Ramaparasu [5] : Harjuna Sasrabahu


Dhalang: MasPatikrajaDewaku.

Datan kawursita tindake Sang Ramaparasu, Genti kang cinarita, perak ginawe adoh, doh ginawe perak. Kang ana ing nagari Maespati. Sinten ta ingkang ngasta pusaraning adil ing kana, nenggih jejuluk Sang Prabu Harjuna Sasrabahu. Sang Prabu darbe watak ber budi bawa laksana, remen paring sandhang marang kang kawudan, paring teken wong kang kalunyon lan paring usada marang kang nandhang sesakit. Sang Prabu uga darbe watak dana wesi asat, tan kersa sesukan lan datan remen tedhak marang sajabaning kedhaton. Sang Prabu amung tedhak lamun ana sabab kang kumudu kudu tinandangan pribadhi.  Senajanta Sang Prabu sinung kasekten kang magila gila, nanging Prabu Harjuna Sasrabahu datan darbe krenteg ngrabasa prang nglurug bala ngelar jajahan marang manca praja. Nanging maksa keh para raja manca nagari kang padha sumuyud sumawita datanpa sarana kagebuging yuda, amung padha kayungyun marang pepoyaning kautamaning Narendra.

Sang Prabu Harjuna Sasrabahu kagungan garwa, nama Dewi Citrawati.  Putri kang sulistya ing warna, titising Bathari Widawati. Putri saking Nagari Magada, kang duk inguni rinebutan dening para raja saka saindengin ndonya kang tuggal karep ngayunake Sang Dewi.

Nanging kadi cara punapa dene sang Prabu yekti unggul ing ngayuda ngasorake para raja sewu negara kang sedya ngayunake Sang Dewi?  Yekti Sang Prabu nalika samana andhuta sang Rekyan Apatih kang nama Patih Suwanda kang tuhu sura sekti. Ing kana kaleksanan Patih Suwanda ngasorake para raja, misungsung putri boyongan marang ratu gustinira, Prabu Harjuna Sasrabahu.

Ngambali carita kang wus kawuri, nalika samana Patih Suwanda kang jroning lumaksana bali marang Nagri Maespati ngudarasa jroning ndriya

“Sewu raja kaleksanan tak asorake yudane, kanthi ora ngetogake kasudibyan lan kasektenku sakwutuhe. Nanging saiki aku nedya ngaturake putri boyongan menyang gustiku kang aku durung nate anjajagi sepira kaprawirane. Aja aja kasudibyane ora angluwihi saka kasektene raja sewu negara kang nembe tak asorake. Yen pancen kaya mangkana, apa bebathen kang kasandhang  jenengingsun, lamun aku ngawula marang Sang Prabu Harjuna Sasrabahu. Prayoga lamun ingsun ndadar, sepira kadigdayane Prabu Harjuna Sasrabahu”.

Wus dumugi ing kedhaton Maespati, Suwanda kang nembe keduga mboyongi Dewi Citrawati, lumarap lan matur ing ngarsanira sang Prabu.

Continue reading Ramaparasu [5] : Harjuna Sasrabahu

KNS Lampahan Menjelang dan Jalannya Baratayudha


Drupada Duta

Masa pembuangan Pandawa segera berakhir. Masa 12 tahun terbuang di tengah hutan dan kemudian 1 tahun menyamar telah dilalui dengan baik meskipun kenelangsaan dan kepahitanlah yang selalu diterima.

Bahkan masa 1 tahun menyamar yang dilakukan Pandawa di negri Wiratha nyaris membuka kedok Pandawa pada peristiwa penyerangan Kurawa dibantu Prabu Susarma ke negri Wiratha.

Pandawa mengirimkan ibunya Kunthi dan kemudian Prabu Drupada untuk mengambil hak atas Indraprasta yang tergadai saat kalah main dadu (lakon Pandawa Dadu).

