Kisah Kasih Petruk (1)


Petruk Hilang !

Berita menghebohkan itu menggetarkan seantero kampung. Maklum, Petruk adalah sosok popular di kampung.  Dihampir seluruh kegiatan kampung sepertinya selalu hadir sosok Petruk. Di persawahan, dia selalu membantu ayahnya nggarap sawah, bahkan di pasarpun Petruk kadang dijumpai bersama ibunya berbelanja kebutuhan sehari-hari. Apatah lagi dilingkungan pergaulan kawula muda dimana dia meleburkan dirinya dalam jiwa-jiwa muda yang penuh gejolak. Namun yang mengherankan, di kalangan anak-anak Petruk-pun menjadi sosok yang begitu dikenal karena memang sangat akrab dengan mereka. Tidak ada rasa canggung saat bergabung dalam dunia ceria anak-anak.

Itulah kehebatan Petruk. Mampu berada dimana saja, tidak sekedar ada namun juga memberi warna.

Dan keceriaan Petruk, biasanya akan menghadirkan cerah suasana. Kicauannya tiada henti memenuhi tempat dan waktu. Dari A sampai Z dia tahu. Dari masalah serius sampai gosip-gosip ringan maupun yang “asyik-asyik” dia paham. Bahasa yang dipergunakan menyesuaikan. Artinya saat berkumpul dengan anak-anak, yang diperbincangkan adalah dunia mereka yaitu, bermain, belajar dan bermain. Bila kongkow-kongkow bersama teman-teman remajanya, maka bahasan tentang dunia mereka begitu lancar dan mengasyikan. Namun, saat duduk ngobrol bersama ayah ibunya ataupun orang tua para tetangga, Petruk dengan cepat mampu menyesuaikan diri. Dengan takzim kata-kata santun dan bijak selalu terucap dari mulutnya, walaupun sekali-sekali keluar ungkapan-ungkapan nakal namun masih dalam koridor kesopanan, malah justru lebih menyegarkan suasana.

Itulah Petruk. Sosok populis di kampung yang hari itu tidak diketahui keberadaannya. Sekelompok temannya yang menyangka Petruk sedang tidak sehat, ketika berkunjung ke rumah Ki Lurah Semar dibuat semakin menyimpan tanda tanya besar tentang lenyapnya Petruk. Ki Lurah Semar-pun dibuat cemas juga karena sama sekali tidak mengetahui dimana saat itu anaknya berada.

Setelah kelompok remaja itu pergi maka kemudian Ki Lurah Semar memanggil Gareng dan Bagong untuk menanyai hal ini.

“Le, anakku Gareng wong bagus, kamu tahu nggak adikmu Petruk sekarang ada dimana” Semar menginterogasi Gareng terlebih dahulu.

“Kulo mboten ngertos Romo. Saya masih bersama Petruk sehabis jamaah sholat Isya di Langgar semalam. Dan setelah itu dia keluar rumah katanya mau main sebentar ke rumah Parto, anaknya Pak Ngadimin. Dan setelah itu saya tidak bertemu lagi karena saya langsung tidur Mo” jelas Gareng.

“Oooo ngono to Le. Lha kalau kowe Bagong anakku wong bagus, tahu nggak kakakmu pergi kemana”

Yang ditanya terlihat sedang serius, seolah berfikir keras hingga hidungnya kembang kempis seraya matanya sedikit mlerok. Begitu kebiasaan Bagong kalau sedang berfikir sesuatu yang membutuhkan effort untuk menggali ingatan.

“Gong … Bagong, Romo takon lho karo kowe !” Gareng njawil hidungnya Bagong dengan usil.

“Iya Kang Gareng, aku yo krungu. Ra usah dijawil irungku. Ngerti ra, irungku iki pusaka yang aku jaga setiap kali. Yang menyentuhnya smoga menemui kacilakan tujuh kali berturut-turut” ketus Bagong yang tengah serius merasa diganggu kakaknya.

Gareng cengar-cengir saja. Untuk menghindari percekcokan Semar menengahi.

