Mencintai Ibu Pertiwi Semampu Kita


http://www.facebook.com/#!/note.php?note_id=187026641323592

by Bram Palgunadi on Tuesday, January 4, 2011 at 10:26pm

Sahabat saya Pak Bambang Susilardjo dan para sahabat saya lainnya,

Pertama-tama, saya ucapkan terima-kasih atas tanggapan Bapak. Itu merupakan bukti bahwa sekurang-kurangnya ada seseorang (atau mungkin lebih banyak lagi), yang berpikir untuk kebaikan bangsa ini. Itu merupakan salah satu hal yang sangat membahagiakan saya. Sekali lagi saya mengucakan terima-kasih.

Tentang tiga stanza dalam lagu kebangsaan Indonesia Raya itu, saya juga sepakat dengan Bapak, meskipun mungkin tidak menjadi suatu kuajiban untuk menyanyikan bait-baitnya, ya mestinya diberitahukan secara resmi, bahwa ada lo stanza berikutnya, yang semestinya juga dipahami makna dan kandungan filosofinya.

Saya juga sepakat dengan Bapak, soal bahwa budaya Barat atau budaya manapun bisa saja mempengaruhi dan mendominasi budaya lainnya. Meskipun demikian, yang menjadi pokok masalah, adalah bagaimana dengan nasib budaya kita? Apakah mau dibiarkan saja, atau mau diasimilasikan dengan budaya lain, atau diganti saja dengan budaya lain, atau mau diapakan? Tentang ketertarikan Barat terhadap budaya Timur (khususnya Indonesia), saya juga sepakat dengan Bapak (karena banyak bukti tentang hal ini). Namun, apakah yang telah kita lakukan terhadap budaya kita sendiri? Apakah kita selesai dengan berbangga hati bahwa budaya kita ternyata dikagumi oleh orang Barat? Tetapi, kita sendiri ternyata tidak bangga terhadap budaya kita sendiri. Untuk itulah, diperlukan suatu sikap bersama.

Dalam hal ini, saya sama sekali tidak anti dan tidak menampik kebudayaan Barat, sejauh yang berhubungan dengan sesuatu yang bersifat positif. Bagaimanapun juga, yang saya persoalkan, adalah bahwa kita sebagai suatu bangsa ‘tidak mempunyai kebanggaan terhadap budayanya sendiri’. Dalam beberapa tulisan/artikel saya, hal ini saya sampaikan. Andai saja, kita mempunyai kebanggaan terhadap budaya sendiri, maka masuknya budaya asing itu paling tidak akan masuk sederas seperti sekarang ini.

Gagasannya, untuk mengatasi hal itu, perlu dipikirkan bagaimana caranya supaya kita mulai saja dengan ‘mencintai Ibu Pertiwi’. Sedikit dulu, juga nggak apa-apa. Kan orang mulai mencintai itu bisa dimulai dari ‘witing tresna jalaran saka kulina’ (cinta bisa tumbuh dengan sendirinya, jika kita membiasakan atau dibiasakan). Dalam beberapa tulisan saya, jelas sampai sampaikan bahwa hal ini, sebaiknya merupakan suatu kebijakan negara yang bersifat makro (tentang hal ini, saya sebut sebagai suatu ‘revolusi total’). Sedangkan kita sebagai anggauta masyarakat, seharusnya menjalankan kebijakan yang sejalan dengan hal itu, dalam konteks yang bersifat mikro. Jadi keduanya (masyarakat dan negara), seharusnya berjalan seiring. Namun, jika negara tidak melakukannya, maka saya mengusulkan dan mengajak, supaya masyarakatlah (kita) melakukannya saja semampu kita (tentang hal ini, saya sebut sebagai suatu ‘revolusi kecil’).

Karena selama ini (sekurang-kurangnya yang saya rasakan) kita terlampau banyak berwacana semata, maka ajakan saya adalah benar-benar dilaksanakan secara nyata. Suatu perubahan sikap yang kecil saja, juga tidak apa-apa, yang penting kita telah melakukan perubahan semampu kita.  Jika misalnya, kita seorang pegawai rendahan, ya lakukan yang terbaik yang bisa dilakukan sesuai perannya. Jika kita seorang guru, ya lakukan yang terbaik, menjadi guru yang baik. Jika kita seorang enjiner, ya kalau merancang suatu sistem, lakukanlah yang terbaik. Begitu juga jika kita pelaku budaya, tampilkanlah yang terbaik dalam berkarya. Makanya, saya tidak menuntut seseorang menjadi ‘pahlawan besar’, tetapi cukuplan menjadi seorang ‘pahlawan kecil’ saja. Tidak lebih.