KARNO DUTA

Prabu Duryudana memanggil Prabu Baladewa untuk dimintakan wawasan terkait dengan keinginannya untuk menghindarkan perang Baratayudha. Prabu Baladewa memberikan pandangan bahwa sumber permasalahan adalah pada hak sebagian negara Astina. Perang akan gagal bila Prabu Duryudana menyerahkan hak atas sebagian negri Astina kepada Pandawa.

Namun Prabu Duryudana keukeuh atas pendiriannya untuk meminta cara selain itu. Bagaimana cara lainnya selain menyerahkan sebagian negri Astina atau dengan kata lain cara lain untuk membatalkan perang Baratayudha tanpa membicarakan masalah hak tanah Astina. Terjadi perdebatan yang sengit antara para Kurawa, Karna, Sengkuni, Dorna dan Baladewa yang tidak memperoleh titik temu karena kerasnya pendirian pihak Kurawa.

Kemudian Karna menawarkan diri untuk memberikan solusi yaitu dengan pura-pura akan memboyong ibundanya yaitu Dewi Kunthi untuk dimulyakan di negri Astina dengan harapan Pandawa tidak akan menuntut haknya lagi.

Kresna Gugah

Prabu Kresna adalah sosok kunci dalam memenangkan perang Baratayudha. Begitu keyakinan dari Kurawa. Sehingga dengan memohon bantuan Prabu Baladewa, raja Mandura kakak Kresna, kemudian para Kurawa beserta rombongan besarnya, Patih Sakuni, Prabu Karna, Pandita Dorna, menuju bale kambang tempat Prabu Kresna tengah mengasingkan diri untuk mengheningkan cipta mohon petunjuk Dewata.

Dengan berbagai cara, baik secara halus maupun dengan kasar mereka mencoba membangunkan Kresna. Namun tidak bisa sehingga menimbulkan kemarahan Kurawa.

Disaat lain, Pandawa-pun mengunjungi tempat yang sama. Namun dengan sikap yang berbeda mereka berusaha membangunkan Kresna. Bagaimana jalan ceritanya ?

Kresna Duta

Kresna Duta (Singo Barong)

Kisah terkenal ini dibawakan KNS dengan indahnya.

Pandawa masih berniat baik dan mengunggulkan persaudaraan sebagai sikap untuk menghindarkan perang saudara. Meskipun dewi Kunthi dan Prabu Drupada telah gagal sebagai duta untuk membicarakan masalah hak atas tanah Astina dengan membawa kepedihan atas penghinaan dari pihak Kurawa, namun Pandawa tetap berbesar hati untuk mengupayakan kembali kerukunan antar saudara.

Maka kemudian di utuslah Prabu Kresna sebagai duta yang akan menyelesaikan masalah ini.

Abimanyu Gugur

Perang Baratayudha memang sungguh kejam. Putra-putra terbaik dari pihak Pandawa dan Kurawa serta pendukungnya, banyak berguguran.

Dari puluhan, ratusan mungkin ribuan prajurit, terdapat satu satria pinilih dari Pandawa yang kemudian dijadikan sebagai Panglima Perang yaitu Abimanyu, putra Arjuna bersama Wara Sumbadra.

Satria gagah perkasa dengan kesaktian luar biasa namun akhirnya gugur secara tragis. Kisah gugurnya dapat dibaca dari tulisan MasPatikrajaDewaku

Suluhan Gatotkaca Gugur

Kembali putra Pandawa pinunjul gugur. Gatotkaca, satria Pringgondani, putra Bima bersama Arimbi, yang menjadi Senapati pihak Pandawa menemui ajal di tangan Prabu Karna, pamamnya sendiri.

Perang sudah tidak pesuli lagi akan pertalian darah dan persaudaraan. Penuh haru, bertebar pilu dengan kematian Gatotkaca. Silahkan nikmati alur cerita gugurnya Sang Pahlawan disini.

Karno Tanding

Karno Tanding (Singo Barong)

Sama-sama tampan, sama-sama sakti dan sama-sama putra Dewi Kunthi, itulah sosok Karna dan Arjuna. Namun sungguh menyesakan, keduanya harus saling berhadapan sebagai musuh dalam Baratayudha.

