KSSC : Petruk Kembar


by MasPatikrajaDewaku

Kang, inyong teka maning!

Sing tek gawa siki Audio MP3 sekang Ki Sugino. Lakone Petruk Kembar alias Petruk Kelangan Petel.

Lakon kiye jan khas Banyumas banget, nek ora kena diarani Gino banget. Gino gitu loh . . ! Lakon carangan sing ora saben daerah ana. Crita balungane sih mung sekang Si Petruk  sing kelangan petele. Tapi bareng diolah dadi crita, ya maen banget.

Sekang awal jejeran wis metu penakawan, angger kaya kiye lakone, biasane dadi marahi ger-geran. Lah domong koh, lakon kiye jejeran Negara nDwarawati bae wis ketekanan Petruk Kantong Bolong, sing arep nakokena petele. Ilange petele Petruk, jere sekang pituduhe dewa, kudu ditakokena maring Prabu Kresna. Lah bareng Prabu Kresna sing ditakoni, ya ora ngerti babar blas. Petruk ora percaya, meksa! Mesti bae didukani karo Prabu Kresna. Sekang gempunge Prabu Kresna, Petruk dilepasi senjata Cakra. Critane dalange, Petruk durung telas tulising ngaurip. Cakra disaut karo ramane Petruk, sing aran Gandarwa Pati.

Situasi kaya kiye dimampangatena karo Si Kantong, njaluk pitulungane ramane, njaluk pepadang, nuduhaken neng ngendi sejatine petele bisa ditemokena. Petruk manut karo ramane, dituduhena neng ngendi sejatine anane petele sing ilang. Senajan pituduhe ramane mung dinggo srana timbule senjatane, tapi Petruk ya mangkat maring Ngastina, kon nemoni tamu sekang Negara Awang-awang Teja, sing arane Prabu Sangkalawa.

Kang, angger gagrag Banyumas, wa bil khusus Dalang Gino, angger digatekena jan-jane nginduk maring gagrak Jogja karo Solo terus diolah nganggo bumbu ala Banyumasan. (Mulane rasane kaya mendoan ya Kang). Iringane gamelan, sulukane ya kaya kuwe, campuran. Umpamane sulukane ana sing cakepane kaya kiye: //Kresna rumegating cakranira / ginaduh sekar wijaya kesuma / ngelingana segunung rong gunung /  dayane aji Triwikrama //.

Iringane gamelan ya kaya kuwe, campuran Solo kambi Jogja-an. Contone kaya dirongekna sebubare adegan Petruk digawa karo ramane, Gandarwa Pati maring Ngastina. Gamelane ya srepeg Mataraman, mung keprake ora moni ting ting, esih gaya Solo.

Ganti jejer pindo ya disigeg nganggo suluk Mataraman. Senajana ana sewetara dalang Banyumas, utamane aliran Ki Surono, ya esih ngagem patet Kedu dinggo nyingget. Tapi Ki Gino mandan nyengkok Mataraman. Inyong garep takon kang, Sulukan Mataram sing kaya kiye apa jenenge ya kang, inyong olih diwarahi mbokan? Sing aya napa? Aya niki: //miyat langening pamiyat / busana sutra  maneka / rinengga ing kusuma / kang retna abra // gendera layu kumitir / sinerang panderesing maruta // sirna mangkyan / kumlebeting dwaja / syuh brasta wreksa pang kaprapal / puspita panjrahing siti // ron mawur katyuping angin/ kukila ambyar sumebar//.