Bagaimanapun juga, upaya memperbaiki seperti yang saya mimpikan, tidaklah mudah dilaksanakan, apalagi hanya oleh satu atau dua orang saja. Karenanya, membutuhkan kebersamaan dalam bersikap, berperi-laku, dan melakukan tindakan. Jika saya memakai contoh orang lain, rasanya tidak lucu. Karenanya, saya memakai contoh apa yang sudah dan akan saya lakukan. Kalau sekarang saya mau bersusah-payah berusaha mengenalkan kembali budaya wayang, misalnya, dalam kegiatan ‘Bandung Wayang Festival’ bersama dengan beberapa sahabat saya, justru karena itu merupakan salah satu hal yang saya bisa lakukan. Sewaktu saya berusaha menuliskan dan menerbitkan buku ajar handbook ‘Serat Kandha Karawitan Jawi’, juga karena hal itulah yang bisa saya lakukan. Saat saya berusaha menyelesaikan dan menerbitkan buku ajar tulisan saya tentang ‘Disain Produk’ (jilid 1 s/d 4) untuk para mahasiswa, tidak lebih dan tidak kurang, juga karena hal itulah yang bisa saya lakukan. Dan jika saya berusaha menyelesaikan dan menerbitkan buku handbook ‘Radio 1’ sampai dengan ‘Radio 7’ (untuk para teknisi, hobies, dan orang yang tidak sekolah jurusan elektro), juga karena hal itu yang saya bisa perbuat. Jika saya mau mengajar para mahasiswa sampai pada tingkat yang mungkin dianggap sangat berlebihan oleh para sahabat pengajar lainnya, hal itu juga dilandasi oleh sikap saya bahwa hal itulah yang bisa saya lakukan untuk membekali mereka. Jadi, saya berusaha merealisasikan mimpi saya itu, dalam bentuk sesuatu yang nyata. Mimpi saya itu, sebenarnya sederhana saja, berusaha berbagi ilmu dan pengetahuan yang saya miliki, karena hanya itu yang saya miliki dan hanya itu yang bisa saya lakukan.

Terus-terang saja, sebagian dari ilmu dan pengetahuan yang saya miliki itu, dulu juga saya dapatkan dari sahabat-sahabat saya yang namanya antara lain Bambang Susilardjo, Triyoso Herman almarhum, Winarno almarhum, Hartono Partoharsaja, Endhon Barata, Ridwan Surono, Dadang Yuhana, serta para teknisi seperti Haryanto, Syafrullah, Yadi Suparyadi, Sarjimin, Dede Djumalar, Sutejo, Tanu Budiman, Memed Tarmedi, dan banyak lagi; saat semuanya masih bersama-sama bekerja di PT RFC, Bandung. Dulu, saya sudah diberi kesempatan untuk mendapatkan berbagai ilmu dan pengetahuan. Jadi, sekarang saya pikir sudah saatnya saya menyebarkan berbagai ilmu dan pengetahuan itu kepada orang lain. Untuk orang lain, hal itu merupakan sesuatu hal yang mungkin dianggap kecil dan sama sekali tidak berarti (kalau pakai bahasa sekarang sering dinyatakan sebagai ‘gak penting’). Tetapi untuk saya, itu merupakan sesuatu hal yang luar biasa dan amat sangat berarti.

Di balik semua hal itu, saya melakukan karena saya sangat mencintai Ibu Pertiwi, tempat saya dilahirkan, dibesarkan, serta menjadi tempat saya tinggal dan hidup bahagia saat ini. Bayangkan, saya sama sekali tidak bisa melakukan seperti yang dilakukan ayah saya di jaman revolusi kemerdekaan Indonesia. Dulu ayah saya bisa bertempur dan menjadi gerilya untuk membela dan mempertahankan Ibu Pertiwi. La terus saya yang hidup di jaman sekarang, harus melakukan apa? Lawong Indonesia sekarang sudah merdeka. Jadi, apa yang saya lakukan, didasarkan kepada sikap bahwa untuk membela dan mempertahankan Ibu Pertiwi di masa sekarang, tidak selalu harus jadi tentara atau gerilya, tetapi bisa dilakukan semampu dan sebisa yang kita dapat lakukan, sesuai bidang kita.

