Rames semaR #0


Initial Ruang Obrolan


Sebentar lagi Subuh. Diluar masih gelap dan dingin. Udara musim kemarau menciptakan suhu cukup dingin di pagi hari, sangat kontras bila dibandingkan dengan siang hari yang begitu menyengat. Dingin suasana semakin meninggikan sarung orang-orang yang berkemul dalam tidurnya. Namun di beberapa rumah lampu-lampu penerangan sudah mulai ditambah, pertanda penghuninya telah melakukan aktifitas menjelang subuh.

Wilayah kampung Kosong Mlompong adalah sebuah ranah pertanian. Bisa dibilang hampir seluruh penduduknya menggantungkan hidup dari hasil sawah yang dimiliki dan dikelolanya. Namun seperti terjadi di daerah-daerah lainnya, kesejahteraan penduduknya pun beragam. Ada yang menjadi juragan karena memiliki sawah yang luas dan ternak yang banyak, namun ada pula yang hidup dalam keterbatasan karena tidak memiliki tanah untuk diolah, dan hanya bekerja sebagai buruh atau berbagi hasil panen dari lahan majikan yang diolahnya. Namun sebagaian besar penduduknya adalah petani yang memiliki tanah sendiri, meskipun tidak terlalu luas, namun mampu menghidupi keluarganya secara sederhana.

Kampung Kosong Mlompong memang kampung yang sangat sederhana dengan penduduknya yang begitu bersahaja. Tidak ada yang berfikir dan melakukan hal yang neko-neko dalam kehidupan setiap penduduk kampung itu. Semua berjalan dengan simpel dan begitu apa adanya. Kehidupan relatif berlangsung dengan linear, tidak bercabang kemana-mana, bekerja dengan tekun, menikmati hasilnya dan kemudian mensyukuri nikmat yang telah diberikan Tuhannya. Tak heran bila roda kehidupan di kampung itu seperti telah di program, di setting dengan rutinitas yang serupa. Pagi setelah sholat Subuh menuju sawah untuk bekerja, menjelang siang beristirahat, kembali ke rumah menyelesaikan pekerjaan di rumah atau nyambi bekerja lainnya, menjelang sore selesai kemudian membersihkan diri untuk sholat Maghrib dilanjutkan Isya, dan akhirnya menjelang tidur malam bercengkrama bersama seluruh anggota keluarga.

Damai dan nyaris tidak ada gejolak dalam kehidupan kampung itu. Apalagi sudah puluhan tahun yang memimpin kampung Kosong Mlompong adalah seorang yang luar biasa. Luar biasa disini dimaksudkan sesuai dengan ukuran kampung Kosong Mlompong dan daerah sekitarnya. Kalau penduduk kampung terbilang berkehidupan sederhana, maka KLKM (orang kampung biasa menyebut lurahnya dengan akronim itu dari singkatan Ki Lurah Kosong Mlompong) adalah orang yang luar biasa dalam kesederhanaan. Pun demikian dalam hal kearifan berfikir, kematangan menjalani hidup dan ketekunan dalam bekerja serta beribadah. Pokoknya KLKM sangat layak untuk dituakan di kampung itu sehingga setiap pemilihan lurah baru, maka tidak ada yang merasa sanggup bersaing dengan KLKM, sudah menyerah duluan. Dan meskipun secara arif KLKM meminta warganya agar ada yang bersedia untuk menggantikannya, demi tujuan regenerasi, namun belum ada yang berani mengacungkan tangan untuk menerima estafet kepemimpinan.

Siapakah tokoh lurah yang begitu dicintai oleh warganya itu ? Tidak lain adalah sosok yang bernama Semar.

Semar mempunyai 3 orang putra dari seorang istrinya yang sering dipanggilnya Nyi Kanastren. Nyi Kanastren adalah tipikal perempuan desa yang selalu bekerja tekun memberekan pekerjaan rumah tangga dan melayani suami serta anak-anaknya dengan kasih sayang. Sehingga meskipun sudah cukup berumur, gerakannya masih terlihat sigap dan gesit saat mengantarkan makanan ke sawah untuk suami dan anak-anaknya, membersihkan pelataran rumah yang cukup luas sampai menimba air sumur untuk keperluan memasak dan mandi keluarga. Semua dikerjakannya dengan wajah tersenyum, dengan perasaan senang dan nyaman dengan disertai keyakinan bahwa semua pelayanannya ditujukan untuk kebahagiaan suami dan keluarganya. Sebuah cara berfikir yang sederhana, namun karenanyalah Nyi Kananstren begitu dicintai suami dan anak-anaknya serta dihormati dan disayangi oleh seluruh penduduk kampung.