Continue reading KSSC : Petruk Kembar

Karna (1)


sumber : http://tembi.org

Karna (1)
Karna, wayang kulit purwa koleksi Tembi Rumah Budaya buatan Kaligesing (foto: Sartono)

Aku dilahirkan dari seorang ibu yang bernama Dewi Kunthi atau Dewi Prita, anak Prabu Basukunti alias Kuntiboja raja negara Mandura. Menurut cerita yang aku terima dari ramanda Batara Surya, aku dilahirkan melalui telinga, oleh karenanya aku diberi nama Karna yang artinya telinga. Aku sendiri juga heran dan bertanya-tanya, benarkah aku dilahirkan melalui telinga Ibu Kunti? Sungguh ajaib. Bagaimana hal itu bisa terjadi? untuk memenuhi rasa ingin tahuku, Ramanda Batara Surya menceritakan peristiwa seputar kelahiranku. Diceritakan bahwasanya Ibu Kunthi adalah sosok wanita yang cantik jelita, cerdas, luwes, patuh dan sabar. Oleh karena kelebihannya, Eyang Prabu Basukunti mempercayakan kepada Ibu Kunti untuk melayani tamu-tamu negara.

Pada suatu waktu Negara Mandura kedatangan tamu seorang Begawan sakti yang bernama Begawan Druwasa. Ia sangat puas atas pelayanan Kunti. Sebagai tanda terimakasihnya Begawan Druwasa memberikan kepada Kunti sebuah mantra sakti yang bernama Aji Adityar Hedaya atau Aji Dipamanunggal atau disebut juga Aji Pameling. Mantra sakti tersebut berdayaguna untuk mendatangkan dewa sesuai dengan yang diinginkan.

Selain hal-hal positif yang ada pada sosok Kunthi, ada hal-hal negatif yang dimilikinya, salah satunya adalah kebiasaan bangun siang. Pada suatu hari ketika Kunti bangun tidur, ia tidak dengan serta merta meninggalkan pembaringannya. Ia ingin merasakan keindahan dan merasakan kehangatan sinar matahari yang masuk di kamarnya. Melihat sinar matahari yang mengenai tubuhnya, Kunti membayangkan sosok Batara Surya, dewa rupawan yang menguasai matahari. Tiba-tiba Kunti teringat mantra sakti Aji Pameling pemberian Begawan Druwasa. Sebagai dara belia, ia tergoda untuk mencoba mengetrapkan ajian tersebut. Maka kemudian dibacanya mantra sakti tersebut. Hasilnya sungguh luar biasa. Pada saat selesai membaca mantra Aji Pameling, seusai Kunti mengerdipkan matanya, tiba-tiba di tilamsari tempat Kunti berbaring telah hadir Dewa Surya, Dewa penguasa matahari.

Sosok yang diangankan telah hadir disampingnya, tidak ada lagi yang membedakan antara angan dan kenyataan. Ketika ke duanya hadir dalam waktu yang bersamaan, tidak ada lagi yang menghalangi, keduanya akan menjadi satu. Angan yang menguasai pikiran dan kenyataan yang menguasai raga saling berpuletan erat. Keduanya berada antara alam mimpi dan alam nyata.

Namun pada kenyataan setelah kejadian tersebut Dewi Kunti mengandung. Atas kejadian tersebut Prabu Basukunti marah luar biasa. Ia memanggil Begawan Druwasa untuk meminta pertanggungjawabannya atas pemberian Aji Pameling kepada Kunti yan masih belia. Sesungguhnya yang dilakukan Begawan Druwasa tersebut untuk menolong Kunti. Karena menurut pesan gaib yang diterima Begawan Druwasa, bahwa pada suatu saat nanti Kunti sangat membutuhkan Aji Adityar Hedaya. Namun sayang belum tiba waktunya Kunti telah mencoba mantra aji Pameling kepada Dewa Surya.

Begawan Druwasa tahu resikonya jika seorang dara belia mempunyai aji Pameling. Maka dari itu ia bertanggungjawab atas resiko yang terjadi. Maka ketika usia kandungan Kunti sudah berumur sembilan bulan lebih sepuluh hari, dengan kesaktiannya Begawan Druwasa membantu kelahiran bayi. Dengan mantra saktinya yang menyatakan bahwa Aji Adityar Hedaya yang pada mulanya masuk melalui telinga menuju ke angan Kunti, meresap di hati, di tubuh dan kemudian menggumpal menjadi sosok bayi, akan dikeluarkan melalui telinga pula. Itulah keajaiban. Begawan Druwasa membopong kelahiran bayi yang keluar melalui lobang yang sama seperti ketika pada mulanya benih itu masuk. Dan dinamakan bayi itu Karna, yang berarti telinga.