“Jane kowe lagi opo to anakku bocah ngguanteng Bagong. Kok di tanya Romo malah diam saja, terlihat serius gitu. Memangnya yang lagi kau pikirkan tuh apa ?

“Gini Romo … saya lagi berfikir keras menyingkap misteri hilangnya Kang Petruk ini. Saya sedang merangkai kejadian-kejadian yang saya alami bersama Kang Petruk beberapa hari ini. Saya sedang berupaya mengingat kata-kata kang Petruk yang mungkin mengandung maksud tertentu yang berhubungan dengan kepergian kang Petruk tanpa pamit. Lha saya mau menemukan jawabannya, tiba-tiba Kang Gareng njawil irung kulo. Dadi ilang kabeh to Romo,” Bagong menjelaskan runtut bak pengacara di pengadilan memaparkan alibi client-nya.

“Oalah gayamu Gong. Pakai di analisa segala. Nek ora weruh yo ngomong ra ngerti. Kalau tahu keberadaan Petruk ya tinggal bilang sekarang dia dimana !” mangkel Gareng melihat gaya omongan Bagong yang sok intelek.

“Bukan begitu Kang Gareng. Bukannya saya sok intelek, ataupun sok menguasai permasalahan kemudian ngomong sesuatu yang menyimpang dari konten seperti itu tuh wakil-wakil kita di Dewan. Atau saya sok jadi pemikir ulung yang mampu memberikan solusi terhadap permasalahan seputar ruwetnya pengaturan negara, layaknya komentator-komentator yang cuman mampu mencerca. Saya hanya seorang Bagong yang ingin membantu Romo dan warga kampung ini dalam menemukan keberadaan Kang Petruk dengan membuat analisa sederhana terhadap yang saya ketahui,” jelas Bagong percaya diri. Continue reading Kisah Kasih Petruk (1)

Didi Kempot Album Emas Vol. 1


Berikut lagu-lagunya:

  1. Sewu Kutho
  2. Bojo Loro
  3. Tanjungmas Tinggal Janji
  4. Iki weke sopo
  5. Kusumaning Ati
  6. Tanjung perak
  7. Gethuk
  8. Stasiun Balapan
  9. Lingsir wengi
  10. Mesti Penak
  11. Sewu Dina
  12. Cidro

Didi Kempot adalah salah satu putra dari almarhum pelawak Mbah Ranto.

Sumber : http://www.suaramerdeka.com/harian/0212/13/nas7.htm

BERDOA: Anak-anak dan keluarga seniman dari pelawak Ranto Edi Gudel berdoa di depan jenazah almarhum, di rumah duka Jl Kahuripan Selatan RT 2 RW 4 Sumber, Banjarsari, Solo, semalam. Inzet, Ranto Edi Gudel. (Foto:Suara Merdeka/D11)

JAGAT seni kembali berkabung. Tokoh lawak dan seniman serba bisa, Suharanto yang lebih kondang disapa Ranto Edi Gudel atau Mbah Ranto, Kamis sekitar pukul 16.30 kemarin meninggal dunia pada usia 66 tahun. Pencipta lagu Anoman Obong itu tutup usia di RS Dokter Oen Solo Baru, setelah menjalani perawatan sejak Lebaran lalu, tepatnya mulai hari Sabtu (7/12) malam. Jenazah akan dimakamkan Jumat siang ini, pukul 14.00 di TPU Pracimaloyo, Solo.

”Sebenarnya sakit Bapak sudah lama, tapi tak dirasakan. Beliau juga tidak mau dibawa ke rumah sakit. Pernah dibawa ke RS Brayat Minulyo, malah minta pulang. Tapi dalam keadaan setengah sadar, Sabtu malam lalu kami bawa ke RS Dokter Oen,” kata anak keempatnya, Didi Kempot.

Penyanyi berambut gondrong itu mengisahkan, saat meninggal Mbah Ranto ditunggu segenap keluarganya, termasuk empat istrinya, yakni Umi, Tuminah, Magdalena, dan Sugiyarni. Satu-satunya kakak almarhum, Ny Suharni (72), juga berada di tengah-tengah keluarga duka.

