Banjaran Cerita Pandhawa (44)


sumber : http://tembi.org

Tokoh Arjuna
Arjuna dengan gelar Mintaraga bertapa di Gunung Indrakila ditemani oleh empat Panakawan
yaitu Semar. Gareng, Petruk dan Bagong (karya: herjaka HS)

Tokoh Arjuna (2)

Dalam cerita Arjunawiwaha karangan Mpu Kanwa, Arjuna kawin dengan tujuh bidadari setelah berhasil membunuh Niwatakawaca raja Himantaka (Arjunawiwaha: XXXV. 1-15). Nama bidadari itu Supraba, Palupy, Tilottama, Menaka. Ternyata disebut tujuh bidadari, tetapi hanya dikemukakan empat nama saja. Dalam Serat Mintaraga karya Sunan Paku Buwana III, bidadari yang disebut yaitu Gagarmayang, Supraba, Tilotama, Warsiki dan Warsini. Dua cerita berjudul Mintaraga (Mayer, 1924: 124) hanya disebut lima bidadari, yaitu Supraba, Wilotama, Warsiki, Surendra dan Gagarmayang.

Cerita perkawinan Arjuna dengan Srikandhi dimuat dalam buku Srikandhi Maguru Manah karangan Raden Ngabehi Sindusastra (VBG XXXIII No. 167, 1874), dan dalam bentuk cerita lakon berjudul Srikandhi Maguru Manah (Pakem Ringgit Purwa, SP 192 Ra: 62).

Arjuna juga memperisteri Dresanala dan beranak Wisanggeni (Mangkunagara VII Jilid XXVIII, 1932: 3) Arjuna dengan nama Pamade memperisteri Kencanawati dan Kencanawulan anak Prabu Sokadrema raja Sokarumembe, dalam cerita berjudul Lampahan Lobaningrat (Mayer, 1924: 249)

Dari beberapa cerita diperoleh nama-nama anak Arjuna, tetapi tidak disebut nama ibu tokoh itu atau nama isteri Arjuna yang melahirkannya. Anak Arjuna yang sering disebut-sebut yaitu:

  1. Bambang Nilasuwarna dan Endhang Nilawati, cucu Bagawan Pramanasidi dari pertapaan Gebangtinatar.
  2. Bambang Wijanarka, cucu Bagawan Partana dari Guwawarna.
  3. Bambang Tejasuwarna, cucu Bagawan Jatisupadma dari Andongraras.
  4. Bambang Manon Manonton, cucu Bagawan Sidiwacana dari pertapaan Andongpurnama
  5. Bambang Setiwijaya dan Bambang Setiwigena, cucu Bagawan Jatimulya dari pertapaan Argatilasa (Padmosukotjo, 1954: 94).

Mangkunagara IVdalam kitab Candrarini menyebut nama isteri Arjuna, yaitu Dewi Manohara, anak Bagawan Manikhara dari Wukir Tirtakawama (Mangkunagara IV, 1953: 58)

Jumlah istri Arjuna boleh dikata banyak, maka tokoh Arjuna mendapat sebutan Lelananing Jagad. Cerita itu dimuat dalam cerita berjudul Arjuna Sendhang (Mangkunagara VII Jilid XX, 1932:17) dan Arjuna Terus (Mangkunagara VII Jilid XXVII, 1932:20).

Tempat tinggal Arjuna bernama Madukara, sedangkan tamannya terkenal dengan taman Maduganda. Pada umumnya masyarakat memberi konotasi terhadap Arjuna sebagai kesatria yang ideal, terpuji, tangguh, berani berperang serta selalu menang dalam peperangan. Arjuna dikenal sebagai kesatria sakti yang kesaktiannya diperoleh karena tapanya dan didukung panah Pasupati anugerah dewa Siwah (Mintaraga, 1884: VII. 16: Arjunawiwaha : XII.1). Selain itu didukung pula oleh keris saktinya yang bernama Kalanadhah dan Pulanggeni, konon berasal dari taring Bathara Kala yang dicipta menjadi keris oleh Batara Guru. Selain Pasupati, panah Arjuna yang sakti bernama Ardhadhadhali, Sarotama dan Aryasengkali (Padmosukotjo, 1954: 91).

Dalam perang Bharatayudha Arjuna membunuh Baghadhata (Bharatayudha: XIII.16)’ Jayadrata (Bharatayudha: XVI.6), Karna (Bharatayudha: XXXI.24). Arjuna bersama Srikandhi membunuh Bhisma dengan panah saktinya (Bharatayudha: XII.4).

R.S. Subalidinata

KASS Prabu Nalaka Suraboma Pejah


Kali ini Ki Dalang Asep Sunandar Sunarya mempersembahkan wayang golek dengan lakon “Prabu Nalaka Suraboma Pejah”.

Ngan punteun yeuh, cd anu kaping 2 tergores janteun cacat. Sementara belum bisa di-rip. Mudah-mudahan nanti dapat disusulkan.

Selamat menikmati

Versi Lengkap dapat dilihat disini :

http://www.4shared.com/folder/SFhJcf77/Nalakasuraboma_Pejah.html

Baratayuda [25] : Jujurlah, Pinten, Tangsen!


By MasPatikrajaDewaku

Bayangan jingga belum lagi terbias diantara mega mega di langit timur, ketika Aswatama telah berada jauh jaraknya dalam pencarian jejak Banuwati. Kelamnya hutan dan  kabut menjelang pagi amat mempersulitnya dalam melacak lari kuda yang ditumpangi Banuwati. Jejak kaki kuda dan patahan ranting yang masih baru kadang masih dapat terlihat sebagai tanda lacaknya, namun sejatinya kuda itu telah lama kehilangan penumpangnya yang terperosok jatuh di tempat yang sudah jauh tertinggal.