Upaya melahirkan bayi melalui telinga adalah perwujudan tanggung jawab Begawan Druwasa untuk memulihkan keperawanan Kunti, bahwa Kunti masih gadis, belum beranak. Maka keberadaan bayi tersebut dianggap aib, Oleh karena harus di buang dilarung ke sungai Gangga agar jauh meninggalkan negara Mandura, demikian perintah Prabu Basukunti.

Sebelum Karna dihanyutkan di sungai, ada satu hal yang masih diingat oleh Kunthi bahwa bayi Karna memakai Anting Mustika dan Kotang Kerei Kaswargan pemberian Dewa Surya.

Sejak bayi yang tidak berdosa tersebut dihanyutkan di sungai Gangga nama Karna sengaja dihapus dari negara Mandura. Terbukti Prabu Basukunti menggelar sayembara, bagi siapa saja yang dapat memenangkan sayembara berhak memboyong putri kedhaton Mandura yaitu Dewi Kunti.

Herjaka HS

Baladewa


sumber : http://tembi.org

Baladewa
Prabu Baladewa, wayang kulit purwa buatan Kaligesing,
koleksi Tembi Rumah Budaya (foto: Sartono)

Baladewa adalah anak Prabu Basudewa, raja Mandura dari Ibu yang bernama Dewi Mahendra. Ia mempunyai saudara kembar yang bernama Kresna. Walaupun lahir kembar Baladewa dan Kresna adiknya tidak sama. Baladewa berkulit putih bule, sedangkan Kresna berkulit hitam cemani. Selain kresna, Baladewa mempunyai adik wanita bernama Bratajaya atau Sumbadra.

Walaupun Baladewa terkenal sebagai raja yang mudah marah, ia jujur, adil, dan tulus. Ia tidak sungkan-sungkan untuk meminta maaf atas kesalahannya. Sejak kecil Baladewa dan ke dua adiknya diungsikan dan disembunyikan di kademangan Widarakandang karena mendapat ancaman mau dibunuh oleh Kangsadewa. Di kademangan Widarakandang Baladewa dan kedua adiknya diasuh oleh Demang Antyagopa dan nyai Sagopi.

Di dalam pengungsian, Baladewa remaja yang bernama Kakrasana berguru kepada seorang resi jelmaan Batara Brama di pertapaan Argasonya. Setelah selesai berguru Baladewa diberi pusaka sakti yaitu senjata Nanggala yang berujud angkus, angkusa atau mata bajak, dan Alugora berujud gada dengan kedua ujung yang runcing. Selain itu Baladewa juga mendapat aji Jaladara yang dapat terbang dengan kecepatan tinggi. Maka kemudian Kakrasana mendapat sebutan nama Wasi Jaladara.

Baladewa beristeri Erawati anak Raja Salya dari negara Mandaraka dan mempunyai dua anak laki-laki yaitu Wisata dan Wimuna. Baladewa menjadi raja di Mandura menggantikan ayahnya Prabu Basudewa

Nama lain dari Baladewa adalah Kakrasana, Karsana, Balarama, Wasi Jaladara, Curiganata.

Pada saat perang Baratayuda berlangsung, Baladewa justru tidak terlibat sama sekali. Hal ini disebabkan karena rekayasa Prabu Kresna. Baladewa sengaja diselamatkan oleh Kresna dari kemungkinan buruk yang bakal menimpanya, yaitu dengan meminta Baladewa bertapa di Grojogan sewu. Tujuannya agar Baladewa tidak mendengar suara gemuruh perang, karena tertutup oleh suara air terjun. Baru ketika perang Baratayuda sudah usai, Baladewa sadar bahwa ia ditipu oleh adiknya. Baladewa meninggal dalam usia lanjut. Ia sempat menyaksikan penobatan Prabu Parikesit menjadi raja Hastinapura. Baladewa wafat menyusul Kresna adiknya yang terlebih dahulu muksa.