Penuh adegan kepahlawanan, nilai kemanusiaan, jiwa satria utama dan lara hati seorang Kunthi yang menyaksikan kedua anaknya berhadapan tuk saling bunuh dalam keharusan.

Salya Suyudana Gugur

Episode akhir perang Baratayudha.

Duryudana telah kehilangan banyak andalannya. Bisma, Jayadrata, Durna, Karna telah tewas digilas perang.

Andalan yang dipunyai tinggal menyisakan mertuanya yaitu Prabu Salya. Namun suasana justru diperkeruh dengan kecurigaan yang diletupkan oleh Aswatama terkait dengan kematian Karna yang menurutnya adalah sebab kelicikan Prabu Salya. Silahkan dialog dan ceritanya oleh MasPatikrajadewaku di sini.

Hingga kemudian Prabu Salya menjadi Senapati dengan tidak sepenuh hati. Tentu tidak lepas dipikirkan keponakannya, anak Pandu bersama Madrim adiknya, Nakula Sadewa.

Begitupun Duryudana. Setelah menjadi satu-satunya yang tersisa maka dia harus menebus semua perbuatan yang telah dilakukan atas adik-adiknya para Pandawa.

Parikesit Lahir

Akhir perang Baratayudha adalah kepedihan. Meskipun Pandawa memenangkan perang tersebut atas Kurawa, namun yang tersisa adalah kesedihan. Tak terhitung berapa ribu jiwa yang menjadi korban atas perang ini.

Dan itupun belum berakhir. Akibat sifat licik dan dendam Aswatama, para ibu dan anak-anak serta yang tidak ikut dalam perangpun ikut menjadi korban. Keturunan Pandawa menyisakan Parikesit, putra Abimanyu bersama Utari.

Baratayuda [22] : Ketika Rahasia itu Terungkap


Oleh : MasPatikrajaDewaku.

Kidung layu layu kembali mengalun di Padang Kuru, awan mendung yang menandai pergantian musim telah menitikkan airnya walau hanya rintik rintik. Meski begitu, rintik hujan itu sudah cukup menandai kesedihan yang melingkupi Para Pandawa. Bagaimanapun Karna-Suryatmaja adalah saudara sekandung, walau ia terlahir bukan atas keinginan sang ibu. Meski demikian, ia adalah sosok yang sudah memberi warna kepada orang orang disekitarnya dan para saudara mudanya. Ia adalah sosok yang tegar dan teguh dalam memegang prisip kesetiaan kepada Negara yang telah memberinya kemuliaan hidup. Tetapi sekaligus ia tokoh yang kontroversial, sebab ia adalah tokoh yang secara tersamar menegakkan prinsip, bahwa keangkaramurkaan harus tumpas oleh laku kebajikan. Ia telah menyetujui bahwa perang Baratayuda harus terjadi, sebab dengan demikian ia telah mempercepat tumpasnya laku angkara yang disandang oleh Prabu Duryudana. Raja yang telah memberinya kemukten.

Dengan terbunuhnya Adipati Karna yang menyisakan dendam pembelaan dari Kyai Jalak yang gagal, maka secara kenyataan adalah, telah terhenti perang campuh para prajurit di arena padang Kurusetra. Dikatakan demikian karena jumlah prajurit Kurawa yang tinggal, boleh diumpamakan telah dapat dihitung dengan jari saja. Ditambah lagi kenyataan, bahwa para Kurawa seratus, yang tinggal hanya duapuluh orang termasuk Prabu Duryudana dan Kartamarma. Maka lengkaplah apa yang disebut sebagai kenyataan, bahwa perang Baratayuda sebenarnya sudah berakhir. Tetapi pengakuan terhadap kekalahan itu, belumlah terucap dari bibir Prabu Duryudana.

