bengong dan manggut-manggut, sambil menjublak terkesiap, terkesima, dan terpana; mendengar semua cerita sahabat saya itu…..

Cobalah bayangkan siapakah Sang Arjuna itu? Kita hanya mengenal dia sebagai seorang ksatria pejabat tinggi negara di Kerajaan Amarta, yang terlihat sukses hidupnya, penuh dengan gemerlap, penuh dengan berbagai bintang tanda jasa, dan penuh dengan penghormatan karena dia banyak berjasa. Banyak wanita yang tergila-gila kepadanya, karena ia memang tampan, pintar, cerdas, banyak pengetahuannya, luas wawasannya, dan tubuhnya itu lo benar-benar membuat para wanita menjadi ‘keblinger’, lupa diri, klepek-klepek, dan gelap mata. Mereka semua pada bermimpi ingin memiliki Sang Arjuna. Ingin bersama dengan Sang Arjuna selamanya. Ingin dijadikan isterinya. Ingin jadi kekasihnya. Atau, setidak-tidaknya ingin supaya namanya bisa dikenang oleh Sang Arjuna. Kalau mereka sudah berhasil memiliki coretan tanda-namanya, seakan-akan seluruh isi dunia ini sudah dihadiahkan kepada mereka. Jangankan wanita lajang, janda kembang, atau remaja putri; bahkan wanita yang sudah bersuami dan berumah-tangga pun masih juga memimpikan Sang Arjuna sebagai pendamping hidupnya. Ini sudah keterlaluan! Lalu suami mereka itu mau dikemanakan? Apa suami mereka itu dianggap patung, semut, belalang, ‘manuk’ (burung), atau angin? Lo, ini faktanya lo! Bukan isu, tapi merupakan kenyataan! Bahkan tidak hanya wanita yang tergila-gila kepadanya, priapun juga banyak yang tergila-gila kepada Sang Arjuna. Mereka itu, memimpikan hendak menjadi seperti Sang Arjuna. Padahal mereka itu kan bukan Arjuna? Bagaimana bisa mereka memimpikan dirinya menjadi Arjuna? Caranya berpakaian ditiru, cara berbicaranya ditiru, cara berpidatonya ditiru, caranya merayu wanita ditiru, bahkan caranya berperi-laku ditiru. Waaaaah! Semuanya ditiru, dari urusan kepala sampai kaki kok dipakai sebagai acuan hidup. Bagaimana mereka bisa seperti itu? Apa mereka itu sudah kehilangan kepribadiannya? Apa mereka itu tidak mikir? Lawong kenyataannya badannya berbeda, rejekinya berbeda, pengetahuannya berbeda, dan segalanya kan berbeda, kok mau jadi seperti Arjuna!

Itu tadi baru urusan kesukaan dan gaya hidup lo. Cobalah memahami bagaimana kehidupan Arjuna. Kata pak dhalang, Arjuna itu “garwanipun sakethi kurang siji” (isterinya sejuta kurang satu). Waaaaa… Kelihatannya hidup Arjuna jadi menyenangkan seperti ‘playboy’ ya? Tapi tunggu dulu! Sejuta kurang satu! Berapa itu? Itu isterinya semua? La kalau isterinya sebanyak itu, terus kapan Sang Arjuna mau mengunjungi mereka? Apa bisa dia mengatur waktu untuk menggilir mereka satu per satu? Jumlah hari saja, setahun cuma 360. Jadi kalau isterinya hampir sejuta, kan dia harus mengunjungi dan menggilir isterinya kira-kira sehari tiga atau empat isteri. Memangnya bisa melakukannya? Dan, memangnya bisa melakukan kayak makan obat? La kalau misalnya dia memang sanggup melakukan hal itu, maka saya yakin Sang Arjuna itu merupakan laki-laki yang paling loyo di dunia! Dan, liat aja, nanti pas umur 40 tahun, dia sudah megap-megap kehabisan tenaga! Terus, kalau itu memang bisa dilakukan, lalu kapan dia bekerja untuk negara? Jangan lupa lo, dia kan pejabat tinggi negara Kerajaan Amarta! Lo, ini pertanyaan logis saja…