Semua itu bisa saya lakukan, justru mungkin juga karena saya ditakdirkan sebagai orang yang tidak kaya (tidak berharta melimpah). Bayangkan, andaikan saya merupakan orang yang kaya raya, mungkin saya justru tidak akan melakukan apa-apa, karena saya tidak mengalaminya, saya tidak merasakan kebutuhannya, atau mungkin saya akan terlampau sibuk mengurus harta dan kekayaan saya.

Menurut saya, semua hal itu juga jika mau, bisa juga dilakukan oleh banyak orang lain sesuai bidang kerja dan kemampuan masing-masing. Dalam skala kecil, hal-hal itulah yang bisa saya lakukan untuk lingkungan di sekitar saya. Dalam skala yang lebih besar, hal-hal itulah yang bisa saya lakukan untuk bangsa saya. Tidak lebih dan tidak kurang.

Saya sangat berharap, semua sahabat saya melakukannya sesuai bidang kerja dan kemampuan masing-masing. Sejumlah sahabat saya, ada yang memulainya dengan cara membuat situs berkonten budaya, ada yang mengajar, ada yang berkarya di pabrik, ada yang urun rembug di forum, ada yang membuat forum diskusi, ada yang menulis buku, ada yang berusaha memberdayakan industri kecil, ada yang bekerja menjadi instalator yang baik, ada yang berusaha menjadi pegawai yang baik, ada yang berusaha memberdayakan batik tradisional, ada yang berusaha menjadi teknisi yang baik, ada yang berusaha jadi enjier yang bagus, ada yang berusaha membina orang lain supaya bisa maju bersama, ada juga yang berusaha menjadi pengusaha yang jujur, dan bermacam-macam lagi lainnya. Sebenarnya, ada banyak sekali contoh mereka yang sudah melakukannya dalam skala kecil.

Sahabat saya Pak Bambang Susilardjo yang sangat saya hormati, begitulah pendapat saya. Saya berharap Bapak tidak segan menyampaikan tanggapan atau kritik tentang hal apapun, sejauh bersifat membangun dan untuk kepentingan banyak orang, pastilah akan saya terima dengan senang hati dan terbuka.

Satu hal lagi, karena tanggapan Bapak itu sangat bagus dan sangat menggelitik, maka bersama ini saya juga meminta ijin Bapak untuk menampilkannya secara lebih terbuka di berbagai forum milik sahabat-sahabat saya yang lain, termasuk dimuat di catatan dalam facebook saya. Mudah-mudahan Bapak berkenan (saya agak memaksa kalau dalam soal ini, karena memang perlu dan penting untuk diketahui khalayak lainnya).

Untuk semuanya, saya mengucapkan terima-kasih sebesar-besarnya. Salam hangat dan hormat saya untuk Bapak dan seluruh sahabat-sahabat saya. Semoga hari-hari mendatang bisa kita lalui dengan lebih baik dan lebih menyenangkan.

Bram Palgunadi.

Selanjutnya, di bawah ini ditampilkan tulisan tanggapan Bapak Bambang Susilardjo, diterakan seperti teks aslinya.

_____________________________

MULAILAH DENGAN MENCINTAI IBU PERTIWI.

Pak Bram yang bijak, salut dan terimakasih atas ajakannya.