herjaka HS

dari berbagai sumber

Kiriman Mas Ali Mustofa


Tadi siang saya memperoleh kiriman koleksi dari Mas Ali Mustofa Trenggalek berjumlah 4 keping DVD/VCD, dengan perincian sbb :

  • Wahyu Cahyo Wacono – Ki Timbul Cermo Manggolo (6 file MP4)
  • Pandowo Krido – Ki Rusmadi (5 file AVI)
  • Anoman duta – Ki Bayu Aji Pamungkas (1 file DAT)
  • Petruk Dadi Ratu – Ki Deny Sableng Carito (4 file DAT)
  • CAPRES (Calo Presiden) 2014 – Republik Mimpi (1 file AVI)
  • Album Pop Keroncong “Langgam Kasmaran” (10 lagu format DAT)

Ki Rusmadi adalah dalang gaya Mataraman yang mirip dengan KHS, tetapi beliau setuju dengan    adanya kolaborasi dalam pertunjukan sesuai dengan perkembangan jaman. Beliau adalah seorang anggota Kepolisian di wilayah POLDA DIY.        Sepeninggal KHS beliaulah yang sekarang disebut sebut warga Kulon progo sebagai dalang yang mirip KHS dalam olah vocal maupun gaya humornya.

Ki Deni Sableng Carito nama aslinya Deni Setiawan berasal dari Blitar Jawa timur  yang tergolong masih muda, lahir tahun 1982. Sejak kecil belajar dalang dan pernah nyantrik kepada Ki Manteb Sudarsono       . Kemudian belajar dalang di Sanggar Pedalangan Trenggalek di rumah bapak Hanarko koko atau lebih terkenal dengan nama Pak Koko (MC atau Presenter senior di Trenggalek).

Matur nuwun Mas Ali Mustofa dan segera nanti disharing kepada para sutresna wayang di sini.

Insya Allah.

Banjaran Cerita Pandhawa (46)


sumber : http://tembi.org

Rangkuman  Ketokohan Pandhawa
Yudhisthira sedang melakukan samadi (karya herjaka HS)

Rangkuman Ketokohan Pandhawa

Judul cerita bertokoh utama Yudhisthira yaitu: Puntadewa Lair, Sayembara Gandamana atau sayembara Durpadi dan Kuntul Wilanten.

Judul cerita bertokoh utama Bima yaitu Bima Bungkus, Arimba atau Lampahan Wanamarta, Dewaruci dan Senarodra.

Judul cerita bertokoh Arjuna yaitu: Lairipun Arjuna, Partakrama, Alap-alapan Rarasati, Srikandhi Maguru Manah, Alap-alapan Ulupi, Alap-alapan Gandawati, Mintaraga, Arjuna Sendhang dan Arjuna Terus.

Judul cerita yang bertokoh Nakula atau Sadewa yaitu: Lairipun Nakula dan Sadewa, Nakula Rabi dan Sadewa Rabi.

Judul cerita yang bertokoh Pandhawa bersama yaitu: Pandhawa Apus, Pandhawa Papa, Pandhawa Gupak, Pandhawa Dulit, Pandhawa Gubah, Pandhawa Sungging, Pandhawa Dhadhu, Bale Sagala-gala, Babad Wanamarta dan Pandhawa Babad.

Tokoh Pandhawa dilibatkan dalam cerita yang mirip dengan cerita tokoh manusia, meliputi cerita kelahiran, perkawinan, kematian dan peristiwa penting yang terjadi dalam masyarakat. Masing-masing tokoh disebut dengan berbagai nama.

Yudhisthira mendapat sebutan Dharmaputra (Damarputra), Dharmaatmaja (Darmaatmaja), Dharmawangsa (Darmawangsa), Punta, Puntadewa, Dremakusuma atau Darmakusuma.

Bima mendapat sebutan Bhima (Bima), Bhimasena (Bimasena), Pawanasuta, Bayusuta, Ballawa, Jagal Bilawa, Birawa, Sena, Arya Sena, Bratasena, Wejasena, Wrekodara, Wrekudara, Werkodara, Werkudara.