Hal lainnya, kalau isterinya segitu bayaknya, terus bagaimana dia menghidupi seluruh isterinya itu? Lalu berapa besar uang belanja setiap isteri atau setiap rumah-tangganya? Waaa, kayaknya mulai kelihatan rumit!  Saya sih sangat yakin, Arjuna tidak akan bisa hafal semua nama isterinya, lawong terlalu banyak. Itu baru isterinya, belum lagi simpanannya, wanita-wanita yang hanya menjadi pemujanya, dan belum termasuk pula gadis-gadis remaja yang seringkali berebut coretan tanda-nama Arjuna sebagai ‘fans’-nya. Ini masih belum termasuk sejumlah wanita yang dengan sengaja mengaku-ngaku sebagai isteri Arjuna! Bagaimana Arjuna bisa menolak, kalau mereka yang datang mengaku-ngaku sebagai isterinya itu, berparas cantik, sexy, bertubuh sintal, dan muda belia. Kalau sudah seperti ini, Arjuna biasanya lebih sering menyerah kalah. Atau, mungkin saja, sengaja menyerah kalah. Dan, seperti biasanya, luluhlah hati Sang Arjuna, menghadapi wanita-wanita cantik yang sangat memujanya itu. Mau tertipu atau tidak, itu urusan belakangan. Meskipun kenyataannya banyak juga yang menipu Arjuna dan kenyataannya Arjuna juga sangat sering tertipu oleh muslihat seperti ini. Tapi apa boleh buat, lawong penipunya cantik, sexy, bertubuh sintal, dan yang jelas juga pandai merayu. Kalau sudah begini, tertipu juga nggak apa-apalah, yang penting tidak sampai masuk berita gosip sore di stasiun ‘Amarta TV’ dan tidak ketahuan sama wartawan ‘paparazi’ yang suka mengumbar gambar-gambar seronok di majalah dan koran kuning. Tapi belakangan ini, Sang Arjuna agak was-was juga, karena media ‘internet’ sudah membanjiri hampir seluruh wilayah Kerajaan Amarta. Selain itu, banyak orang punya telepon genggam yang dilengkapi kamera digital. Jadi, Sang Arjuna harus lebih ekstra ‘eling lan waspada’. Yang penting, jangan sampai dia kepergok, sehingga foto atau video dia yang sedang bermesra-ria dengan seorang wanita, bisa terpampang di ‘youtube’ atau di ‘internet’. Kalau hal ini sampai kejadian, waaaah, bisa perang dunia keempat salah tempat nanti.

Masih ada lagi, gerombolan remaja putri yang seringkali ‘menyerang’ Sang Arjuna dengan senyuman, lambaian tangan, dan teriakan histeris; kalau mereka secara kebetulan bertemu Sang Arjuna. Mereka ini, masih terlampau muda untuk bercinta. Kata orang, masih ‘bau kencur’. Kebanyakan dari mereka itu, hanya senang jika diperlakukan secara manis, dimanja-manjain, dijajanin, dibawa makan-makan ke restauran, dan diperlakukan sebagai puteri jelita oleh pria yang namanya Arjuna. Mereka itu, seringkali juga dibawa serta ke pesta-pesta mewah, sambil sedikit berhura-hura, diperkenalkan dengan para selebritas Ibu-Kota Metropolitan Amarta-Pura, dan nampang di depan kamera televisi. Meskipun hanya sampai segitu, tapi jelas hal ini juga membawa risiko. Isteri-isteri Sang Arjuna kan seringkali melihat foto suaminya itu, terpampang di koran sore bersama dengan beberapa orang gadis manis dan manja-manja. Atau, di ‘facebook’ suaminya tiba-tiba ada kiriman berita yang berisi ucapan ‘salam sayang’ atau ‘salam MPRS’ (salam mesra penuh rasa sayang) untuk Sang Arjuna. Tapi yang lebih sering, adalah ketahuan ada ‘sms gelap’ di HP Sang Arjuna, saat sedang dipegang dan diperiksa oleh sang isteri, dan kalimat berita sms-nya (yang seperti kode rahasia intelejen itu), yang terbaca adalah ‘aq cayang kmu’, atau ‘Arjn I love u 4ever’, atau ‘aa Arjn kpn dtng?’, atau ‘aq ign bertemu’. Kalau melihat berita berkode rahasia seperti ini, isteri Sang Arjuna pastilah mengernyitkan dahi dan menjadi sangat curiga. Jangan-jangan suaminya punya ‘simpanan baru’ atau sekurang-kurangnya punya ‘calon simpanan baru’. Tapi itupun sebenarnya bergantung kepada isteri yang mana yang memergoki sms gelap itu. Kalau yang memergoki Dewi Wara Subadra, biasanya dia hanya tertunduk dan menangis sedih. Ia wanita yang sangat halus dan amat sangat sayang kepada Sang Arjuna. Kalau sudah begitu, keluarlah kalimat manja ‘senjata andalan’ Sang Arjuna: “Sudahlah Diajeng-ku yang manis. Kan Diajeng tahu, Kakangmas memang banyak penggemarnya. Jadi jangan digubrislah. Kan yang penting Kakangmas masih sangat sayang sama Diajeng”. Naaaah loe…., mati kutulah Sang Dewi Wara Subadra kalau mendengar rayuan maut Sang Arjuna itu. Apalagi, kalau malam harinya rayuannya diteruskan di peraduan. Waaaa… sudahlah, menyerah kalahlah Sang Dewi Wara Subadra di dalam pelukan mesra Sang Arjuna. Lagi pula dia kan bukan ‘tentara wanita’, jadi bisa apa dia? Kalau suaminya nanti marah kepadanya, urusannya kan malah jadi lebih runyam. Jadi, Dewi Wara Subadra seringkali bersikap mengalah saja kepada suaminya yang benar-benar tampan itu. Apalagi kalau malam itu lalu berubah menjadi malam syahdu yang indah, yang selalu menjadi impian banyak wanita lainnya…..