“Keparat Banuwati, kau telah membuat dendamku makin dalam! Ya, tidak ada yang dapat aku katakan, belum akan mati dengan dada lapang Aswatama, jika aku belum berhasil membunuh perempuan celaka yang berlindung dibalik kecantikan parasnya!” Perasaan sesal dan dendam melonjak lonjak dalam dada Aswatama. Segenap sisi hutan telah ia selusuri meneliti dengan seksama tanda tanda dimana adanya Dewi Banowati, namun Sang Dewi seolah ditabiri oleh kekuatan gaib yang tak kasat mata.

Sementara itu di Mandaraka, abdi istana telah menghadirkan kedua orang tamu yang sedari lepas tengah malam menunggu, kapan kiranya akan ditemui oleh tuan rumah. Prabu Salya yang masih belum beranjak dari tempat sesuci telah mengira, siapa sebenarnya yang hendak menghadap. Firasatnya mengatakan, bukan orang lain yang hendak bertemu dengannya. Maka ia masih tetap dalam busana putih yang ia kenakan ketika ia memuja Hyang Maha Agung, dan juga belum hendak beranjak dari sanggar pemujan.

Prabu Salya menarik nafas panjang ketika ia melihat dihadapannya berjalan dua sosok yang sangat ia kenal dengan baik. Dialah kemenakannya, Nakula dan Sadewa. Kemenakannya yang lahir dari gua garba adik perempuannya Madrim. Adik perempuan satu satunya yang sangat ia kasihi. Seketika tangannya dilambaikan kearah kedua satria yang baru saja dipanggilnya menghadap. Sambil tetap duduk ditempat semula, tangannya mengusap usap kepala kemenakannya dengan sepenuh kasih ketika Nakula dan Sadewa bersimpuh dan menghaturkan sembah bakti kepadanya.

“Pinten, Tangsen,  duduklah dekat kemari” Masih disertai senyum, Sang Uwak, ketika melepaskan elusan tangannya. Prabu Salya terbiasa memanggil kemenakannya dengan panggilan kecil, Pinten dan Tangsen, kepada Nakula dan Sadewa. Ia masih saja menganggap kemenakannya masih saja selayaknya kanak kanak, walau mereka sebetulnya sudah lepas dewasa. Panggilan itu seakan ia ucapkan sebagaimana ia dengan segenap kasih ingin menumpahkannya kepada anak yang terlahir piatu itu. Dan masih tercetak kuat dalam benaknya, betapa sejak kecil keduanya telah ditinggalkan oleh sepasang orang tuanya, sehingga tak terkira betapa kasihSang Uwak tertumpah kepada kedua kemenakannya itu.

Continue reading Baratayuda [25] : Jujurlah, Pinten, Tangsen!

Lumbung Desa-nya KNS


Masih koleksi dari Pak Dwi Darwanto

15 lagu karya Ki Nartosabdho saya kemas dalam 5 klip video

  1. LUMBUNG DESA Sl.9
  2. LESUNG JUMENGGLUNG Sl.9
  3. GLOPA GLAPE Sl.9
  4. mBOK YA MESEM Sl.9
  5. KEMBANG GLEPANG Sl.9
  6. KUDANGAN Sl.9
  7. JULA JULI SUMBA Sl.9
  8. AJA LAMIS Pl.6
  9. MARI KANGEN Pl.6
  10. PRAON Pl.6
  11. NGUNDA LAYANGAN Pl.6
  12. SWARA SULING Pl.Br.
  13. JAGO KLURUK Pl.Br.
  14. CAPING Pl.Br.
  15. SAPUTANGAN Pl.Br.

Selamat Menikmati

KSSC : Gatutkaca Edan


By MasPatikrajaDewaku


Kang,

Angger ana Janaka kembar papat, siji Permadi sing digawa karo Pendita Durna, loro, Dananjaya sing teka karo Gatutkaca, sing nomer telu Arjuna teka dewek, lah sing pungkasan Raden Parta sing digawa karo Antasena. Kira kira endi kang sing asli? Angger sing digawa karo Pendita Durna biasane sih, aspal, terus angger sing teka karo Gatutkaca apa sing digawa Antasena kepriwe?  Terus Arjuna sing teka dewek?

Aja bingung, mangga ngunduh kiyanbek wayangan Dalang Gino sing asesirah (alah nganggo basa wetan) Gatutkaca Edan utawa Begawan Edan Sidolamong.

Kaset kiye jan pancen wis mandan tua, derekam tahun 1997. Formate Mono dadi ya ora patia ngejreng. Tapi aja kewatir, senajana Mono soten sing tegese ora duwe dimensi Z, tapi tetep tonal balance-e esih apik, bass-e ya esih pulen malah trebele kemencling. So’al suara mono, tek akali nganggo spatial sing tek pasang mode pseudo stereo. Lumayan lah esih mbleketaket. Kepyake senajana neng sawetara enggon mandan pecah, tapi kayane sebab mik-e kepereken jarak masange karo keprak. Mangga lah mengke dipidangetaken kiyambek nggih.

Tapi ya kuwe, inyong jan mandan kecipuhan gole ngonvert, butuh effort (apa maning kiye) sing pantang mundur. Sebabe apa? Kasete wis pada prutul, dadi ana sing bolak balik didandani disit. Ora papa lah, sebab kayane lakon kiye ya wis ana sing nakokena gemiyen.

Continue reading KSSC : Gatutkaca Edan