Keenam anaknya, Antonius Lilik Subagyo, penyanyi Joko Lelur Sentot Suwarso, pelawak Mamik Prakoso (Srimulat), Didi (Prasetyo) Kempot, Eko Guntur Martinus (Eko Gudel), dan Veronika Tatik Hartanti, tampak tabah di tengah suasana duka. Demikian pula 11 cucu dan seorang cicitnya.

Bahkan, ketika Eko menangis saat jenazah sang ayah tiba di rumah kontrakan Jalan Kahuripan Selatan RT 2 RW 4 Sumber Balekambang, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Mamik memintanya untuk segera menghapus air matanya. ”Ora usah nangis, Le. Mbah Ranto ora seneng yen anak-anake ora tabah. (Tidak usah menangis, Nak. Mbah Ranto tidak suka kalau anak-anaknya tidak tabah-Red),” kata Mamik.

Watak Keras

Menurut anak ketiga Mbah Ranto itu, semasa hidup almarhum berwatak keras, di antaranya menanamkan pada anak-anaknya agar selalu tegar. Meski demikian, lanjut Sentot, seniman gaek itu senang guyon. Bahkan, ketika dirawat di RS pun tidak melepaskan senyum dan candanya. ”Bapak sangat cinta seni. Maka senang melihat anak-anaknya bergelut di bidang seni. Bahkan, saat-saat terakhir menjelang meninggal, di telinganya saya lantunkan lagu Joko Lelur,” ungkapnya.

Jiwa seni Mbah Ranto, menurut kakaknya, Ny Suharni, sudah terlihat sejak kecil. Ketika masa kanak-kanak, seniman yang kondang menjadi pelakon Petruk pada WO Sriwedari tahun 1960-an dan pelakon Umar Moyo pada ketoprak tobong era 1970-an itu, suka melucu. ”Maka ketika baru duduk di kelas 3 SMP di Jakarta, dia malah memutuskan pulang ke Solo dan berkiprah di dunia seni,” kenangnya.

Anak-anak almarhum mengungkapkan, keinginan bapaknya sebelum meninggal juga telah tercapai. ”Bapak ingin kami sekeluarga manggung bareng. Dan itu terlaksana setelah TV7 menggelar acara ‘Es Campur Es’ yang ditayangkan saat Lebaran tanggal 7 Desember lalu,” kata mereka.

Ketika itu, Ranto tampil bareng anak-anaknya dalam episode ”Oh Nasib, Oh Bapak”. Rekaman kenangan itu tentu menjadi dokumen yang sangat berharga bagi keluarga almarhum.

Teguh Pendirian

Ranto Edi Gudel adalah seorang yang teguh pendiriannya. Salah satu contoh, almarhum enggan pindah ke rumah sendiri di Plelen, Kadipiro, tetapi malah lebih suka mengontrak di kawasan Sumber. Menurut anak-anaknya, itu dilakukan karena keinginannya untuk selalu dekat dengan masyarakat yang diinginkannya.

”Pernah suatu saat ketika diminta untuk pindah rumah sendiri, beliau tetap menolak. Alasannya, beliau merasa hanyalah sebagai seniman panggung. Maka dia lebih senang tinggal di rumah kontrakan,” papar Mamik.

Satu pesan yang akan terus diingatnya, menjalani hidup tak boleh berlaku aneh. ”Istilahnya aja wah yen lagi ana, jangan aneh saat sedang berada.”

Keterangan Mamik dibenarkan Martoyo, Ketua RT setempat. ”Mbah Ranto itu orangnya sangat supel kepada siapa pun. Dia tak mau membeda-bedakan pergaulan dan sangat sosial.” Dia ingat, semasa hidup almarhum justru lebih lucu dalam pergaulan, dibanding saat di panggung.

Hingga akhir hanyatnya, pelawak gaek itu juga masih menyisakan beberapa gubahan lagunya. Menurut anak kelimanya, Eko, Mbah Ranto meninggalkan rancangan lagu ”Buto Terong”. ”Mungkin kami, anak-anaknya menyanyikan bersama lagu-lagu Bapak yang belum pernah ditampilkan,” kata Didi Kempot.