Tapi lain ceritanya, kalau yang memergoki sms gelap itu Dewi Wara Srikandhi. Dalam ukuran detik Sang Dewi bisa kalap dan serta merta menantang berkelahi sang suami. Jangan lupa lo, Dewi Wara Sri Kandhi itu kan anggauta ‘tentara wanita’, bahkan pelatihnya dulu kan Sang Arjuna. Dia itu jago berkelahi dan bukan main-main lo. Kalau sedang marah dan memukul tembok, bisa ambrol seketika. Tenaganya luar biasa dan kuat bagaikan pria saja. Tapi apa yang terjadi saat dia selesai dilatih Arjuna dulu itu? Apa kamu nggak ingat? Dulu, Sang Arjuna kan dibuat menyerah kalah, dan tunduk kepada semua kemauan Sang Dewi Wara Sri Kandhi. Tahu sebabnya nggak? Begitu ‘ganasnya’ peri-laku Sang Dewi yang satu ini, sampai-sampai Sang Arjuna menyerah saja mau diapakan juga. Saya masih sangat ingat, menurut berita gosip pada masa itu, Sang Arjuna jatuh hati kepada Dewi Wara Sri Kandhi, justru karena tampilan sang dewi yang cantik tapi ‘tomboy’, dengan potongan rambut sangat pendek, dia terihat sangat sexy. Paling tidak, itu menurut pendapat Sang Arjuna lo. Tubuh sang dewi yang jauh lebih gempal dari pada Sang Arjuna, justru membuat Sang Arjuna lemah lunglai dan jatuh hati setengah mati. Itu di jaman itu lo. Entah kalau di jaman sekarang, apa Sang Arjuna masih jatuh hati atau enggak. Kalau kejadian Sang Arjuna ditantang berkelahi melawan Sang Dewi Wara Sri Kandhi, maka dengan serta merta Sang Arjuna akan menyapanya dengan halus dan penuh pesona: “Diajeng Sri Kandhi, jangan marah dulu dong. Sabar sedikitlah. Itu hanya berita gosip yang dikirim untuk merusak reputasi Kakangmas. Bagaimanapun juga, Diajeng masih jauh lebih disayang oleh Kakangmas. Masih ingatkah Diajeng dulu, saat kita bersama-sama belajar dan berlatih? Bukankan Diajeng sudah mendengar janji sehidup semati Kakangmas? Jadi, jangan gusar dan jangan pula marah. Biasaaaa, pria tampan kan memang banyak penggemarnya. Acuhkan sajalah. Sekarang Diajeng kepingin apa? Kepingin diapain? Sini, Kakangmas penuhi permintaanmu”. Kalau Dewi Wara Sri Kandhi mendengar ujung kalimat yang terakhir itu, rontoklah segala ‘kegalakannya’ dan segala ‘keganasannya’. Seketika ia berubah menjadi manis manja, dan dengan serta merta lalu balik bertanya Sang Arjuna: “Kakangmas Arjuna yang tampan, ingin diapain sekarang?” Kalau sudah keluar kata-kata itu, berarti Perang Barata-Yudha usai sudah. Perkelahian seketika berganti dengan gencatan senjata. Dan keluarlah kata-kata rayuan gombal dari pasangan sehidup semati itu. Dunia lalu seakan menjadi milik mereka berdua, sedangkan orang lain dianggap ‘ngontrak’ di dunia ini!