Arjuna mendapat sebutan Partha (Parta), Dhananjaya (Dananjaya), Wrehannala, Palghuna (Palguna), Palgunadi, Janaka, Pamade, Kombang Ali-ali, Kalithi dan Karithi.

Nakula mendapat sebutan Tangsen dan Grantika. Sadewa mendapat sebutan Sahadewa, Tantipala dan Pinten.

Negara Yudhisthira bernama Indraprastha (Indraprasta), Ngamarta dan Cintakapura.

Tempat tinggal Bima disebut Jodhipati dan Tanggul Pamenang.

Tempat tinggal Arjuna bernama Madukara dengan taman Maduganda.

Tempat tinggal Nakula di desa Sawojajar, sedang desa tempat tinggal Sadewa bernama Bumi Ratawu.

Yudhisthira beristeri Durpadi dan beranak Pancawala. Isteri lain bernama Kuntul Wilanten, tetapi isteri telah merasuk ke tubuh Yudhisthira.

Bima beristeri Hidimbi (Arimbi), beranak Gathotkaca, beristeri Nagagini beranak Antareja, dan beristeri Urangayu beranak Antasena.

Arjuna beristeri Sumbadra, Srikandi dan Larasati (Rarasati), Ulupi, Gandawati, Dresanala, Supraba, Partawati, Srimendang dan beberapa isteri lain yang tidak disebut namanya, tetapi disebut anaknya. Anak Arjuna yang sering disebut-sebut dalam cerita yaitu: Abimanyu, Irawan, Wisanggeni, Pergiwa dan Pergiwati.

Nama-nama tokoh anak Arjuna yang lain yaitu: Bambang Srigati, Bambang Nilasuwarna, Bambang Wijanarka, Bambang Tejasuwarna, Bambang Setiwijaya, Bambang Setiwigena, Bambang Manon Manonton, Dewi Gandasasi.

Nakula beristeri Soka dan Dewi Suyati, beranak Bambang Pramusinta dan Dewi Pramuwati.

Sadewa beristeri Padapa dan Dewarsini. Ia beranak Dewakusuma, Dewi Rayungwulan dan Bambang Sabekti.

Pandhawa terkenal sebagai tokoh sakti . yudhisthira terkenal pusakanya yang berupa pusaka Kalimasada. Bima terkenal gagah perkasa, teguh sentosa dan mempunyai gada sakti bernama Gada Rujak Polo. Kukunya yang terkenal kuat dan sangat berguna untuk membunuh musuh bernama Pancakenaka. Aji yang berkekuatan luar biasa bernama Jayasangara atau Jalasangara.

Arjuna terkenal pandai bermain panah. Panah saktinya bernama Pasupati, Aryasengkali, Sarotama dan Ardhadhali. Keris saktinya bernama Kalanadhah dan Pulanggeni.

Nakula dan Sadewa tidak banyak diceritakan kehebatannya, hanya Sadewa yang dekat dengan dewa.

Dalam akhir hidup mereka, menurut cerita Jawa kuna, hanya Yudhisthira yang suci dan tidak berdosa, maka ia naik ke surga. Sedang Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa harus masuk neraka, mereka berdosa. Mereka masuk ke surga setelah bersuci diri di sungai Gangga. Dalam cerita lakon Pandhawa Mukswa semua warga Pandhawa bisa mukswa ke surga tanpa menjalani hukuman di neraka.

R.S. Subalidinata

Banjaran Cerita Pandhawa (45)


sumber : http://tembi.org

Tokoh Nakula dan  Sadewa
Sadewa saat menyamar menjadi Tantripala (karya : herjaka HS)

Tokoh Nakula dan Sadewa

Cerita kelahiran para Pandhawa yang bersumber pada kitab Mahabharata, pada bagian yang disebut Adiparwa menyebutkan bahwa anak Pandu yang keempat, lahir dari Madri atau Madrim, bernama Nakula dan Sahadewa (Adiparwa, 1906: 122).