Selamat jalan senimanku. Semoga Tuhan memberi tempat untukmu di sisi-Nya. (Setyo Wiyono, Wisnu Kisawa-16t)

Rundown BWF 2011


Sebagai informasi, di bawah ini diterakan urutan (rundown) acara BWF 2011 yang berlangsung di ITENAS.
BANDUNG WAYANG FESTIVAL 2011
DI ITENAS (JL. SUCI), BANDUNG
Rabu, 27 April 2011

13.00 – 13.30  Pembukaan pagelaran
13.30 – 14.30  Konser karawitan Talu gaya Sunda – ‘Kiliningan Sejak Wayang’
                     Penyaji: Jurusan Karawitan STSI – Bandung
14.30 – 15.30  Pagelaran gabungan wayang golek-topeng-tari (kontemporer)
                     Cerita: See Saw (cerita Russia)
                     Penyaji: Yana KM (Russia) dan Lintas Wayang
15.30 – 16.30  Pagelaran wayang golek purwa Sunda pekeliran padat, rampak 40 dalang
                     Dhalang: Ki Tantang Sugandi
                     Cerita: ‘Kingkilaban di Alengkadirdja’
                     Penyaji: Gending Tarumanagara (GETAR), Bandung.
19.00 – 20.00  Fragmen tari wayang
                     Cerita: Sembadra Larung
20.00 – 21.00  Pagelaran wayang wong
                     Cerita: ‘Srikandhi Senapati’
                     Penyaji: The Indonesia Opera Drama Wayang Swargaloka
21.00 – 22.00  Konser karawitan Talu gaya Ki Enthus
                     Penyaji: Paguyuban Seni Satria Laras, Tegal
22.00 – 24.00  Pagelaran wayang Rai Wong (kontemporer)
                     Dhalang: Ki Enthus Susmono
                     Cerita: Dewa Ruci (Makrifat Dewa Ruci)
                     Penyaji: Paguyuban Seni Satria Laras, Tegal
Kamis, 28 April 2011
09.00 – 12.00  Diskusi 1: ‘Wayang baru dari generasi baru’
                     Narasumber: Mas Edo Aditya, Mas Budi Dalton (El Presidente Brotherhood),                      dan Mas Tavip.
14.00 – 16.00  Pagelaran wayang golek cepak Cirebon
                     Dhalang: Ki Achmadi
                     Cerita: ‘Babad Dermayu’
19.00 – 20.00  Fragment tari wayang ‘Golek Ayun-ayun’
                     Fragment tari wayang ‘Klana Topeng’
20.00 – 21.00  Wayang wong gaya Yogyakarta
                     Cerita: Candhabirawa (Bagaspati Lena)
                     Penyaji: Perkumpulan Kesenian Irama Tjitra (Yogyakarta)
21.00 -22.00  Konser karawitan Talu gaya Surakarta
                    Penyaji: Jurusan Pedalangan ISI – Surakarta
22.00 – 24.00 Pagelaran wayang kulit purwa gaya Surakarta
                    Dhalang: Ki Purbo Asmoro
                    Cerita: ‘Sang Anoman’
                    Penyaji: Jurusan Pedalangan ISI – Surakarta
Jum’at 29 April 2011
13.00 – 14.00  Konser karawitan Talu klithik
                     Penyaji: Lembaga Sangga BUana Surakarta
14.00 – 17.00  Pagelaran wayang klithik
                     Dhalang: Ki Sapta Sutrisna
                     Cerita: ‘Gunung Sari Krama’
20.00 – 21.00  Konser karawitan Talu wayang kartun
                     Penyaji: Paguyuban Wayang Kartun Yogyakarta
21.00 – 24.00  Pagelaran wayang kartun (kontemporer)
                     Cerita: ‘Durmagati Nglindur’
                     Penyaji: Paguyuban Wayang Kartun Yogyakarta
Sabtu, 30 April 2011
09.00 – 12.00  Diskusi 2: Digitalisasi wayang – Mas Heru Sudjarwo
                     Diskusi 3: E-Wayang ‘ Mas Mawan Sugiyanto
                     Diskusi 4: Relevansi kisah wayang terhadap nilai-nilai kekinian – Mas Pitoyo Amrih
Ketiga diskusi ini, dijadikan satu paket dan dipandu oleh Mas Budi Adi Soewirjo, dibantu panitian BWF 2011.
13.00 – 15.00  Diskusi 5: Penelitian nada dan logam untuk gamelan wayangan – Mas Priadi                                      Dwi Hardjito
                     Diskusi 6:  Presentasi proses pembuatan gamela wayangan – Pak Dasah                                           Pujo Suwarno (menunggu konfirmasi)
19.00 – 20.00  Konser karawitan Soran Wayangan
                      Penyaji: Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa – Institut Teknologi Bandung (PSTK-ITB).
20.00 – 21.00  Konser karawitan Talu gaya Pesisir
                     Penyaji: Grup Kesenian Soka Budaya, Kementerian Pekerjaan Umum,                                           Jakarta.
21.00 – 22.00  Pagelaran wayang kulit purwa sosialisasi ekologi
                     Dhalang: Ki Dharmo Karsono
                     Cerita: ‘Tapak Asma Prajanjen Pawuan Ageng Sari-Mukti’
                     Penyaji:  Grup Kesenian Soka Budaya, Kementerian Pekerjaan Umum,                                          Jakarta.
22.00 – 05.00  Pagelaran wayang kulit purwa gaya Surakarta
                     Dhalang: Ki Prayoga Jogonagoro
                     Cerita: ‘Tugu Wasesa’
                      Penyaji:  Grup Kesenian Soka Budaya, Kementerian Pekerjaan Umum,                                          Jakarta.
Pagelaran wayang golek Sunda dan kontemporer, dan pameran, juga diadakan di Kota Baru Parahyangan 22 – 24 April 2011 (siang – malam).Juga di Universitas Padjadjaran (UNPAD), Jl. Dipati Ukur, 25 April 2011 (siang – malam)
Sebagai informasi tambahan, semua acara tersebut di atas (pagelaran, pameran, workshop, dan diskusi), terbuka untuk umum dan sama sekali tidak dikenakan biaya apapun (gratis), termasuk untuk diskusi.
Di lokasi Itenas, juga diadakan ‘bazar’ (semacam pasar rakyat kecil) yang menyediakan berbagai produk turunan wayang serta cindera-mata khas wayang. Jadi jangan lewatkan acara ini. Cuma sekali setahun….
Salam hangat dan selamat menonton,
Bram Palgunadi.