Semar bertubuh tambun. Namun jangan dikira dengan bentuk tubuhnya yang bulat itu maka gerakanyya menjadi lamban. Dia tetap mampu dengan baik mencangkul sawah, membajak sawah (cuma kalau kebo bisa ngomong tentu akan protes karena menarik terlalu berat bajak ditambah tubuh tambun tuannya), bahkan memanjat pohon kelapa. Entah ilmu apa yang dipergunakan karena dalam hal memanjat pohon, Semar tidak kalah cepat dibandingkan dengan anaknya Petruk atau Gareng yang bertubuh kerempeng. Wajah Semar-pun selalu tersenyum dan begitu sabar dan telaten dalam menghadapi masalah keluarga maupun masalah warga yang mengharap solusinya. Wawasan ilmunya sangat luas, kebijaksanaannya terkenal begitu komprehensif dan sifat kasih sayangnya tidak pilih kasih.

Ketiga putranya bernama Gareng, Petruk dan Bagong. Ketiga anak Semar dan Kanastren memiliki perilaku dan keistimewaan masing-masing. Namun secara keseluruhan mereka mewarisi sikap dan kebijaksanaan dari Sang Ayah meskipun kadarnya berbeda-beda, ditambah dengan karakteristik unik masing-masing.

Gareng, selaku anak sulung, mempunyai pembawaan yang kalem, irit omongan namun memiliki rasa tanggung jawab yang paling besar. Mungkin karena dia adalah yang paling tua diantara kedua adiknya sehingga dikondisikan untuk selalu menjaga dan memomong adik-adiknya.

Lain halnya dengan anak panengah Semar. Petruk memiilki pembawaan yang selalu ceria, gerakannya gesit, bisa dibilang tidak bisa diam terlalu lama di satu tempat (begitupun dalam kondisi tidur sering menggusur kakak dan adiknya hingga menyisakan ruang sedikit untuk mereka). Bicaranyapun renyah, sering terlalu cepat dan panjang sehingga kadang keluar dari topik pembicaraan. Menyenangkan memang (sekaligus juga menyebalkan).

Dan si bungsu adalah Bagong. Bagong mempunyai perawakan yang mirip dengan bapaknya. Badannya tambun meskipun tidak sebesar ayahnya, agak malas bekerja namun di karuniai kelebihan lain yaitu lebih cerdas dalam berfikir (dan berkelit) dibanding kedua kakaknya. Bicaranya tidak sebanyak kakaknya Petruk, namun sekali bicara membuat lawan bicaranya minimal tersenyum ataupun tertawa karena kelucuan (atau kecerdasannya) dalam mengolah kata dan kalimat.

Dari keluarga inilah kisah selanjutnya akan dimulai. Mengiringi mereka dan warga kampung Kosong Mlompong dalam menjalankan keseharian dan meneropong segala yang terjadi di kampung itu dan wilayah sekitarnya.

Rames semaR adalah episode kehidupan yang melibatkan sosok yang bernama Semar.

Rames dapat berarti beragam dalam satu adonan, berbagai karakter pada suatu cerita, bermacam tingkah polah perilaku sosok manusia penuh misteri, berubah menjadi tragedi, kadang berupa sensasi berlindung dibalik tradisi, acap dihiasi duka, ceria, canda, papa, tawa, derita, berbaur dalam satu hidangan yang bernama alur kehidupan.

Bila dilihat dari susunan kata, maka Rames adalah kebalikan dari semaR. Begitupun makna yang tersirat (gathuk mathuk saja lho). Rames adalah keberagaman maka semar adalah kehampaan. Semar adalah kosong, adalah yang mampu menerima keberagaman secara penuh. Mampu memberi kepada yang lain tanpa merasa kehilangan dan yang menerimapun enjoy saja.

Rames semaR adalah perpaduan antara keberagaman dan kebijaksanaan, pasangan antara kefanaan dan kesejatian serta jalinan hubungan antara makhluk dengan khaliqnya. Dan pada hakekatnya Rames semaR adalah kehidupan itu sendiri.

Dan kisah ini hanya fiksi dan kreasi semata.

Salam, Prabu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s