Lo, itu kalau soal sms gelap! Tapi misalkan kita sepakat gaji Sang Arjuna itu memang buuuesaaar sekali, pertanyaannya seberapa besar sih gaji Sang Arjuna itu? Kalau mau dihitung, berapa sih gaji Sang Arjuna sebagai seorang pejabat tinggi negara di Kerajaan Amarta? Semilyar? Dua milyar? Atau berapa sebenarnya? Yang jelas, gaji dia sebagai seorang pejabat tinggi negara di Kerajaan Amarta, nggak mungkinlah melebihi gaji kakaknya, Yudhistira, yang seorang raja, super-eksekutif di Kerajaan Amarta. Gaji kakaknya itu, kan cuma beberapa puluh juta sebulan. Gaji Sang Arjuna pastilah berada di bawah gaji kakaknya. Itu sudah pasti dan nggak bisa dipungkiri! Lalu bagaimana Arjuna bisa menghidupi seluruh isteri dan rumah-tangganya? Itu yang selama ini menjadi pertanyaan dan mengherankan banyak orang. Jika pun gaji dia itu satu milyar sebulan misalnya, dibagi sejuta, kan boleh dibilang habislah gaji dia! Herannya, banyak juga yang tidak mau tahu gaji Arjuna! Aneh sekali! Lebih aneh lagi, ternyata masih banyak wanita yang ingin diperisteri Arjuna. Kalau nggak bisa diperisteri Arjuna, ya berharap jadi ‘teman tapi mesra’, atau apalah namanya. Pokoknya berusaha mati-matian untuk bisa dekat dan merebut hati Sang Arjuna.

Cobalah juga kaubayangkan, Arjuna itu kan banyak sekali isterinya. Bayangkan kalau saja setiap isteri itu punya satu anak saja, lalu anaknya Arjuna itu sebenarnya berapa? Kan jadi sejuta? Jadi anggauta seluruh keluarga Sang Arjuna itu, kan jadinya dua juta orang. Itu kalau setiap satu isteri punya satu anak.  Apa ya semuanya kenal bapaknya? Lawong ibunya saja nggak pernah dikunjungi. Ibunya, sekali-kalinya bertemu suaminya, kan saat menikah atau dinikahkan, lalu berbulan-madu, lalu semua berakhir begitu saja. Semua berakhir di situ. Isterinya lalu ditinggalkan begitu saja. Sang Arjuna lalu berkelana lagi sekehendak hatinya. Katanya sih mencari ilmu pengetahuan, menambah wawasan, dan pengalaman. Tapi kenyataannya, yang lebih sering terjadi kan buntut-buntutnya bertemu gadis lain dan akhirnya menikah di suatu tempat antah-berantah. Menurut berita yang bisa dipertanggung-jawabkan sumber dan kebenarannya, Sang Arjuna paling sering menikahi anak gadis guru-guru spiritualnya. Namanya juga guru spiritual, jadi tempat tinggalnya juga harus sesuai dong dengan istilah ‘spiritual’, jadi adanya ya di tempat-tempat yang asing, di gunung-gunung, di hutan belantara, di gua-gua yang amat jauh dari peradaban. Aneh juga lo. Orang yang berasal dari sebuah kota metropolitan seperti Kota Amarta-Pura, kok bisa-bisanya jatuh cinta kepada gadis dusun yang berasal dari pedalaman. Tapi itulah kenyataan yang terjadi. Kalau menurut berita gosip paling mutakhir, Sang Arjuna yang memang orang kota metropolitan itu, sangat suka jika dikagumi oleh gadis remaja yang ‘masih hijau’, yang cenderung tidak tahu apa-apa, apalagi soal cinta. Jadi sebenarnya yang jatuh cinta itu, lagi-lagi adalah si gadis, bukan Sang Arjuna! Itu awalnya saja. Adapun Sang Arjuna, awalnya bolehlah dikatakan sebenarnya hanya ingin menyenangkan hati si gadis gunung itu. Sudahlah tentu ayah sang gadis itu akan merasa sangat bingung, jika anak gadisnya ternyata jatuh cinta kepada orang kota, yang sedang menjadi muridnya. Apalagi ayahnya kan juga sangat tahu, jika Sang Arjuna itu merupakan salah satu kerabat Pandhawa dan seorang pejabat tinggi negara di Kerajaan Amarta. Apalagi yang mau dipertimbangkan? Anaknya mau, muridnya tidak menolak! Di lain pihak, bagi Sang Arjuna kan juga tidak etislah kalau menolak permintaan si ayah yang notabene adalah guru spiritualnya, untuk menikahi anak gadisnya. Jadi ini sebenarnya soal ada kesempatan yang terjadi karena berbagai ‘kebetulan’. Kebetulan Sang Arjuna sedang jadi murid, kebetulan kenal anak gadis guru spiritualnya, kebetulan anak gadis itu manis, kebetulan si gadis sering kepergok sedang mencuri-curi pandang, kebetulan tinggalnya berdekatan, kebetulan sering bertemu, kebetulan keduanya sama-sama senang, kebetulan sama-sama mau, kebetulan jauh dari isteri, kebetulan sedang dinas luar katanya, kebetulan tidak ada yang tahu, kebetulan ada kesempatan, kebetulan tiap hari saling berpandangan mata, kebetulan sering membantu mengantar si gadis, kebetulan ayahnya setuju, kebetulan akhirnya Sang Arjuna juga jatuh cinta akhirnya, dan …. ah banyaklah kebetulan-kebetulan lainnya…..

