Gamelan, mimpi, dan berbagai kemungkinannya


By Bram Palgunadi

Gamelan dan permainannya, telah banyak dikenal orang. Namun, beberapa di antaranya sangat asing dan kita bahkan mungkin sangat jarang juga melihatnya. Ada permainan gamelan yang sangat konvensional dan tradisional. Tetapi, ada juga yang sangat kontemporer dan mungkin sangat asing. Gamelan juga mulai banyak dipakai sebagai ‘sumber audio asing’, yang mulai banyak diterapkan dan dipakai sebagai iringan untuk memberikan suasana asing pada sejumlah ‘game’ komputer. Di bawah ini, diterakan sejumlah alamat situs yang berisi rekaman berbagai macam gamelan dan permainannya, termasuk beberapa rekaman proses pembuatan gamelan. Bahkan di Russia, ada yang berusaha membuat gamelan robotik. Berbagai sumber dan situs ini, mudah-mudahan memperluas wawasan kita tentang gamelan dan berbagai ‘kemungkinan positif’ yang dihasilkannya. Dikatakan ‘kemunginan positif’, karena kenyataannya ada juga yang beruapaya merangkai permainan gamelan sedemikian rupa, misalnya dicampur dengan alat musik Barat, sehingga peran gamelan itu sendiri menjadi sedemikian kecil dan bisa dikatakan semakin dipinggirkan. Pada sejumlah kasus, bahkan perangkat gamelan hanya dipakai sebagai sekedar pelengkap semata. Hal seperti inilah yang saya sebut sebagai ‘kemungkinan negatif’. Pada sejumlah kasus, nada-nada gamelan yang sudah jelas ‘pentatonis’ dipaksa dimainkan bersama dengan berbagai instrumen musik yang basis nadanya ‘diatonis’. Pemaksaan seperti ini, jelas menghasilkan ketidak-selarasan, yang benar-benar bisa dikatakan tidak estetis. Mungkin, akan jauh lebih bagus unjuk-kerjanya, jika dibuat saja gamelan yang memakai basis nada diatonis sekalian. Jadi tidak terjadi pemaksaan nada.

Pada gamelan buatan masa sekarang (khususnya gamelan Jawa), juga ada kecenderungan yang bersifat postifi, yakni pemakaian jenis dan jumlah ricikan gamelan yang jauh lebih banyak. Demikian juga pendekatan pemakaian bilah-bilah nada yang semula hanya sekitar satu oktaf, diperbanyak menjadi sekitar dua oktaf. Hal ini, merupakan salah satu upaya yang dilakukan orang untuk melengkapi dan memperbaiki unjuk-kerja ricikan balungan gamelan, sehingga menjadi jauh lebih baik dan lebih bagus nada-nada yang dihasilkannya. Mengapa demikian? Jawabnya, jelas karena ‘balungan gendhing’ atau ‘balungan lagu’ lalu bisa dimainkan sesuai dengan tinggi-rendah nada yang dikehendaki. Upaya ini, juga menjawab ketidak-sempurnaan tinggi-rendah nada yang dihasilkan ricikan balungan buatan masa-masa yang lampau, yang umumnya karena jumlah bilah nadanya sangat terbatas, lalu dipaksa untuk dimainkan memakai bilah-bilah nada yang hanya sekitar satu oktaf saja. Upaya lain yang juga membuat gamelan buatan masa sekarang jauh lebih baik unjuk-kerjanya, adalah jenis dan jumlah ricikan balungan-nya yang ada kecenderungan dibuat jauh lebih banyak. Jika di masa lampau seperangkat gamelan biasanya hanya dilengkapi dengan sebuah ricikan demung (saron panembung), dua buah ricikan saron barung, sebuah ricikan saron penerus (peking), dan sebuah ricikan gender panembung (slenthem);maka pada masa sekarang ada kecenderungan untuk menambah ricikan demung, ricikan saron, dan ricikan peking. Harus diakui, upaya memperbanyak jenis dan jumlah ricikan balungan, memang memberikan kesan suara yang jauh lebih luar biasa, jauh lebih mewah, dan juga jauh lebih megah. Apalagi, dengan jumlah kempul dan gong yang umumnya di masa sekarang juga diperbanyak jumlahnya. Artinya, perangkat gamelan buatan masa sekarang, umumnya berkesan jauh lebih megah dan jauh lebih luar biasa suara yang dihasilkannya. Semua ini, merupakan sesuatu hal yang tentu saja bersifat positif.

