Karakter Wayang Sekarang Teracak-acak


Oleh Bambang Murtiyoso
(Dosen Institut Seni Indonesia Surakarta)

Tipologi wayang, di masa lampau, pada umumnya bersifat konstan. Artinya, “seolah-oalah” mapan dan tidak pernah berubah semenjak saya mengenal wayang sampai dasawarsa 90-an. Tokoh wayang yang bersifat jujur, akan selalu jujur pada setiap alur ceritar, episode, dan adegan yang mana saja. Demikian juga halnya bagi tokoh wayang jahat akan selalu jahat pada semua alur ceritar, episode, dan adegan yang mana saja.

Sesuai dengan perubahan zaman, para “dalang-dalang kreatif,” mencoba mengembangkan “sanggit” cerita wayang; termasuk di dalamnya perubahan karakter wayang. Perubahan itu tentu saja ada yang nalar ada pula yang asal-asalan. Disebut asal-asalan sebab pengembangan yang dilakukan hanya berorientasi asal berbeda dengan dalang pesaingnya. Hal ini sangat bergantung pada tingkat pemahaman para dalang terhadap jagad wayang yang memang terbuka untuk berubah. Kecuali itu perubahan termasuk pengembangan lakon wayang lazimnya dipengaruhi oleh latar budaya masyarakat dan masalah lain yang aktual pada zamannya.

Awal dari semuanya dimulai oleh Ki Nartasabda. Seperti gambaran tentang Suyudana, seorang raja besar, yang tidak pernaH KHUSUK saat bersamadi, karena kegusaranya maka diceritakan: “Gempung panggalihnya Sang Prabu, mila lajeng njethung, njepupung kemul sarung.” Satu keberanian yang tidak mungkin dilakukan para dalang sebelumnya. Sebab, suasana adegan itu tergolong masih tenang, agung, berwibawa dan “sakral.”

Ki Nartasabda memang terkenal sebagai seorang dalang “nakal tetapi kreatif.” Keberaniannya untuk memanusiakan wayang sangat luar biasa. Penafsirannya terhadap karakter Bima atau Wrekudara misalnya. Pada masa sebelumnya, Bima adalah gambaran tokoh yang selalu tegas, jujur, selalu serius, tenang, dan sederhana dalam menghadapi berbagai masalah, tidak pernah dan menangis. Oleh Ki Nartasabda Bima ditafsirkan sangat manusiawi. Pada adegan dan lakon tertentu, Bima ditampilkan sempat ketawa pada situasi yang lucu. Bima juga menangis pada suasana haru yang menyedihkan. Dua kasus ini merupakan contoh yang menonjol dari reintrepetasi Ki Nartasabda terhadap karakter wayang yang nyaris membaku.

Dalang lain yang gemar melakukan pengembangan karakter tokoh wayang adalah Ki Gandadarsana alias Ki Gandadarman. Digambarkan oleh dalang action ini adalah tokoh Baladewa, selain bertemperamen tinggi yang ?mudah marah” dan selalu serius itu seperti seorang raja yang jujur tetapi “bodoh.” Sehingga, Baladewa Ki Gandadarman mudah sekali dan sering dibohongi, terutama oleh Kresna, adiknya.

Saya tidak tahu persis apakah dimulai oleh Ki Gandadarman atau bukan, Semar (sepengetahuan saya) bukan sebagai pelawak, tetapi panakawan yang selalu memberi nasehat kepada para ksatria. Dalam pertunjukan wayang, Semar merupakan pengejawantahan dewa, Batara Ismaya. Semar oleh Ki Gandadarman sering melawak tidak bedanya dengan Gareng, Petruk, dan Bagong.

Pada masa Orde Baru, saya sempat membuat cerita berjudul SENGKUNI MERTOBAT. Cerita ini dilatarbelakangi oleh isu politik yang dikembangkan oleh Sudomo, orang kepercayaan Suharto, yaitu tentang VERSIH DIRI dan BERSIH LINGKUNGAN. Terhadap orang-orang eks PKI/G30S seakan-akan tertutup untuk bertobat, semua kesempatan telah terkunci rapat. Terlanjur “kebak sundukane” kata orang Jawa. Artinya, orang-orang yang dianggap bersalah tidak mungkin mendapatkan kesempatan untuk meraih kehidupan yang wajar. Dalam SENGKUNI MERTOBAT itu pun demikian, Sengkuni yang berniat menjadi orang yang baik, sabar, sholeh, dan beramal baik selalu ditentang oleh pihak lain; keluarganya, apalagi para ksatria, putra-putra Pandawa (Gatutkaca bersaudara). Akhirnya, Sengkuni kembali menjadi orang jahat.

