Banjaran Cerita Pandhawa (43)


Calon Raja yang Cantik
Arjuna ditemani Gareng, Petruk dan Bagong sedang berguru (karya Herjaka HS)

Tokoh Arjuna (1)

Dalam cerita kelahiran para Pandhawa yang bersumber kitab Mahabharata, pada bagian yang disebut Adiparwa, anak Pandhu yang ketiga lahir dari Kunthi bernama Arjuna, keturunan Sang Hyang Indra (Adiparwa, 1906: 121).

Penulis cerita dalam kitab Adiparwa juga menyebut Arjuna dengan nama Partha dan Dhananjaya (Adiparwa, 1906: 200). Dalam cerita Jawa kuna lainnya, Arjuna dapat sebutan Partha (Arjunawiwaha: 1.6) dan Arya Partha (Arjunawiwaha: IV.2), Dhananjaya Bharatayudha: 1.13). ketika Pandhawa mengabdi ke negara Wiratha, Arjuna menggunakan nama Wrhannala (Wirathaparwa, 1912: 11) Nama Palguna ditemukan dalam cerita perkawinan Arjuna dengan Subhadra (Parthayana: II.I) dan cerita Arjuna bertapa di Indrakila (Arjunawiwaha: VIII.8)

Nama-nama yang digunakan dalam cerita Jawa baru, yaitu Janaka (Mayer 1924: 45); Kalithi (Mayer 1924: 136) Dhananjaya (Bhimasuci: VI.4); Pamade (Mayer 1924: 159); Palgunadi (Gembring Baring: LXXXIV. 19) Karithi (Mangkunagara VII Jilid XXIX, 1932: 3); Kombang Aliali (Mangkunagara VII Jilid IX, 1931: 3)

Arjuna bernama Partakusuma dalam cerita lakon berjudul Babad Wanamarta (Mangkunagara VII Jilid IX, 1931: 8) cerita itu berisi perkawinan Arjuna dengan Partawati anak Partakusuma raja Ringinsungsang. Setelah berhasil mengambil menantu Arjuna, raja Partakusuma bunuh diri dengan keris Arjuna yang bernama Pulanggeni, kemudian merasuk bersatu dengan Arjuna. Dalam cerita itu juga diceritakan persatuan Arjuna dengan Kombang Aliali raja Cintakapura. Oleh karena itu Arjuna mendapat sebutan Partakusuma dan Kombang Aliali.

Arjuna mendapat sebutan Karithi atau Prabu Karithi dalam cerita lakon berjudul Arjunawiwaha (Mangkunagara VII Jilid XXI, 1932: 3). Arjuna dinobatkan menjadi raja di Indraloka setelah berhasil membunuh Niwatakawaca raja Manimantaka. Mayer dalam ceritanya yang berjudul Mintaraga memberi nama Prabu Kalithi (Mayer, 1924: 136)

Arjuna bernama Arjunawibawa dalam cerita lakon berjudul Arjunawibawa (Mangkunagara VII Jilid XXI, 1932: 13). Arjuna menyamar dan menjadi raja Sriwedari supaya tidak diketahui oleh Korawa. Ketika kerajaan Wiratha yang diperintah oleh Mastwapati diserang oleh Korawa, Arjunawibawa berhasil melawan serangan Korawa.

Arjuna bernama Gendreh Kemasan dalam cerita lakon berjudul Yudanagara atau Gendreh Kemasan (Mangkunagara VII Jilid XXIX, 1932: 18). Arjuna dengan nama Gendreh Kemasan mengusir para Korawa yang akan menguasai negara Dwarawati dan Wiratha.

Arjuna bernama Palgunadi setelah jari tangannya ditambah jari Palgunadi, raja Paranggelung yang lebih mahir dalam ulah memanah. Cerita tersebut dimuat dalam lakon yang berjudul Palgunadi (Mangkunagara VI Jilid VII, 1930: 22) Dalam cerita Jawa kuna dikenal cerita Ekalawya yang belajar memanah dengan menyembah patung Drona setelah ia ditolak keinginannya untuk berguru kepada Drona (Adiparwa, 1906: 129).

Arjuna banyak beristeri. Dalam kitab Adiparwa diceritakan perkawinan Arjuna dengan Ulupy, Citragandha dan Subhadra. Cerita itu juga dimuat dalam kakawin Subhadrawiwaha atau Parthayana (Naskah Kirtya Nomor 141). Perkawinan Arjuna dengan Ulupy dimuat dalam kitab Adiparwa. Ulupy adalah anak Airawata raja negara Karawya (Adiparwa 1906: 198). Perkawinan Arjuna dengan Ulupy menghasilkan anak Irawan (Bharatayudha: XII. 17). K.G.P.A.A. Mangkunagara II menyusun perkawinan Arjuna dengan Ulupy dalam cerita lakon berjudul Alap-alapan Ulupy (Mangkunagara VII Jilid XVII, 1932: 15). Ulupi adalah anak Bagawan Kanwa, pendeta di pertapaan Yasarata.

Perkawinan Arjuna dengan Citragandha anak Maharaja Prabhakara atau Citradahana raja Manayura (Adiparwa, 1906: 199) atau Mayura (Parthayana: XVIII. 19), dianugerahi anak bernama Wabhruwahana. Bila dibandingkan dengan cerita Alap-alapan Gandawati (Mangkunagara VII Jilid XIX, 1932: 19), ternyata berbeda. Gandawati adalah anak Prabu Gandasena, raja Tasikmadu.

Cerita perkawinan Arjuna dengan Subhadra atau Sumbadra baik dalam cerita Adiparwa (Adiparwa, 1906: 202), mau pun dalam Subhadrawiwaha atau Parthayana sama. Dalam cerita Jawa baru dimuat dalam buku Partakrama karangan Sindusastra (VBG XXXIII No. 169, 1875) dan cerita lakon berjudul Partakrama

R.S. Subalidinata
Lampahan Ringgit Purwa, Naskah PB A- 44: 34

Advertisements

2 thoughts on “Banjaran Cerita Pandhawa (43)”

  1. Suka tidak suka terhadap tokoh wayang tertentu merupakan sikap dan pandangan hidup dari setiap umat manusia. Menghormati dan menghargai pendapat adalah sesuatu yang sangat mahal di masa kini. Wayang merupakan cerminan umat manusia di dunia ini dalam hal kebaikan dan keburukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s