UNDANGAN PEMBUKAAN BWF 2011


Bandung, 14 April 2011

Salam Hangat dari Bandung,

Panitia Pelaksana BANDUNG WAYANG FESTIVAL 2011    – bersama Narada Foundation , Kai Sadhana dan Amrta Vision mengundang Bapak/Ibu/Sdr/i untuk hadir  pada acara pembukaan  BANDUNG WAYANG FESTIVAL 2011 yang akan diselenggarakan pada :

  • Hari                 :           Jumat
  • Tanggal           :           22 April 2011
  • Waktu              :           Pukul 14.00 WIB – Selesai
  • Tempat            :           Bale Pare  – Jl. Panyawangan Kav 3 , Bale PareKota Baru Parahyangan, Bandung 40553

Demikian kami sampaikan  undangan ini  , kami percaya kehadiran  Bapak/Ibu/Sdr/i dalam acara Pembukaan Bandung Wayang Festival 2011 akan membuat acara ini lebih berwarna,hidup,dan bermakna.

Hormat kami ,

Nia Paramitha Anthony

Asst. Direktur Festival

Salam
Kai Sadhana Services
Event Management
Jl.Rereng Wulung No.25 Sukaluyu – Bandung
Tlf. 022-2518058/081322299100/081910006658

KHS kiriman Pak Budi Susilo Raharjo


Sebelumnya saya sampaikan permohonan maaf karena kesibukan kerja dalam seminggu terakhir ini tidak sempat untuk posting.

Dan tengah malam ketika saya sampai di rumah dari Jakarta, ternyata ada sebuah paket kiriman dari Pak Budi Susilo Raharjo Tangerang, berupa 2 pagelaran wayang bersama dalang Ki Hadi Sugito dengan judul Semar Bangun Kayangan (8 VCD) dan Wahyu Godo Inten (8 VCD).