Saya setuju dengan Pak Bram tentang perlunya menyeimbangkan rasio dan rasa.  Tetapi demi keseimbangan rasio dan rasa, saya kira kita tak perlu  memperseterukan budaya tradisional dengan budaya barat, maaf.  Saya berpendapat bahwa apa yang berlaku sekarang, dimanapun, adalah suatu evolusi budaya yang wajar.  Bahwa banyak budaya barat berjaya di Nusantara, tentu karena dalam hal rasio maupun rasa, barat memang lebih maju, setidaknya saat ini.  Sejarah mencatat bahwa baratpun pernah keranjingan, kabanjiran dan didominasi oleh budaya timur, mungkin di era Atlantis, Kaisar Ming, Firaun atau Harun Al’Rasyid.  Wayangpun barangkali bukan budaya asli Nusantara bila diamati dari tokoh-tokohnya.  Bukankah segala budaya berawal dari sumber yang sama? kapankah suatu budaya diklaim sebagai milik suatu era, kaum atau daerah? bukankah budaya menyebar secara wajar dan berevolusi … wallohualam.  Apakah Borobudur harus dipertanyakan karena struktur batu sudah menjadi budaya Mesir beribu tahun sebelumnya? Menarik juga untuk dicermati bahwa hampir semua budaya fenomenal, justru bukan dimulai dari barat melainkan dari Aztec, sumeria, mesir, cina, dll.   Jadi, seandainya jean ditemukan di Sumedang, saya kira mayoritas dunia juga akan menggandrunginya bukan karena Sumedangnya namun karena kepraktisan dan kegunaannya.  Kalau ada HP, apakah kita akan bersikukuh menggunakan kentongan ?.  SMS, bagaimanapun lebih cepat dan mudah dibandingkan merpati-pos dan juga game-on-line, nampaknya memang lebih variatif, innovatif, memikat, seru dan menantang dibandingkan dengan misalnya perang bubat melalui sarana wayang golek.  Program strata S2 untuk pengembangan animasi game di ITB, tentu digelar berdasarkan pertimbangan yang logis. Tanpa game on-line, bayangkan bagaimana generasi sekarang akan berinteraksi saat lapangan semakin langka, anjangsana semakin dihadang kemacetan dan sepakbola belum juga juara (hahaha). Terkadang saya merasa bahwa budaya dan teknologi sudah dirancang dan disiapkan untuk suatu tujuan akhir, namun mungkin perlu dihadirkan secara bertahap, di barat, tengah maupun timur, agar kita lebih paham dan siap menerimanya.  Sayangnya atau mungkin bagusnya (?), memang ada harga yang harus dibayar semisal: individualisme, instanisme, ketergantungannisme dsb.  Tapi, tunggu dulu, bayangkan HP dengan pesan instannya, belum ditemukan dizaman macet ini dan bukankah kita sudah bergantung kepada gunting-kuku, padi-padian dan roda-pedati jauh dimasa lampou, sebagaimana kita bergantung kepada mi-instan saat ini? (maksa, mungkin beda ya …)

Tetapi saya sangat, sangat, sangat setuju dengan upaya apapun demi pelestarian budaya bangsa (timur, tengah, barat), karena saya berpendapat bahwa setiap artefak budaya adalah mata-rantai dari titik-awal ke tujuan akhir penciptaan, sehingga semakin kita memahaminya, mestinya semakin baik juga kita menempuh jalannya (barangkali begitu).   Ada pendapat bahwa bangsa Cina atau Jepang, konon mampu bersaing dengan barat tanpa harus kehilangan budayanya.  Jargon ini saya kira tidak hitam-putih.  Kalau Jepang masih punya bonsai, saya kira bukan (hanya) karena (buah) semangat pelestarian budaya, namun karena bonsai memang bagus, bahkan baratpun menggemarinya.  Toch orang Jepang juga berdasi ketika seminar. Kitapun masih punya batik, songket dsb., tetapi untuk berdagang, naik mobil memang lebih bersaing daripada delman.  Apakah batik bisa punah?, mungkin saja, bila evolusi budaya memang berskenario seperti itu.  Bila kain tenun sudah tidak dimungkinkan karena sumber-daya menipis, tentu kita, suka ataupun tidak, harus menggunakan alternatif yang diseleksi oleh evolusi budaya. Bila inovasi alternatif busana ternyata dimulai dari barat, ya, legowo saja. Toch saya kira, di baratpun terjadi kepunahan budaya, nampaknya semakin banyak orang memilih nonton bioskop, termasuk di rumah, dibandingkan nonton opera.  Musik pop dan rap, lebih sering terdengar daripada musik country atau seriosa misalnya dan bangsa Amerikapun kehilangan bahasa ibu masing-masing karena bahasa resmi adalah English dan toch di baratpun, yoga serta kaizen diakui kehebatannya.

