Forever Love Duryudana


Perang Baratayudha
Peperangan penuh tragedi
Penuh kisah duka
Penuh darah dan air mata
Penuh nuansa jiwa ksatria dan pecundang

Saat Duryudana pamit kepada istri tercintanya, Banuwati
Istri yang begitu disayangi
meski dia sadar bahwa cinta istrinya telah diserahkan
kepada musuh abadinya, Arjuna
Duryudana tidak peduli

“Suamiku bagaimana kabar dari perang Baratayuda? Apakah sudah berakhir? Apakah Kanda telah menyerahkan sebagian negri Astina kepada Pandawa?”

Berondongan pertanyaan yang keluar dari bibir indah Banuwati, seakan menusuk perih jiwa Duryudana. Ia sadar, apa tujuan dari pertanyaan istrinya itu, ingin memastikan keselamatan dari kekasih abadinya.

“Istriku tercinta, perang masih berlangsung. Banyak sudah pepunden dan orang-orang terkasih telah gugur dalam peperangan ini. Eyang Bisma, telah gugur membela negri. Guru kami Durna, pun telah tiada. Dan yang belum lama ini, suami dari kakakmu Surtikanti, Kanda Karna, pun telah gugur setelah menjadi senapati Astina. Kakakmu Surtikanti, mati bela pati,” geram Duryudana membayangkan gugurnya para andalannya. Satu persatu tumbang dalam peperangan kejam ini.

“Lalu apa kata dunia, bila mereka-mereka yang telah memberikan nyawa untuk negri ini sementara aku kemudian menyerah kalah? Sungguh aku akan dicap menjadi orang tak tahu diri. Termasuk golongan pecundang. Berpesta pora di atas darah dan peluh orang-orang yang membantu kemulyaan kita. Ingat Banuwati istriku, selama tubuh Duryudana ini masih tegak berdiri. Selama nyawaku masih berada dalam jasadku, selama itu pula aku akan tetap melanjutkan peperangan ini,” tercekat Duryudana dengan dada yang bergetar menahan amarah dan dendam membara.

“Namun bukankah Pandawa masih saudara kita sendiri Kangmas ? Bukankah sebenarnya Kangmas dapat menghindari perang saudara ini dengan memberikan hak mereka akan sepenggal tanah di Astina ini. Bukankah sebagai gantinyapun, rama Prabu Salya telah bersedia memberikan negri Mandraka bila Kangmas menghendakinya ?” pedih Banuwati tidak berdaya.

“Oooo Banuwati, dinda tidak mengerti bagaimana perih hati ini menyaksikan kemenangan sedikit demi sedikit diraih Pandawa. Meskipun itu juga tidak diperoleh dengan percuma. Banyak ksatria mereka yang tewas juga. Namun Pandawa masih lengkap berjumlah lima, sedangkan Kurawa ? Tinggal berjumlah lima, dinda. Seratus tinggal lima. Bagaimana pertanggungjawabanku terhadap adik-adikku yang berkorban demi kemulyaan kakaknya, kalau aku saat ini menyerah begitu saja. Tidak, dinda ! Tidak saat ini dan tidak untuk selamanya ! Meskipun Pandawa masih bersaudara dekat denganku, meskipun masa kecil kami lalui bersama, namun saat ini keyakinanlah yang membuat peperangan antara kami harus terjadi”

“Oleh karenanya, kanda pamit kepadamu dinda. Ijinkanlah suamimu ini tuk maju ke medan laga. Perang pastilah menghasilkan hanya ada dua pilihan. Antara menang atau sebagai pecundang, antara masih hidup atau meregang nyawa. Itu yang kanda sadarai dan tentunya juga si Adi. Dinda tahu bagaimana cinta kanda kepadamu. Dari awal kita menikah hingga kini tiada berkurang, bahkan terus bertambah dari waktu ke waktu. Cintaku buta, tidak peduli akan terpaan kejadian apapun ataupun gejolak di hatimu yang setidaknya aku ketahui,” lembut Duryudana mengungkapkan hal itu.

Kembali tergambar masa dimana Banuwati, sang kekasih pujaan hati, akhirnya berhasil dinikahinya meskipun dia tahu bahwa tak akan pernah mampu memiliki hati dan cintanya. Cinta kasih Banuwati telah terengkuh dibawa pergi oleh Arjuna. Duryudana sadar akan kelemahan dirinya. Namun cintanya begitu telah tertanam dan tertancap kuat dalam relung hatinya. Biarlah apa kata orang tentang istrinya ataupun apapun sikap istrinya terhadap dirinya yang adakalanya tersirat mengungkapkan harapan sejatinya, baginya Banuwati adalah satu-satunya wanodya yang dikasihinya sepenuh hati. Tiada tergantikan. Walau bila dia mau, puluhan ataupun ratusan wanita yang tak kalah cantiknya mampu direngkuh tuk mendampinginya, namun tiada mampu dia melakukan itu. Banuwati selalu memenuhi pandangan di setiap sisi hatinya.

Dan kini saat dia harus maju sendiri ke medan perang, yang diingatnya hanyalah Banuwati. Keselamatan Banuwati harus tetap dijaga. Maka diperintanlah prajurit kerajaan untuk segera mengamankan Sang Ratu ketempat persembunyian. Duryudana harus yakin akan keselamatan belahan hatinya sebelum dengan sepenuh hati berperang melawan Pandawa.

<< oo >>

Dalam berbagai lakon kisah Mahabarata, Duryudana adalah tokoh antagonis. Sifat dan sikap buruk hampir selalu menyertainya. Kejam, tidak peduli dan mau menang sendiri terhadap saudara-saudaranya, tidak menghargai dan mengindahkan nasehat para sesepuh dan berbagai watak yang tidak baik selalu menjadi keseharian.

Para dalang sering mengungkapkan hal tersebut saat menjelaskan tentang Duryudana,Suyudana, Kurupati, Jakapitana, Jayapitana, Gendarisuta, Destarastratmaja, atau Kurawaendra. Bagaimana Duryudana disebut sebagai Narendra berbanda yang mengandung maksud raja dengan kekayaan yang tiada tara, melimpah ruah seakan sepertiga dunia telah dimilikinya. Berbandu yang artinya memiliki banyak saudara, kurawa seratus, namun sangat disayangkan hampir semua saudara-saudaranya itu memiliki sifat dan watak yang tak ubah seperti dirinya. Pun adigang adiging adiguna.

Itulah Duryudana.

Namun soal cinta dan kasih sayang kepada istrinya, Duryudana sungguh berbeda. Dia menjadi sosok yang luar biasa dalam mencintai dan mampu menerima cinta apa adanya. Kesetiaannyapun sungguh tidak masuk akal.

Cinta telah mengalahkan ego Duryudana.

One thought on “Forever Love Duryudana”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s