Sekarang ada kecenderungan para dalang muda untuk merobah karakter wayang, yang jahat “disanggit” menjadi tokoh yang penuh heroik, dan memiliki cita-cita luhur dengan berbagai argumentasi yang seolah-olah benar dan rasional. Digambarkan penculikan Sinta oleh Rahwana merupakan tindakan sah, dengan alasan Sinta merupakan simbol kemakmuran negara, Alengka. Maka, Sinta dipertahankan sampai titik darah penghabisan, termasuk pengorbanan seluruh harta dan prajurit raksasa. Tidak peduli saudara atau sentana yang menghalangi harus dikorbankan dengan sia-sia. Diungkapkan dalam pertunjukan wayang, Sinta tetap suci, tidak dijamah sama sekali oleh Rahwana, meski dapat dilakukan dan kesempatan ada.

Dalam cerita yang konvensional Rahwana adalah tokoh yang bengis, rakus, ambisius dan tidak manusiawi. Sekarang image itu dinetralisis menjadi “baik” oleh sementara para dalang muda kita.
Pertanyaannya adalah, kalau Rahwana yang ambisius itu bercita-cita luhur, kenapa mengorbankan semua miliknya, sehingga Alengka harus hancur lumat oleh prajurit kera Ramawijaya? Sebuah pengembangan karakter dalam penggambaran yang tidak konprehensip, tetapi membahayakan. Apakah mungkin dipengaruhi perilaku para politikus Indonesia yang selalu menjual rakyat untuk kerakusan pribadinya? Silahkan dikaji secara cermat.

4 thoughts on “Karakter Wayang Sekarang Teracak-acak”

  1. Sang penulis lupa memasukkan Maestro dekarakterisasi : Almarhum Ki Hadi Sugito. Mulai dari Durna yang tidak akur dengan Setyaki, Kresna bisa ndagel, semar yang nakal, sampai werkudara ejek2an dengan dursasana bak anak kecil saat perang baratayudha. Beliau jelas sangat terkenal di jamannya (tahun 80-90 an) bahkan sering petas di luar daerah, bahkan sampai tingkat nasional. Anehnya sang penulis sampai tidak tahu hal ini…………

  2. Makasih mas Bambang. Memang Ki Nartasabdho adalah salah satu dalang pembaharu dalam pakeliran. Bahkan beliau pernah DITENTANG habis2an saat pertama kali pentas di Jakarta tahun 1955 dengan lakon Kresna Duta yang menampilkan guyonan dan banyolan di adegan kerajaan yang sangat wingit dan serius. Tapi seiring waktu berputar…mulai tahun 80-an akhirnya banyak dalang ikut2an gaya sang Maestro dan malah sepanjang pentas banyak gethulan dan hanya sekedar untuk entertainment. Juga Ki Nartosabdho satu2nya dalang pada jaman itu yang berani menggabungkan gagrak Solo dan Mataraman yang kata banyak orang tidak mungkin bisa, tapi oleh sang maestro digarap sangat apik sekali. Bahkan beliau akhirnya jadi panutan dalang2 se-antero tanah Jawa (termasuk tokoh2 dalang ternama di Yogya). Dan Ki Narosabdho satu2nya dalang yang bisa membawa emosi para penonton atau pendengar seolah terlibat di dalamnya bahkan bisa membayangkan suasana adegan di dunia nyata.

  3. sepengetahuan saya , baru pak bambang yang menyebut ki ganda darman dari sari sragen . salah seorang dalang seangkatan ki nartosabdho ( malah mungkin seperguruan ) . saya pernah baca artikelnya di kompas minggu . dulu ditahun 80’an tiap hari minggu , kompas selalu menampilkan tokoh di headline nya . diceritakan bahwa ki ganda darman yang pertama menampilkan sepeda motor dalam pewayangan , bannya meletus , terus dipompa . apa ada yang punya rekaman ki ganda darman ya ? kalau dalang dianggap tidak konsisten dalam melakonkan sifat atau karakter tokoh tertentu , saya kira boleh boleh saja . sepanjang tidak merubah alur cerita yang sudah umum . contoh lakon kolobendono gugur oleh ki nartosabdho , diceritakan ( menurut saya ) begitu jahatnya abimanyu dan gatutkaca terhadap kalabendono . begitulah saya kira lain waktu bisa diteruskan ceritanya , salam .

  4. Hallo pak Bambang.
    Fenomena perubahan pola padalangan pun kiranya pantas disimak. Pada akhir dekade 90-an muncul “adegan tambahan” yang diberi judul “Limbukan”. Adegan ini mula-mula cuma sebentar saja, rerasanan antara Cangik dan Limbuk, isinya sekitar kritik sosial sederhana. Kemudian berkembang menjadi “pentas pilihan pendengar” atau dagelan dengan mengundang bintang tamu.
    Kalau dilihat dari segi struktur pentas, ini boleh disebut “goro-goro” jilid I, karena suasananya mirip dengan itu. Apa yang terjadi selanjutnya? Memang banyak penonton yang mengincar acara tersebut, yaitu dagelannya. Setelah itu banyak yang pulang, karena alur cerita wayang menjadi tidak penting bagi penonton era millenium ini. Numpang tanya, perubahan ini akan dinilai positif apa negatif bagi perkembangan dunia pewayangan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s