Nama Nakula sering menjadi Sakula (Sudamala : IV.19). Sahadewa menjadi Sadewa (Sudamala: I,99). Dalam cerita Sudamala, Uma memberi nama Sadewa menjadi Sudamala setela ia diruwat olehnya. (Sudamala: IV.72)

Ketika Pandhawa mengabdi ke Wiratha, Nakula berganti nama Grantika, sedangkan Sadewa berganti nama Tantripala (Wirataparwa , 1912: 11)

Dalam cerita Jawa baru Nakula sering disebut dengan nama Tangsen, sedangkan Sadewa dengan nama Pinten (Mayer, 1924 : 159)

Dalam cerita Sudamala, Sakula atau Nakula memperisteri Soka dan Sadewa memperisteri Padapa, setelah Sadewa menyembuhkan Tambapetra ayah dua perempuan itu (Sudamala: IV. 81).

Dalam cerita lakon Nakula Rabi, Nakula memperisteri Dewi Suyati anak Prabu Kridhakerata raja Ngawuawu Langit (Mangkunagara VII Jilid XXI. 1932: 3)

Dalam cerita Gembring Baring diceritakan Nakula beristeri Ganawati (Gembring Baring: XCVIII.20).

Dalam cerita lakon Sadewa Rabi, Sadewa memperisteri Dyah Dewarsini anak Sang Badhawangan Nala yang bertempat di Toyawangi (Mangkunagara VII Jilid XXI, 1932: 15)

Nakula dan Sadewa boleh dikata tidak banyak diangkat dalam cerita sebagai tokoh utama.. mereka berdua lebih banyak berkedudukkan sebagai tokoh penyerta yang selalu mengikuti Yudhisthira. Seolah-olah mereka menjadi ajudan raja Ngamarta.

Rangkuman mengenai ketokohan Pandhawa

Budaya pewayangan tumbuh dan berkembang di masyarakat Jawa sejak abad sepuluh, dan sekarang masih dicintai oleh masyarakat. Budaya pewayangan yang didukung oleh karyasastra tulis berkembang lewat karya sastra Jawa kuna, Jawa tengahan dan Jawa baru. Karyasastra tulis itu didukung oleh pertumbuhan dan perkembangan cerita yang bersumber pada cerita Ramayana dan Mahabarata.

Cerita yang bersumber pada kitab Mahabarata (Mahabharata) menampilkan tokoh Pandhawa dan nenek moyangnya, serta keturunannya. Cerita itu dikembangkan dengan mengangkat tokoh Pandhawa (Yudhisthira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa) dan putra-putranya. Kebanyakan cerita itu masih berpangkal pada sumber asli dan cerita baru direka menurut tujuan penciptaan masing-masing cerita.

Karyasastra Jawa kuna yang memuat cerita tokoh Pandhawa secara kelompok dan perorangan yaitu: kitab-kitab parwa, Parthayajna, Arjunawiwaha, Parthayana dan Bharatayudha. Yang berbahasa Jawa tengahan yaitu: Nawaruci dan Sudamala. Karyasastra Jawa baru yang muncul dan bersumber pada cerita lama, yaitu Mintaraga, Wiwaha Jarwa, Dewaruci, Bimasuci, Bratayudha, Partakrama, Srikandhi Maguru Manah, Bagawan Senarodra. Cerita yang didukung oleh karyasastra dalam bentuk cerita pakem balungan (kerangka cerita dan menampilkan tokoh-tokoh Pandhawa dimuat dalam Serat Padhalangan Ringgit Purwa , Serat Lampahan Ringgit Purwa dan Serat Pakem Ringgit Purwa

Tokoh-tokoh Pandhawa diangkat untuk mencipta cerita dengan menampilkan tokoh Pandhawa secara bersama dan secara perorangan, disusun dalam cerita yang melibatkan tokoh Korawa, Dwarawati, Mandura, Wiratha, raja sabrang dan Kahyangan.

R.S. Subalidinata