Sore ketika Adipati Karna telah gugur, mendung gelap yang disusul oleh rintik hujan, juga seakan mentahbiskan suasana dalam hati Panglima Tertinggi Kurawa yang juga terlimput oleh gelap. Dihadapannya Prabu Salya dengan sabar menunggu ucapan apa yang hendak terlontar dari bibir menantunya. Demikian juga Patih Harya Suman dan Raden Kartamarma, hanya tertunduk lesu. Keduanya berlaku serba canggung menyikapi keadaan dihadapannya. Keraguan akan hasrat menyampaikan usulan dan pemikiran, telah dikalahkan oleh rasa takut akan murka junjungannya.

Hal ini juga berlaku pada perasaan Aswatama yang sesungguhnya hanya berderajat rendah, hanya sebagai tuwa buru. Sebuah derajat rendah yang hanya mengurus segala keperluan para Kurawa dalam menyelenggarakan kegemaran mereka berburu dihutan. Derajat rendah itulah yang diberikan oleh penguasa Astina, ketika mendiang ayahnya diangkat menjadi guru bagi sekalian anak anak Pandawa dan Kurawa. Derajat yang sampai saat inipun masih tetap tersandang, walaupun waktu demi waktu telah berlalu. Apalagi ketika ia harus kehilangan kepercayaan dari Prabu Duryudana, pada saat ia membela pamannya Krepa. Juga tewasnya ayah tercinta yang merupakan gantungan baginya dalam mengabdi kepada Prabu Duryudana, telah lengkap meruntuhkan ketegaran dirinya terhadap penguasa tertinggi Astina. Lengkap sudah perasaan takut yang mencekam jiwanya. Padahal sesuatu yang hendak diajukan sebagai saksi mata atas suatu peristiwa di medan perang, telah mendesak kuat dalam hati untuk disampaikan. Tetapi mulutnya terkunci, tetap tak berani mengatakan sesuatu apapun. Dan iapun hanya diam tertunduk, duduk di tempat paling belakang dari pembesar yang hadir.

Dalam ketidak sabaran menunggu sabda Prabu Duryudana, akhirnya Prabu Salya berbicara. “ Anak Prabu, walaupun paduka anak Prabu tidak mengatakan dengan sepatah kata, namun saya sudah merasa, pastilah perkiraan saya benar. Pasti anak Prabu merasa kehilangan Senapati yang menjadi bebeteng negara, kakak iparmu, anak menantuku, Adipati Karna”.

Tetap bergeming Prabu Duryudana mendengarkan kata kata pemancing dari Prabu Salya, sehingga kembali ia melanjutkan.

“Menurut tata cara, seharusnya aku tetap diam menunggu. Tetapi oleh karena terdorong oleh gemuruh dalam dada, perkenankan aku mertuamu menyampaikan isi hati ini”

Continue reading Baratayuda [22] : Ketika Rahasia itu Terungkap

KNS : Lakon Banjaran


Saya mencoba menyusun ulang koleksi-koleksi dari para dalang yang sudah ada di blog ini dengan tujuan agar lebih tertata dan menarik. Memang akan memakan waktu cukup lama untuk menyusun ulang lagi karena harus mereview setiap lakon serta menuangkannya dalam narasi yang berkesinambungan dengan lakon-lakon lain.

Tapi nggak ada salahnya kalau kita mulai. Bagi yang berkenan dapat juga membantu untuk menyusun ulang lakon-lakon yang ada disertai dengan narasi tentang jalan cerita, kualitas rekaman, hal-hal yang menarik di lakon tersebut serta nilai yang dapat diambil.

Untuk pertama kali, saya coba menyusun ulang untuk koleksi Ki Nartosabdho yang adalah koleksi paling banyak lakonnya di blog ini. Dan pertama kali yang saya susun adalah membuat sub page KNS dengan memisahkan lakon khusus banjaran. Narasi saya tulis seadanya dulu sambil mereview sekilas dan secara cepat lakon-lakon yang sudah ada. Masih banyak yang harus diperbaiki.

Bagi para sutresna yang berkenan, silahkan berpartisipasi dengan memberikan masukan atau akan lebih baik bila memberikan solusi berupa narasi atau susunan yang benar dan lebih baik. Sukur-sukur untuk dalang lain, semisal KHS atau KTCM (yang lakonnya sudah banyak) sudah ada yang menyusunnya dan berkenan men-sharing untuk kita semua.

