Antara Filsafat Jawa dan Moral


http://nusantara17081945.blogspot.com/2011/02/video-nggegok-by-campursari-tombo.html

Saat ini kebudayaan Jawa, terutama Filsafat Jawa hampir hilang dari kehidupan masyarakat. Kehidupan kita yang cenderung “western” telah mengabaikan filsafat- filsafat Jawa tersebut. Padahal dalam filsafat-filsafat tersebut mengandung ajaran “adiluhung” yang sangat berguna bagi kehidupan masyarakat.

Filsafat Jawa pada dasarnya bersifat universal. Jadi filsafat Jawa bukan hanya diperuntukkan bagi masyarakat Jawa saja, tetapi juga bagi siapapun yang ingin mempelajarinya.

Beberapa filsafat jawa yang biasa

  • Memayu hayuning bawana (melindungi bagi kehidupan dunia)
  • Sukeng tyas yen den hita (suka/bersedia menerima nasihat, kritik, tegoran)
  • Jer basuki mawa beya (keberhasilan seseorang diperoleh dengan pengorbanan)
  • Ajining dhiri dumunung ing kedhaling lathi (nilai diri seseorang terletak pada gerak lidahnya)
  • Ajining sarira dumunung ing busana (nilai badaniah seseorang terletak pada pakaiannya)
  • Amemangun karyenak tyasing sesama (membuat enaknya perasaan orang lain)
  • Kridhaning ati ora bisa mbedhah kuthaning pasthi (Gejolak jiwa tidak bisa merubah kepatian)
  • Budi dayane manungsa ora bisa ngungkuli garise Kang Kuwasa (Budi daya manusia tidak bisa mengatasi takdir Yang Maha Kuasa)
  • Sura dira jayaningrat lebur dening pangastuti (kemarahan dan kebencian akan terhapus/hilang oleh sikap lemah lembut)
  • Tan ngendhak gunaning janma (tidak merendahkan kepandaian manusia)

 

Masih banyak filsafat-filsafat jawa yang lain. Satu hal yang harus diingat, mempelajari kebudayaan suatu daerah bukan berarti kita menjadi “rasis” atau fanatik kedaerahan, namun itu semua sebagai wujud pertanggung jawaban kita terhadap peninggalan nenek moyang bangsa kita. Dan juga melestarikan kebudayan daerah bukan hanya menjadi tanggung jawab warga daerah tersebut. Tetapi juga menjadi tanggung jawab kita semua.. (ingat semboyan bangsa kita “Bhineka Tunggal Ika”…..)

Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang hidup modern, tetapi juga bangsa yang mampu hidup modern tanpa meninggalkan ajaran dan nilai luhur kebudayaannya.

Dari bahasan diatas tentang filsafat jawa tentu ada kaitannya dengan Budaya Jawa yang adiluhung yaitu Wayang. Menurut saya wayang adalah cerminan budaya yang complit dan tentunya semua unsur seni masuk disitu baik seni lukis, musik, teater dan lainnya dan tak lupa didalam pertunjukannya tentu slalu mengedepankan tontonan, tuntunan dan tatanan. Continue reading Antara Filsafat Jawa dan Moral

Jangan hanya sekedar penikmat pasif


Belakangan ini cukup ramai pengunjung WP yang tercinta ini baik dari dalam negeri maupun luar negeri dan dilihat dari statistic blog menurut pendapat saya sangat membanggakan.

Komunitas PPW sebagai mana telah dituliskan dibeberapa waktu yang lalu adalah termasuk komunitas minoritas yang artinya adalah komunitas kelompok kecil yang tak berarti apa – apa. Tapi bukan berarti kita sebagai kelompok minoritas tidak berguna atau sia – sia. PPW sebagai kelompok minoritas jelas terasa saat ini, akan tetapi tidak bila kita bisa menyikapi atau mensikapi dengan berbagai macam cara, entah itu dengan pembentukan struktur organisasi secara legal baik ataupun ormas non profit dan non politik.

Masih ingatkah ?