Koleksi dari Pak Haryono yang terakhir-pun belum semua saya sharing, namun insya allah nanti kalau sudah ada waktu akan saya tuntaskan kewajiban saya untuk  sharing semua koleksi yang belum sempat saya lakukan, baik dari koleksi Pak Budi Susilo maupun Pak Haryono.

Kami sampaikan terima kasih yang setulusnya kepada Pak Budi atas sharingnya dan semoga tidak kapok-kapok untuk nanti sharing lagi .. he he he …

Matur nuwun

KSSC : Semar Mantu II (Brantalaras Tundung)


Para sederek,

Niki lakon sing ajeng kula sowananaken lampahane Semar Mantu II utawi Brantalaras Tundung. Lakon carangan niki teksih depanggungaken kalih dalang favorit panjenengan sedaya warga mBanyumas, Ki Sugino Siswocarito.

Onten kelodangan niki perlu kula ajeng maringi priksa urutan sing ajeng kula unggah selajenge. Sebab mengke lakone sing diunggah malih onten gayutane kalih penakawan Pendawa malih, nggih niku; ulangan Bawor Dadi Guru (versi stereo) terus selajenge sing mpun siap Gareng Dadi Ratu. Dados tema lakon penakawan, (Petruk Kembar, Semar Mantu, Bawor Dadi Guru kalih Gareng Dadi Ratu) sing onten tangan kula empun telas dikonvert. Mangke tema selajenge lakon saking Ki Sugino malih, nggih niku Baratayuda Jayabinangun.

Jane lakon Brantalaras Tundung niki empun nate diunggah kalih Kamase Prabu saking pegelaran video sing dipendet saking Youtube. Dados damele ngangge file sing dipripil nganti lembut banget, melu kalih durasi per file saking video. Tapine niki audio asale asli MP3 sing kula konversi saking kaset lan durasine per file 30 menitan. Mestine senajan lakone sami, tapi niki versi rekaman studio, kados sanggite nggih madan onten bentene. Kula senajana empun nate nyobi down load rekaman audio saking file unggahan asal Youtube niku, ning kula mboten kengetan napa bentene dibanding kalih sing versi kaset audio niki. Njenengan mawon nggih sing crita bentene onten pundi, angger njenengan empun ngunduh saking file olahan kula.

Critane kiyambek jane niki empun bagian kalih saking dwi-logi Semar Mantu, lah niki sing seri kalihe. Mangga menawi onten sing kagungan kasete sing seri setunggal, kula saged mbantu convert sekalian ngunggah teng wayangprabu.com , setuju nggih? Setuju lah!

Menawi ringgitan ceritane Pendawa sentris niku katah-katahe dimulai saking jejeran Ngastina napa nDwarawati, Sepisan niki onten lampahan sing diwiwiti saking jejeran Ngawangga. Mangga onten lakon niki njenengan nggih saged nggatekaken kepripun Gatutkaca nggene kenging guna kasihane Pendhita Durna, Duyung Kasihan, nganti ora kelingan babar blas kalih sedulure, nggih niku Brantalaras. Terus kepripun polahe Sardula kedaden saking Gatutkaca sing kenging sot saking Raden Wisanggeni. Mangga dipirengaken.

Kualitase kepripun mestine njenengan nggih mesti kepengin ngertos mbokan? Ala sepuluh-puluh nggih sederek, kaset niki empun mandan tua tur rekaman saking perusahaan rekaman cilik local. Dados empun dibandingaken kalih rekaman sing misale saking Kusuma sing jan mesti saene. Sing niki angel gole ngolah, wong sumbere empun butek, senajan disaring saring nggih tetep onten tabete. Sing penting olahan convert niki tone balance-e tesih kula damel imbang. Bass-e mboten genyeh, kebenyeken. Dene swanten mid kalih trebel-e nggih mboten kacel, tesih saged madahi vocal colorasi serake-garinge Dalang Gino.

Continue reading KSSC : Semar Mantu II (Brantalaras Tundung)