Matur nuwun

Banjaran Bisma

Prabu Pratipa adalah ayah dari Prabu Santanu . Suatu saat di tengah semedi muncul wanodya berada di dekatnya dan ternyata adalah seorang hapsari bernama Dewi Gangga yang ingin menjadi istri Prabu Pratipa. Prabu Pratipa menolak dengan halus namun berjanji bahwa suatu saat Dewi Gangga akan diambil mantu. Hingga akhirnya saat Prabu Santanu tengah menyusuri sungai Gangga, dia bertemu dengan Dewi Gangga dan akhirnya kemudian menjadi permaisuri kerajaan Astina.

Namun sudah cukup lama usia pernikahan, Dewi Gangga belum mau di sentuh oleh Prabu Sentanu sehingga membuat Prabu Sentanu sedih dan menumpahkannya kepada Patih Mandrawa. Hingga setelah dibujuk dengan berbagai rayuan, akhirnya Dewi Gangga mau melaksanakan kewajiban sebagai istri dengan meminta syarat yang harus dipenuhi oleh suaminya.

Dengan bahasa yang sangat indah, KNS menceritakan bujuk rayu seorang suami yang begitu dirundung cinta dan ingin bercumbu dengan istrinya sendiri.

Syaratnya adalah Prabu Sentanu tidak boleh bertanya atau melarang bila saat Dewi Gangga melahirkan putranya maka akan di buangnya. Meskipun sangat berat akhirnya Prabu Santanu menyetujuinya.

Benar saja, saat lahir anak yang bertama, Dewi Gangga langsung membuangnya ke sungai. Prabu Santanu tidak bisa berbuat apa-apa.

Hingga anak yang ke-9 lahirlah seorang anak laki-laki yang cemerlang, tampan dan terlihat agung. Meskipun mengingkari janjinya, akhirnya tak tahan Prabu Santanu kemudian melarang istrinya untuk membuang ke sungai saat Dewi Gangga meminta untuk segera dibuang.

Akhirnya sesuai dengan perjanjian sebelumnya, Dewi Gangga kembali ke kahyangan dengan meninggalkan bayi yang kemudian diberi nama Dewabrata, Raden Ganggaya, Raden Cahnawisuta.

Ikuti kisah menarik Dewabrata, masa kecil, dewasa, kisah kasih dengan Dewi Amba yang terhalang sumpah wadat Dewabrata.

Hingga saat perang Baratayudha, saat tidak mau tidak Bisma harus membela Kurawa dan kemudian menemui ajal ditangan cucu-cucunya Pandawa, Bisma memilih mati sebagai seorang ksatria dengan meminum darah para satria yang gugur di peperangan dan tidur di dipan susunan anak panah dan tombak.

Sungguh indah kisah Bisma ini dibawakan oleh KNS. Selamat menikmati

Banjaran Karna

Perjalanan hidup seorang anak Kunthi, saudara tua dari para Pandawa. Dari saat muncul ke dunia yang tidak diharapkan, kemudian dibuang ke sungai layaknya sampah menjijikan dan tiada berguna hanya karena menghindari aib negara Mandura. Pilihan berat bagi Kunthi memang, antara pisah dengan anaknya dan pertaruhan besar untuk mempertahankan kehormatan ayahnya.

Akhirnya atas upaya Resi Druwasa, bayi merah tanpa dosa tersebut dilarung ke sungai Gangga dengan diberi nama Raden Karna Basusena (sena=anak, basu=matahari, karna=sorot).

Masa remaja dilalui bersama “orang tua angkat” yang menemukannya di sungai, hingga akhirnya ditampung dan dimulyakan oleh Duryudana yang bersaing dengan pandawa saat menerima pengajaran dari Begawan Dorna.