Atau mungkin sudah lupa, beberapa tulisan mas Pranowo Budi yang lalu dan mengambil judul THE BUNTUT DOWO. Di tulisan tersebut saya ulang kembali sebagian :

 

Konsekwensi sebagai buntut apa ? Ada positif dan negatifnya tentu

Negatif :

  • Biasanya menjadi kaum minoritas
  • Suaranya jarang didengar (atau malah tidak sama sekali) alias nggak punya power
  • Konten yang disasar relatif terbatas dan perkembangannya seret
  • Khusus komunitas wayang, mayoritas anggota adalah kaum kadaluwarsa alias wis tuwo-tuwo (meskipun ada terselip beberapa yang masih muda)

Positifnya :

  • Jalinan ikatannya kuat karena merasa senasib
  • Cenderung anggotanya berjiwa militan tidak oportunis
  • Meskipun konten terbatas, semangat anggotanya tergolong luar biasa untuk memperbanyak konten dan dibagikan ke semua anggota
  • Khusus komunitas wayang, biasanya anggotanya lebih bijak dalam menyikapi hidup (tidak termasuk saya) he he he …

Dan bagi saya pribadi sebagai pengelola blog wayangprabu, karena sudah menyadari positioning blog ini maka sedari awal sudah yakin bahwa pengunjung tidak akan booming. Dan kenyataannya hingga kini paling banter setiap harinya hanya sekitar 6 ribuan page view yang di klik oleh pengunjung. Mboten dados masalah, jalaran sanes hits ingkang kita padosi. Namun hal positifnya ya seperti tertulis pada point 2 diatas, yaitu mayoritas pengunjung adalah pengunjung setia yang me-menteleng-i update blog selalu.

Menyesalkah Anda menjadi kaum minoritas ?

Dari ini kita ambil pelajaran yang sangat berharga, coba bayangkan apabila kita sebagai kaum minoritas yang pasif (hanya penikmat saja) atau lebih dimaksud hanya download saja, ikut milis hanya untuk intip password, tanpa ada kontribusi yang berarti buat kita sebagai kaum minoritas. Sungguh sangat disayangkan ….!!!!!!

Apalagi lebih ironis lagi sebagian dari kita ada yang mengambil keuntungan secara pribadi  atau mengkomersilkan hasil dari Download mp3 atau Video dari blog ini. Dalam hati kecil dan mungkin hati besar saya mengatakan sungguh biadab, atau malah triadap, bahkan panca adab, sudah minoritas ada saja yang seperti ini.

Keprihatinan saya tidak cukup itu saja. Bahkan saya perhatikan yang sangat berperan aktif dalam PPW malah saudara – saudaraku yang ada di luar zona dimana yang seharusnya ada sebagai contoh adalah Jawa Barat (nota bene bukan asalnya wayang kulit) sebagian besar disanalah pusat atau roh PPW ini eksis, Jawa tengah mana, Yogyakarta mana, ayo kita saling berbagi dan berkontribusi, MALAH sangat menyedihkan JAWA TIMUR MANA ?…..aku coba ketuk hatinya penikmat pasif di Jawa timur.

Jawa timur adalah daerah yang dimana kreatifitas budaya sangat tinggi terbukti dari banyaknya seni budaya yang eksis terus, bahkan setiap tahun selalu diadakan Kirab Budaya peisiran dan itupun sebagai agenda rutin bahkan seperti wajib. Dari situ sudah terlihat bahwa penikmat dan pelaksana budaya masih ngremboko atau subur. Dan jauh dibanding dengan Jawa tengah, DIY apalagi Jawa Barat. Itupun dalam pengamatan saya, maaf apabila salah pengamatan saya. di Jawa timur tumbuh subur Sanggar – sanggar Pedalangan dalam wadah PEPADI pun tetep eksis yang jadi ironis adalah kenapa begitu besar dan subur tapi seolah olah tertutup, pasif dan seolah olah tak mengerti keberadaan WP atau PPW. Padahal saya ulangi lagi penikmat pasif, pengintip password, bahkan pemanfaatan WP hasil download dengan tidak semestinya mungkin ada. Yang selalu setiap hari cek atau browsing pasti ada.

Dengan ini aku ketuk hatinya yang paling dalam sekali lagi, bagi  teman – teman, saudara – saudaraku sesama PPW sebagai kaum minoritas untuk saling berbagi, berkontribusi, secara positif dan nyata, marilah kita bantu baik moral atau mungkin material untuk terbentuknya struktur kepengurusan PPW yang kredibel loyal dan nyata untuk ikut melestarikan budaya bangsa yang adi luhung ini.

Kita akan terlihat apabila kita berani muncul atau tampil, Insya Alloh kita akan diperhitungkan walaupun kita minoritas dimata bangsa Indonesia ini.

Mari kita dukung PPW secara riil/ secara nyata.

Akhirnya cukup sekian dulu, bila ada kata atau tulisan yang kurang berkenan dihati pembaca dan suadara – saudaraku PPW dimana saja berada saya mohon maaf yang sebesar – besarnya.

 

Ali Mustofa

Jawa timur.