Sekali lagi, saya sangat mendukung pelestarian semua budaya, dalam arti, tidak hanya budaya barat yang boleh lestari.  Pelestarian kesenian dan bahasa daerah, memang harus menjadi tanggungjawab semua pihak karena padanya, pasti tersirat makna dan pesan.  Tetapi Bhineka Tunggal Ika, juga adalah sebuah keniscayaan dan ikrar.  Seandainya banyak populasi selain Jawa di Suriname, saya kira jaipongan juga mungkin logis untuk marak disana.  (maaf Pak, sedikit nyeleneh)

Negara, saya kira sudah berbuat banyak melalui TKDN, pameran budaya, saresehan, dsb., namun memang tidak mudah.  Barangkali kita hanya belum sampai saja ke suatu tatanan dimana hukum (kesepakatan bersama) dirumuskan dan dilaksanakan secara akurat, ketat dan lekat … bila aturan hak-cipta diberlakukan dengan benar, mestinya pembajakan dan plagiat berkurang, sebaliknya, kreatifitas meningkat, seperti di kebanyakan wilayah barat, sehingga rasio dan rasa mendapat peluang yang setimbang.  Mengapa demikian, saya tidak tahu …  Korupsi, kejahatan, konspirasi terjadi pada semua aspek di semua negara, tetapi setidaknya, barat dan beberapa timur mempunyai sistem dan aturan hadiah dan hukuman yang jelas, konsisten dan ditaati.  Mengapa ?, saya tidak tahu, tanyakan pada rumput yang bergoyang hehe.

Demikian, Pak Bram, sekedar beda pendapat atau opini saja, biar seru, lha kalou seragam, kan rekan lain jadi bosan hehe … dan karena pasti lebih banyak ngaconya, saya mohon maaf … yang penting posting ya Pak … terus, sesuai dengan ajakan MULAILAH DENGAN MENCINTAI IBU PERTIWI, maka berkenaan dengan rasio dan rasa, setidaknya dalam memaknai semangat dan harapan yang dikemas dalam suatu tembang, saya tergelitik untuk berandai-andai bahwa barangkali bukan hanya erosi budaya yang harus ditengarai, melainkan mungkin ada hal lain, semisal:

Banyak situs internet yang memuat lirik, aransemen, melodi dan sejarah tentang lagu kebangsaan Indonesia Raya,  termasuk situs Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Indonesia_Raya) yang memuat lirik dari ketiga Stanza lagu kebangsaan kita.   Silahkan menyimak teks ketiga Stanza Indonesia Raya tersebut sebagai rujukan mengenai gelitik saya ini.

Kebanyakan kita, mungkin hanya mengenali Stanza-I dari ketiga stanza lagu kebangsaan Indonesia Raya, karena Stanza-I inilah yang selalu digunakan saat upacara-upacara formal. Menurut Wikipedia, Stanza-I dari Indonesia Raya dipilih sebagai lagu kebangsaan, ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.  Saya penasaran karena Refrain pada lirik sebelum 1945 (versi 1928) nampak berbeda dengan versi 1958 dan versi sekarang.  Saya mencoba lacak dan menemukan penjelasan pada situs Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (http://www.indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=5085) yang menyatakan antara lain bahwa Panitia kemerdekaan yang diketuai Presiden Soekarno ketika itu, menetapkan teks stanza pertama dari tiga stanza Indonesia Raya ciptaan Wage Rudolf Soepratman untuk digunakan pada proklamasi kemerdekaan, dengan mengubah kata Indonis menjadi Indonesia, Moelija-moelija menjadi Merdeka-merdeka serta refrain-nya di bait ketiga (Indonesia Raya), diulang menjadi dua kali.

Menbudpar juga menegaskan bahwa Lagu Indonesia Raya sebagai Lagu Kebangsaan telah ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 44 /Tahun 1958 yang antara lain mengatur peruntukannya dan melarang perubahan, komersialisasi serta penggunaan yang bertentangan dengan ketentuan PP Nomor 44/Tahun 1958 tersebut.

Karena memang awam, maka saya tidak bermaksud untuk mengulas sejarah, perdebatan, pakem atau karakter lagu kebangsaan kita, melainkan hanya menyampaikan pendapat pribadi saja, khususnya berkenaan dengan lirik Indonesia Raya.   Saya mengamati dan berpendapat bahwa ketiga Stanza Indonesia-Raya, nampaknya dimaksudkan sebagai suatu kesatuan yang secara serial mewakili tahapan perkembangan Tanah-Air Indonesia yang diharapkan.