Bagi pada pecinta gamelan dan para perancang (seniman, enjiner, ilmuwan, dan disainer produk), masa sekarang juga membuka berbagai kemungkinan untuk menghasilkan berbagai jenis ‘ricikan baru’ dengan disain yang mungkin juga sangat berbeda (baru). Bahkan, mungkin saja melibatkan perangkat lunak (software), teknologi digital mutakhir, teknologi pemroses sinyal secara digital (digital signal processing, DSP), perangkat keras (hardware), dan berbagai kemungkinan penggabungan dengan berbagai teknologi lainnya. Misalnya, memakai teknologi pemrosesan sinyal dan perangkat lunak aplikasi (application software), bisa saja dibuat satu bunyi nada ricikan gamelan yang terdengar seakan-akan dihasilkan oleh seratus orang penabuh gamelan sedang memainkan seratus ricikan yang sama atau ricikan gamelan yang berbeda. Ini baru merupakan salah satu kemungkinan saja. Ada banyak kemungkinan lainnya. Misalnya, ada kemungkinan dihasilkannya ‘warna suara baru’ pada suatu ricikan gamelan baru, yang bisa saja sangat berbeda dengan warna suara gamelan konvensional yang kita kenal sekarang. Atau, warna suara baru dihasilkan memakai teknologi teknologi pemrosesan sinyal dan perangkat lunak aplikasi (application software). Sangat mungkin juga, di masa depan jika kita memainkan ricikan gender barung ‘jenis baru’, bisa saja tidak memakai ‘tabuh gender’, melainkan nada-nadanya cukup dihasilkan dengan cara menyentuh suatu bidang lempeng sensor sentuh. Mengapa tidak?

Dan belajar menabuh gamelan, bisa saja partiturnya (notasi gendhing) disajikan secara bersama-sama memakai sejumlah layar monitor LCD atau LED yang pipih, ringan, dan kompak; yang disambungkan secara bersama-sama (seperti dihubungkan secara paralel). Setiap seorang penabuh, akan menghadapi sebuah layar monitor, yang berisi notasi gendhing yang dimainkannya. Sedangkan seluruh program permainannya, dikendalikan dari sebuah komputer induk (host) yang dilengkapi dengan ‘library’ susunan gendhing. Mengapa tidak?

Setiap ricikan gamelan, di masa depan bisa saja sudah dilengkapi dengan berbagai perangkat ‘sensor suara’, sehingga tiap ricikan gamelan tinggal disambungkan ke perangkat ‘audio mixer’ dan diatur level suaranya pada alat ini, untuk keperluan rekaman atau diperkuat daya suaranya sesuai keperluan (misalnya untuk pagelaran). Dalam kasus ini, pengertian sensor suara tidaklah selalu harus berarti ‘mikropon’. Mengapa tidak?

Sumber suara/nada pada berbagai ricikan balungan gamelan, juga bisa ‘dibuat baru’. Jadi tidaklah selalu harus berupa ‘bilah’. Jika misalkan tetap berbentuk ‘hardware’, maka juga masih sangat terbuka kemungkinan pemakaian berbagai  bentuk, dimensi, ukuran, perlakuan, dan bahan. Kan selama ini, kita hanya mengenal ricikan balungan gamelan sebagai instrumen yang sumber bunyinya dikenal sebagai ‘metalophone’ (dari logam/metal) atau ‘xylophone’. Mengapa tidak mencoba membuat sumber nada dari bahan lain? Mengapa tidak?

Semua hal itu, jawabannya bergantung kepada kita semua, para penikmat, pecinta, penabuh, perancang/perencana, ilmuwan, seniman, pemilik gamelan, dhalang, guru karawitan, pelatih karawitan, dosen karawitan, mahasiswa/i, lembaga pendidikan, peneliti, dan tentu sakja para pendukung kuat kebudayaan Nusantara. Semoga mimpi ini bisa terwujud, suatu ketika nanti …….

Perangkat gamelan buatan masa sekarang, cenderung semakin banyak memakai jenis dan jumlah ricikan balungan, dengan jumlah bilah nada pada setiap ricikan yang juga semakin banyak. Bilah nada pada ricikan balungan yang semula hanya sekitar 6 atau 7 bilah (sekitar satu oktaf nada), sekarang cenderung diperbanyak sampai sekitar 10 sampai 11 bilah (sekitar dua oktaf nada), atau bahkan lebih. Dengan demikian, gamelan buatan masa sekarang cenderung terlihat jauh lebih besar dimensinya dan lebih banyak ricikan-nya (instrumen musiknya). Kesan visual yang segera tampak pada gamelan buatan masa sekarang, adalah cenderung semakin gagah dan megah.

Perangkat gamelan di masa lalu, kebanyakan memakai jenis dan jumlah ricikan (instrumen musik) yang tidak terlampau banyak, dengan bilah nada yang juga tidak terlalu banyak (lazimnya hanya sekitar satu oktaf). Demikian pula jumlah ‘kempul’ dan ‘gong’-nya. Dengan demikian, gamelan buatan masa lalu cenderung terlihat lebih kecil dimensinya dan memberikan kesan visual jauh lebih sederhana.

2 thoughts on “Gamelan, mimpi, dan berbagai kemungkinannya”

  1. ketertarikan terhadap pagelaran gamelan saat ini mulai meredup. jika ada yang memiliki sumber pustaka tentang gamela dan tata letak gamelan, mohon kiranya memebritahu saya untuk dikaji lebih lanjut. semoga pagelaran gamelan bisa menjadi lebih menarik dan primadona di negeri sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s