Ini adalah gambaran Sang Arjuna. Ia sama sekali tidak memakai perhiasan apapun di seluruh badannya.Karena peristiwa seperti inilah, maka menurut gosip, maka Sang Arjuna sangat sering punya isteri di wilayah pedalaman. Tentu saja, besar kemungkinan isteri-isterinya yang tinggal di kota besar tidak tahu apa yang terjadi dengan suaminya yang suka berkelana itu. Hal yang paling sering terjadi, adalah ke rumah dinas Sang Arjuna, tiba-tiba datanglah seorang remaja yang mengaku sebagai putera atau puteri Sang Arjuna. Dengan sedikit kalang-kabut sudahlah tentu terjadi suatu huru-hara kecil di rumah dinas itu. Tapi, karena bukti-buktinya biasanya kelewat lengkap dan kelewat kuat, apalagi di jaman sekarang sudah ada foto digital yang bisa dibuat hanya memakai HP, maka Sang Arjuna biasanya segera menyerah dan segera mengaku saja kepada isteri-isterinya yang datang dengan muka berang penuh amarah. Motto Sang Arjuna, ‘mengaku lebih cepat lebih baek, dari pada harus terus berbohong’.

Tapi kembali ke soal gaji, seperti sudah kuceritakan, Sang Arjuna itu kan gajinya tidak besar, meskipun dia seorang pejabat tinggi negara dari Kerajaan Amarta. Kalau untuk setiap isteri dan rumah-tangganya diamisalkan bisa membelikan satu saja rumah mewah dengan beberapa mobil, lalu dari mana uangnya? Kalau itu yang terjadi, pastilah Sang Arjuna mengkorupsi uang kerajaan! Itu sudah bisa dipastikan! Mengapa? Karena selama ini dia dikenal tidak punya perusahaan. Kan gaji dia cuma dari negara doang. Nah, ini dia rahasia pribadi Sang Arjuna, mengapa dengan gaji kecil dia bisa punya isteri segitu banyak. Ternyata menurut sebuah survei, semua isteri dia itu melaksanakan operasi ‘self supporting’ alias menjadi pengusaha mandiri, dengan pengecualian tentunya yang tinggal di rumah dinasnya, seperti Dewi Wara Subadra dan Dewi Wara Sri Kandhi itu misalnya. Jadi, Sang Arjuna itu, meskipun sering bingung, tapi sebenarnya pengeluaran per bulannya tidaklah sebesar yang dibayangkan banyak orang! Gitu lo! Meskipun begitu, tetap saja sebagai pejabat tinggi negara dia perlu banyak dana untuk melaksanakan berbagai kegiatan sosial dan tugas-tugas kenegaraannya….