Stanza-I, bagi saya mengesankan kebangkitan atau bangunnya Bangsa, tanah-air, rakyat, negri Indonesia, dan pada tahap kebangkitan ini, kita semua berperan sebagai Pandu sambil menyerukan kebersatuan dan kebangkitan tanah, negri, jiwa, badan, rakyat, semuanya, demi tanah-tumpah-darah, Indonesia.

Stanza-II, adalah kelanjutan sikap dari ikrar dan tekad kita atas kebersatuan Bangsa Indonesia yaitu agar Indonesia menjadi pusaka bagi kita semua, tempat kita berdiri selama-lamanya dan BERDOA demi KEBAHAGIAAN INDONESIA, KESUBURAN TANAH dan JIWA, BANGSA dan RAKYATNYA serta KESADARAN HATI dan BUDI-nya untuk Indonesia Raya.

Stanza-III, setelah bangkit pada Stanza-I dan meraup kesuburan serta kebahagiaan pada Stanza-II, Indonesia telah menjadi tanah yang suci, sakti, berseri dan kita semakin tegak untuk menyayangi dan menjaganya.  Kita pun lalu BERJANJI demi KEABADIAN-nya. Kita juga berharap dan berdoa demi KESELAMATAN rakyat, putra, wilayahnya serta kemajuan negri dan pandunya … demi Indonesia Raya.

Begitulah kesan dan makna yang saya tangkap, yaitu ikrar kebangkitan dan kebersatuan (I), dilanjut dengan penyikapan sebagai pusaka bangsa dengan doa atas kesuburan tanah,  jiwa, bangsa serta kesadaran hati dan budi demi kebahagiaan Indonesia Raya (II), lalu berseri untuk disayangi dan dijaga, dengan janji kita atas keabadian dan kemajuannya (III).

Tentu saja pemilihan Stanza-I mestinya tidak dimaksudkan untuk menunda, menomor-duakan atau mengabaikan DOA Stanza-2 dan JANJI Stanza-3 kita demi kebahagian, keselamatan dan kemajuan Indonesia, melainkan dipilih berdasarkan pertimbangan yang matang, mungkin terkait dengan durasi pelantunan, kesesuaian dengan era saat itu (1945 – 1958) atau pertimbangan lain – saya tidak tahu.  Namun barangkali tidak ada salahnya bila Stanza-II dan Stanza-III juga diberikan kesempatan untuk tampil, dikenali dan dihayati oleh kita semua.  Tentu banyak cara dan prosedur yang dapat dirumuskan untuk mendukung upaya ini.

Barangkali tidak ada hubungannya dengan situasi Indonesia yang serba bermasalah saat ini atau dapat saja ini sekedar menghidupkan kembali Stanza-II dan Stanza-III lagu kebangsaan Indonesia-Raya yang mungkin agak terlupakan oleh kita, namun kenyataannya, musibah dan masalah begitu gencarnya mendera negri tercinta ini.  Dengan begitu, maka, secara kolektif, BERDOA demi kesuburan, kebahagian, kesadaran dan keberbudiannya serta BERJANJI untuk menjaga, melestarikan serta mengupayakan keselamatan dan kemajuan baginya, bagi Indonesia Raya, setidaknya, mungkin dapat menumbuhkan rasa berhutang bagi kita dan memupuk motivasi untuk melunasinya … atau paling tidak, kita mungkin telah memenuhi tujuan serta semangat lagu kebangsaan kita, dengan cara mengucapkan, menyanyikan dan mengikrarkan ketiga Stanza Indonesia Raya, barangkali sebagaimana yang dirumuskan, dimaksudkan, dirangkum dan diharapkan oleh para pendiri negri ini.

Semoga Tuhan YME memberikan ganjaran yang berlipatganda bagi para pahlawan dan para pendiri republik ini atas jasanya, sehingga Indonesia-Raya masih berkumandang hingga hari ini dan semoga juga berkumandang pada hari-hari mendatang, mengiringi kesuburan, kesadaran, keberbudian, kebahagian, keselamatan dan kemajuan Indonesia tercinta, sesuai dengan ikrar,doa dan janji bersama kita melalui ketiga Stanza Indonesia-Raya.   Semoga kita menjadi bangsa yang maju sehingga budaya Indonesia mampu kita sejajarkan dengan budaya bangsa lain dan semoga kita mampu mencegah kepunahan budaya dan bahasa daerah kita. Amin.

Terimakasih, mohon maaf atas kelancangan dan kekurangan, Wassalam,

BSL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s