Hingga saat perang Baratayudha pecah, Karna tetap bersikukuh untuk tetap mengabdi untuk membalas budi terhadap Duryudana. Meskipun sudah beberapa duta telah memberi nasehat, bahkan ibundanya Kunthi yang menangis mengharap untuk berkumpul kembali dengan saudara-saudaranya Pandawa.

Segmen ini begitu menyentuh, satu pilihan harus ditetapkan dari alternatif yang sama-sama pahit. Bertanding dengan saudara kandung sendiri, Arjuna, atau mengingkari jiwa ksatria.

Dan pilihan itulah yang mengantarkannya menemui ajal sebagai seorang senopati ditangan adiknya sendiri.

Banyak nilai yang dapat kita manfaatkan dari kisah perjalanan hidup Karna Basusena ini dan selamat menikmati.

Bima Kelana Jaya (Banjaran Bima)

Banjaran Bima (koleksi Santoso)

Satria nomor dua Pandawa yang menjadi benteng pelindung saudara-saudaranya dan ibunya dari berbagai kesengsaraan dan perlakuan menyakitkan dari kurawa.

Lahir secara aneh dibelit bungkus (bimo bungkus) dan kemudian menjadi begitu perkasa dan memiliki banyak kesaktian tiada tara, itulah Bima.

Perjalanan hidup seorang satria utama nan perkasa hingga di akhir cerita akhirnya menuntaskan hidup Duryudana dalam akhir-akhir perang Baratayudha.

Banjaran Arjuna I

Menceritakan perjalanan Arjuna dari kelahirannya sampai bertemu dengan calon istrinya “Wara Sumbadra”

Banjaran Arjuna II

Diawali dengan nelangsa Kunthi yang merasa kasihan atas nasib Arjuna yang ternyata untuk melamar Wara Sumbadra diminta untuk memenuhi persyaratan yang sangat berat oleh Prabu Baladewa dan Prabu Kresna, kakak-kakak Wara Sumbadra. Namun dengan bijak Resi Abiyasa memberikan petunjuk dan solusi untuk segera memenuhi permintaan itu.

Cerita diakhiri dengan kisah pertempuran di Baratayudha saat melawan saudara tuanya, Karna (lakon Karna Tanding)

Banjaran Gatotkaca (koleksi Santoso)

Gatotkaca adalah sosok yang luar biasa. Dari saat lahir, putra Bima dengan Arimibi ini, mengalami peristiwa yang luar biasa di kahyangan sehingga memperoleh kesaktian yang tiada tara.

Perjalanan hidup Gatotkaca penuh liku jalan satria. Hingga kemudian menemui ajal sebagai pahlawan dalam perang Baratyudha sebagai senapati perang ditangan Senapati Kurawa, Karna Basusena.

Adegan saat-saat pralaya Gatotkaca sangat indah diceritakan oleh KNS di akhir-akhir cerita.

Banjaran Druna

Tokoh yang menarik. Sebagai guru dari Pandawa dan Kurawa, keilmuan dan kedigdayaan Durna tidak diragukan. Namun di sepanjang kisah perjalanan hidup Pandawa Kurawa, sering Durna diidentikan sebagai “pemihak” Kurawa yang membabi buta. Terkenal sebagai pandita yang licik menggunakan segala tipu daya dan kelicikan untuk memenuhi permintaan Duryudana dalam mengenyahkan Pandawa.

Namun bagaimanapun Durna adalah seorang guru besar bagi Astina, bagi Pandawa dan Kurawa. Seorang guru yang sungguh dihormati oleh para Pandawa sekalipun. Hingga setelah berakhir perang Baratayudha, saat para Kurawa, Karna dan Durna telah gugur dan Pandawa memenangkan perang besar itu, tetap menyisakan kepedihan yang dalam. Dan saat Pandawa, Kresna, Baladewa segera mengakhiri kehidupan di dunia, dalam perjalanannya menemukan arwah Pandita Durna dalam wujud seekor kuda. Disinilah kebijaksanaan seorang Bima yang merasa berhutang budi terhadap Gurunya sehingga kemudian membantu melepaskan suksma Durna.