Bayangkan saja, kalau Sang Arjuna harus membiayai sendiri seluruh rumah-tangga isterinya, maka saya yakin dia akan menjadi koruptor paling besar di Kerajaan Amarta! Lawong, gajinya cuma segitu, kok punya isteri dan anak segitu banyak. Belum lagi kalau lagi kenaikan kelas, kan anak-anaknya pada minta hadiah dari bapaknya. Coba kamu perhatikan juga, badan Sang Arjuna itu, kan nggak pantas sebagai pejabat tinggi negara kok kurus kering begitu! Dia itu bukan ramping tapi kurus kering! Juga perhatikan, apa dia punya perhiasan? Kan di seluruh tubuhnya sama sekali tidak ada perhiasan apapun. Lawong HP aja yang megang isterinya kok! Dia itu, sebagai manusia kasihan sekali lo. Pejabat tinggi negara lainnya, kan pakaiannya mentereng, badannya penuh dengan berbagai perhiasan, bintang jasa, HP beberapa biji, belum lagi jam tangannya, pakai gelang mutakhir yang katanya sebagai tanda bahwa dia ikut-ikutan dengan tindakan sosial tertentu. Liat aja, apa Arjuna punya itu semua? Kalau kamu cermati, semua itu nggak ada pada diri Sang Arjuna. Dia itu kayak orang miskin aja penampilannya. Tapi dia penjabat tinggi negara! Penampilan seperti itu sih bukan sederhana, tapi miskin! E…., saya bukan mau menghina, tapi memang seperti itulah kenyataannya. Kebanyakan isteri, kebanyakan anak, kebanyakan urusan cinta, kebanyakan urusan yang nggak jelas; jadinya ya begitu. Belum lagi kalau Mbak Dewi Banowati, itu tuh isteri Raden Mas Suyudana, minta tolong ke Mas Arjuna sang pujaan hati. Wah, tanpa menungu waktu, tanpa pamit, langsung pergi dia ke rumah Mbak Dewi Banowati. Dia bisa lupa segalanya…. ha ha ha

Coba kamu perhatikan apa yang dilakukan Sang Arjuna kalau sedang bingung dan sedang ada di rumah dan nggak ada acara ke mana-mana. Paling sering, dia itu dengerin ‘klenengan’ atau ‘uyon-uyon nyamleng’. Dia paling suka, kan mendengarkan ‘Gendhing Jineman Gathik Glindhing’, minggah ‘Langgam Rengu’, yang dimainkan dengan gaya Tayuban Jawa Timuran. Kamu tau nggak, kenapa dia sangat suka lagu ‘Langgam Rengu’? Karena bunyi syairnya, bercerita tentang seorang pria yang sangat suka mengumbar ‘katresnan’ (cinta) dan berakhir dengan bingung bagaimana cara mengatasi dan menyesaikannya….. he he he

“Nah, begitulah kisah Sang Arjuna yang sesungguhnya”, kata sahabat saya mengakhiri ceritanya yang panjang-lebar tentang Sang Arjuna itu, sambil ‘nyruput’ kopi panas pesenannya tadi, yang ternyata sudah mulai dingin. Dan, saya dengan masih terbengong-bengong, ikut beranjak berdiri, lalu mulai melangkah bersama dengan sahabat saya itu. Sambil berjalan perlahan, pulang berdua, saya mengajukan kesimpulan saya: “Jadi, Arjuna itu orangnya ternyata penuh kerepotan dan hidupnya penuh was-was ya?” Sahabat saya, menghentikan langkah kakinya, dan sambil menatap saya sejenak, lalu dengan setengah berteriak berkata keras-keras: “La iya dong, lawong hidup seperti itu, dipuja-puja banyak orang, tapi banyak yang sama sekali nggak tau apa yang sebenarnya terjadi. Banyak yang salah sangka. Banyak juga yang nggak tau kalau dia itu setiap hari sebenarnya selalu kebingungan! Jangankan ngurus negara, lawong ngurus dirinya sendiri saja dia bingung! Kan orang nggak mau tau soal itu. Orang kan taunya semuanya beres dan indah saja. Seperti yang terlihat setiap hari di siaran ‘Amarta TV’ itu!”, begitu celoteh sahabat saya, dan kita berdua lalu tertawa terbahak-bahak, merasa tertipu setiap saat oleh koran, majalah, dan media seperti televisi seperti ‘Amarta TV’ itu, tetapi kita ternyata juga menyenangi tipuan itu! Kebangetan….

Gendhing ‘Jineman Gathik Glindhing’ minggah ‘Langgam Rengu’

Untuk mendengarkan dan melihat video pada alamat situs di atas, blok dan copy alamat situs di atas (tekan tombol ‘ctrl’ dan ‘C’ tekan barengan untuk meng-copy), lalu paste-kan ke blok bar internet (tekan tombol ‘ctrl’ dan ‘V’ tekan barengan untuk meng-paste), lalu tekan tombol enter. Youtube.com akan memainkan lagu secara otomatis.

Advertisements

One thought on “ARJUNA Sang Idola”

  1. Kulonguwun

    Kira2 kalau jaman sekarang arjuna-nya siapa ya mas ?
    Soalnya di jaman sekarang ini banyak lho orang yg ngaku2 arjuna ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s